The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Pebisnis



"Kelihatannya Reyna anak yang begitu periang ya? dia bahkan nggak mau membagi masalah dengan teman-temannya. Hah, Hengky, saya masuk dulu ya, kayanya saya butuh istirahat dulu" kata Reynaldi yang kini mulai bangkit membuat Hengky terdiam kebingungan.


Langkah pria itu terasa berat, awalnya ia ingin sekali meninggalkan masa lalu itu. Ia ingin melupakan semuanya, namun semakin Reynaldi tau akan bagaimana Reyna pada masa dimana ia bersikap jahat padanya, ia merasa menyesal.


Reynaldi memasuki kamarnya, terlihat jelas frame besar yang menghiasi kamar tersebut dengan foto keluarga lengkap mereka. Keluarga yang Reynaldi sia-siakan selama ini.


Pria itu menghela nafasnya, ia merasakan dadanya yang begitu sesak menahan air mata. Ia tak ingin mengingat hal itu lagi, jika membuat harinya dan Reyhan menjadi renggang.


***


Keesokan paginya.


Kini gadis berambut panjang itu telah bersiap dengan baju kerjanya juga rok selutut menambah anggun penampilannya. Ditambah lagi poni yang tercukur rapi bersejajar dengan alis. Rambut yang digulung menunjukkan leher jenjangnya yang putih bersih.


Gadis itu hanya memakai lipstik berwarna peach dan bedak seadanya. Itupun begitu membuat Reyna sudah sangat cantik. Reyna melangkahkan kakinya, ia membuka pintu apartemennya untuk keluar dari sana. Namun hal yang tidak disangka-sangka, ternyata Yasya kini telah berdiri dihadapannya, ia tersenyum seraya membawakan sebuket bunga untuknya.


"Sayang, Zayn ngasih tau aku kalau," belum sempat pria itu menjelaskan perkataannya namun Reyna kini dengan cepat melangkahkan kakinya untuk menjauh dari Yasya. Ia tak ingin tiba-tiba Reyna hadir ditengah-tengah mereka, ia begitu takut jika saja Reyna akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.


Meskipun begitu, tekat Yasya sudah bulat, ia takkan pernah menyerah sampai Reyna mau kembali padanya. Mungkin disamping gadis itu mudah menyerah karena perubahan sifatnya sendiri, namun ia juga merasa cemburu karena kemarin Yasya tidak sengaja terjatuh dan hampir menimpa Syahbila.


Reyna tak perduli langkahnya diikuti oleh Yasya, ia bahkan membiarkan Yasya begitu saja. Namun saat gadis itu berada dilobi Yasya segera menarik lengannya membuat gadis itu terdiam seketika. Namun ia lagi-lagi tak memperdulikan Yasya, Reyna kembali melangkah sampai kini dirinya telah berada didepan gedung tinggi tersebut.


"Rey, kamu mau Zyan tau tentang hubungan kita yang kaya gini?" pertanyaan itu membuat langkah gadis itu terhenti. Yasya yang semula berdiri dibelakang Reyna kini mulai mendekat kearahnya seraya menyerahkan bunga tersebut untuknya. Gadis itu masih mematung, ia enggan mengatakan sesuatu pada pria dihadapannya.


"Apa yang kamu mau Sya? aku nggak ada waktu buat ladenin kamu, tolong jangan ganggu aku" kata Reyna dengan tatapan tegasnya. Yasya kini dengan paksa memberikan bunga tersebut yang akhirnya terpaksa diterima oleh gadis itu.


"Zayn bilang ke aku buat anterin kamu ke perusahaan, dan aku disuruh buat jemput kamu Reyna. Kamu nggak pengen kan orang lain tau masalah kita?" Reyna menghela nafasnya, apa yang dikatakan Yasya memang benar. Bahkan Reyna tak bisa berkata apa-apa lagi atupun mencari alasan untuk menolak Yasya.


"Oke" kata Reyna singkat.


Didalam mobil bahkan Reyna masih diam membisu, ia bahkan tak melirik Yasya sedikitpun.


"Sayang, aku butuh kesempatan" kata Yasya membuka suara. Reyna yang hanya diam sedari tadi kini merasa dadanya mulai sesak kembali. Ia menatap Yasya, pandangannya begitu teduh dan membuat Reyna nyaman.


"Aku nggak perduli kamu kaya gimana Rey, aku bakal ngadepin masalah sama kamu, aku bakal nanggung resiko jika itu berbahaya buat aku. Selama aku bisa terus sama kamu, aku nggak butuh apa-apa lagi Rey."


"Sya, mungkin kita nggak bisa sama-sama lagi, nggak ada kesempatan lagi Sya, aku mohon maaf" kata Reyna yang kini menahan air matanya.


Suara seraknya membangunkan emosi Yasya sesaat, ia menatap kesal pada gadisnya. Namun sejenak Yasya menabahkan hatinya untuk tetap bersabar. Ia ingat saran dari Agatha, bahwa membujuk Reyna tidaklah mudah.


"Aku nggak bisa, aku sibuk. Pulang malam" kata Reyna tegas membuat Yasya menarik nafasnya.


"Nanti malam, harus jadi, aku yang bakal jemput kamu."


"Sya?"


"Harus janji" kata Yasya membuat Reyna tak bisa berkata-kata, Reyna kini menghela nafasnya seraya mengangguk.


"Oke kalo itu mau kamu."


Hari ini adalah hari pertama kali Reyna kerja, masih banyak yang harus Reyna pelajari tentang bisnis. Bahkan bisnis menurutnya bukanlah bidangnya, ia lebih suka berada dirumah sakit mengobati pasien.


Kini ruangan Reyna masih menjadi satu dengan Zayn. Pria blasteran yang tampak serius dengan kacamata yang ia kenakan membuat Reyna heran setengah mati pada kakaknya. Padahal dulunya dia kira Zayn adalah pemusik yang handal, atau di memang seniman misterius yang menyamar


menjadi seorang penjual alat musik. Dan tebakannya ternyata salah besar, siapa sangka pria blasteran itu adalah seorang pebisnis yang sukses.


Bahkan selama hampir enam tahun ini Zayn yang membawa perusahaan mama Reyna bisa semaju ini dan semakin berkembang dari sebelumnya. Reyna masih berkutat dengan file yang berada di mejanya, begitu banyak tumpukan file dan berkas yang harus ia perbarui sebelum jam istirahat siang.


Sesekali Reyna mendengus, ia bahkan tidak terbiasa dengan semua ini. Bayangkan saja, seorang dokter yang harusnya memegang jarum suntik dan stetoskop kini beralih menjadi wanita yang berkutat pada komputer.


"Rey, kamu capek?" pertanyaan itu membuat Reyna mengangkat dagunya, ia buru-buru mendongak seraya menatap Zayn yang kini seolah memperhatikannya sedari tadi.


"Dikit kak, kayanya aku butuh keluar sebentar deh" seru Reyna yang kini mulai bosan dengan pekerjaan barunya.


"Nggak apa-apa, kamu kan juga baru, aku pasti bakal bantu kamu sampai kamu bisa nanganin ini sendiri. Lebih baik kamu jalan-jalan sebentar keluar."


"Emang nggak apa-apa kak?" tanya Reyna dengan dahinya yang berkerut.


"Boleh, ini kan perusahaan kamu, kamu bosnya, masa sih bos nggak boleh santai-santai" ujar Zayn yang kini menggoda membuat Reyna mengerucut sebal.


"Kakak nih apa-apaan sih" kata Reyna yang terlihat kesal. Gadis itu segera bangkit dan keluar dari ruangan itu membuat Zayn terkekeh dibuatnya.


Seorang lelaki kini menunduk dengan kemeja putih yang sedikit lusuh dan celana kerjanya. Pria itu beberapa kali melihat penampilannya yang berbeda dari orang lain yang tengah menunggu wawancara.


Meskipun begitu Reyhan harus semangat, akibat kesiangan dan juga perpindahannya kemarin, pria itu sampai lupa jika saat ini ia harus mengikuti wawancara. Dan ia bahkan tak menyangka, dirinya bisa melamar kerja ditempat perusahaan Mamanya, Syakieb group.


Pria itu hanya berharap semoga ia tak bertemu dengan direktur perusahaan itu, siapa lagi kalau bukan Zayn. Seseorang yang telah dipercaya untuk mengurus dan melanjutkan bisnis Almira.