
Bau khas alkohol menyengat disetiap kali orang-orang masuk kedalam bar yang dipenuhi dengan anggur dan wine serta minuman memabukkan disana.
"Alex... aku mau minum..." ucap Falery yang kali ini hampir saja menjatuhkan botol anggur dihadapannya, membuat Alex turun tangan dan menuangkan kedalam gelas besar itu.
"Baiklah... tapi ini yang terakhir okay "
Alex tersenyum menang, dirinya mengambil sebuah pil kecil dari dalam sakunya dan mencampurnya kedalam gelas tersebut.
Tak butuh waktu lama, obat itu akhirnya menyatu dengan anggur yang kini diraih dan dihabiskan sekali teguk oleh Falery.
'+abiskan Falery, dan kita akan merasakan malam yang panjang setelah ini' ujarnya dalam hati sambil tersenyum puas melihat Falery yang kini mulai menunjukkan reaksi dari minuman yang baru saja ia habiskan.
"Ahhhh .. kepala ku pun.. pusing sekali... tubuhku... rasanya panas" kata Falery membuat Alex dengan segera membopong tubuh gadis itu dan mengajaknya keluar dari sana.
Kini mereka telah sampai didepan gedung hotel bintang lima tersebut. Dengan langkah gontai dan topangan dari Alex, Falery akhirnya masuk kedalam mobil miliknya.
"Panas... tubuhku panas" ceracau gadis itu tak karuan.
"Sabar sayang ku, sebentar lagi akan kuberikan kenikmatan yang kau butuhkan" ujar pria itu dengan tatapannya yang tersenyum licik.
Yasya kini telah sampai tepat didepan gedung dari hotel yang baru saja ia tinggalkan. Dirinya tampak berbicara pada seseorang dalam panggilan, terlihat dari earphone yang ia kenakan sambil menatap tajam mobil yang berhenti tepat didepannya.
"Peter... malam ini, aku akan kesana sekarang, aku akan ke makam Reyna malam ini juga."
"Tapi bos..." jeda Peter yang kini terpotong oleh kata-kata Yasya.
"Sebentar, aku masih ada urusan... kuhubungi lagi nanti" ujarnya seraya mematikan panggilan.
Pria itu menatap tubuh gadis yang dibopong oleh seorang pria jauh dari mobilnya berhenti. Dirinya merasa tak asing dengan gaun yang digunakan oleh gadis itu.
Yasya semakin melajukan mobilnya dan kini telah berhenti tepat dibelakang mobil tersebut. Dapat ia pastikan bahwa pria itu adalah Alex, dan wanita itu adalah...
"Falery? kenapa dia sepertinya sedang mabuk? ugghhh sudah kubilang jangan pernah mendekati Alex... dasar pembuat masalah saja."
Mobil itu melaju, membuat Yasya kini mengikutinya namun sedetik kemudian dirinya memutar mobilnya. Entah mengapa, fikirannya selalu khawatir terhadap Falery, meskipun ia tahu bahwa gadis itu bukanlah gadis yang ia cari selama ini, namun dengan melihat ia kesulitan jiwanya seperti ingin merengkuh dan melindungi dia.
"Peter... aku akan ke makam sekarang juga"
kata pria itu yang kali ini menghubungkan panggilan pada Peter.
"Kau sudah selesai dengan urusan mu bos?."
"Tidak ada urusan yang penting selain Reyna!!" kata Yasya tegas sambil segera mematikan panggilan itu.
***
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti disebuah gedung apartemen yang megah dan mewah dengan ornamen natal dibawahnya.
"Tolong... aku merasa panas."
"Sabar sayang ku" Alex tersenyum menang kali ini, dia membawa Falery ke apartemen pribadi miliknya.
Direbahkannya tubuh mungil gadis yang kali ini menggeliat kepanasan itu, membuat Alex kini melepaskan jas dan juga kemejanya satu persatu, menyisakan tubuh atletisnya yang kekar siap untuk menikmati tubuh Falery yang selama ini ia idam-idamkan.
"Ahhh panas... tubuh ku panas" Alex mendekatkan tubuhnya pada Falery yang kini sadar akan keberadaannya meski setengah dari fikirannya melambung bersama alkohol yang ia nikmati sedari tadi.
"Aaa.. Alex... jangan.. uhh panas" tubuh Falery tidak tertahankan lagi, namun dia berusaha menolak dengan sekuat tenaga pria yang kali ini mulai mencoba mengecup bibirnya.
"Sabar sayang, nikmati saja permainan ku."
"Jangan..."
.
Plakkkk ..
Falery dengan kasar tak sengaja memukul pipi Alex, membuat pria yang kini menindihnya menatap tajam gadis yang kini tak berdaya dibawahnya.
"FALERY! JANGAN MEMBUATKU MURKA!"
.Plakkkkk....
Sebuah tamparan dari Alex kini berganti dipipi mulus Falery, meninggalkan bekas merah disana.
"Aaaaahhhhhh...." teriak gadis itu dengan lantang yang merasakan panas dipipinya akibat pukulan keras dari Alex.
"Aku sudah bersusah payah untuk mendapatkan dirimu, aku memutuskan hubungan ku dengan Elizabeth dan kau yang harus memenuhi nafsuku."
Dirinya beranjak naik lagi hingga bibir pria itu menyentuh leher jenjangnya. Namun Falery mencoba melawan lagi dan lagi, membuat upaya Alex gagal untuk kesekian kalinya.
"Jangan... kumohon" kata Falery dengan matanya yang mengerjap beberapa kali.
"Sudah terlambat... hanya dengan begini kau akan menjadi milikku Fay"
Alex mencoba menanggalkan gaun Falery yang tersisa dengan ingin merobeknya lagi.
Brakkkk....
Sebuah pintu terbuka oleh dobrakan keras dari pria yang kini menatap tajam Alex yang hendak memperkosa Falery. Pria itu melangkah cepat dengan rahangnya yang mengeras.
Bukkk... bukkk bukkk ..
"Brengsekkk... apa yang kau lakukan pada Falery haa?."
.
bukkk bukk bukkk...
Tinjuan keras mendarat ditubuh Alex yang kini perlahan babak belur oleh kepalan keras tangan Yasya yang membuatnya tak mampu untuk bangkit kembali.
"Arrhhhhhgggggggt... ampun... ampuni aku Yasya"
Yasya tak memperdulikan perkataan pria dibawahnya, dia masih emosi dengan perbuatan bejat yang hendak dilakukan oleh pria itu pada Falery.
"Ya .. Yasya... tolong aku... aku... panas" ucapan Falery membuat Yasya kini berhenti memukuli Alex dan beralih memandangi Falery dengan tatapan sayu.
Dilepasnya jas yang ia kenakan dan dipakaikan pada gadis itu dengan lembut. Untung saja Alex belum sempat merobek semua gaun gadis itu, atau akan menjadi masalah besar nantinya.
Pria itu menggendong tubuh Falery ala bridal style, meninggalkan Alex yang kini tak sadarkan diri terbaring babak belur disana.
"Yasya... tolong aku... tubuh ku panas sekali... aku ingin" ujar Falery yang kini memeluk tubuh Yasya dan mendekatkan wajahnya pada pria dihadapannya. Yasya adalah pria normal, dirinya merasa tergoda oleh Falery yang kini mulai berulah di mobilnya, membuat libidonya ikut naik, namun fikiran pria itu masih bisa dikendalikan.
Pria itu hanya diam sambil membaringkan tubuh Falery dimobilnya.
***
"Bagaimana dokter keadaannya?" tanya Yasya yang kini sudah berada di mansion besar miliknya bersama seorang dokter yang baru saja memeriksa Reyna.
"Yuan Iryasya, dia sepertinya baru mengkonsumsi obat perangsang, itulah yang membuat tubuhnya bertambah panas."
.
"APAA?!" suara Yasya meninggi dengan emosinya yang memuncak hampir sampai di ubun-ubun. Dirinya tak tau apa yang harus dilakukan jika dia tidak bertindak cepat untuk memanggil dokter ke mansion miliknya.
"Panas... panas" racau Falery tak karuan.
"Lalu apa yang harus dilakukan dokter?"
"Satu-satunya cara untuk membuatnya kembali normal adalah, dengan melakukannya tuan."
"TIDAK...!!! Tidak boleh... aku tidak mau menodainya."
"Ini harus dilakukan tuan, jika tidak, saya khawatir syarafnya akan bermasalah nantinya."
Dokter menatap khawatir pada gadis yang kini menggeliat kepanasan, dirinya tal bisa memberikan solusi lagi untuk keadaan Falery. Mengingat dosis yang dimasukkan kedalam gelas gadis itu terlalu tinggi.
"Baiklah dok... saya akan fikirkan nanti, anda bisa pergi" ucapnya disusul dokter yang kini keluar dari kamar besar Yasya.
Yasya mendekat kearah gadis cantik yang kini memakai kimono dengan selimut tebal ditubuhnya. Pria itu naik keatas ranjang dan ditatapnya wajah merah Falery.
"Fay... sadarlah" ucap pria itu yang kini berusaha keras membangunkan kesadaran gadis itu.
"Ya.. Yasya..." meski Falery masih dipengaruhi oleh minuman keras yang membuatnya tak bisa berfikir dengan jernih namun dirinya secara terang-terangan menarik leher pria disampingnya hingga bibir Yasya menempel pada bibirnya.
Yasya mencium Falery dan dirasakan nyaman olehnya. Wajah Falery yang begitu menawan dengan tubuhnya putih mulus, begitu cantik.
Perlahan Yasya membuka kemejanya dan ditanggalkannya kimono Falery hingga dirinya tak memakai sehelai benangpun.
"Falery.. jangan salahkan aku, aku hanya menolong mu, dan kau yang menginginkannya" ujarnya dan setelah itu ia kembali mencium Falery lagi dan lagi.