
Falery kini tengah masuk kedalam mobil taksi, senyum mengembang dan pancaran bahagia diraut wajahnya menutupi kegelisahan yang sempat ia rasakan beberapa waktu lalu.
"Kita kemana nona?" pertanyaan itu seolah membuyarkan dengan keramaian yang tak terlalu padat akibat jalanan yang bersalju disepanjang jalan. Gadis itu masih setia memeluk tubuhnya dengan jaket yang diberikan oleh Yasya padanya.
Tiba-tiba pandangannya menatap kesisi jalan, dirinya melihat rumah sakit yang tak jauh dari pandangannya.
'Central city hospital? daddy pasti dirawat disana' batin Falery seraya mengalihkan pandangannya lagi, menatap sang supir taksi yang masih fokus menyetir.
"Paman, kita berhenti didepan."
"Baik nona," kendaraan itu berhenti tepat didepan rumah sakit yang biasanya menjadi langganan keluarga Gilbert.
Gadis itu keluar dari taksi dan segera melangkahkan kakinya menuju lobi.
Langkahnya terhenti tepat didepan ruang administrasi.
"Bisa saya bantu nona?" tanya seorang wanita yang bertugas mengurus administrasi.
"Saya mencari ruangan tuan Thomas Gilbert, bisa bantu saya?" tanya gadis itu dengan suaranya yang begitu lirih sambil sedikit memohon.
"Sebentar nona..." tak lama kemudian wanita itu menunjukkan tempat dimana Thomas dirawat. Tak butuh waktu lama, Falery segera bergegas menuju ruangan yang dimaksud.
Langkahnya terhenti tatkala melihat Alan dan Grace tengah duduk diruang tunggu.
"Kakak..." Falery menyembunyikan tubuhnya, gadis itu menunggu hingga mereka berdua pergi dari sana. Sekitar lima belas menit kemudian Alan dan Grace akhirnya pergi, membuat Falery perlahan mendekati ruang rawat inap Thomas.
Gadis itu melihat sang ayah dari balik kaca pintu. Falery tak bisa menahannya lagi, air matanya merembes melalui sudut matanya.
"Daddy... maafkan aku dad, aku memang salah, aku jahat padamu, aku bukan Falery yang baik hiks" Falery membuka pintu itu, melangkahkan kakinya lagi. Dirinya tak tega melihat sang ayah dipasangi alat dan selang memenuhi hidung dan juga dadanya.
Gadis itu membungkuk, mensejajarkan bibirnya pada telinga sang ayah.
Dengan isakan dan juga rasa bersalah, ia tak dapat menahan gejolak yang selama ini ia tahan semenjak jauh dari keluarga angkatnya.
"Dad... daddy, ini aku Falery. Apa kau dengar? hiks maafkan aku dad, aku memang salah meninggalkan kalian.. tapi malam itu aku benar-benar tidak melakukan apapun, aku dijebak."
Falery menghentikan kata-katanya sejenak, dia menghapus air matanya yang mulai menetes deras dipipinya.
"Maafkan aku, aku salah, hiks... tapi kumohon dad, bangunlah."
Tiba-tiba air mata menetes lewat sudut mata Thomas, membuat Falery tersenyum dan menutup wajahnya.
"Dad..." ujarnya yang kini tersenyum lega.
"Fa... le.. ry...." Falery bangkit, dirinya menatap monitor pasien yang berada tepat disamping bangsal Thomas. Terlihat detak jantung Thomas mulai beraturan dengan matanya yang kini menengadah menatap putrinya. Thomas mulai tersenyum sedang Falery membalas senyumannya sambil tak bisa menghentikan tangisannya yang sedari tadi membanjiri wajahnya.
"Dad... akhirnya kau sadar" isak Falery dengan suara sumbangnya.
"Kemarilah... daddy sangat merindukanmu" Falery memeluk tubuh Thomas, dirinya tak bisa menahan rasa haru kala Thomas yang kini mulai dapat membuka matanya dan berbicara, meski suaranya begitu lemah.
"Jangan menangis nak, ada daddy disini, kau tidak perlu takut pada siapapun."
"Maafkan aku dad" ujar Falery lagi dengan wajahnya yang begitu merasa bersalah.
"Kau tidak salah... putri daddy itu pemberani."
Falery mencoba untuk bangkit, dirinya meraih tangan sang ayah yang kini terdapat infus dipergelangan tangannya. Gadis itu masih setia tersenyum dengan wajahnya yang samar-samar pucat.
"Dad... kau harus janji padaku, kau akan segera sembuh."
Thomas tersenyum, tangannya meraih air mata yang berlinang dipipi putrinya dengan lembut, menyekanya perlahan.
"Daddy berjanji, asalkan kau juga berjanji tidak akan pernah pergi lagi nak."
"Dad...." Falery mengangguk perlahan, dirinya melepaskan tangan sang ayah dari wajahnya. Tak terasa air mata terus mengalir disudut matanya. Gadis itu segera pergi dari tempat itu, meninggalkan Thomas yang kini tersenyum kearahnya meski ia tak tau apa-apa.
Falery berlari, dirinya bahkan tak memperdulikan orang-orang yang kini menatap aneh padanya. Langkahnya terhenti kala Ajeng kini berada jauh didepan matanya, menatapnya dengan tatapan kecewa.
Falery merasakan hawa kebencian yang semakin mencekam saat matanya beralih menatap Grace yang kini ikut menatapnya sinis.
Falery tak bisa berkata-kata, dirinya masih terdiam dengan pandangannya yang beralih menatap lantai dibawahnya. Tak butuh waktu lama Ajeng dan Grace berjalan semakin dekat padanya, namun gadis itu masih terdiam berdiri memandangi mereka.
"Mom...." ujar gadis itu menggantung kala Ajeng tak mengindahkan suaranya yang begitu lirih.
Falery tercengang kala Ajeng tak menghiraukan kehadirannya dan memilih untuk berjalan melewatinya tanpa mau memandang wajahnya sedikitpun. Guratan kecewa diwajah Falery semakin terpancar, menandakan kesedihan yang mendalam baginya.
Falery terisak, dirinya mencoba menguatkan hatinya yang terpuruk dengan keadaan yang ia buat sendiri.
***
tok tok tok...
Suara ketukan pintu membuat sang pemilik rumah berhambur keluar dengan senyuman mengembang dan rasa bahagia yang ia tunggu ketika tukang pos datang.
"Iya" suara Sarah begitu lembut dengan senyumnya yang tak dapat ia tahan.
"Dengan nona Sarah?" ujar pria itu membuat Sarah mengangguk seketika. Wajahnya merah melirik sebuket bunga besar ditangan kurir.
"Ada paketan untuk anda nona... bisa tanda tangan disini?" Sarah meraih pena yang dijulurkan padanya, dengan senang hati ia menandatangani kertas itu dan meraih bunga dari sang kurir untuknya.
"Terimakasih" ujarnya pada kurir tersebut.
"Sama-sama" Gadis itu menutup pintunya kembali, dirinya masih terus tersenyum mengembang dengan wajah cantiknya. Diciumnya bunga mawar itu perlahan dan melangkahkan kakinya menuju kamar.
'Maaf 😉' tulisan sederhana dan singkat ditengah buket bunga itu menambah kesan manis. Terlihat wajahnya yang semakin berseri dengan tatapannya pada bunga dihadapannya.
"Manis sekali... oh" ujarnya dengan senyuman yang masih enggan ia lepaskan sedari tadi. Gadis itu meraih ponsel, mencoba menghubungi sahabatnya yang kini entah dimana keberadaannya.
Tak lama kemudian ia memanggil sebuah nomor dial milik sahabatnya.
"Hallo Fay... kau dimana??l ada yang ingin aku ceritakan padamu."
Terdengar suara hembusan nafas Falery yang bergetar membuat raut wajah Sarah berubah cemas seketika.
"Aku...." kata Falery dengan nafasnya yang tersengal hebat.
"Fay... kau kenapa? kau menangis? ada apa denganmu? coba ceritakan semuanya padaku."
"Aku tidak apa-apa, kau tenang saja."
Sarah menghembuskan nafas panjangnya, dirinya memutar bola matanya. Rasa bosan dan tak bisa dibohongi lagi dari sahabatnya itu membuatnya semakin gemas pada Falery.
"Baiklah... tapi kau dimana sekarang?" tanya Sarah meyakinkan.
"Aku di apartemen Sarah" jawab gadis itu dengan nada suaranya yang begitu lemah.
"Oke, tunggu 10 menit lagi" katanya sembari memutuskan panggilannya.
"Sar... Sarah."
tut...
Rasanya gadis itu telah tak sabar, dirinya merasa khawatir dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Terlebih lagi Sarah tidak mudah untuk dibohongi, apalagi oleh sahabatnya sendiri.
Langkahnya cepat dengan pakaian hangat yang tak lupa ia kenakan. Gadis itu segera meraih kunci mobil dan segera pergi dari kediamannya.