The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Malam mendengar



Ceklek


Suara terbukanya pintu disebuah apartemen milik Falery menggema, kala dirinya masuk dan melepas kedua high heels yang ia kenakan sewaktu kerja.


Gadis itu melenguh, meninggalkan penat yang ia rasakan seharian. Punggungnya terasa panas dan matanya seperti dipaksa untuk terpejam.


"Aku lelah sekali" gumamnya sambil berjalan menuju kamar.


Brukkk...


Ia sengaja menjatuhkan tubuhnya diatas kasur empuk. Tubuhnya seperti dicabik-cabik, apalagi kakinya yang mulai lecet sehabis memakai sepatu yang sudah lama tak ia kenakan.


Matanya terpejam lembut. Ia tak memperdulikan pakaiannya yang masih mengenakan baju kerja.


Yang jelas kali ini tubuhnya butuh asupan untuk tidur dan beristirahat.


Menjadi dokter memang tak sesibuk menjadi asisten dari kalangan bos. Apalagi hari ini hari pertamanya bekerja menjadi asisten pribadi Michael. Butuh waktu untuk menyesuaikan pekerjaan baru Falery.


Waktu bergulir, meninggalkan jam yang berdetak diiringi kenyamanan ruangan kamar Falery yang begitu dingin.


ting tong...


Suara bel membuat tidurnya terganggu. Terlihat dari gerakan alisnya yang mengernyit dan mencoba untuk membuka pandangannya.


Gadis itu bahkan sampai lupa jika ia tengah tertidur masih menggunakan softlens.


Gadis itu buru-buru keluar dari kamar, membukakan pintu untuk orang yang hendak bertamu dirumahnya.


ceklek


"Sia....pa?" mata gadis itu terperanjat, melihat sosok familiar yang berdiri dihadapannya.


Dengan fikiran yang masih mengambang dan juga nyawa yang masih sedikit menghilang. Buru-buru dirinya menutup pintu itu kembali.


"Reyna, dengarkan aku dulu Rey" siapa lagi yang memanggilnya Reyna kalau bukan Yasya. Yasya mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga diimbangi dengan Falery yang ikut mendorongnya dari arah dalam.


"Aku tidak butuh penjelasan mu Yasya! sebaiknya kau pergi! temui Sarah dan minta maaf padanya" teriak Falery sambil berusaha kuat untuk mendorong pintu itu ditengah dorongan yang Yasya berikan.


"Ku mohon"


Brakkk...


Akhirnya dengan sekuat tenaga, Yasya berhasil mendorong pintu itu hingga tak sengaja tubuh Falery hampir terdorong dan terjatuh, namun dengan sigap tangan Yasya meraih pinggang Falery.


Tak ada yang dapat dikatakan selain tatapan diantara mereka yang saling menyalurkan kerinduan. Gadis itu menatap sayu kearah Yasya yang kali ini juga ikut menatapnya dengan teduh.


Buru-buru Yasya menutup pintu dibelakangnya dan beralih menggendong Falery ala bridal style menuju kamar.


Gadis itu nampak melamunkan sesuatu, entah apa. Tapi yang jelas, matanya segan untuk beralih dari mata teduh itu.


Yasya membaringkan tubuh Falery diatas ranjang. Pria itu masih bertahan tepat di atas tubuh Falery yang mulai menegang.


Pria itu dengan cepat ******* bibir Falery, membuat gadis dibawahnya tersadar.


Ia memberontak, tangannya menekan dada Yasya dengan kuat dan mendorongnya.


"Apa yang kau lakukan Yasya?!" Falery mengacak rambutnya, meski ia sadar tapi mengapa dirinya harus terlena oleh pesona Yasya. Fikirannya mulai bisa menerima semua secara normal kala dirinya hampir saja terjebak oleh keadaan.


"Hiks" Falery tak tahan lagi, air matanya mengalir begitu saja dengan Yasya yang kini segera memeluk tubuhnya yang tengah duduk diatas ranjang.


"Rey, maafkan aku, aku tak ingin kau pergi lagi dariku, aku hanya ingin selalu bersamamu, aku yakin kau pasti juga begitu kan?."


Falery masih terdiam, hanya isakan yang keluar dari pita suaranya yang terdalam. Tanpa terasa tubuhnya menikmati pelukan hangat menenangkan yang diberikan oleh pria yang sangat ia cintai selama ini.


"Hiks, sudah kubilang, jangan sakiti Sarah"


"Reyna, aku tidak menyakitinya, malah aku akan semakin menyakitinya jika hubungan ini terus berlanjut. Kau tau kenapa? karena yang kucinta bukan dia Rey, yang kucintai adalah kau, tidak akan pernah berubah."


Falery mendorong tubuh Yasya untuk menjauh darinya.


"Reyna"


"PEMBOHONG! kau pembohong Yasya! apa kau fikir aku tak tau, aku lihat dengan mata ku sendiri, kau melamar Sarah di restoran, dimana banyak orang disana. Aku lihat semuanya Yasya! itu membuktikan bahwa kau bisa melupakan ku dan kau bisa memulainya dengan Sarah."


"Dengarkan aku dulu Rey, itu semua"


Falery menutup kedua telinganya dan menatap tajam kearah Yasya seolah memotong kata-kata Yasya yang sempat ia haturkan.


"Aku sudah selesai dengan yang ingin aku katakan, dan aku sudah selesai melihat apa yang seharusnya dilihat, sebaiknya kau pergi Yasya, temui Sarah, besok adalah upacara pernikahan mu bukan? jangan kecewakan dia lagi."


Ucap Falery dengan matanya yang memerah dan air mata yang mengalir tanpa mau memandang wajah pria yang kini berada dihadapannya.


"Reyna, apa yang kau lihat tidak seperti apa yang kau fikirkan."


"Lalu apa yang harus aku fikirkan Yasya! apa aku harus berfikir bahwa kau hanya berpura-pura melamarnya? lalu untuk apa? tak ada alasan untuk mu berpura-pura."


Mata gadis itu terpejam merasakan sakit yang menjalar menuju ulu hati yang paling dalam.


"Reyna."


Yasya mencoba untuk mendekatkan dirinya lagi, namun Falery menghentikan aktivitasnya dengan mengangkat telapak tangannya. Gadis itu menghindar beberapa senti dari tubuh Yasya yang kali ini bangkit dan mulai memohon.


"Pergi Yasya"


"Reyna dengarkan aku dulu"


"PERGI!"


Falery mendorong tubuh Yasya sekali lagi hingga pria itu kini mulai menghela nafas.


Tak disangka Reyna yang dulu ia kenal tak pernah berubah sampai detik ini. Sifatnya pun masih sama, keras kepala dan sulit untuk dimengerti.


Kini gadis itu sendiri, setelah Yasya keluar dari apartemen miliknya. Ia berulangkali mengusap kasar wajahnya dan mulai menangis meski isakan itu terdengar begitu lirih.


Setelah mulai tenang dalam keadaan, Falery mulai membersihkan make up dan juga segera mandi.


Gadis itu melangkah menuju balkon apartemen hanya menggunakan kimono dan juga handuk yang melilit rambutnya yang tengah basah.


Pandangannya sayu, menatap langit penuh berbintang.


Bahkan ramainya jalan dibawahnya seperti tak didengar olehnya. Falery memeluk tubuhnya sendiri. Ia tak mau lagi menangis hanya karena cinta.


Baginya Sarah lebih penting. Selama ini sahabatnya yang selalu mendukung kelangsungan hidupnya, saat keluarga satu persatu membencinya, hanya dia yang perduli pada sosok rapuh Falery.


Perlahan gadis itu melangkah lagi, dirasanya malam yang semakin larut. Ia kembali dengan fikirannya yang mulai tenang, berharap segalanya akan segera berakhir baik.


Gadis itu beranjak menuju ranjangnya semula. tanpa disadari air matanya menetes kembali, mengalir untuk kesekian kalinya.


"Hiks"


Isakan itu begitu lirih, namun penuh dengan kesedihan.


Perlahan ia menyeka air matanya lagi. Merasakan hatinya yang mulai tenang.


"Semua telah berakhir Reyna, setelah ini kau akan menjalani hidup seperti apa yang kau mau" ujarnya dengan senyuman namun disusul dengan isakan.