
Ditengah seriusnya Reyna dan Zayn mengerjakan tugas mereka dan mengecek file, kini dengan santai Reyhan menyesap kopi hitam yang baru saja ia seduh. Matanya menatap kendaraan dibawah sana dari pantulan kaca didepannya. Fikirannya menerawang, ia harus segera menemui Kanaya, setiap saat hatinya terasa gundah oleh gosip yang beredar bahwa Kanaya akan dijodohkan. Hatinya merasa tak tenang memikirkan itu semua, Reyhan mengeluarkan selembar foto dari dalam saku celananya. Foto seorang gadis cantik yang tersenyum seolah kini menyapanya.
Reyhan tersenyum, ia rindu, entah mengapa Kanaya mengambil izin lama sekali. Jika saja saat ini gadis itu masuk kerja, Reyhan bahkan akan segera menemuinya, ia akan segera mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam.
"Cantik juga nih cewek, pacar lo ya!" kata Zayn yang kini tiba-tiba merebut foto itu dari tangan Reyhan membuat pria itu terkesiap dan segera meraih foto itu lagi. Namun dengan cepat Zayn mengangkat lembar foto itu keatas membuat gerakan Reyhan tak bisa meraihnya. Pasalnya Zayn lebih tinggi daripada Reyhan, wajar saja jika ia tak dapat meraih foto itu.
"Zayn! apaan sih? nggak lucu tau! balikin nggak?" kata Reyhan tegas dengan raut wajahnya yang kini penuh dengan kekesalan.
"Nggak ah! lo mah nggak mau cerita, cantik juga ya nih cewek, namanya siapa?" kata Zayn yang kini mencoba menghindar dari kejaran Reyhan yang tanpa lelah meraih foto itu yang masih asik dipandangi oleh dirinya.
"Zayn! gue botakin lo ya kalo macem-macem sama gue!" kata Reyhan tegas membuat Zayn hanya bisa menahan tawanya seraya melangkah ke meja kerjanya.
"Kalian apa-apaan sih! berisik tau!" kata Reyna yang kini segera merebut foto itu dari tangan Zayn membuat Reyhan membelalakkan matanya menatap adiknya satu itu. Jika Reyna tau entah seberapa malunya Reyhan ketika adiknya sendiri mengetahui hubungan terselubung antara dirinya dan Kanaya.
"Rey, balikin sini!" kata Reyhan membuat Reyna memutar bola matanya lalu tak sengaja menatap foto itu membuat dirinya membulatkan matanya.
"Kanaya!" teriak Reyna tak percaya membuat Reyhan menggaruk kepalanya dengan kasar. Harus bagaimana lagi menjelaskan pada adiknya itu, ini juga gara-gara Zayn.
"Kamu kenal Rey?"
"Ini sahabat aku kak Zayn, namanya Kanaya. Jangan bilang Kanaya juga kerja disini?" kata itu seolah terlontar kepada Reyhan yang kini hanya bisa mengerutkan keningnya seraya menampakkan wajah frustasinya itu.
"Ih abang! aku kan tanya, emang beneran Kanaya kerja disini? bagian apa? aku kangen tau sama dia? kasih tau dong" kata Reyna merengek membuat Reyhan memutar bola matanya. Zayn dapat membaca situasi, sepertinya saudaranya satu itu mengalami permasalahan dalam percintaan. Sedikit percikan pasti juga bisa membantu, apalagi jika dilihat Reyna sangat mengenal Kanaya itu.
Reyhan kembali ke meja kerjanya, ia mengantongi lagi foto tersebut tanpa mengindahkan pandangan Reyna yang begitu kesal karena diacuhkan. Zayn kini mulai tersenyum jahil, ia tiba-tiba membisikkan sesuatu pada Reyna. Membuat tatapan gadis itu terbelalak tak percaya.
***
"Gue udah mutusin, gue mau resign!" kata Kanaya yang kini duduk seraya menaruh minuman didepan kedua temannya itu. Luna dan Cindy hanya bisa saking bertatapan heran, mau apa lagi Kanaya ini? bukannya baru sehari ia masuk kerja dan mendapatkan kejutan besar dari berita besar Novi didepan matanya sendiri.
"Lo sakit ya Nay?! bukannya lo nggak mau nikah sama si ganteng, terus alasan apalagi yang buat lo mau resign kaya gitu?" pertanyaan itu membuat Kanaya jengah, jujur saja dari tadi ia terus memikirkan kata-kata Novi. Ia sebenarnya tak percaya, apalagi tampang-tampang Novi yang seperti ****** itu. Untunglah ia sendiri sudah dipecat dari sini.
"Iya Nay, kalo ada masalah cerita jangan dipendem sendiri" kata Luna menambahi membuat Kanaya menahan dagunya menggunakan tangan kirinya. Ia sebenarnya hanya ingin menjauhi Reyhan, ia marah, kesal. Kenapa berita besar tentang kehidupan Reyna harus disembunyikan pada dirinya. Bahkan tiada kabar dari pria itu sama sekali setelah telfon terakhir mereka dua hari lalu. Kenapa Reyhan menyembunyikan itu? kenapa Reyhan seolah bungkam, datang dan tiba-tiba menghilang. Jujur Kanaya lelah, apa Reyhan hanya bisa membuat Kanaya baper saja, diberikan kata-kata manis lalu ditinggalkan.
Kanaya jugs punya perasaan, ia juga ingin diprioritaskan. Ia ingin diberi kabar kapanpun dan bagaimanapun keadaan Reyhan. Tapi Kanaya menyadari bahwa dirinya memang bukan siapa-siapa, apa haknya untuk menuntut perhatian. Nasibnya memang selalu begitu, ia percaya namun yang dipercayai malah tak perduli dengan kepercayaannya.
"Gue nggak ada masalah, gue mau ke toilet" ujar Kanaya yang kini bangkit dan melangkahkan kakinya.
Sesampainya di toilet dengan cepat gadis itu menyalakan wastafel dan mengusap wajahnya dengan kasar. Kanaya tak habis fikir, mungkin memang seharusnya ia tak berharap lebih pada Reyhan, apalagi dari awal tiada kejelasan dalam hubungan mereka. Kanaya memanyunkan bibirnya tepat didepan cermin, wajah cantik dengan riasan tipis itu memang tergolong cantik. Tapi bukan berarti Kanaya adalah tipe Reyhan, Reyhan tampan, cerdas dan Kanaya, mana bisa disandingkan dengan Kanaya yang biasa-biasa saja. Sangat sulit untuk menjangkau Reyhan, tapi kenapa Kanaya selalu berharap padanya? gadis itu melenguh, ia melangkah keluar dengan langkah gontai.
Namun masih beberapa langkah gadis itu berjalan, tiba-tiba saja sebuah tangan kekar menarik lengannya. Sontak Kanaya berteriak, namun belum sempat mengeluarkan segenap suaranya, tiba-tiba saru tangan yang lain dari orang itu membungkam mulutnya. Kini Kanaya memejamkan matanya tatakala dirinya dihimpit dipojokan dinding yang sepi.