The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Yasya kecelakaan



Kini gadis berambut panjang itu menggigit bibir bawahnya. Ingatannya masih terngiang pertemuannya dengan Michael yang tadinya tak disangka-sangka olehnya.


Gadis itu memijit pelipisnya, ia menatap jalanan yang penuh dengan kendaraan berlalu lalang. Ia bahkan merasa tak enak dengan Martin, karena ia tiba-tiba saja pergi tanpa berpamitan dan hanya bisa menyampaikannya lewat telfon.


Ponsel gadis itu tiba-tiba saja berdering, dengan segera ia meraih ponsel yang berada di tas kecil miliknya. Ia mengangkat panggilan itu kala nama Yasya yang tercantum disana. "Halo Sya, ada apa?" tiba-tiba saja Reyna menjatuhkan ponselnya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Pak, kita kerumah sakit pusat sekarang" ujarnya dengan air mata yang menetes disudut matanya. Gadis itu meremas jemarinya, fikirannya beralih pada Yasya saat ini.


Setelah sampai di rumah sakit, gadis itu berhambur memasuki ruangan Yasya dengan air mata yang menetes di pipinya. Ia melihat keadaan Yasya yang kini tengah terduduk lemah dengan tangan yang di infus, bahkan kepala pria itu yang dililitkan sebuah kain kasa.


"Sya, gimana keadaan kamu? kamu baik-baik aja kan? kamu nggak apa-apa" suara Reyna yang begitu cemas membuat Yasya tersenyum. Ia hanya bisa menenangkan gadisnya dengan menunjukkan wajah yang baik-baik saja.


Mungkin sudah nasibnya mengalami kecelakaan saat sebuah truk besar menerobos lampu merah dan ia tidak sengaja menabarak pembatas jalan.


"Sayang, aku nggak apa-apa kok, cuma luka ringan aja, kamu nggak perlu parno gitu, hari ini aku udah bisa pulang kok" Reyna tiba-tiba saja memeluk tubuh pria itu. Ia menangis sesenggukan dengan matanya yang kini semakin memerah. Entah mengapa rasanya sangat takut jika Yasya mengalami sesuatu.


"Sya, aku takut Sya, aku takut kamu kenapa-kenapa, aku takut banget" Isakan itu membuat Yasya tersentuh, ia membelai lembut rambut Reyna yang tengah dikuncir rapi. Aroma tubuhnya juga begitu wangi bagi Yasya, terlihat Reyna begitu ketakutan kala dirinya mengetahui apa yang terjadi padanya.


Reyna begitu mencintai Yasya, bayangan Michael tiba-tiba datang seolah semuanya sudah direncanakan. Ia sempat berfikir, apa memang ada hubungannya Michael dengan kecelakaan yang dialami Yasya?, pertanyaan dan juga firasat itu terus menghantuinya.


"Reyna, aku nggak apa-apa kok cuma lecet dikit aja, kamu jangan nangis oke, nanti jelek lo" kata Yasya yang kini menghapus jejak air mata gadisnya menggunakan punggung tangannya.


"Sya, kenapa kamu bisa sampe kecelakaan kaya gini? rem kamu blong, atau ada masalah sama mobil kamu?" pertanyaan itu membuat Yasya menggeleng, ia menyentuh kedua pipi Reyna menggunakan tangannya untuk menenangkan hati gadis itu yang sempat gelisah.


"Mobil aku baik-baik aja kok, tadi itu ada truk nerobos lampu merah, terus mobil aku oleng, nabrak pembatas jalan deh. Tapi kamu tenang aja, aku cuma luka ringan kok, aku juga udah minta papi buat nanganin perusahaan. Kamu tenang ya sekarang, besok kita persiapkan pesta pertunangan kita" kata-kata Yasya entah membuat Reyna bisa bernafas lega atau malah sebaliknya. Dengan keadaan Yasya yang seperti ini, bahkan ia masih enggan untuk menceritakan pertemuannya dengan Michael.


***


Kini gadis berambut panjang itu telah sampai di apartemennya. Ia melepaskan ikat rambutnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofanya yang begitu empuk. Setelah Yasya pulang dengan selamat, Reyna akhirnya bisa bernafas lega.


Suara bel berbunyi tatkala ia hendak bangkit menuju kamar mandi. Pandangannya kosong menerpa pintu yang ia pegangi gagang pintunya. Gadis itu menatap seseorang pria yang kini berdiri tegak dengan pandangannya yang menjurus padanya, mata hijau dan juga rambut merah yang familiar untuknya. Ia tak menyangka kini Michael kembali datang menemuinya tepat dimana ia tinggal.


"Reyna, selamat malam" ujarnya membuat Reyna memendam sejenak rasa ketakutan itu dalam dirinya.


"Aku ingin bertanya padamu Mike, mengapa kau mengikuti ku? apa tujuan mu Mike? aku sudah mengatakan bahwa aku mau menikah" Michael menyentuh bibir Reyna menggunakan telunjuknya hingga ia terdiam seketika dengan pandangannya yang membelalak.


Pria itu menatap sekitar, dirasa aman, ia membungkam mulut Reyna dan masuk kedalam apartemen tersebut dan segera menutup pintu tersebut. Reyna berusaha memberontak, ia tak tau niat jahat apa yang hendak dilakukan oleh pria tersebut padanya yang jelas kini Reyna merasa ketakutan seraya menghentakkan tubuhnya agar terhindar dari jemari Michael yang menutup mulutnya. Gadis itu menggigit salah sayu jari Michael hingga ia melepaskan Reyna dari cengkramannya. Buru-buru Reyna menjauh dengan pandangannya yang begitu waspada.


"Aku mencintaimu Fay, kau adalah Falery ku. Kau takkan pergi dari hidupku lagi kan, aku sudah mencari mu Fay. Selama ini, waktuku aku habiskan hanya untuk memperjuangkan mu sayang."


"Mike! sudah ku katakan! aku tidak mencintaimu, aku hanya mencintai calon suami ku Iryasya Ferdiansyah! kau tidak bisa memaksaku seperti ini Mike" perkataan Reyna bak angin lalu bagi Michael. Perlahan pria itu mendekatkan tubuhnya kearah gadis itu yang mundur perlahan dengan tatapannya yang begitu ketakutan.


"Kau, kau mau apa Mike! jangan mendekat" ujar Reyna yang kini tubuhnya terduduk dengan sofa yang berada dibelakangnya tanpa sengaja.


"Jika aku tak bisa memiliki mu, maka jangan salahkan aku untuk bersikap kasar Reyna! pertama aku akan membuat dia tidak bisa merasakan betapa sucinya dirimu, dan kedua, aku takkan membiarkan dirimu dimiliki olehnya" perkataan itu membuat Reyna pucat pasi. Disini hanya ada dirinya dan Michael yang tengah menghimpitnya.


"Mike ku mohon jangan" ujar gadis itu dengan suara lemahnya, namun Michael semakin brutal, ia menarik dress yang dikenakan oleh Reyna dan hendak merobeknya. Ia juga menyentuh lembut rambut panjang Reyna dengan lembut. Perlahan Michael hendak menyatukan bibir mereka, namun suatu hal yang tidak biasa dari Reyna terjadi.


Mata gadis itu mendadak menatap tajam pria dihadapannya, ia segera menendang alat vital pria tersebut dari balik celananya yang hampir menempel ditubuhnya. Tak hanya itu Reyna juga menampar wajah Michael dengan sekuat tenaga hingga dirinya terjatuh dibawah lantai ruang tamu.


"Kau mau menodai ku Michael? kau mau menghancurkan cinta ku? sebelum kau melakukannya, aku akan menghancurkan dirimu terlebih dahulu" ujar Reyna yang kini tersenyum sinis seraya bangkit dari duduknya. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya diatas perut, lalu kemudian berkacak pinggang menatap Michael yang tengah kesakitan.


"Jika kau terlebih dulu menyakiti Yasya, maka aku atau kau akan merasakan yang sama dengan apa yang ia rasa" kata Reyna seraya menatap penuh kebencian pada Michael yang kini mulai bangkit.


"Cepat pergi atau security akan datang sebentar lagi" ujar gadis itu seraya mendorong tubuh Michael keluar dari kediamannya.