The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Musim gugur yang berlalu




Sarah Wilson.


Falery kini berjalan dengan langkah cepat sambil memakai kacamata hitam miliknya bersamaan dengan itu Sarah dan Daniel juga mengikutinya.


Hawa dingin yang masuk melalui celah jaketnya kini membuat gadis cantik itu sedikit menggigil.


"Nona, ada apa?" pertanyaan terlontar dari Daniel yang kini memperhatikan gerak-gerik Falery yang tengah memeluk tubuhnya sendiri.


"Tidak apa-apa" ucapnya datar sambil terus berjalan mendekati ruang tunggu.


"Fay" seruan dari Sarah membuat Falery menghentikan langkahnya dan berbalik memeluk sahabatnya itu.


"Aku akan menunggumu, dan kau harus ingat, sebentar lagi kita wisuda. Jaga dirimu baik-baik" ucap Falery dibalas senyuman dari sang sahabat.


Falery mendengus melangkahkan kakinya lagi untuk memandang lurus menuju ruang tunggu yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


***


Pria bertubuh tinggi dengan memakai kaos putih miliknya kini tengah berdiri didepan jendela kamarnya, menatap pemandangan dari bangunan tinggi di kota Florida.


Pandangannya sayu dan penuh kekhawatiran, ada rasa gundah dan tak nyaman tatkala Falery jauh dari jangkauan Alan.


"Sayang.... jangan terlalu difikirkan" ucap Grace pada sang suami yang kini menghirup dan menghembuskan nafasnya secara bergantian, membuat fikirannya juga ikut teralihkan.


"Kau tau kan bagaimana keadaan anak itu, dia sangat sensitif" ujar Alan menggantung sambil menutup sebagian wajahnya membuat Grace memeluk tubuh pria itu dengan erat, memberikan kenyamanan dan juga sekaligus menenangkan fikiran negatif dari sang suami.


"Sudahlah Alan, sudah lima tahun. Lima tahun berlalu, aku sendiri kasian padanya jika kalian tak memberikan kebebasan untuk Falery. Apa kau ingin gadis itu kehilangan masa remajanya?" kata-kata dari Grace membuat Alan terdiam, sebenarnya ada rasa ragu didalam hatinya, namun keraguan itu tak dapat dibenarkan seluruhnya oleh perkataan Grace yang memang benar adanya.


Mungkin Alan memang terlalu menekan Falery, pria itu terlalu khawatir hingga tak memikirkan masa depan gadis itu.


Perlahan tangan pria itu membalas pelukan dari sang istri, mencium puncak kepala wanita itu dengan lembut.


"Kau benar, tapi, aku tetap saja khawatir padanya."


"Cukup Alan, kau ingin bertemu dengannya atau tidak?" pertanyaan itu sontak membuat Alan tertegun sembari memicingkan sebelah matanya.


"Maksud mu?"


"Katakan saja, kau pasti ingin bertemu dengannya bukan" ujar Grace sekali lagi membuat pandangan tegas dari Alan tergurat.


"Tentu saja" sahut pria itu sambil melepaskan pelukannya dari Grace, menatap wanita yang ia cinta itu dengan tatapan penuh harap.


"Kalau begitu, mengapa kita tidak menjemputnya saja."


"Kau bilang apa?" dahi lelaki itu masih berkerut, ada segudang pertanyaan yang masih mengganjal tak mengerti dibenaknya.


"Dasar suamiku, Falery akan tiba satu jam lagi di bandara. dia akan kembali."


"Kau serius?"


"Tentu saja, dia yang memberitahuku tadi" kata Grace yang kini mulai tersenyum ramah pada sang suami.


Rasa bahagia seperti menyelimuti hati Alan yang kini tersenyum senang sambil memeluk Grace.


"Daddy" suara mungil itu membuat sepasang suami istri itu mengalihkan pandangannya, menatap seorang anak laki-laki berumur empat tahun yang kini menatap mereka bergantian.


"Sayang, kau sudah bangun?" pertanyaan dari Grace membuat anak itu mengangguk sambil berjalan kearah mereka.


"Apa itu daddy?" tanya pria kecil itu dengan suaranya yang begitu menggemaskan.


"Hari ini bibi akan kembali" ujarnya dengan ceria membuat Louis ikut tersenyum girang.


"Benarkah?" tampaknya ucapan dari Alan membuat pria kecil itu mengembangkan senyuman lucunya yang membuat kedua orang tuanya tersenyum lembut membalas.


"Iya... kita jemput bibi bagaimana?" pertanyaan dari Grace diberi anggukan senang dari putranya yang kini mempererat pelukannya pada sanga ayah.


"Ayo kita jemput bibi, aku rindu padanya mommy."


***


Gadis cantik itu kini telah duduk dengan nyaman dibangku yang ia duduki, ia menghadap jendela pesawat sambil menghembuskan nafas beratnya.


Ingin rasanya ia tinggal lebih lama lagi di Georgia, namun karena keinginan Alan dia tak mampu lagi untuk menolak.


Musim gugur yang berakhir meninggalkan jejak pada Falery yang kini hanya bisa ia nikmati di dibalik jendela bundar.


Falery mengatur nafasnya lagi untuk kesekian kalinya, dilepasnya kacamata hitam yang sedari tadi bertengger di wajah cantiknya, memperlihatkan aura dingin yang ia tutupi kini terumbar dalam keheningan yang ia ciptakan.


Gadis itu memejamkan matanya, merasakan hawa yang masuk dalam tubuhnya yang kini berangsur hangat dalam maskapai.


Tanpa ia sadari seorang pria tengah berlari dari belakangnya, mencari kursi duduk miliknya. Wajahnya berkerut dengan nada kekhawatiran disetiap gerak-geriknya.


Hampir saja Yasya akan ketinggalan penerbangan dihari yang melelahkan ini. Dapat ia temukan kursi yang ia cari kini bersebelahan dengan seorang gadis yang tak terlihat wajahnya, wajah gadis itu teralihkan menghadap jendela membuat Yasya dengan cuek duduk disampingnya.


Merasa ada suara disampingnya, Falery menoleh dengan pelan membuat tatapan mata mereka saling bertemu.


"Kau lagi" kata Falery dengan nada malas sambil mengalihkan pandangannya kearah lain membuat pria disampingnya memutar bola matanya.


"Aku bingung padamu, kenapa kau selalu hadir dimana aku menginjakkan kaki, kau membuntuti ku ya?" pertanyaan dari Yasya membuat Falery terkekeh, seperti gurauan jenaka yang dilontarkan seorang pelawak, gadis itu tertawa dengan terbahak-bahak.


"Hahahaha, kau? hey! ku peringatkan dirimu, jangan pernah macam-macam padaku atau kau akan tau balasan apa yang setimpal untukmu" kata Falery mengancam sembari menghentikan tawanya yang keras berganti dengan wajahnya yang mendadak serius


"Kau kira aku takut? seorang anak kecil seperti mu, aku bahkan bisa menyingkirkan orang yang lebih besar darimu" Falery dengan amarahnya melepaskan jaket tebal coklat yang ia kenakan, ada rasa panas seperti membakar jiwanya ketika bertemu dengan Yasya. Terlihat kaos putih yang ia kenakan juga kalung melingkar di lehernya. Tak butuh waktu lama Falery menyandarkan punggungnya lagi, ia membuang muka dan menatap pemandangan luar daripada harus melihat pria asing yang selalu membuat harinya lebih buruk.


Pria itu menoleh, menatap nanar pada kalung yang dikenakan Falery. Ada sebuah ingatan kecil dalam hidupnya yang tak mampu ia lupakan sejak lama.


"Reyna" ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Yasya, membuat Falery menoleh dengan tatapan aneh.


"Kau adalah Reyna... tidak salah lagi?" pertanyaan itu membuat Falery semakin bingung, Reyna? Reyna siapa yang pria itu maksud. Bahkan Falery tidak dapat mengingatnya sama sekali.


"Apa kau gila? siapa yang kau maksud?"


"Kau adalah Reyna... aku tau itu" ucap Yasya sambil menarik lengan Falery.


"Lepaskan" kata Falery sambil menarik lengannya lagi.


"Namaku Falery, bukan Reyna. Kau salah orang tuan" ujar gadis itu dengan nada menekan sambil menatap tajam pada Yasya yang kini masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Bayang itu bukanlah ilusi atau imajinasinya semata, namun orang yang mirip gadis itu memang benar adalah ia.


"Aku tidak salah, aku tidak salah mengenalmu, kau adalah Reyna" ujarnya lagi sambil menarik kedua lengan Falery, membuat gadis itu seperti tersihir oleh tatapan mata dari Yasya yang penuh harap oleh sosoknya.


Yasya menarik dagu gadis itu, menyentuhnya dengan perlahan, Reyna memang masih kecil lima tahun lalu, tapi wajah ini tak dapat dilupakan oleh hidupnya. Reyna kini telah tumbuh dewasa bahkan semakin tinggi, membuat pria itu tersenyum dan memeluk tubuh Falery.


Entah mengapa perasaannya juga ikut bahagia, apa yang ia fikirkan seperti tidak sama dengan apa yang ia rasakan. Gadis itu seperti tidak dapat menolak pelukan hangat dan erat dari Yasya. Hanya kepasrahan dan diam yang dapat ia lakukan.