
Falery berjalan santai, membawa buku majalah sambil membawa ponselnya, mendekati Grace yang kini tengah duduk santai diruang TV.
Wajah cantik kakak iparnya itu membuat Falery tersenyum lembut, mengingat betapa beruntungnya Alan bisa mendapatkan wanita baik nan cantik seperti Grace.
Wanita itu menoleh, menatap manik mata indah Falery yang kini gelagapan karena diketahui oleh sang kakak membuat gadis itu tersenyum lembut dan dibalas oleh Grace.
"Fay, sudah lama kau disitu?" pertanyaan dari Grace membuat Falery mendekat dan segera duduk disampingnya.
"Kak, boleh aku tanya sesuatu?" tanya gadis itu dengan suaranya yang begitu lirih sembari menatap sekelilingnya.
"Silahkan! selama aku bisa menjawabnya, maka akan aku jawab."
Falery menahan nafasnya, ada rasa ragu untuk pertanyaan yang menurutnya tidak masuk akal baginya, namun ia sangat penasaran dengan masa lalunya yang menjadi tanda tanya.
"Kak... boleh aku tau, ini kalung milik siapa?" ucap Falery sambil menunjukkan kalungnya pada sang kakak.
"Tentu saja milikmu? apa ada yang mempertanyakannya?" tanya Grace yang kini mulai menaikkan alisnya.
"Lalu, siapa yang memberikan ini padaku? apakah daddy dan mommy?" sebuah pertanyaan sederhana itu membuat Grace membisu, ada rasa ragu dalam batinnya untuk berbicara jujur, namun ia juga tidak ingin berbohong pada adik iparnya itu.
"Kak."
"Fay... itu sudah sangat lama, bagaimana mungkin kakak mengetahuinya, sebelum aku menikah dengan Alan kau sudah memakainya."
"Benarkah?"
"Ya" ucapan dari Grace membuat hati Falery sedikit lega, mungkin memang benar apa yang dikatakan Grace, sudah lama ia memiliki kalung itu, terlebih nama depannya berinisial F. Mana mungkin Reyna punya kalung yang sama persis, selain itu kalung seperti ini banyak dijual dipasaran, sangat mungkin jika ada kalung yang sama.
"Baiklah kalau begitu."
"Kenapa kau bertanya seperti itu Fay? apa ada yang bertanya padamu?."
"Ah... tidak, aku hanya merasa asing saja pada kalung ini, karena semenjak siuman aku selalu memakainya" kata Falery seraya tersenyum tipis pada sang kakak yang kali ini menatapnya dengan pandangan bertanya.
drrtt drtt...
Suara getar ponsel membuat gadis itu mendengus ditengah kesibukannya mempersiapkan wisuda yang akan dilaksanakan beberapa hari kemudian.
"Ouhhhh hallo... apalagi kak? kau tau kan aku sedang sibuk."
Suara kesal Falery memenuhi ruangan baju yang tersusun rapi disana.
"Fay, sudah kukatakan kau akan melakukan pemotretan hari ini, apa kau lupa?"
"Apa?" Falery berjingkat kaget setelah mendengar perkataan Alan. Padahal pagi tadi Alan telah berpesan padanya, namun entah mengapa dirinya malah lupa akan pekerjaannya sendiri.
"Baiklah, aku akan bersiap setelah ini, aku lupa kak."
"Kau ini bagaimana, lima menit lagi kutunggu di kantor forest. Kau sudah harus tiba disana."
"Kak" belum sempat Falery melanjutkan perkataannya, Alan segera mematikan ponselnya, membuat Falery semakin kesal.
"Shit.... ah, kenapa aku bisa sampai lupa begini."
Falery segera bersiap, menyiapkan bajunya juga mantel tebal dan berdandan seadanya untuk kemudian bergegas berangkat ke tempat dimana Alan menuju.
Falery menaiki mobilnya, dikencangkan sabuk pengaman yang ia pakai, mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Gadis itu tak perduli akan hari yang semakin dingin, mengingat malam ini akan datangnya salju pertama.
Suara getar membuat pandangannya beralih, membuat gadis itu menghentikan mobilnya sejenak, dan membuka pesan dari sang kakak.
'Aku akan mengulur waktumu, direktur perusahaan forest telah mau bekerjasama dengan perusahaan kakak, dan kakak harap kamu tidak akan mengecewakan kita. Cepatlah datang Fay!' pesan singkat itu membuat nafas Falery yang sebelumnya tersengal, kini akhirnya bisa berhembus dengan lega setelah ketegangan yang terjadi.
"Terimakasih kak, kaulah penyelamatku" ucapnya seraya melanjutkan perjalanannya lagi.
***
"Senang bekerjasama dengan anda Direktur" ucap Alan seraya menjabat tangan pada seorang pria yang kini duduk didepannya.
Sedangkan Falery kini telah sampai di kantor, mendekati resepsionis yang kini berdiri dengan anggun.
"Permisi, ruangan direktur?."
"Apakah anda nona Gilbert?" kata sang resepsionis dibalas anggukan oleh gadis itu membuat sang resepsionis memanggil seseorang untuk menemani Falery.
"Ema.... tolong bantu nona Gilbert ke ruangan direktur utama sekarang."
"Baiklah" ucapnya sambil membimbing Falery untuk berjalan menuju ruangan direktur siang itu.
Tak butuh waktu lama, setelah sekitar tiga menit berlalu kini Falery telah sampai di ruang direktur.
"Silahkan nona!" ucap karyawan itu mempersilahkan. Gadis itu membuka pintu yang berada dihadapannya dan tersenyum lembut sambil berdiri diambang pintu.
"Selamat siang" ucapnya menggantung kala pandangannya menatap pria yang tak lagi asing baginya. Tatapan mata mereka saling bertemu, membuat jantung gadis itu berpacu dengan cepat.
Falery dengan pelan masuk tanpa berekspresi seolah tak terjadi apa-apa.
"Perkenalkan tuan, ini adik saya, Falery Gilbert" ucapnya seraya menyenggol lengan gadis itu membuat Falery mengulurkan tangannya, membuat pria dihadapannya itu menyentuh tangan Falery dengan lembut.
"Iryasya Ferdiansyah."
Falery dengan cepat menarik tangannya lagi dan mengalihkan pandangannya menatap sang kakak yang kali ini mengangkat sebelah alisnya.
"Jadi Falery, saya sudah banyak mendengar ceritamu dari tuan Alan, saya harap kita bisa bekerjasama membangun proyek ini."
Falery hanya terdiam, tatapannya kosong menatap lantai berwarna putih.
"Fay... apa kau baik-baik saja?" pertanyaan dari Alan membuat kesadaran Falery kembali, membuat gadis itu kembali menatap dua pria dihadapannya.
"Tidak apa kak."
"Kalau begitu kakak akan kembali ke kantor dulu, kalian berbincang-bincang saja dulu, ada hal penting yang ingin kakak selesaikan."
Falery membulatkan matanya, ada perasaan takut ketika memandang wajah Yasya yang kali ini menatapnya dengan sorot mata intens.
"Kak... aku ingin bicara padamu" ucap Falery dengan cepat menarik jas yang dikenakan oleh kakaknya itu, membuat Alan terpaksa mengikuti langkah Falery yang kini berjalan keluar.
"Kak... apa kau gila?" ucapnya dengan nada kesal dan kerutan didahinya.
"Apa yang kau katakan Fay? kakak tidak mengerti."
Kata Alan dengan ekspresi penuh tanda tanya dikepalanya, membuat mimik wajah Falery kini berubah setenang mungkin. Mengingat pria itu pernah bermasalah dengannya.
"Maksud ku, kakak menyuruhku untuk berdua dengannya? lagipula kakak ini manager ku, harusnya kakak yang menyelesaikan ini, bukan aku... kau sendiri kenapa tidak bilang sebelumnya jika direktur forest adalah dia."
"Apa yang kau maksud Fay? aku sungguh tak mengerti, biasanya jika kita mengadakan pertemuan seperti ini kau bersedia saja, dan tidak pernah protes sebelumnya. Kenapa kau jadi aneh? lalu kenapa jika direktur forest adalah tuan Irya? apa kau pernah bertemu dengannya sebelumnya?" kata-kata Alan membuat gadis itu pucat pasi, terdiam karena ucapannya yang keceplosan membuat sang kakak kini menaruh curiga pada adiknya itu.
"Ti... tidak... kenapa aku harus mengenalnya, bahkan bertemu saja juga baru pertama ini, aku tidak masalah dengan hal itu.. tapi."
"Tidak ada tapi-tapian Fay, kau harus patuh, perusahaan G-Rawls tergantung pada Forest, kita jarang menemui perusahaan yang menerima model dari orang dalam" ucap Alan panjang lebar, membuat gadis dihadapannya terpaksa mengalah.
"Kakak sudah menandatangani kontrak, dan kau juga akan bekerjasama dengan kami."
"Apa?"
"Aku akan menemui Lucy, dia yang akan menggantikan ku sebagai managermu" ucapan dari Alan membuat mata gadis itu berkaca-kaca, sebuah bayangan yang tak dapat ia fikirkan sebelumnya kini menjadi mimpi buruk dalam hidupnya. Cita-citanya yang ingin menjadi seorang dokter akankah sirna begitu saja.
Falery mematung, dengan pandangan kosong ia menahan tangan Alan yang hendak pamit untuk kembali ke perusahaannya.
"Tunggu kak."
"Fay... ada apa lagi denganmu?" Falery menghembuskan nafas panjangnya, mencoba menegaskan hatinya untuk tidak terbawa suasana.
"Apa kakak pernah tanya apa cita-cita ku? sebelumnya aku ingin membicarakan ini pada keluarga, tapi aku belum ada kesempatan. Tapi kali ini aku ingin berbicara hal serius padamu."
Tatapan mata Alan kini berubah menjadi sayu mengingat perkataan sang adik, ada tatapan kepasrahan dan juga kesedihan dalam mata gadis itu. Meskipun Falery adalah gadis yang dingin, tapi dia adalah gadis yang penurut pada keluarga. Baru kali ini gadis itu seperti memprotes apa yang dikatakan oleh kakaknya.
_____________________________________________
Hay guys.... assalamualaikum
dijawab ya salamnya, dosa lo kalo diabaikan hehehe 😬😬
author kembali menyapa nih....
siapa disini yang tau pemeran karakter dokter Alfian??? pasti sebagian udah pada tau dong ya...
Linyi 😗
Tapi author mau ganti pemeran nih, takutnya ada yang protes nantinya... hehehe maap buat fansnya linyi, author nggak izin dulu... 🙏🏻😊😊
Sebagai gantinya author bakal gantiin pemeran karakter Alfian jadi binbin... 😁
nih fotonya
jeng jeng... 🥳
gimana ??? cocok nggak kalo jadi dokter Al??? atau yang jadi Alfian linyi aja???
emmm kasih komen dibawah ya teman-teman ku sekalian... komen dan saran kalian sangat membantu untuk membangun suksesnya karya author ini, mengingat author yang amatiran dan masih banyak typo juga kesalahan dalam menyiratkan sebuah bahasa 😞😞