
"Eh, cowok lo ya, aku kira pangeran dari khayangan" ujar Dinda yang sengaja melirik Yasya membuat Reyna makin kesal setengah mati dibuatnya.
"Ya udah deh, aku mau jalan dulu. Kamu ati-ati di jalan" kata Reyna ketus seraya melangkahkan kakinya memasuki mobil tersebut tanpa mau menatap Yasya yang kini terkekeh melihat tingkah Reyna. Sedang Dinda kini tak menghiraukan perkataan Reyna, ia hanya fokus menatap wajah Yasya yang begitu tampan bagai dewa.
***
Didalam mobil suasana tampak hening, dengan Reyna yang membuang muka sedari dirinya masuk kedalam mobil Yasya. Yasya bisa merasakan kekesalan gadisnya, ia begitu cemburu hanya dengan lirikan dari seseorang padanya. Tapi Yasya masih saja tersenyum puas, karena dengan begitu Yasya tau betapa Reyna sangat mencintainya.
Pria itu menghentikan mobilnya seketika, ia menghentikannya kala jalanan yang masih sepi ditengah kota. Apalagi ia berhenti tepat didepan ruko yang tengah tutup membuat Reyna semakin kesal seraya bersedekap dada.
"Ngapain berhenti disini? aku mau pulang" ujar Reyna ketus tanpa mau menatap Yasya yang kini mulai tersenyum dalam padanya.
"Ketus banget sih sayang, cemburu ya?" seru Yasya yang kini mulai mendekatkan tubuhnya kearah Reyna yang tampak tak perduli dengan apa yang pria itu lakukan.
"Siapa juga yang cemburu, PD banget sih!" ketus gadis itu lagi membuat Yasya mencubit gemas hidung bangir gadis itu seraya tertawa kecil melihat tingkah Reyna yang begitu kesal padanya.
"Sayang, lihat mata aku" kata Yasya yang kini menangkup pipi Reyna dan menghadapkan wajah mereka untuk saling menatap, hal itu tak dapat membuat hati Reyna lunak seketika.
"Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Banyak yang lihat aku dari wajah ini, banyak yang lihat aku dari harta yang aku miliki, tapi cuma kamu yang lihat aku dari hati" ujar Yasya dengan kesungguhan hatinya, pria itu beralih mencium kening Reyna dengan lembut membuat tatapan mata gadis itu berubah seketika.
Pandangan sendu yang selalu ia rindukan kini hampir menjadi miliknya, namun mengapa ia harus khawatir dengan apa yang terjadi. Yasya pasti akan selalu mencintainya, begitupun perasaannya yang takkan pernah berubah dan singgah hanya karena orang lain.
Gadis itu beralih memeluk Yasya dengan erat. Semburat jingga terlihat diangakasa, menyorotkan sinar emas pada wajah Reyna yang terlihat begitu menawan dipandangan Yasya. Pria itu lantas menyentuh dagu Reyna dan mengangkat pandangannya, membuat Reyna kini bisa merasakan hembusan nafas Yasya yang begitu familiar diwajahnya.
"Yasya, aku juga cinta kamu" ujar Reyna membuat Yasya tersenyum seraya hendak menyatukan wajah mereka, Reyna yang mengerti keadaan hanya bisa memejamkan matanya menyambut hangat Yasya yang kini hampir menguasai bagian lembut dirinya.
Tiba-tiba saja belum sempat wajah mereka menyatu, ponsel Reyna berbunyi membuat keduanya tersentak dan Reyna segera meraih ponselnya tersebut dari dalam tas kecil yang ia bawa.
Hal itu membuat Yasya berdecak seraya mengacak rambutnya, sedang Reyna hanya bisa terkekeh melihat tingkah kesal Yasya yang begitu membuat pria itu tampak semakin lucu dibuatnya.
"Halo" seru Reyna yang kini mulai tersenyum kearah Yasya yang tampak masih frustasi dengan keadaannya barusan. Namun panggilan yang Reyna tunggu tak kunjung mengatakan apapun membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya.
"Siapa sayang?" tanya Yasya yang kini mulai penasaran dengan seseorang tersebut. Reyna hanya bisa menggeleng, Reyna segera mematikan panggilan tersebut sepihak.
"Nggak ada namanya Sya, mungkin salah sambung" kata Reyna yang kini mulai tersenyum kembali, gadis itu kini memeluk lengan Yasya dengan erat membuat pria itu mencubit hidung Reyna dengan gemas.
Waktu pun berlalu, menunjukkan pukul 18.00. Kini kiranya Yasya dan Reyna hendak mencari tempat untuk makan bersama, sedari tadi Reyna memeluk pinggang Yasya tanpa mau melepasnya. Sedang Yasya masih menyetir dengan fokus tanpa tau Reyna kini tengah terlelap dalam mimpinya.
"Rey, mau makan dimana sayang?" tanya pria itu yang tidak mendapat respon dari gadis pujaannya tersebut.
Yasya hanya bisa menggeleng, mungkin hari pertamanya kerja sangat melelahkan untuknya, ditambah lagi bagian UGD adalah bagian paling sibuk diantara ruangan yang lainnya.
Yasya tersenyum seraya mengecup lembut puncak kepala gadis itu seraya masih fokus dengan jalanan didepannya.
Setelah beberapa saat berkendara, akhirnya mereka sampai disebuah restoran. Yasya menggoyangkan tubuh Reyna pelan membuat gadis itu menggeliat manja.
"Bangun sayang, kita udah sampai nih" kata Yasya membuat Reyna perlahan membuka matanya dan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengimbangi cahaya yang masuk melalui retinanya.
"Ini dimana Sya?,"
"Reyna, kita tadi kan mau makan, udah sampe di restoran nih" kata Yasya lembut membuat Reyna membelalakkan matanya untuk mengingat apa yang terjadi.
"Astaga, aku ketiduran ya? maaf" seru gadis itu membuat Yasya menggeleng dan segera meraih jemari Reyna dengan lembut.
"Nggak apa-apa kok, kamu pasti capek banget kan. Kita makan aja yuk" ajak pria itu membuat Reyna tersenyum dan mengangguk menyetujui usulan pria itu tanpa ragu.
Reyna dan Yasya kini telah memesan meja untuk mereka berdua. Kini keduanya saling berbagi cerita, apalagi soal pertama kali Reyna bekerja.
Setelah berbasa-basi, kini Yasya mulai menggenggam jemari gadis itu dengan lembut. Tatapannya teduh dan serius dengan senyuman yang Yasya pancarkan untuknya membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya.
"Sayang, aku mau ngobrol serius sama kamu" kata Yasya membuat Reyna semakin antusias dibuatnya. Reyna semakin tak mengerti, ia bergelut dalam fikirannya sendiri.
"Kamu mau ngomong apa Sya?" tanya Reyna yang kini mulai semakin penasaran dengan apa yang hendak Yasya akan utarakan padanya.
"Aku udah nunggu momen-momen penting ini Reyna. Kamu tau seberapa besar pengorbanan aku buat nemuin kamu sayang?, aku hampir gila kehilangan kamu, aku hampir nggak bernyawa karena kamu. Tapi setelah aku tau semuanya, hidup aku kembali Reyna. Awan hitam yang dulunya bergemuruh, sekarang ada celah cahaya yang menyinarinya. Dan sekarang, hati aku kembali bersemi setelah adanya kamu dalam hidup aku. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi sayang, untuk itu, aku berharap kamu bisa menerima aku untuk menjadi pelindung mu, sebagai suami yang selalu ada untuk kamu."
Yasya mengeluarkan sebuah cincin dengan batu berlian yang indah diatasnya. Hal itu membuat mata Reyna yang semula berkaca-kaca kini mengalir sebuah air mata haru darinya kala Yasya mempersembahkan sebuah cincin manis tepat didepannya.
"Yasya, aku, aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi" kata Reyna yang kini mulai terisak dengan lirih membuat mata Yasya berbinar.
"Aku mau Yasya, aku mau" ujar Reyna yang kini mulai mulai menyeka air matanya.
Kemudian Yasya menarik jemari manis Reyna membuat gadis itu tersenyum disela Yasya menautkan cincin tersebut kedalam jari manis gadisnya.
Yasya menghapus jejak air mata gadis itu dengan lembut, membuat Reyna tersenyum dengan tatapannya yang begitu bahagia.
"Aku cinta kamu sayang" ujar Yasya seraya mengecup jemari gadis itu dengan lembut.