
Seorang lelaki tengah menyesap kopi hitam didalam cangkir kecil yang saat ini berada ditangannya. Pria itu mendengus dengan suara kasarnya, hawa dingin hujan dibulan desember membuatnya seringkali memeluk tubuhnya sendiri.
Fikirannya melayang mengingat gadis yang tempo hari menemuinya saat operasi yang ia tangani usai.
Ada rasa sesak di dadanya kala mengingat gadis itu, gadis yang dulu pernah ada dihatinya, meskipun kini semuanya telah hilang bersamaan dengan waktu yang membuatnya menjadi gila dalam waktu yang lama.
Alfian kini mengambil ponselnya, menggeser dan memencet beberapa ikon untuk membuka aplikasi galeri didalam android miliknya.
Dilihatnya pemandangan indah saat bersama Clara, mantan kekasihnya yang pernah menghiasi hidup dan jiwanya kini hanya tinggallah kenangan semata yang takkan kembali lagi.
Alfian kini sadar dicintai seorang Falery membuatnya lebih beruntung daripada hanya mencintai seseorang yang pernah ada dihatimu namun dia mengkhianati mu.
"Kita harus berakhir Ra, aku nggak mau masa depan ku terlukai lagi" ucapnya sambil menghapus foto kebersamaannya bersama Clara.
"Al" suara pria tak asing itu membuat Alfian menoleh dengan segera, memperhatikan Zayn yang kini berdiri dihadapannya.
"Zayn.. aku... aku" ujarnya gugup sambil menggeleng membuat Zayn mengerutkan keningnya dan duduk tepat dihadapan Alfian.
"Kau dengan Clara?" tanyanya membuat Al menyunggingkan senyum keyakinan pada sahabatnya.
"Tenang aja, aku nggak bakal buat Falery kecewa kok."
"Kamu tau kan Falery itu suka sama kamu sejak kamu nyelametin dia, dan setelah itu, kalian berpisah, kamu dan Clara berhubungan, itu hak mu, karena Falery juga gitu. Tapi Al, dia bener-bener tulus sama kamu" ucapan kesal dari Zayn membuat Alfian mengalihkan pandangannya mencoba memberikan penjelasan untuk Zayn yang kali ini menatapnya dengan mata intens.
"Bukan gitu, aku benar-benar mencintai Falery, sungguh. Tapi Clara... dia kemaren dateng dan minta buat balikan" jelas pria itu pada Zayn membuat kedua alis pria blasteran itu berkerut.
"Terus?"
"Aku nggak akan mau... karena aku berniat untuk melamar adikmu Zayn."
Zayn menyunggingkan senyum nanar pada pria yang telah lama menjadi sahabatnya itu, membuat rasa bersalah pada Alfian semakin dalam.
"Zayn... aku bersumpah" kata Alfian lagi dengan tegas.
"Kalau begitu buktikan" sahut Zayn sambil bangkit, membuat Al mengikutinya.
"Adikku menerimamu yang meski dia tau kamu mempunyai masa lalu indah bersama orang lain, dan kau tau Falery... masa lalunya bersih, karena ingatannya yang hilang. Jika kau menyakitinya ketika dia mulai bahagia, maka ingatlah bahwa aku adalah mimpi burukmu dokter Alfian Abdi Mahesa."
***
Yasya mendengus, fikirannya melayang, bayang-bayang gadis itu mulai muncul lagi dibenaknya. Ada rasa benci, gundah dan amarah menjadi satu meski dirinya berulang kali meyakinkan hatinya untuk melupakan gadis lima tahun itu.
Yasya merebahkan tubuhnya, diatas kasur empuk kamarnya yang besar. Rasa nyaman ia rasakan saat kini dirinya lega karena telah tiba dikediamannya tepat di mansion keluarga Ferdiansyah ditengah kota Florida.
"Kau adalah dia? kenapa kamu berbeda Reyna? apa kamu membenciku? Reyna... aku sudah bersumpah untuk tidak akan pernah menikah, jika itu bukan denganmu" gumam Yasya sambil beralih duduk di ujung ranjang menatap jendela yang menghubungkannya dengan langit yang biru.
Suara dering ponsel membuat pria itu mengalihkan pandangannya, menatap ponsel yang tertulis kontak sang ayah disana.
Yasya dengan segera mengangkat panggilan itu.
"Halo pi"
"Halo nak, bagaimana sudah tiba di mansion?" tanya Adi disebrang sana.
"Sudah kok pi... apa yang papi inginkan lagi?"
"Bagus, anak papi ini ternyata semakin dewasa ya. Oh iya, mami merindukanmu" ujar pria paruh baya itu mengalihkan perhatian.
"Sudahlah pi... jangan bicarakan mami, papi mau bilang apa lagi?" tanya Yasya yang memang tidak suka basa-basi.
"Kondisikan cabang kita disana, papi akan menyusul segera mempersiapkan pertunangan mu" ucapan dari Adi membuat Yasya bangkit, terlihat rahangnya mengeras bersamaan dengan darahnya yang mengalir membuat hatinya teramat sakit untuk ia rasakan.
"PI SUDAH KUKATAKAN! AKU TIDAK INGIN MENIKAH!" teriakan itu membuat Adi menahan nafasnya sejenak, memberikan kesempatan pada sang putra untuk berbicara.
"Apapun yang terjadi, aku tidak akan bertunangan, aku hanya ingin fokus dengan perusahaan, atau papi mau, aku hidup sendiri lagi?" kata Yasya mengancam dengan emosinya yang kini semakin memuncak.
"Irya... kau itu sudah dewasa nak, ingat umurmu sekarang sudah menginjak 29 tahun, sudah cukup bagimu untuk memiliki seorang pendamping dihidupmu nak" Yasya menggaruk kepalanya, mengepalkan jemarinya sambil mendengarkan penuturan dari sang ayah yang sama sekali tak pernah ia perdulikan.
"Iryasya Ferdiansyah kamu adalah anakku, kau harus berkeluarga, papi sudah mempersiapkan segalanya untukmu. Gadis itu cantik, baik dan bermartabat, ayahnya adalah sahabat papi saat papi dulu kuliah di Amerika. Kau kenalan dulu saja, nanti kamu pasti akan suka" ucap Adi panjang lebar membuat Yasya semakin naik pitam.
"Aku tidak mau" ucapan dari Yasya tak didengarkan oleh sang ayah, Adi segera menutup ponsel itu membuat Yasya semakin dirundung rasa benci.