The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kantin



Pria itu kini tiada jalan lain selain maju dan menghadapi tantangan dihadapannya. Walau bagaimanapun ini juga berkat Hengky yang menyarankannya. Yah mungkin karena perusahaan tempat Hengky bekerja sementara belum menerima lowongan. Untung saja ia mendapat rekomendasi dari atasan Hengky, dan menginformasikan padanya untuk melamar ditempat perusahaan partnernya. Dan tentu saja, partner yang dimaksud adalah Syakieb group.


Setelah lima belas menit berlalu akhirnya kini giliran Reyhan yang masuk untuk mengikuti wawancara. Kali ini ia sangat berharap jika lamarannya diterima, mungkin memulainya dari awal lebih baik dan mulai belajar kembali sebelum akhirnya ia suatu saat akan bangkit lagi.


Kini langkah pria itu dengan tegas tanpa ragu menatap pintu transparan dihadapannya yang berlogo Syakieb. Ia membuka pintu tersebut perlahan, seraya membawa berkas persyaratan ia melangkah dengan senyuman kebanggaannya.


"Silahkan duduk" ujar HRD itu yang kini membuat pria itu mengangguk seraya tersenyum untuk menghilangkan grogi dalam dirinya.


Tanpa disadari pria setengah baya yang kini berada dihadapannya itu menelisik dan meneliti penampilan Reyhan seraya mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada dihadapannya.


"Reyhan Malik ya? kamu melamar pekerjaan dibagian departemen?" tanya pria itu yang membuat Reyhan mengiyakan kata-kata dari pria tersebut.


Sebelum pada intinya, sang HRD bertanya-tanya basa-basi tentang pengalaman Reyhan. Tiada yang salah dari pria dihadapannya, tapi melihat penampilan Reyhan yang sedikit kurang rapi membuat pria itu sedikit ragu. Padahal kinerja dan juga bakat Reyhan begitu bagus dan unggul. Pria setengah baya itu bahkan berani bertaruh, jika saja Reyhan tiba-tiba masuk dan menjadi manager, maka perusahaan ini akan semakin berkembang pesat, mengingat kemampuan Reyhan yang handal.


"Selamat Reyhan, kamu diterima di perusahaan kami sebagai staf divisi pemasaran" kata HRD itu seraya menyerahkan berkas pada pria dihadapannya. Namun tampaknya Reyhan sedikit kecewa, ia bahkan baru saja bersemangat. Namun harapannya harus pupus kali ini.


"Maaf pak, bukannya saya melamar dibagian departemen."


"Maafkan kami Reyhan, tapi persyaratan dan juga berkas kamu hanya memenuhi kriteria staf, ini sudah menjadi ketentuan dan juga peraturan" kata HRD itu membuat Reyhan kembali tersenyum seraya mengangguk pasrah dengan apa yang harus ia terima.


Langkah kaki pria itu seketika lunglai, ia diterima bekerja di tempat ini seharusnya bersyukur bukan malah mengeluh. Reyhan mengelus dada, ia tau mungkin karena penampilannya kali ini yang kurang menarik. Setidaknya ia masih diterima demi menghidupi papanya.


Syukur adalah yang paling penting saat ini, jika saja yang melamar bukan orang yang berbakat seperti Reyhan pasti lamarannya akan ditolak mentah-mentah. Pria itu kini memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju kantin, kebetulan sekali Reyhan juga belum sarapan.


Pria itu segera memesan kopi dan juga burger, Reyhan duduk sendirian disana. Meskipun kantin terlihat sepi karena jam kerja, tapi setidaknya ia bisa menikmati sarapannya dengan tenang.


Pria itu segera menyantap burgernya, namun belum sempat Reyhan menelan makanannya ia dikejutkan oleh seseorang pria yang kini tiba-tiba duduk dan menyapanya.


"Hay, kamu juga wawancara ya?" pertanyaan itu membuat Reyhan melanjutkan menelan makanannya seraya tersenyum dan mengangguk pada sosok pria asing dengan setelah kemeja putih dan dasi birunya tersebut tak hanya itu ia juga memesan kopi yang sama dengan Reyhan.


"Kenalin, nama gue Edwin" ujar pria itu seraya mengulurkan tangannya membuat Reyhan menerima uluran itu dengan senyuman ramah.


"Reyhan" ujarnya yang membuat pria tersenyum dan melepaskan jemarinya.


"Lo ngelamar bagian apa? tapi kayanya dari tadi gue nggak liat lo deh" kata Edwin membuat Reyhan menaikkan sebelah alisnya.


"Gue bagian divisi pemasaran, sebelumnya sih gue ngelamar di bagian departemen, yah mungkin udah keisi orang dan tinggal itu aja lowongan yang kosong" kata Reyhan basa-basi membuat Edwin kini manggut-manggut.


"Rey, boleh nggak" kata Edwin mengulangi membuat Reyhan akhirnya sadar dari lamunannya.


"Eh, boleh kok boleh, sorry gue nggak fokus" kata Reyhan membuat Edwin terkekeh dibuatnya.


Tak lama kemudian ditengah keadaan kantin yang sepi, tak disangka seorang gadis tengah berjalan santai seraya memesan beberapa makanan. Gadis itu duduk jauh dari letak Reyhan kini menikmati makanannya bersama Edwin.


Sedari tadi Edwin yang memandangi cewek itu tak bisa berpaling, Reyhan bahkan baru menyadari ada yang aneh dibelakangnya. Sambil menghentikan kunyahannya Reyhan sedikit membalikkan pandangannya kearah belakang. Dan begitu ia melihat gadis itu, matanya langsung membelalak sempurna. Buru-buru ia membalikkan pandangannya lagi, takut jika Reyna menyadari akan keberadaannya.


'Kenapa Reyna disini? bukannya dia kerja di rumah sakit' batin Reyhan gusar.


"Win, lo kenapa sih?" pertanyaan itu membuat Edwin terkejut. Ia bahkan kini mengalihkan pandangannya kearah teman barunya yang kini tengah menyesap kopi tersebut.


"Lo tau nggak cewek yang duduk disana itu?" pertanyaan itu membuat Reyhan memincingkan matanya. Bisa dilihat dari pandangan Edwin pada Reyna yang kini seperti tampak mengagumi dengan matanya yang terkunci pada Reyna yang tengah makan.


"Kenapa? lo naksir sama dia?" pertanyaan itu membuat Edwin tersenyum malu-malu seraya mencoba untuk membisikkan kata pada Reyhan.


"Lo nggak tau ya? dia itu si adiknya direktur, perempuan tercantik seantero perusahaan, mana ada cowok yang nolak pesona dia. Lo aja kalo liat dia pasti naksir juga kan?" pertanyaan itu membuat Reyhan membelalakkan matanya. Mana ada seorang kakak kandung akan memiliki perasaan pada adiknya sendiri.


Malahan sekarang Reyhan jadi khawatir jika Reyna bekerja ditempat ini. Apalagi dengan


kepopulerannya ia takut banyak pria yang mengganggunya. Reyhan mendengus fikirannya terganggu, tapi setidaknya ia bekerja sebagai karyawan biasa, jadi tidak terlalu diperhatikan oleh atasan. Jika saja ia diterima dibagian departemen, maka jangan harap ia akan lolos dari panggilan orang atas seperti Zayn maupun Reyna.


Edwin menatap Reyhan dengan pandangannya yang menyelidiki, beberapa kali ia juga menatap Reyhan dan Reyna secara bergantian. Hal itu membuat Reyhan yang sadar kini menaikkan dagunya, mengisyaratkan sebuah pertanyaan yang ada di benak temannya satu itu.


"Lo kenapa sih Win?" tanya Reyhan dengan wajahnya yang kini berubah ditekuk.


"Nggak, gue heran aja kok muka lo sama dewi perusahaan bisa mirip ya?" pertanyaan itu membuat Reyhan hampir saja memuntahkan kopi yang ia sesap.


'Ya iyalah tuh cewek adek gue' batin Reyhan yang kini mulai sebal, pria itu tiba-tiba bangkit.


"Gue banyak urusan, gue duluan" ujar Reyhan dengan nada dinginnya membuat Edwin tak mengerti sama sekali, padahal kopi yang disesap Reyhan masih banyak dan ia main kabur begitu saja.


"Eh Rey, kok buru-buru sih, nggak mau barengan sama gue" Reyhan tak memperdulikannya, ia hanya menggeleng seraya melanjutkan langkahnya.


"Rey, jangan lupa chat gue!" teriaknya lagi yang kini ia yakini pasti Reyhan tak mendengarnya dengan jelas.