The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Seseorang misterius



Setelah Reyna bergelut dengan pekerjaannya seharian, ia akhirnya bisa melepas penat sejenak dengan merenggangkan tubuhnya.


Rasanya kembali pulang dengan perasaan yang nyaman adalah kebebasan luar biasa untuknya. Meskipun mengobati manusia adalah kewajibannya, tapi ia sendiri juga manusia yang bisa merasa lelah ketika waktunya tiba.


Kali ini ia bersiap-siap untuk melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kantor, mengingat kantor sudah sepi sepeninggal Tian dan juga Dinda yang baru saja keluar dari sana, dan hanya menyisakan Reyna sendirian.


Tak butuh waktu lama gadis itu melewati lorong demi lorong rumah sakit, yang dipenuhi beberapa pasien maupun perawat yang berjalan. Masih beberapa langkah ia berjalan, namun sepertinya langkahnya tengah diikuti dan juga pergerakannya seperti ada yang memata-matai.


Gadis itu membalikkan tubuhnya, berharap memang tebakan dan juga firasatnya benar. Namun alih-alih menemukan seseorang yang mencurigakan namun tak dapat menemukan sosok tersebut. Gadis itu melangkah kembali, dan lagi-lagi fikirannya terpaku pada sosok misterius yang membuatnya seperti di buntuti. Buru-buru gadis itu berlari, namun langkahnya tetap saja seperti diikuti.


Reyna mengernyitkan keningnya kala ia menatap belakang namun tiada yang ia lihat disana. Ia berlari lagi tanpa henti sampai gadis itu menabrak seseorang hingga hampir saja membuat gadis itu terjatuh, namun untungnya tangan orang itu segera menopang tubuhnya.


Reyna membuka matanya kala tatapan mata intens itu menatapnya. Nafasnya sampai tersengal dengan rasa takut yang menghantui dirinya. Namun pandangan teduh itu membuat Reyna bisa bernafas lega.


"Yasya, aku kira kamu siapa" ujar Reyna yang kini memegangi lengan Yasya dengan keringat membasahi tubuhnya.


"Kamu kenapa sayang? dikejar orang ya?" tanya pria itu membuat Reyna menggeleng dan segera menarik lengan pria itu menjauh dari sana.


Setelah sampai didalam mobil, Reyna segera memeluk tubuh pria itu dari samping. Entah mengapa, berada di dekapannya membuat Reyna semakin merasa aman dan nyaman meski sebelumnya ia merasa ketakutan.


"Aku nggak tau Sya, kaya ada yang ngikutin aku tadi, tapi aku lihat kebelakang nggak ada. Aku takut Yasya, aku takut" kata gadis itu membuat Yasya membalas pelukan Reyna seraya mengelus rambut gadis itu dengan lembut.


"Kamu yakin beneran ada yang ngikutin kamu? atau cuma perasaan kamu aja,"


"Sya, aku beneran, meskipun aku nggak liat orangnya tapi aku ngerasa banget. Aku nggak mungkin salah" kata Reyna dengan nada suaranya yang sedikit meninggi membuat Yasya semakin memeluk erat gadis itu membuat Reyna memejamkan matanya.


"Oke, oke, aku percaya sama kamu. Tapi kita sama-sama nggak tau dan nggak kenal kan sama orang itu. Mungkin aja itu cuma orang iseng Rey" ujar Yasya membuat pandangan gadis itu mendongak.


"Oke, gini aja, kita lihat sampai besok. Kalo kamu memang ngerasa diikuti lagi berarti memang ada yang sengaja buat mata-matai kamu. Kamu tenang aja, kalo memang ada yang berniat jahat ke kamu, aku akan lindungi dan bantu kamu ya" kata-kata Yasya membuat perasaan gadis itu lebih tenang dari sebelumnya. Ia tersenyum dan segera mengecup pipi Yasya sekilas dan melanjutkan pelukannya lagi untuk semakin menenangkan hatinya.


"Makasih Yasya" ujarnya membuat Yasya mengangguk seraya mencium puncak kepala gadis itu dan memeluk tubuhnya lebih erat lagi.


***


Hari ini adalah hari yang melelahkan untuk gadis itu hingga ia memutuskan untuk istirahat dan kembali ke rumah. Namun berbeda dengan arah yang hendak Yasya tuju membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya seraya mengguncangkan lengan pria itu pelan.


"Kita ke butik sebentar ya, aku mau beliin baju buat kamu" ujar Yasya dengan santainya membuat Reyna semakin tak faham dengan jalan fikiran Yasya yang membuatnya bertanya-tanya.


Rey a menghela nafasnya kala mereka kini telah sampai tepat di mana butik yang dimaksud oleh Yasya.


"Tumben kamu mau beliin aku baju" kata Reyna seraya membuka pintu mobil hendak keluar dari kendaraan pria tersebut.


"Papi pengen kenal sama kamu, jadi aku harus jadiin kamu putri paling cantik yang pernah putranya miliki" kata Yasya membuat Reyna menghentikan aktivitasnya seketika dan secara otomatis membelalakkan matanya menatap pria yang kini tersenyum kearahnya.


"Papi kamu pengen kenal aku? dan kamu nggak ngasih tau aku dulu Sya? terus gimana dong. Kamu nih ih" ujar gadis itu dengan sebal. Sudah Yasya tebak sebelumnya pasti Reyna akan sebal seperti ini membuat Yasya semakin gemas karenanya. Yasya mencubit pipi gadis itu dengan gemas membuat Reyna bahkan kini tak mau menatapnya.


"Kamu lucu deh kalo ngambek gini, aku jadi makin cinta,"


"Sya, ini nggak lucu tau" ujar Reyna dengan nada ketus membuat Yasya menarik lengan gadis itu sehingga wajah mereka saling berdekatan. Hal itu membuat Reyna mengerutkan keningnya, tatapan pria itu begitu teduh dan intens membuat Reyna tak bisa berfikir dengan jernih.


Ciuman Yasya mendarat di bibir manis gadis itu membuat Reyna menikmatinya meskipun tak lama.


"Emang kenapa kalo kamu ketemu papi? kamu takut? atau belum siap?. Please sayang, papi aku seneng kok sama hubungan kita, dia setuju karena aku bisa berubah semakin dewasa dan semangat karena kamu. Papi bukan orang yang kaku, dia pasti suka kok sama kamu" ujar Yasya membuat Reyna menghela nafasnya.


Fikirannya masih teroenuhi oleh keadaan yang tiba-tiba seperti menjebaknya. Namun ada rasa senang yang menjalar dalam hatinya, bagaimana tidak? bertemu dengan keluarga Yasya adalah salah satu kemajuan untuk hubungan mereka berdua.


Kini Reyna mulai memahami situasi yang terjadi, ia mengangguk patuh dan selanjutnya keluar dari mobil untuk memesan sebuah gaun.


Beberapa gaun telah gadis itu coba, namun masih belum ada yang cocok menurutnya. Meskipun akan terkesan cantik, tapi ia juga harus menonjolkan hormatnya dan juga keanggunan dari seorang Reyna.


Gadis itu melirik beberapa gaun yang masih digantung, ada satu gaun yang membuatnya tertarik. Ia akhirnya memilih baju tersebut, beberapa pelayan butik bahkan membantunya untuk berdandan sebelum keluar menemui Yasya.


Setelah selesai berdandan, gadis itu bercermin lebih dahulu sebelum menunjukkan penampilannya pada Yasya. Rambut yang baru saja ia curly, dengan soflens hitam yang membuat matanya semakin membulat, juga riasan make up tipis yang membuat wajahnya nampak segar daripada sebelumnya. Dilengkapi dengan dress berwarna hitam selutut dan berlengan panjang. Sederhana namun tampak elegan.


Reyna semakin tak bisa menahan senangnya ketika Yasya melihat penampilannya kali ini. Gadis itu melangkah menuju tirai kain yang menutupi ruangan tersebut.


Senyumnya terpancar kala Yasya kini mendongak menatapnya tanpa bisa berkedip sedikitpun.