The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Natalie dan harapannya



Sebuah taman hijau dengan pemandangan bunga yang menenangkan jiwa membuat Falery terkesima.


Sudah sekitar lima belas menit berlalu dirinya duduk sambil memegang setangkai mawar ditangannya.


Ia masih menunggu kedatangan dari sahabatnya yang kian bertambah cemas saat Sarah belum juga hadir.


"Falery..." suara familiar itu membuat Falery bangkit dan menatap Sarah yang kali ini berhambur memeluk tubuhnya.


Seketika Falery terperanjat oleh tatapan mata yang pertama ia lihat dari Sarah. Matanya memerah dengan suara seraknya yang khas orang usai menangis.


Gadis itu mengelus puncak kepala sahabatnya.


"Hiks, Fay pernikahan ku" suara itu membuat Falery kembali tersentak. Ia membulatkan matanya mengingat kehadiran Yasya kemarin sore.


"Apa yang terjadi dengan pernikahan mu ?!!."


"Hiks, Yasya membatalkannya Fay" sebuah dugaan kuat yang kini menjadi nyata. Membuat gadis itu lemas seketika.


Ia baru menyadari bahwa Yasya sudah mengetahui perihal dirinya. Dan dapat ditebak apa hal yang akan dilakukannya setelah mengetahui segalanya. Falery sama sekali tidak menyangka, bukan ia bahagia dengan seperti ini, tapi ini sama saja melukai dirinya sendiri.


"APA?!" Falery melepaskan pelukannya, ia terduduk lemas dengan kedua tangannya yang mengusap wajahnya sendiri.


Ia tak tau lagi harus bagaimana, ia tak ingin keadaan bertambah buruk. Direngkuhnya tubuh sahabatnya itu, Falery enggan untuk bertanya lebih, mengingat ia adalah sumber masalah meskipun tidak secara langsung.


Suara teriakan anak-anak ditaman yang luas area rumah sakit Sun Town terlihat riuh dengan beberapa dari mereka bisa tertawa dan tersenyum bahagia.


Membuat Falery dan Sarah yang kini duduk disebuah gazebo ikut tersenyum hangat diantara bunga-bunga yang bermekaran dan juga rumput dan tanaman yang menghijau.


"Kau lihat Sarah, mereka tertawa, tersenyum dan berlarian, tapi siapapun dari kita tak ada yang mampu mengetahui sejauh mana takdir Tuhan."


Terlihat mata Sarah yang sayu dengan pandangan yang beralih pada Falery.


"Apa maksudmu?."


"Banyak dari para orang dewasa yang harusnya belajar dari mereka, meskipun mereka tidak pernah tau apa penyakit yang mereka derita tapi disini mereka diberikan sebuah perhatian khusus agar mereka selalu semangat menjalani kehidupan"


Falery tersenyum, meski bibirnya bergetar menahan air matanya yang akan tumpah.


"Aa Sarah, sebagian dari anak-anak itu memiliki riwayat penyakit, sindrom, kanker, tumor dan lain sebagainya."


Sarah bangkit, ia kembali meneteskan air matanya kala mendengar penuturan dari Falery yang begitu menyayat hatinya.


"Mereka masih sangat kecil Fay, masih banyak yang belum mereka lihat didunia ini, bukankah ini tidak adil."


"Sarah, semuanya adil jika Tuhan yang berkehendak, kau tak bisa menyalahkan takdir atas apa yang menimpamu. Semua yang dituliskan oleh Tuhan pasti memiliki hal positif. Aku pernah bertanya pada salah satu anakku dia bernama Natalia."


Falery mencoba untuk menelan salivanya, ia tak kuasa jika harus mengingat hari itu.


"Natalie, lima belas tahun, divonis mengidap kanker tulang stadium empat. Aku masih ingat tawanya sampai sekarang, aku masih ingat ketika ia berulangkali di kemo dan aku adalah salah satu orang yang menjadi penyemangat untuknya suatu hari, ia seharusnya melalui tahan akhir dalam pengobatannya melalui kemo terapi, tapi hal yang mengejutkan pun terjadi."


Flashback on.


Seorang anak yang kini menginjak remaja dengan wajahnya yang begitu pucat serta kepalanya yang telah gundul berbaring disebuah bangsal. Tiada yang ia lakukan melainkan hanyalah diam dan menunggu pengobatan datang.


Bahkan keluarga disampingnya yang kini mulai menangis ia membalas dengan senyuman, seolah ia akan segera sembuh.


"Selamat siang kakak Fairy, keadaan ku sangat baik" ucapnya pada Falery yang kini mulai memeriksa keadaannya.


"Kak, apakah aku akan di kemo lagi?" tanyanya membuat Falery mengangguk dan tersenyum.


"Tentu saja, setelah ini kau akan menjalani kemo untuk yang terakhir. Maka dari itu kau harus semangat jangan putus asa"


"apa aku akan sembuh?" Falery mendadak bungkam, ia tersentak ketika Natalie bertanya hal demikian.


Memang kemo terapi tidak menjamin seseorang untuk sembuh, tapi hanya memperpanjang umurnya saja. Tiba-tiba saja, mata Falery berkaca-kaca menatap gadis yang kini hanya tersisa nafasnya saja.


Rasanya sesak didada nya tak bisa ia tahan lagi. Gadis itu berusaha keras untuk tak menangis meski ingin. Karena yang dibutuhkan Natalie kali ini hanyalah senyuman dan semangat dari orang-orang disekelilingnya.


"Kenapa kau bertanya begitu Natalie? kau pasti sembuh"


Saat itu, Natalie tak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengajak Falery untuk berjalan-jalan di taman.


Falery mendorong kursi roda yang dinaiki Natalie.


"Kak, bisa kau ceritakan bagaimana surga itu?" tanya Natalie secara tiba-tiba.


"Sebenarnya surga tidak bisa dibayangkan oleh manusia, tidak terlintas oleh fikiran dan juga akal. Tapi harus kau tau, surga adalah tempat terindah yang diciptakan oleh Tuhan.


Natalie hanya mengangguk, kemudian Falery beralih duduk bersimpuh dihadapannya.


"Aku hanya ingin dengar saja"


"Baiklah, sudah hampir setengah jam kita disini, kau harus kemo Natalie"


Falery hendak bangkit, namun gadis dihadapannya menahan lengannya untuk tetap bertahan.


Gadis berkacamata itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja mata Natalie telah basah oleh air matanya yang terus mengalir.


"Hiks, biarkan aku istirahat kak. Aku lelah" suara lirih namun penuh harapan itu begitu menggema ditelinga Falery. Seketika tubuh Falery bergetar dengan jantungnya yang berdegup kencang.


"Aku ingin ke surga. Hiks, aku sudah lelah kak, aku lelah menghadapi penderitaan yang tiada habisnya untukku. Kemo terapi itu begitu menyakitkan, aku mendengar percakapan ibu dan ayah. Mereka bilang bahwa aku takkan bisa sembuh. Jadi tolong biarkan aku pergi kesana"


Falery tak bisa menahan tangisnya. Ia merasakan penderitaan yang dialami Natalie selama ini. Rambutnya yang rontok hingga membuat kepalanya gundul. Wajahnya yang semakin pucat dan terkadang disertai dengan mimisan.


Falery tak kuasa, ia bahkan memberikan banyak sekali suntikan dan obat-obatan untuk gadis dihadapannya hanya untuk memperlambat kematiannya, yang dimana itu sangat menyakitkan untuk Natalie.


Flashback off.


Tes tes tes


Tetesan air mata Falery tak dapat ia tahan lagi. Ia mengingat kejadian itu seperti memori yang tak dapat dilupakan.


"Aku hiks aku membiarkannya melewati hari tanpa pengobatan terakhirnya Sarah"


Sarah memeluk tubuh Falery, ia tau betapa besar bebannya menjadi seorang dokter apalagi untuk anak-anak yang umurnya tidak lama atau bahkan seumur hidupnya harus menderita.


"Ssttt kau tidak salah Fay, dia harusnya bahagia bukan" Falery memejamkan matanya. Bahkan disaat seperti ini dua orang sahabat yang saling mengasihi itu saling menguatkan satu sama lain.