The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Ditengah rapat



"Iya, terimakasih. Oh ya rapatnya mulai berapa menit lagi?" pertanyaan itu membuat dokter Rudi menatap arlojinya dan menatap Reyna seketika.


"Kira-kira lima menit lagi."


"Kalau gitu kita ke tempat ruang rapat, nggak enak kalau nanti banyak yang nunggu" ujar Reyna membuat dokter Rudi mengangguk.


Langkah Reyna sejajar dengan dokter Rudi yang berada disampingnya, sepanjang perjalanan mereka berbincang-bincang mengenai pasien yang hendak di operasi esok hari.


"Kalau tidak secepatnya dioperasi takutnya ada kesalahan pada jantungnya dok, soalnya pasien sudah lama mengidap penyakit ini" kata dokter Rudi membuat Reyna menyimak seraya mengangguk.


"Iya, saya sudah tau dokter apalagi umur pasien ini sudah terlampau untuk melakukan operasi, seharusnya ada metode lain atau cara lain agar operasinya lebih bisa menjamin keselamatannya" ujar Reyna menambahi.


Gadis itu tiba-tiba berhenti seketika kala melihat Reyhan beserta beberapa suster mendorong bangsal yang membawa seseorang disana. Terlihat wajah pria itu semakin cemas dan khawatir melihat pria yang kini ia yakini adalah Reynaldi terbaring disana. Tidak salah lagi, itu Reyhan dan Reynaldi, tiba-tiba saja ingatan itu kembali. Ia seperti ada dan tiada diantara mereka.


"Dokter Reyna, ada apa?" pertanyaan itu menyadarkan gadis itu, ia buru-buru melangkahkan kakinya kembali seraya menutup mulutnya menggunakan map yang ia bawa bersamanya.


Saat mereka bersimpangan bahkan Reyhan tak sedikitpun menoleh, hanya Reyna yang sedikit melirik keadaan ayahnya yang begitu pucat membuat hatinya kian terluka.


'Papa' batinnya seraya memejamkan matanya untuk mengepal kuat tangannya.


"Dokter Rudi, siapa pasien itu?" pertanyaan itu seketika membuat keduanya berhenti untuk melangkah. Dokter Rudi memperhatikan pria tersebut dengan seksama, oleh karena dokter Rudi adalah dokter yang menangani beberapa pasien yang masuk UGD menggantikan posisi Aldo sebagai ketua tim.


"Itu pasien yang baru masuk hari ini, namanya tuan Reynaldi. Sakit jantung dokter, sudah berulangkali dia kemari. Padahal kami sudah menyarankan untuk rawat inap, tapi beliau menolak. Ya mungkin karena faktor usia, ditambah lagi dia merasa kesepian karena anak satu-satunya selalu bekerja setiap harinya. Kasian dok, apalagi kalau tetap seperti itu pasti akan menyiksa diri" perkataan dokter Rudi seketika menggugah perasaan Reyna.


Ia membalikkan tubuhnya untuk menatap sekilas bayang yang telah hilang dari pandangannya. Gadis itu menghela nafasnya untuk beberapa kali mengerjapkan mata.


"Kalo gitu, kita lanjutkan saja" seru Reyna yang kini mulai menata hatinya lagi. Reyna tak ingin terbawa suasana, baginya masa lalu itu takkan terulang lagi dan ia akan melupakan segalanya.


Namun apalah daya, ingatan akan selalu kuat bersama dengan kenangannya. Apalagi itu adalah hal yang menyakitkan dan tak bisa dilupakan sepanjang hidupnya.


Reyna dan dokter Rudi memasuki ruang rapat, mereka juga menunggu beberapa dokter maupun perawat yang mengambil alih pekerjaan besok untuk misi menyelamatkan pasien.


Namun sialnya, ditengah rapat yang harus dihadiri semua orang fikiran gadis itu terganggu. Entah mengapa rasa cemas menjalar dalam fikirannya yang berkecamuk mengingat keadaan Reynaldi yang kini entah bagaimana keadaannya.


"Bagaimana pendapat anda tentang rancangan saya dokter Reyna" pertanyaan itu bahkan tak membuat hati Reyna mengindahkan ayahnya ditempat semula. Perang batin dalam hatinya semakin gencar untuk tak memikirkan keadaan pria paruh baya itu.


"Dokter Reyna" gumam pria itu pelan membuat Reyna bangkit seketika. Hal itu membuat semua orang yang berada disana menatap gadis itu dengan tatapan aneh. Seketika dokter Martin menggebrak meja, membuat Reyna terkejut dan menunduk untuk menghindari tatapan dingin dari pria paruh baya itu.


"Ma, maaf dokter Martin" ujarnya yang kini beralih duduk dan menghembuskan nafasnya.


"Dokter Reyna, saya tidak suka orang yang tidak profesional, jadi tolong lebih serius ketika kita sedang rapat seperti ini" perkataan dokter Martin membuat Reyna menghela nafasnya. Ia kembali dalam situasi kacau karena mengingat keadaan ayahnya yang masih menjadi tanda tanya untuknya.


Jika ia tak segera melihat dan mengetahui keadaan Reynaldi ia pasti akan semakin gila dibuatnya. Reyna kini tiba-tiba bangkit kembali, ia bahkan tak perduli jika harus menjadi pusat perhatian para dokter senior yang mengecapnya sebagai dokter apalah nantinya.


"Saya permisi dokter, ada suatu hal yang harus saya kerjakan dan ini penting" kata Reyna seraya melangkah menjauh untuk keluar dari ruangan tersebut. Gadis itu bahkan menghiraukan tatapan tajam tajam dari Martin yang kini melepaskan kacamatanya.


"Bagaimana ini dokter, bukannya dokter Reyna seharusnya wajib untuk mengikuti rapat ini. Bagaimanapun juga dia dokter terpenting dalam misi kita kali ini" perkataan salah satu dokter disana membuat Martin terdiam. Ia menggeleng seraya menatap semua orang dengan pandangan serius.


"Kita hanya membutuhkan dokter dengan predikat yang baik, bukan tiba-tiba pergi tanpa permisi. Saya rasa tidak perlu memikirkan dokter Reyna lagi" ujar dokter Martin dengan tegas membuat semua orang disana tercengang.


Bahkan mereka sendiri tak menyangka dengan apa yang dilakukan Reyna barusan, seperti bukan Reyna yang biasanya. Ia terlihat tidak fokus, seharusnya ada penjelasan dibaliknya. Namun mereka takut hal itu akan menjadi boomerang bagi mereka sendiri.


Sementara itu kini Reyna yang keluar dari ruangan tersebut berusaha mencari


dimana keberadaan Reynaldi yang kini entah bagaimana keadaannya. Reyna bahkan menanyakan kepada beberapa suster yang lewat.


Setelah mengetahui keberadaannya, ia berjalan cepat seraya setengah berlari untuk melihat keadaan ayahnya. Reyna berjalan dengan nafasnya yang tersengal, tatapannya menatap pada Reyhan yang kini tengah menahan tubuhnya dengan satu tangan didinding. Sambil menangis, pria itu mengusap air matanya yang berlinang.


Betapa terenyuhnya Reyna, ia mendengar Reyhan yang tengah bergumam sendiri sedang ia yakini bahwa ayahnya berada didalam sana. Reyna kini bersembunyi di balik dinding yang memisahkan antara beberapa ruangan.


"Pa, maafin Reyna pa, Reyhan benar-benar bodoh. Maafin Reyhan yang nggak bisa mempertahankan perusahaan kita" ujar Reyhan yang kini menyandarkan kepalanya dan tubuhnya merosot seketika.


Bahkan Reyna kini tak bisa menahan tangisnya kala Reyhan berkata demikian. Ia juga merasakan sakit dengan apa yang Reyhan katakan barusan. Reyna berusaha keras menutup mulutnya yang hendak terisak. Bahkan ia tak tau bagaimana keadaan mereka selama ini. Kini Reyna baru sadar betapa sulitnya hidup mereka saat ini.


"Apa aku terlalu jahat sama kalian? maafin aku pa, bang Rey" gumam gadis itu seraya menyeka air matanya yang kini mengalir deras dipipinya.


Reyna kini menyadari betapa keluarganya terlihat susah. Ia bahkan tak perduli jika saja kehadirannya tak dianggap lagi yang jelas ia harus membantu mereka dengan


segenap yang Reyna bisa.