
Kanaya dan Reyhan kini telah berada dirumah gadis itu. Dengan wajah yang masih ditekuk serta perasaan kesalnya, ia perlahan membuka jaket kulit yang dikenakan Reyhan dan memeriksa luka yang kini terdapat di atas dada bagian kiri pria itu, tepat disamping kaos yang ia kenakan.
"Sayang, kamu kenapa?" pertanyaan itu bahkan tak digubris oleh Kanaya, ia masih berpaling dengan tatapannya yang mengarah fokus pada luka lebam di dada Reyhan.
"Aw sakit Nay!" teriaknya lirih ketika Kanaya mengompres luka itu dengan air dingin. Kanaya hanya melirik sekilas Reyhan dengan tatapan tak suka membuat pria itu semakin keheranan saja.
"Sayang, kamu kenapa?" ulang Reyhan kedua kalinya seraya menyentuh rambut Kanaya yang panjang sepunggung.
"Kamu kenapa sih pernah ada urusan sama cewek gila kaya Novi? apa alasan kamu cuma ngehindar dari Reyna aja? apa kamu nggak pernah mikir gimana perasaan aku selanjutnya? sekarang kamu baru tau karakter Novi itu kaya apa, heran deh" ujar Kanaya dengan suaranya yang memburu dan ekspresi yang begitu kesal bukan main.
Reyhan hanya bisa terkekeh, memang apa yang dilakukan Novi tadi sudah keterlaluan. Ia sendiri tidak bisa menahan jika Novi bukanlah perempuan. Tapi dilihat dari ekspresi Kanaya saat ini, terlihat wajahnya yang begitu cemburu.
"Kamu cemburu ya?" pertanyaan itu membuat wajah Kanaya memerah. Ia memalingkan wajahnya untuk menghindari telisik dari Reyhan yang menggodanya itu. Namun sedetik kemudian ia ingat apa yang dikatakan Novi dulu waktu dirinya dipermalukan oleh Reyna dan Reyhan sewaktu dikantor. Ditambah lagi kata-katanya di toilet itu.
"Atau jangan-jangan apa yang dibilang Novi itu ada benarnya? kakak pernah main sama Novi ya? atau sebelumnya kakak emang pernah mau niat serius sama dia" kata Kanaya yang kini menatap pria dihadapannya dengan pandangan panik.
Reyhan yang melihat tingkahnya hanya bisa mengacak rambutnya. Perempuan kalau sudah cemburu pasti omongannya kemana-mana, ya seperti Kanaya ini. Reyhan menyentuh dagu gadisnya, membuat Kanaya membulatkan matanya. Untung saja kedua orangtuanya tengah tidur di kamar belakang, jika mereka melihat adegan ini, auto tamat hidup pasangan muda itu.
"Kamu kalo cemburu lucu banget sih, aku jadi suka" kata Reyhan yang kini beralih memeluk Kanaya dan meletakkan kepala gadis itu tepat di dada bidangnya. Ia tak mau membuat masalah lagi, ingin ia mencium gadisnya tapi mengingat lokasi dan kondisi sepertinya hanya bisa memeluk Kanaya seperti ini.
"Kamu tau nggak? ciuman pertama aku itu, waktu aku cium cewek di koridor deket toilet kantor. Aku nggak pernah pacaran sebelumnya dan ini yang pertama. Aku juga udah tau seluk beluk Novi sebelum aku setuju buat ikut permainan dia."
Reyhan semakin mengeratkan pelukannya, begitupun dengan Kanaya yang kini menyimak apa yang dikatakan Reyhan. Bagaimanapun juga, ia lebih percaya Reyhan daripada wanita ular seperti Novi.
"Novi cuma manfaatin aku aja sayang, dia sengaja ambil untung dari aku biar aku jatuh cinta sama dia. Karena dia tau, aku pewaris saham perusahaan setelah Reyna. Tapi aku nggak sebodoh itu buat ikutin permainan Novi. Dia pernah hampir buat aku mabuk dan ngasih minuman yang isinya obat perangsang, tapi aku selalu nolak. Aku tau itu semua Naya, tentang masa lalu dia yang rusak. Aku juga pengen cerita ke kamu, tapi rasanya belum tepat. Maafin aku ya sayang, aku minta maaf. Aku cuma cari kesempatan buat mecat dia setelah aku udah siap ketemu sama Reyna."
Kanaya mengangkat pandangannya, ia buru-buru mencium bibir Reyhan sekilas. Setelah mendengar semuanya, ia mulai merasa bersalah. Ia tau posisi Reyhan saat berada didekat orang yang tidak ia cintai pasti rasanya tidak nyaman. Seperti dirinya yang selalu jalan dengan Angga.
"Aku sayang sama kamu kak Reyhan, mau kamu nggak punya apa-apa sekalipun aku bakal tetep cinta sama kamu" Reyhan mengelus puncak kepala Kanaya. Hatinya terasa tenang dengan penjelasan barusan.
***
"Kamu udah siap?" tanya Yasya yang kini menatap Reyna yang tengah memakai heels diruang tamu rumahnya. Reyna mengangguk, memang rencananya ia mau berangkat sore untuk berkencan kali ini. Karena tidak mau pulang malam-malam nantinya.
"Om mana?" pertanyaan itu membuat Reyna yang kini bangkit membalikkan tubuhnya dan memanggil Papanya yang tengah mengobrol dengan Zayn.
"Om, kami mau berangkat dulu ya"
"Iya, nanti pulangnya jangan malam-malam, nggak enak dilihat tetangga" kata Reynaldi seraya tangannya yang dikecup bergantian oleh Reyna dan Yasya.
"Iya pa, nanti sebelum jam sepuluh pasti pulang kok. Sekalian ada hal penting yang mau Reyna selesaiin sama Yasya" ujar Reyna yang kini tersenyum pada papanya itu. Sedangkan Zayn hanya bisa bersedekap dada seraya mengamati dua insan yang tengah dimabuk asmara itu.
"Mau nikah lo, ditahan dulu" sindir Zayn membuat Reyna dan Yasya saling melirik. Sedangkan Reynaldi menatap putranya itu dengan tawa kecil dan langsung menjewer telinga Zayn.
"Kamu nih ya! cepet cari calon mantu buat papa! nggak usah cerewet" Reyna dan Yasya hanya bisa menahan tawa ketika Zayn mengaduh kesakitan saat Reynaldi masih enggan melepaskan jewerannya itu.
"Aduh pa! sakit tau" protes Zayn membuat Reynaldi melepaskan jewerannya dan beralih menatap putrinya itu.
"Ya udah kalian berangkat aja, jangan dengerin anak tengik ini" kata Reynaldi membuat Zayn memutar bola matanya malas disusul tawa renyah dari Reyna dan Yasya.
"Ya udah om, kami berangkat dulu ya, om tenang aja, saya bakal jagain Reyna"
"Om percaya sama kamu" kata Reynaldi seraya menepuk pundak Yasya dan tersenyum padanya.
Mereka berdua akhirnya melangkah untuk keluar dari pekarangan, Yasya membukakan pintu mobil untuk Reyna dan disambut senyuman hangat darinya. Tak henti-hentinya Reyna bersyukur atas apa yang Tuhan berikan padanya. Yasya selalu memperlakukan Reyna bak ratu dalam hidupnya, bersikap manis dan menerima Reyna apa adanya. Bahkan pria itu masih setia untuk Reyna sampai saat ini.
"Kita mau kemana?" pertanyaan itu membuat Reyna menyandarkan kepalanya dipundak Yasya. Ia berfikir sejenak seraya menimbang-nimbang rencana yang telah ia buat tadi.
"Hem? kita ke yayasan dokter Martin yuk?"
"Buat apa? kamu nggak takut dia bakal ngusir kita lagi?" tanya Yasya yang memang masih menaruh rasa kesal pada pria paruh baya itu.
"Kita kesana kan buat donasi, aku juga kangen sama anak-anak. Lagian kalau nanti kita di usir, kita tinggal pergi. Yang penting niat kita mulia buat ngebantu, bukan mau cari masalah" kata Reyna seraya menatap jalanan dihadapannya.
Yasya menghembuskan nafasnya pasrah, mungkin Reyna tidak selemah dulu. Tapi tetap saja, ia takut jika Martin akan berbuat ulah nantinya. Apalagi temperamennya itu membuat siapa saja yang mengenalnya pasti kesal oleh kata-katanya yang tajam.
"Dokter Martin itu orang yang bijak, dia nggak jahat kok. Cuma dia kadang keras kepala aja dan kata-katanya suka blak-blakan, jadi kamu juga nggak boleh benci sama dia Yasya" kata Reyna seolah tau apa isi hati kekasihnya itu.
Yasya tidak membenci Martin, tapi ia kesal saja. Mungkin benar apa yang dikatakan Reyna, jika dilihat dari dirinya yang memerintah dia terlihat bijak.