
"Jadi, kapan rencana kalian bakal nikah?" tanya pria paruh baya yang kini duduk dihadapan keduanya. Zayn dan Luna saling beradu pandang, menikah? bahkan mereka sebelumnya belum merencanakan hal ini. Namun papa yang datang tiba-tiba langsung mengutarakan inti dan maksudnya yang hendak mendesak putranya itu.
"Pa, aku sama Luna baru aja pacaran, kami mau saling mengenal dulu. Baru nanti kita bicarakan soal pernikahan."
"Kamu jangan main-main sama anak orang Zayn, kalau memang serius kita datangi rumah Luna. Kalau nggak, kamu nyerah aja dan nerima perjodohan dari papa" Zayn mengerutkan keningnya, ia menggenggam jemari Luna erat seolah menyakinkan pada papanya jika dirinya memanglah serius pada gadis yang kini duduk disampingnya ini.
Sejujurnya Luna memang sangat gugup, ia tak berani berucap. Lagipula ini adalah urusan Zayn, perannya hanyalah seorang pacar pura-pura agar dirinya tidak dijodohkan pula oleh kedua orangtuanya. Tapi jujur saja, mendengar papa Zayn mendesak pria disampingnya untuk segera menikahinya kalau memang benar-benar serius, membuat tengkuk Luna meremang. Seakan ia benar-benar akan dinikahi saja oleh Zayn.
"Pa, aku tuh nggak kebelet kawin. Papa aja yang ribet, pengen banget aku cepet-cepet nikah. Aku serius kok sama Luna, kalo aku pengen kenal dulu sama keluarganya sebelum lamaran, emang nggak boleh" Luna menghela nafasnya, kata-kata Zayn ini benar-benar blak-blakkan sekali. Memang dia tidak takut apa dengan papanya sendiri? Luna saja kalau menghadapi papanya yang tengah serius bicara hanya bisa memandang bawah, serta keringat dingin membasahi tubuhnya. Bak putri yang menghadap pada rajanya, namun sikap Zayn ini seperti antar preman saja yang saling beradu pikiran.
"Papa bukannya nggak setuju sama hubungan kamu, papa suka sama pilihan kamu. Tapi papa cuma takut kalo kamu ngulur-ngulur waktu, nanti kamunya nggak nikah-nikah" tambah papa membuat Zayn hanya bisa melirik Luna yang kini menunduk seraya mengernyit. Sesekali ia juga melirik papa yang tengah memandangi mereka bergantian seraya menampakkan wajah tegasnya.
"Tenang aja, kalaupun aku dipaksa nikah sama kamu, aku mau kok" bisik Zayn membuat mata Luna membulat dan menajam menatapnya. Zayn ini benar-benar seorang penggoda, bahkan pipi Luna tengah memerah akibat rayuannya. Tapi dia pikir Luna akan baper begitu saja, Luna tidak semudah itu untuk ditaklukkan. Bukan karena Luna jual mahal, tapi ia lenih senang jika Zayn bersikap serius dan tidak terkesan memberikan harapan seperti sekarang.
"Bulan depan Luna bakal pulang kok pa ke Bantul, Zayn bakal nemenin Luna dan sekaligus kenalan sama orangtuanya. Apa belum cukup juga buat buktiin kalo sebenarnya Zayn ini serius sama pilihan aku sendiri" sambungnya lagi membuat Luna tersenyum kearah Reynaldi yang kini menyesap kopinya seraya mengangguk.
"Oke, tapi papa nggak bisa nunggu lama-lama lagi. Kalau kamu ngulur-ngulur waktu lagi atau sampai putus sama Luna sebelum nikah. Pada saat itu juga papa bakalan nikahin kamu sama pilihan yang udah papa atur."
Hanya itu kata terakhir yang membuat jantung Luna dan Zayn sama-sama gemetar. Kalau Zayn sudah pasti dirinya tidak mau menerima perjodohan ini, namun apa yang dirasakan oleh Luna saat ini? apakah dia juga takut kalau-kalau hal itu akan terjadi?. Luna menghela nafas lelahnya, ia menatap Zayn yang tengah berkelut dalam pikirannya sendiri.
***
"Daddy aku udah meninggal" ujar Zayn pada Luna yang kini tengah berdiri di balkon apartemen gadis itu. Mereka tengah bercengkrama, meminum teh seraya menatap pemandangan sore, dengan warna jingga memenuhi langit, dibawah gedung pencakar langit ibukota.
Awalnya mereka hanya berbasa-basi, namun entah mengapa mendengar perkataan Zayn yang mulai menceritakan sisi keluarganya membuat Luna menatapnya dengan sendu.
"Papa cuma orang tua angkat aku. Tapi mommy ibu kandung aku. Kamu pasti mikir kan kalo keluarga aku itu ribet banget" Luna menggeleng, ia menyentuh pundak Zayn lembut, dan tersenyum bersahabat padanya.
"Aku nggak pernah mikir kaya gitu kok, mungkin aku nggak pernah ada di posisi kamu. Tapi aku akan dengerin, supaya tau gimana perasaan kamu" Zayn menceritakan semuanya secara gamblang, tidak ada yang ditutupi dari Luna. Namun ada satu yang belum bisa ia katakan, bahwa sebenarnya saudara angkat yang ia maksud adalah pemilik perusahaan tempat Luna bekerja.
Entah mengapa, rasanya sedikit lega setelah menceritakan semuanya pada Luna. Seolah bebannya sedikit berkurang begitu saja. Meskipun awalnya Zayn sangat merindukan daddy-nya namun ia sangat bersyukur mempunyai papa sebagai penggantinya.
Ia mencerna setiap tanya dari mulut Zayn, sejujurnya ia juga tidak tau siap atau tidak. Tapi yang pasti Luna bukan orang yang mudah membuka hati. Kecuali pada pria yang kini memandanginya dengan tatapan intens.
Mau bagaimana lagi, Zayn juga yang membuat Luna jatuh hati. Sikapnya lembut dan perhatian, setiap didekatnya Zayn juga sedikit memberikan harapan dengan kejutan kecil dan jangan lupa pria ini juga yang menyelamatkannya dari tindak yang hampir melecehkannya.
"Kok malah bengong sih?!" Luna menggeleng, pikirannya dipenuhi dengan Zayn dengan segala kharismanya.
"Sorry, sorry, kamu tadi tanya apa?" pertanyaan itu sontak membuat Zayn melepaskan jaket kulitnya dan mengenakannya pada gadis dihadapannya yang tengah tertegun dengan perlakuan manis Zayn.
"Udah mulai malam nih, masuk yuk!" ajak Zayn membuat Luna mengangguk seraya melangkah masuk kedalam apartemennya.
Sejujurnya Luna juga tidak pernah mengajak pria manapun untuk masuk kedalam tempat pribadinya. Namun karena tiada tempat lain untuk singgah dan yang bisa untuk bebas berbagi cerita akhirnya, ia mengajak Zayn saja untuk datang ke apartemennya. Meskipun Luna sendiri sedikit takut, tapi sikap hangat san juga perhatian Zayn membuatnya yakin dan percaya bahwa Zayn tidak akan melakukan sesuatu yang senonoh terhadapnya.
Luna duduk di sofa bersama dengan Zayn yang kini menyandarkan punggungnya.
"Aku tadi tanya, emang kamu nggak siap ya buat nikah? kok nggak mau dijodohin?" tanya Zayn sekali lagi membuat Luna terkekeh dibuatnya. Menertawakan dirinya sendiri akibat terpesona oleh pria disampingnya.
"Oh, hehe. Aku cuma pengen cari sendiri aja" ucap asal Luna membuat Zayn mengangguk.
"Luna" suara sedikit serak itu membuat Luna melepaskan jaket Zayn, ia menatap pria blasteran dihadapannya yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu. Begitu serius sampai matanya tak teralihkan dari pandangan Luna yang kini juga menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Apa Zayn?"
"Tipe suami idaman kamu kaya apa?" tiba-tiba saja pertanyaan itu membuat Luna menaikkan sebelah alisnya. Ia menahan tawanya sendiri, tak merasa cukup kuat Luna kini tertawa renyah. Hal itu membuat Zayn mengerutkan keningnya, memang ada yang salah dengan pertanyaannya?.
"Aku nggak bercanda Lun? serius" lanjut Zayn membuat tawa Luna terhenti. Sebenarnya apa yang diinginkan Zayn? sungguh Luna tidak mengerti dengan kode-kode instan yang dimainkannya. Luna lebih suka jika Zayn terus terang saja, atau nanti dirinya malah yang kepedean.
Luna semakin gemas saja, ingin rasanya ia menjauh. Namun karena keadaan ia masih membutuhkan Zayn.