The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Keberhasilan



Suara detak jantung Reynaldi terdengar normal kembali, akhirnya ia bisa menyelesaikannya dengan baik. Namun Reyna tak bisa menahan rasa sakitnya lagi. Gadis itu tiba-tiba saja menyentuh pundak Dinda yang tersenyum kearahnya.


"Rey, kamu berhasil Rey" perkataan itu membuat Reyna kembali tersenyum namun gadis itu tiba-tiba saja kehilangan kesadaran dan tiba-tiba saja ambruk membuat Dinda dan suster tersebut menyadari begitu banyak darah yang memenuhi lantai.


"Reyna!" teriak Dinda yang kini menopang gadis itu. Reyna merasa tak kuasa lagi untuk membuka matanya, namun ia mencoba untuk bicara meskipun suaranya tak terlalu terdengar.


"Bawa, bawa dia pergi Din" ujar Reyna membuat Dinda kini tak bisa menahan tangisnya dan mengangguk. Dinda segera memerintahkan suster untuk mengeluarkan Reynaldi dari dalam ruangan tersebut sedang Dinda membopong tubuh Reyna yang kini berlumuran darah.


"Rey, kamu harus tahan Rey" ujar gadis itu yang kini keluar dari ruangan tersebut. Tiba-tiba saja sebuah bangsal menjemput mereka berdua, Dinda bahkan tak menyangka jika kini Alfian menyaksikan mereka berdua keluar dari ruangan tersebut.


"Dokter, dokter Al" kata Dinda yang kini tengah terpaku menatap Alfian yang segera beralih meraih Reyna dan membaringkannya di atas bangsal tersebut.


Alfian segera melepaskan masker yang dikenakan oleh Reyna agar gadis itu tak merasa sesak nafas. "Reyna kenapa bisa begini? kenapa dia?" pertanyaan itu sontak membuat Dinda panik, ditengah pelarian mereka berdua.


"Dokter yang paling penting kita harus selamatkan dokter Reyna dulu, kita harus segera menghentikan pendarahannya" ujar gadis itu membuat Alfian menggeleng dan segera memasukkan Reyna kedalam ruangan khusus.


Tanpa disadari dari arah belakang Reyhan menatap pemandangan itu, ia menatap bangsal Reyna yang tengah didorong kedalam suatu ruangan membuat pria itu semakin penasaran dengan apa yang terjadi dibalik keberhasilan operasi ayahnya.


Reyhan menatap ruangan tersebut, ia hendak masuk namun dokter perempuan dari dalam tersebut tiba-tiba mengejutkan langkahnya.


"Dokter, saya ingin bertanya sebenarnya apa yang terjadi?" pertanyaan itu membuat Dinda menggeleng, ia menatap Reyhan dengan perasaan cemasnya.


"Salah satu teman kami terluka, dan lukanya begitu serius. Kenapa? apa anda mengenal dokter Reyna?" pertanyaan itu membuat Reyhan membelalakkan matanya. Bahkan nama itu kini seperti terlampau jauh untuknya. Ia tak menyangka jika dokter didalam bernama sama seperti adiknya. Namun ia masih penasaran dengan dokter yang menyelamatkan nyawa ayahnya itu.


"Apa dia dokter Reyna Malik?" pertanyaan itu membuat Dinda menaikkan sebelah alisnya. Tampak Reyhan hanya iseng untuk bertanya demikian, mungkin ia terlalu merindukan adiknya itu.


"Iya, dia sedang dirawat didalam. Maaf saya permisi dulu" perkataan Dinda membuat Reyhan tak bisa berfikir lagi, ia membiarkan Dinda pergi begitu saja. Tatapannya kini beralih pada pintu ruangan dihadapannya. Ia masih bertanya-tanya, apakah dia adalah Reyna yang ia cari selama ini. Reyna yang telah meninggal mana mungkin hidup kembali.


Reyhan segera membuka pintu itu, ia setengah berlari menerjang tubuh Alfian yang kini tengah menyuntikkan obat untuk Reyna yang tengah tak sadarkan diri. Kini ia memastikan sendiri bahwa didepan matanya memang benar Reyna. Reyna adiknya gadis itu membuat Reyhan seperti berhenti bernafas. Entah ia harus bahagia atau malah sedih ketika melihat keadaan Reyna kali ini dengan selang oksigen yang melilit hidungnya.


"Rey, Reyna, Reyna adikku" ujar pria itu yang kini menitikkan air mata dan terjatuh begitu saja dibawah bangsal tempat Reyna terbaring.


"Reyhan! cepat bangun, ini tempat sensitif, kamu tidak boleh sembarang masuk kemari."


"Reyna begini karena menyelamatkan tuan Reynaldi."


"Cepet ceritain ke gue permainan apa yang lo buat? kenapa dia bisa hidup lagi. Lo pasti bohong kan dari awal?!" pertanyaan itu membuat Alfian menggeleng, ia melepaskan kacamatanya dan menatap miris pada Reyhan yang kini terlihat kacau.


"Aku nggak berhak buat cerita, karena ini bukan urusan aku Reyhan. Biarkan Reyna siuman dan kamu akan mendengar sendiri dari mulutnya" ujar Alfian yang kini hendak meninggalkan ruangan itu membuat Reyhan enggan untuk meninggalkan adiknya.


Reyhan menatap raut wajah Reyna yang begitu damai namun sangat pucat. Ia tak tau apa yang dialami adiknya selama ini, tapi mengetahui keadaannya baik-baik saja ia begitu merasa lega dan begitu tenang.


Reyhan menyeka air matanya, ia menggenggam jemari gadis itu dengan lembut. Ia seperti tak ingin kehilangannya lagi untuk kesekian kalinya. Apapun yang terjadi, ia akan menunggu hingga Reyna siuman kembali.


Sementara itu suara derap langkah kaki seorang pria kini berlari kearah ruangan tersebut, terlihat Alfian yang kini duduk dibangku ruang tunggu. Pria itu dengan wajah khawatirnya tanpa basa-basi hendak masuk kedalam namun, langkahnya terhenti kala melihat seorang pria yang kini menggenggam jemari Reyna.


"Al, itu siapa?" pertanyaan itu membuat Alfian menatap Yasya dan segera bangkit untuk menyentuh punggung sahabatnya.


"Reyhan, dia udah tau kalau Reyna masih hidup" kata Alfian membuat Yasya menatapnya dengan pandangan mengerti. Yasya menghela nafasnya, ia kembali duduk untuk mendengar cerita dari sahabatnya perihal Reyna yang tiba-tiba dalam bahaya.


"Reyna mengoperasi papanya sendiri, dia bersikeras buat menyelamatkan papanya. Tapi ditengah kegiatan itu, tiba-tiba saja Reyna menusukkan sebuah gunting diperutnya. Hal itu membuat dia kehilangan banyak darah" penjelasan Alfian membuat Yasya menatapnya dengan pandangan bertanya.


"Kenapa Al? kenapa dia lakuin itu?" pertanyaan itu membuat Alfian mengangguk, ia tersenyum kearah Yasya dan menyentuh punggung sahabatnya itu dengan lembut


"Lo tau kan Reyna masih punya Falery. Perkiraan gue, ditengah ia nanganin operasi papanya Falery pasti datang, dia mungkin takut Falery punya niat buruk, jadi ia putuskan buat melukai tubuhnya. Gue salut sama Reyna, dia masih bisa bertahan di sisa waktu terakhir."


"Terus papanya gimana sekarang? udah baikan?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Yasya. Ia sangat mengkhawatirkan mereka saat ini, walau bagaimanapun sekejam-kejamnya Reynaldi padanya, ia juga sosok ayah untuk Reyna.


"Tenang aja Sya, tuan Reynaldi baik-baik aja kok, berkat pertolongan dan juga tekat Reyna sekarang papanya udah keluar dari masa kritisnya" kata-kata Alfian membuat Yasya bisa bernafas lega. Namun sebelum ia bisa melihat keadaan Reyna saat ini, rasanya ia masih ingin memastikannya sendiri.


Sementara itu didalam ruangan tersebut Reyhan terus memegangi jemari Reyna, ia hanya ingin adiknya segera siuman dan kembali. Entah bagaimana perasaan Reynaldi nantinya jika ia tau bahwa putri kesayangannya masih hidup hingga sekarang.


"Reyna, bangun Rey, maafin abang sama papa" gumamnya dengan suara serak dan tangisan yang mengalir deras dipipinya.