The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Bimbang



Langkah Zayn yang tiba-tiba membuat Reyhan yang semula bersantai kini menatap pria itu dengan heran. Semakin lama, wajah Zayn semakin ditekuk saja usai keluar dari toilet. Apakah ia tertekan sekali?


"Kenapa lo? kok lesu gitu!" celetuk Reyhan membuat Zayn memutar bola matanya.


"Nggak usah banyak nanya deh, gue mau pulang" kata Zayn seraya membalikkan tubuhnya membuat Reyhan buru-buru menyesap kopi terakhir miliknya dan buru-buru menyusul saudaranya itu.


"Woy! tungguin gue!"


Memang tak mudah menghadapi seorang yang gampang moody seperti Zayn. Sikapnya berubah-ubah, bahkan dirinya masih saja enggan untuk membuka suara kala Reyhan sibuk memainkan ponselnya saat ini.


"Lo kenapa sih Zayn? kayaknya keluar dari toilet, sikap lo jadi lebih dingin deh" ujar Reyhan seraya masih mengirimi chat Kanaya sambil sesekali melirik pria disampingnya yang tengah fokus menyetir.


"Apa semua cewek itu sama ya?" Reyhan menaikkan sebelah alisnya. Ia buru-buru mengantongi ponselnya seraya menatap Zayn yang kini masih terlihat kusut itu.


"Hah? maksud lo apa?"


"Gue tadi baru keluar dari toilet, pas gue jalan tiba-tiba ada cewek yang nabrak gue, terus dia jatoh deh. Nggak minta maaf, malah maki-maki gue lagi" omel Zayn dengan perasaannya yang masih begitu kesal mengingat kejadian tadi di toilet.


"Cewek? cantik nggak?" pertanyaan itu membuat Zayn melirik sekilas kearah Reyhan yang begitu antusias mendengar cerita dari dirinya. Ngapain juga tadi dirinya malah cerita pada Reyhan, ujung-ujungnya pasti dicomblangi.


"Cantik sih cantik, cuma mulutnya kaya cemplon" kata Zayn membuat Reyhan tak bisa menahan tawanya yang kini pecah membuat Zayn semakin malas saja meladeni Reyhan yang begitu menjengkelkan ini.


"Gue kayaknya emang nggak bisa dapetin cewek secepet lo deh" tambah Zayn lagi dengan nada menyerah membuat Reyhan seketika menghentikan tawanya.


"Kenapa lo nggak ngajak PDKT tuh cewek aja sih, kalo cocok kan tinggal bilang papi biar nggak ndesak lo" Zayn benar-benar tak habis fikir. Kenapa saudaranya itu begitu bodoh sekali. Pertemuan yang tidak menyenangkan malah digunakan untuk perkenalan.


"Gue kalo milih cewek juga pilih-pilih kali, cewek kaya gitu mah gue nggak bakal bisa tahan sama mulutnya"


"Nggak tahan pengen nyium maksud lo?" ledek Reyhan membuat Zayn menatap dirinya dengan tajam.


"Kalo ngomong nggak usah sembarangan bisa nggak sih!" Reyhan terkekeh dibuatnya. Mau bagaimana lagi, Zayn memang tipe yang sulit untuk mengenal wanita. Ditambah dengan pekerjaannya sebagai direktur, aura sombong dan juga dingin yang ia miliki memang membuat wanita mana saja pasti akan berfikir kedua kalinya untuk mendekatinya. Yah, meskipun bisa dibilang Zayn adalah bule yang tampan, dan sifatnya itu ia tunjukkan saat didalam kerja.


***


"Lo kenapa sih Lun?! muka lo tiba-tiba jadi kusut gitu" tanya Cindy yang kini mencoba untuk menenangkan sahabatnya yang tengah meminum jus dihadapannya.


Entah kenapa semenjak ia keluar dari toilet ada yang aneh terhadap Luna. Ia tak seceria tadi saat mereka ngobrol, Luna hanya menggeleng.


Namun di sisi lain ia memikirkan banyak hal dalam hidupnya. Papa Luna sudah ingin menjodohkan dirinya pada putra temannya. Ditambah lagi kejadian barusan, membuat moodnya tambah hancur saja. Ia yang tadinya bersikap tenang dan hendak berbagi kebimbangan pada Cindy kini tiba-tiba urung begitu saja.


"Lun? lo kok bengong sih? ada masalah apa? cerita kek" bujuk Cindy yang kini masih menatap wajahnya dengan pandangan perhatian.


"Gue mau pulang aja Cin, lain kali aja gue cerita. Gue lagi nggak mood nih" kata Luna membuat sahabatnya itu mengernyitkan keningnya. Sebenarnya ada apa dengan Luna? seperti bukan dirinya yang biasanya. Cindy juga tidak berhak memaksa, karena walau bagaimanapun itu hak Luna ingin menceritakan masalahnya atau tidak.


"Kalo gitu, gue anterin aja ya" tawar Cindy membuat Luna menggeleng seraya mencoba untuk tersenyum setenang mungkin.


"Nggak perlu deh, gue bisa pulang sendiri" kata Luna membuat Cindy sedikit lega dibuatnya.


***


Langkah Cindy kini memasuki apartemennya, ia melepaskan high heels dan menaruhnya di atas rak sepatu. Ia melangkah dengan gontai dan menaruh tas miliknya diatas sofa.


Luna memang tidak tinggal dengan papa dan mamanya. Ia memang ingin mandiri sejak lulus kuliah dan masuk kerja. Rasanya punya apartemen sendiri dari hasil keringatnya lebih memuaskan daripada harus menikmati jerih payah orangtuanya. Papa Luna adalah seorang pensiunan TNI, sedangkan mamanya adalah konglomerat, salah satu bangsawan dari negara ini. Tak banyak yang mengetahui jati dirinya, mungkin hanya Cindy yang tau tentang dirinya.


Luna memandangi foto keluarganya yang berada diatas meja kamarnya. Foto-foto dirinya bersama kedua kakak perempuannya. Serta foto dirinya saat wisuda bersama dengan kedua orangtuanya.


Kedua kakaknya juga berakhir sama, menikah karena dijodohkan oleh Mama. Tapi kali ini berbeda dengan Luna, ia lebih dekat dengan papanya dan keputusan jodoh ada ditangan papa.


Sebenarnya ia dari dulu sudah membayangkan hal ini akan terjadi padanya suatu hari nanti. Tapi tak pernah terfikirkan waktu akan berjalan cepat. Ia mencoba untuk menjauh dari keluarga bukan semata-mata hanya untuk bersikap mandiri saja. Tapi, ia juga ingin mencari pasangan sendiri nantinya. Namun ternyata apa yang dibayangkan Luna tidak ada berhasil. Meskipun butuh dua tahun perjalanannya bekerja dapat membeli apartemen ini, namun tidak bisa merajuk kedua orangtuanya agar dirinya bisa bebas memilih jodoh.


Suara dering ponsel gadis itu membuat dirinya bangkit dan segera meraih ponsel yang berada di tasnya. Ia buru-buru keluar dari kamar untuk duduk diruang tamu.


"Halo pa"


"Gimana kerjaan kamu? lancar?" Luna menghela nafasnya. Lelah menghampiri fikirannya yang penat akan hidupnya.


"Lancar kok pa, papa apa kabar?" tanya gadis itu mencoba untuk tenang dan sebisa mungkin menyembunyikan kegelisahannya.


"Baik, gimana? kapan kamu mau pulang?" tanya pria paruh baya disebrang sana membuat Luna menghela nafasnya lagi. Ingin rasanya ia mengungkapkan isi hatinya. Ingin ia menolak permintaan papanya untuk dijodohkan. Tapi rasanya suaranya seolah terhenti tiap kali mendengar suara getar papanya yang sudah tidak muda lagi.


"Luna bakal pulang kok pa, tapi nggak dalam waktu dekat. Kerjaan Luna masih banyak, nggak bisa ditinggal" kata Luna dengan matanya yang berkaca.


"Nanti kalau kamu pulang, papa kenalin sama anak teman papa ya. Kakak-kakak kamu udah pada nikah nak, tinggal kamu aja yang belum. Papa udah tua nak, rasanya senang kalo ada yang bisa gantiin papa buat jagain kamu" Luna benar-benar tersentuh dibuatnya. Bagaimana ia bisa menolak jika papanya saja sudah berkata seperti itu. Apalagi Luna dari kecil sudah diajarkan untuk menurut pada orang tua. Jangankan menolak, membantah pun tidak bisa.


"Papa kok ngomongnya kaya gitu sih! lagian papa juga masih sehat. Aku juga udah dewasa, meskipun belum ada suami pasti bisa jaga diri" kata Luna dengan nada manjanya membuat papa disebrang sana tersenyum dengan lega.


"Papa percaya sama kamu nak. Kalau gitu kamu baik-baik ya disana, mama dan papa nunggu kepulangan kamu" ujar papa mengakhiri panggilan tersebut.