The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Ternyata



Jam makan siang telah berakhir, kini semua karyawan satu persatu kembali ke kantor mereka. Termasuk Reyna, ia melangkahkan kakinya melalui lorong-lorong kantor, meskipun ia sendiri belum menguasai sepenuhnya tentang bagian-bagian dalam kantor ini tapi dengan hanya melihat-lihat ia berharap nantinya bisa diandalkan seperti Zayn.


Andai saja Reyhan berada disampingnya, mungkin ia tak perlu merepotkan Zayn untuk mengajarinya menangani perusahaan sebesar ini. Karena Reyna yakin, pasti Reyhan lebih bisa diandalkan dibanding dirinya.


Gadis itu tak sengaja menginjak lantai yang licin, ia terjatuh dan tersungkur dilantai. Tiba-tiba saja langkah seorang lelaki bergerak cepat hendak meraih tubuhnya. Namun sayangnya belum sempat jarak mereka dekat Reyhan membalikkan tubuhnya dan menyembunyikan dirinya dibalik lorong.


"Aduh!" lenguh Reyna disusul beberapa karyawati yang kini meraih lengannya untuk menopang dirinya bangun. Reyhan hanya bisa mengintip dari jauh, ia hanya bisa mengawasi Reyna dari sana.


"Hati-hati ibu, lantainya licin, mari kami bantu" ujar karyawati itu yang kini membantu Reyna untuk bangkit dan berjalan kembali.


"Terimakasih"


Usai mereka melangkah menjauh kini Reyhan hanya bisa berharap semoga dirinya tetap aman bekerja disana tanpa diketahui oleh Reyna maupun Zayn. Hampir saja ia menampakkan diri dihadapan Reyna, jika saja dia tak bisa menahan diri bagaimana nantinya ia akan menghadapi Reyna.


'Maafin abang ya Rey, terlalu banyak beban yang abang buat. Sekarang adalah saatnya Tuhan ngasih karma ke abang sama papa, dan kamu nggak perlu masuk dalam kehidupan kita yang udah susah."


Batin Reyhan yang kini mengusap kasar wajahnya. Pria itu kemudian kembali memasuki kantornya, ia melewati partisipan Kanaya yang kini tampak sibuk dengan berkas disampingnya.


Ia hanya melirik sekilas, enggan untuk menyapa maupun bertanya duluan. Begitupun Kanaya yang sepertinya tak memperdulikan kehadirannya dengan fokus pada monitor dihadapannya seraya dengan cepat mengetik beberapa proposal yang memang menjadi tanggungannya.


Kali ini Kanaya hanya bisa menghembuskan nafas lelahnya. Ia sebenarnya tau jika Reyhan telah kembali ke partisipannya. Tanpa perasaan dosa ia mengacuhkan dirinya begitu saja. Lagipula Reyhan lebih memilih untuk makan bersama Novi daripada dengannya. Kanaya menghentikan ketikan di keyboardnya sesaat, ia masih kesal terhadap Reyhan tadi.


Gadis itu kemudian bangkit, ia menetralkan emosinya sejenak. Kanaya kini melangkahkan kakinya untuk keluar dari kantornya, terlihat beberapa orang masih fokus dengan pekerjaan mereka kecuali Reyhan yang sebenarnya sedari tadi hendak bergerak mendekati Kanaya yang sedari pagi bungkam padanya.


Kanaya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, setidaknya menjauh dari Reyhan lebih baik daripada harus berada didekatnya saat ini. Meskipun hanya berkisar sepuluh menit menghindar, tapi sesingkat itu bisa melepaskan kekesalannya sejenak.


Kanaya memasuki salah satu kamar mandi yang berjejer didalam sana. Tak disangka baru beberapa menit dirinya masuk kedalam toilet. Dua orang wanita kini memasuki kamar mandi seraya berceloteh ria didepan cermin dengan beberapa make up di tas yang mereka bawa.


"Gimana perkembangan lo sama si ganteng?" tanya satu wanita yang kini memoleskan lipstik dibibir tebalnya. Gadis disampingnya tersenyum bangga seraya memakai sedikit blush-on dipipinya.


"Ya lancar lah, masa ada sih cowok yang nolak kecantikan gue" ujar gadis itu yang kini tersenyum bangga pada temannya satu itu.


"Lo nggak bakalan mainin si Reyhan kan Nov?" Novi hanya bisa menyunggingkan senyumnya. Baginya Reyhan adalah sosok sempurna lelaki yang ia idam-idamkan selama ini, mana mungkin dia memainkan perasaan pria itu begitu saja.


"Ya nggak lah, gue kasih tau ya, Reyhan sama gue nggak lama bakalan lebih serius daripada cuma pacaran" kata Novi bangga.


"Ih emang si ganteng mau sama lo? bukannya gosip lo itu udah nyebar ya keseluruh perusahaan" kata teman Novi yang kini memperhatikan temannya satu itu yang tersenyum percaya diri sekali. Sejujurnya ia juga curiga, padahal Novi juga tidak cantik-cantik amat, kelakuannya juga sudah banyak yang tau. Tapi bisa-bisanya dia mendapat laki-laki sempurna seperti Reyhan. Meskipun Reyhan sendiri memang staf biasa, tapi siapa yang tidak tau tentang bakatnya yang jenius itu. Bisa jadi belum sampai setengah tahun ia bisa jadi manager di perusahaan itu.


"Gue tau kok kalo lo sirik sama gue, tapi asal lo tau, Reyhan nggak perduli kok sama gosip murahan kayak gitu. Cukup lo tau aja, kalo Reyhan sama gue bakalan tunangan nggak lama lagi"


"Gila lo?! serius?!"


"Minggu depan gue mau dikenalin sama papanya, doain aja ya semoga lancar" ujar Novi membuat teman satunya itu hanya bisa menggeleng.


"Udahlah, gue nggak tau taktik macem apa yang lo mainin. Cabut gih!" ujar wanita itu yang disusul dengan gelengan dari Novi dan mengikutinya keluar dari kamar mandi.


Setelah mendengar derap langkah kaki mereka keluar. Kanaya membuka pintu toilet itu, ia melangkahkan kakinya menuju wastafel tepat dihadapannya seraya menyalakan air itu dengan kasar. Setelah itu Kanaya mencuci wajah menggunakan air yang mengalir itu. Ia menatap matanya yang kini telah memerah dan tanpa sadar menetes beberapa bulir air mata yang tak ingin ia tumpahkan.


Kanaya menjatuhkan tubuhnya sendiri, tubuhnya merosot dengan air mata yang berlinang dipipinya yang tanpa make-up itu. Betapa sakitnya ia ketika mendengar bahwa orang yang paling dicintai telah berkomitmen dengan orang lain.


Kanaya memeluk lututnya, fikirannya kacau dengan hatinya yang begitu hancur oleh perkataan Novi barusan. Jika itu benar maka Reyhan selama ini menganggapnya apa?, padahal Reyhan selalu bersikap manis padanya.


Kanaya kini bangkit, ia menghapus jejak air matanya seraya menguatkan hatinya. Toh kemarin hari perkataan Reyhan sudah cukup jelas mengatakan bahwa dirinya hanyalah sebatas sahabat baginya. Tidak lebih dari itu, seharusnya Kanaya sadar, dia tak seharusnya marah tanpa alasan karena memang dirinya tidak ada hubungan apapun dengan Reyhan.


Kanaya kembali ke kantornya, tampak wajahnya lusuh dan ditekuk tak seperti tadi. Saat ini ingin sekali ia pindah divisi atau resign sekalian dari tempat kerjanya itu. Ia tak sanggup harus menahan rasa sakit ini sendirian. Kanaya melangkah menuju partisipannya, ia kembali berkutat dengan monitor yang menemaninya setiap saat itu.


Tanpa disadari satu tepukan di pundaknya menyadarkan lamunannya dengan matanya yang masih sembab membulat begitu saja.


"Kamu kenapa Nay? sakit ya?" suara itu dulunya bagai penyejuk dalam jiwa Kanaya, kini berubah bagai petir menyambar hatinya. Ia ingin sekali menangis jika mendengar maupun melihat wajah Reyhan saat ini. Tanpa menoleh Kanaya hanya menggeleng saja seraya melepaskan jemari Reyhan dari pundaknya.


"Tapi kamu kok pucat? mau aku anterin ke klinik?" Kanaya sudah lelah, berapa kali Reyhan bersikap begitu hangat padanya. Atau mungkin bukan hanya dirinya satu-satunya yang mendapat perlakuan demikian dari pria itu. Tapi semua wanita ia anggap sama.


"Aku nggak apa-apa kok kak, cuma sedikit kecapean aja" kata Kanaya seraya mencoba untuk tersenyum walaupun kini wajahnya masih enggan menghadap Reyhan yang berada dibelakangnya.


"Mau aku bantuin aja?" tawaran Reyhan membuat hati Kanaya semakin sakit. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, ia tak ingin terlihat lemah seperti ini.


"Nggak perlu, aku bisa sendiri!" kata Kanaya dengan suaranya yang sedikit meninggi membuat Reyhan menaikkan sebelah alisnya.