
"Apa aku terlalu jahat sama kalian? maafin aku pa, bang Rey" gumam gadis itu seraya menyeka air matanya yang kini mengalir deras dipipinya.
Reyna kini menyadari betapa keluarganya terlihat susah. Ia bahkan tak perduli jika saja kehadirannya tak dianggap lagi yang jelas ia harus membantu mereka dengan
segenap yang Reyna bisa.
Reyna tak bisa berdiam lebih lama, semakin cepat ia bertindak maka akan semakin cepat mengetahui apa yang tengah terjadi pada Reynaldi. Reyna buru-buru pergi dari sana, ia menghapus jejak air matanya yang mengalir.
Tak butuh waktu lama, akhirnya gadis itu kembali menggunakan masker. Ia juga mengenakan kacamata yang biasa ia bawa tiap kali bekerja. Kali ini ia tak boleh ketahuan oleh Reyhan, jika tidak ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.
Gadis itu melangkah melewati Reyhan yang kini masih menunduk dan merenungkan masalahnya. Sedang Reyna kini menahan nafasnya beberapa kali seraya merasakan dadanya yang begitu sesak.
Langkah gadis itu perlahan membuka pintu tersebut, namun belum sempat ia masuk suara familiar yang sudah lama tidak ia dengar itu mengajaknya untuk bicara.
"Dokter" suara itu membuat dada Reyna bergetar, ia perlahan membalikkan tubuhnya dan menatap manik mata itu. Manik mata lelah Reyhan yang sudah lama ia rindukan. Beberapa kali Reyna mengerjapkan matanya, ia bersikeras untuk tidak menumpahkan kesedihan yang ia rasakan kala itu juga.
"Ada masalah apa?" pertanyaan itu membuat Reyhan tersentak. Pandangan gadis itu begitu familiar untuknya, meski tak pernah bertemu sebelumnya namun ia merasa tak asing.
"Tolong selamatkan papa saya dok, papa sudah sakit jantung koroner bertahun-tahun" seru Reyhan yang kini terlihat memohon pada Reyna yang terlihat menguatkan hatinya.
"Saya pasti akan berusaha semaksimal mungkin, tuan berdoa saja yang terbaik" kata Reyna yang kini mulai membalikkan tubuhnya. Tanpa disadari air matanya menetes. Ia kemudian segera memasuki ruangan tersebut, perlahan gadis itu menyeka air matanya.
Ia melihat seorang suster yang terlihat memeriksa keadaan pria paruh baya itu. Gadis itu membuka maskernya tatkala suster tersebut melihat keberadaannya yang kini terlihat terkejut.
"Dokter Reyna, bukannya dokter sedang" perkataan suster tersebut membuat Reyna menaikkan sebelah telapak tangannya ia mengisyaratkan untuk tak melanjutkan apa yang dikatakan suster tersebut. Ia mendekati suster itu dan menatap Reynaldi dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Bagaimana keadaannya suster? apa ada masalah serius."
"Sebenarnya beberapa hari ini pasien sudah rawat jalan, tapi kami sudah menyarankan beliau untuk rawat inap di sini dok. Akibatnya sekarang seharusnya kita sudah melakukan operasi, tapi sepertinya dokter lain akan menolak, karena bagaimanapun juga besok akan ada banyak yang sudah dijadwalkan untuk operasi" ujar suster itu membuat Reyna terperangah.
Apa yang dikatakan suster memang benar, jika saja dari awal Reynaldi mau dirujuk dan mau untuk menginap disini mungkin akan ada jalan untuk menjalankan operasi secepatnya. Tapi mengingat besok kaan dilakukan operasi besar-besaran, ia takut Reynaldi menjadi pasien terakhir yang dioperasi. Padahal semakin lama pasien ditahan, maka akan semakin menipis kesempatannya untuk hidup kembali.
"Sus, saya akan bicara pada dokter Martin. Kita pasti bisa menyelamatkannya" Reyna kini optimis, apapun yang terjadi ia ingin ayahnya tetap hidup meskipun ia pernah sakit dibuatnya. Suster tersebut akhirnya pergi, ia berpamitan pada Reyna dan melangkahkan kakinya untuk keluar.
Gadis itu tak bisa menahan air matanya, tanpa sadar ia menjatuhkan air matanya yang mengalir dipipinya. Gadis itu membalikkan tubuhnya, namun sedetik kemudian ia menatap ayahnya. Reyna menyentuh punggung pria paruh baya itu, bahkan menyentuh pun Reyna tak menyangka. Dulu hanya dalam mimpi ia bisa menemui ayahnya meskipun dalam mimpi itu ia harus di hina tanpa kebahagiaan.
***
Suara gebrakan yang begitu keras membuat Reyna terperanjat, ia menatap Martin yang kini bangkit seraya menatap tajam kearahnya.
"Dokter Reyna, apa anda tau apa yang anda katakan. Sebelumnya anda meninggalkan tempat rapat tanpa permisi dan sekarang dengan rendah hati anda ingin meminta bantuan saya untuk membantu pasien anda?" Reyna menghela nafasnya, ia menggeleng seraya menunduk tanpa berani menatap Martin yang kini terlihat kilatan amarah di matanya.
"Maafkan saya dokter, tapi kali ini nyawa seseorang lebih penting. Kita tidak bisa menunggu lama lagi atau kalau tidak."
"Dokter Reyna, pahami kata-kata saya. Dia baru saja masuk, dan kita harus mengoperasi pasien dengan organ dalam yang begitu rumit dan membutuhkan dokter senior untuk membantu kita. Kita hanya butuh beberapa jam lalu bisa mengoprasi pasien anda" perkataan Martin membuat Reyna bangkit.
"Maafkan saya, kalau begitu saya permisi dulu" ujar gadis itu tanpa memperdulikan tatapan mata Martin yang menjurus padanya.
Melihat keadaan Martin dan juga sikap dan sifatnya, Reyna seperti tak ada kesempatan lagi untuk memohon. Kali ini gadis itu seperti melewati jalan buntu, ia ingin menyerah tapi rasanya tak mungkin.
"Reyna!" suara familiar itu membuat Reyna membalikkan tubuhnya, ia menatap Alfian yang kini menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa kamu kabur pas meeting Rey? ada masalah ya?" pertanyaan itu membuat Reyna menggeleng seketika. Ia tersenyum seraya melangkahkan kakinya mensejajarkan langkah Alfian yang tengah meliriknya.
"Kamu yakin? kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa panggil aku Rey" seru Alfian yang hanya dibalas senyuman oleh Reyna.
Ia sedikit terhibur dengan perkataan Alfian meskipun ia sendiri tak ingin membebani sahabatnya itu dengan masalahnya. Bagaimanapun Alfian adalah dokter yang hebat dan sudah lama berkarir di rumah sakit ini. Sedangkan ia sendiri, baru saja memulainya.
"Pasti aku bakal bilang ke kamu kok, tapi kali ini aku baik-baik aja" perkataan itu membuat Alfian sedikit lega. Meskipun ia sedikit curiga dengan apa yang dialami Reyna yang tampak tak biasa. Terlihat dari mata gadis itu yang menyiratkan kegusaran dan juga kegundahan.
Jam berdetak dengan bel yang khusus diperuntukkan untuk para pekerja shift berbunyi membuat Reyna keluar dari rumah sakit tersebut. Ia menatap mobil yang kini tengah menjemputnya.
Rasanya ia ingin bersandar dipundak Yasya kali ini, menyandarkan segala lelahnya pada pundak pria itu. Reyna memasuki mobil itu, wajahnya terlihat ditekuk, banyak masalah yang terjadi hari ini, ditambah lagi hatinya yang tengah gundah.
"Sayang, kamu kenapa?" pertanyaan itu membuat Reyna seketika menggeleng, ia menggenggam jemari Yasya dan membutuhkan kehadirannya kali ini.
"Sya, kamu tau nggak, aku capek banget."
"Masalah kerjaan?" pertanyaan itu seolah membuat Reyna berfikir bahwa Yasya benar-benar peka terhadap perasaan dan juga masalahnya kali ini.
"Sya, papa, hari ini papa dirumah sakit. Dia sakit jantung, aku liat sendiri Sya."