The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Keluarga



Ceklek.


Suara terbukanya pintu Reyna, tatakala gadis itu membukakan pintu untuk sosok pria yang familiar untuknya. Siapa lagi kalau bukan Zayn.


"Kak, ada apa?" tanya Reyna dengan wajah polosnya membuat Zayn kini tersenyum padanya.


"Mommy mau ngomong sesuatu, kita ke ruang keluarga yuk" ajak pria itu yang kini menggandeng tangan adiknya dengan lembut. Kini Reyna hanya bisa mengangguk, ia tak tau lagi apa yang hendak Ajeng katakan padanya. Namun sepertinya ada hal penting, mengingat bukan hanya dirinya yang diajak untuk bicara, namun juga Zayn yang kini menggandeng jemarinya.


"Kak, mommy mau ngomongin soal apa ya?" bisik Reyna ditengah langkah mereka menuju ruang keluarga. Namun Zayn hanya tersenyum seraya memelankan langkah dan juga suaranya.


"Ssstt, udah, nanti kamu juga tau sendiri kok" kata Zayn yang membuat Reyna kini mengerucutkan bibirnya.


Reyna kini melepaskan genggaman tangannya dari Zayn yang terus menariknya, ia menatap Ajeng yang kini seperti menunggu kehadirannya. Siapa lagi kalau bukan Zayn dan juga Reyna yang kini masih berdiri mematung.


"Reyna, mommy kira kamu belum udah tidur nak, kamu tadi belum tidur kan sayang?" Reyna menggeleng, bagaimana bisa ia tidur jika yang ada difikirannya terdapat Yasya disana.


"Nggak kok mom, aku belum tidur kebetulan aku lagi main ponsel tadi, jadi mommy mau ngomongin apa?" pertanyaan itu membuat Ajeng bernafas lega.


"Kalo gitu sini nak, duduk sama mommy, mommy mau bicara sama kamu. Kamu juga Zayn, duduk deket mommy" kata Ajeng membuat Zayn dan Reyna saling melirik, mereka berdua akhirnya duduk bersebelahan dengan Ajeng dimana Ajeng yang kini berada diposisi tengah.


Reyna dan Zayn sama-sama merasakan kehangatan. Seorang ibu yang sangat mencintai anak-anaknya, itulah Ajeng, ia tak pernah membeda-bedakan anaknya. Baginya meskipun Reyna bukanlah anak kandungnya tapi ia begitu sayang pada gadis itu.


"Reyna, kakakmu sudah memegang saham yang dimiliki mama kamu. Sekarang kamu sudah ingat semuanya, kamu juga telah menyadari jati diri kamu yang sebenarnya. Sebelumnya mommy sudah berdiskusi dengan Zayn, dan kami mau menyerahkan saham itu yang sebelumnya diwakilkan oleh Zayn" kata Ajeng membuat Reyna sedikit tersentak. Ia bahkan kini mendongak menatap sang ibu yang tersenyum kearahnya.


Ia bahkan berniat untuk memberikan saham itu pada keluarga Gilbert bukan untuk dimilikinya. Karena bagaimanapun, dia dulunya bisa bertahan karena mereka.


"Mom, aku nggak mau. Aku udah punya tekat buat memberikan saham itu ke kalian" kata Reyna membuat Ajeng mengernyitkan keningnya.


"Sayang, itu adalah warisan dari mama kamu, kamu adalah pemilik sahnya, bukan Zayn maupun kami. Ini sudah menjadi kewajiban dan hak kamu Reyna, mommy tau kamu bisa diandalkan untuk menangani bisnis, bahkan kalau kamu belum siap, ada Zayn maupun Yasya yang bisa bantu kamu."


"Rasa bersalah apa?! kamu jangan bahas soal daddy, kalo kamu anggap diri kamu penyebab kematian daddy, kamu salah besar sayang. Ini semua udah jalan dari Tuhan, dan kita cepat atau lambat pasti akan mengalaminya. Kamu nggak boleh kaya gitu sayang, kalau kamu menolak mentah-mentah warisan dari mama kandung kamu, artinya kamu nggak menghargai beliau. Kamu sayang kan sama mama kamu?" pertanyaan itu sontak membuat air mata Reyna berjatuhan. Ia bahkan kini memeluk tubuh Ajeng yang begitu hangat untuknya, sedangkan Zayn hanya bisa menatap pemandangan tersebut dengan senyuman yang selalu ia lontarkan.


"Ada satu hal lagi Reyna, sebelumnya mommy minta maaf sama kamu. Seharusnya mommy nggak egois" Ajeng kemudian menceritakan keberadaan Reyhan yang sebelumnya menjenguknya saat dirinya dirawat di rumah sakit. Dengan mata yang berkaca-kaca, Ajeng menceritakan sikapnya yang dilanda emosi kala bertemu dengan kakak kandung Reyna itu.


Rasa sesal ia tumpahkan lewat air matanya yang lagi-lagi membuat Reyna tampak tak tega. Mungkin apa yang dilakukan Ajeng bagi Reyna adalah sikap yang dilakukannya sama seperti saat dirinya hendak menjenguk Zayn saat kecelakaan kala itu. Ajeng hanya emosi sesaat, mungkin karena mengingat bagaimana keluarga kandungnya memperlakukannya dengan tidak baik, dan apa yang terjadi pada Reyna kala itu membuat Ajeng menjadi murka.


"Maafin mommy nak, seharusnya mommy nggak bersikap kaya gitu sama Reyhan. Walau bagaimanapun, dia juga kakak kandung kamu. Mommy tau mommy egois, mommy juga pernah melakukan kesalahan ke kamu, dan mommy sendiri bisa kamu maafkan, tapi dengan jahatnya mommy mengusir Reyhan dan menampar dia" kata Ajeng yang kini memeluk putri semata wayangnya itu.


Kini ia takut Reyna membencinya, ia takut Reyna tak mau lagi berhubungan dengannya karena sikapnya yang begitu kasar. Namun lain halnya dengan Reyna yang kini mengelus punggung wanita itu seraya menenangkan hatinya.


"Mom, aku bisa ngerti kok, aku tau mungkin kesalahan abang sama papa itu terlalu besar. Tapi mereka juga tetep keluarga aku, dan mommy juga gitu, sampai kapanpun mommy akan tetep jadi mommy nya Reyna."


"Apa yang dibilang Reyna itu bener mom, mungkin kalau Reyna atau Zayn yang ada diposisi itu kami bakal ngelakuin hal yang sama. Semua orang punya kesalahan masing-masing tapi mereka juga berhak mendapatkan kesempatan untuk bersikap lebih baik di kemudian hari" ujar Zayn yang kini beralih merengkuh sang ibu, membuat Ajeng begitu terharu dengan posisi mereka.


***


Reyna kini kembali ke kamarnya, ia masih berfikir dengan bayangan Reyhan kala itu. Ternyata selama ini ia tidak pernah salah, bayangan itu bukan hanya sekedar mimpi, tapi memang Reyhan perduli padanya. Dan kenyataannya Reyhan telah tau segalanya.


Kini tiada keraguan dalam dirinya, ia meyakinkan hatinya untuk mencoba menerima Reyhan dan Reynaldi kembali. Apalagi mengingat Reyhan kala itu berkeluh dengan perusahaan mereka yang tengah bangkrut. Seketika hati Reyna teriris, belum juga masalah dengan Yasya selesai, kini ia harus mencari keluarga kandungnya.


Ia sudah bertekad, ini semua juga kesalahpahaman saja, bukan sengaja mereka lakukan. Reyna kini duduk di sisi ranjang, ia meremas selimut itu dan menyentuh dadanya yang begitu perih. Entah mengapa Reyna merasa ingin memeluk keluarganya dengan erat.


"Abang, papa, Reyna kangen sama kalian. Tapi kenapa abang nggak mau nemuin aku lagi? kenapa? aku sayang bang Rey dan papa" gumam Reyna yang kini mulai menitikkan air matanya.


Gadis itu membaringkan tubuhnya, ia sudah tekat dengan tujuannya untuk mencari keberadaan keluarga kandungnya. Ia kini tak lagi ragu, namun ada satu yang membuatnya takut. Yaitu Falery dalam tubuhnya yang masih mendominasi kehidupannya.