
Falery melangkahkan kakinya disusul oleh sahabatnya yang kini mengikuti dirinya dari belakang.
"Fay, kau duluan saja, aku mau ke toilet sebentar" tiada kata yang terucap dari mulut gadis cantik itu, hanya anggukan serta senyuman tipis terulas dibibir indahnya seolah jawaban itu cukup untuk mengisyaratkan pada Sarah akan kesetujuannya.
Falery melangkahkan kakinya lagi dengan cepat sambil membawa koper dan juga tas ransel kecil dipunggungnya.
Ceklek....
Suara terbukanya pintu tepat dihadapannya membuatnya terkejut. Seorang lelaki keluar dari kamar hotel itu, dengan tubuh atletis dan tinggi memandang wajah Falery yang kini tengah tertegun dihadapannya.
"Kau" kata Falery sambil menunjuk Yasya yang kini tersenyum sinis padanya.
"Sudah kubilang jangan muncul lagi dihadapan ku, apa kau tidak bosan mengikuti ku setiap saat haa?" kata Yasya membuat mata Falery membulat dengan bibirnya yang mengerucut sebal pada pria satu ini. Berulang kali pria ini selalu bertemu dengannya, bahkan sebelum dirinya meninggalkan Georgia.
"Sepertinya tingkat kewarasan mu semakin lama semakin berkurang ya, siapa juga yang mau membuntuti pria idiot seperti mu. Hanya gadis gila yang tertarik pada pria tidak jelas didepan mata ku ini."
Mata Falery membelalak dengan sempurna sambil melipat kedua tangannya, menunjukkan betapa kesalnya ia tiap kali bertemu dengan pria dihadapannya ini.
"Dasar gadis gila, aku tidak perduli padamu sama sekali" wajah Falery berubah menjadi amarah yang tidak tertahankan. Dilangkahkan kakinya dengan cepat mendahului Yasya yang kini memutar bola matanya malas pada gadis itu.
"Berhenti" kata Yasya dengan nada menekan, membuat Falery menghentikan langkahnya namun sedetik kemudian fikirannya teralihkan dan dengan cepat melanjutkan langkahnya lagi tanpa pikir panjang.
Masih beberapa langkah ia berjalan, sebuah tangan meraih lengannya dengan erat, membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya.
"Hyaaaaaaaaaa" teriak Falery sambil hendak menendang Yasya yang kini tengah siap mengelak gerakan gadis itu membuat Falery kehilangan keseimbangan. Tubuhnya hampir ambruk namun dengan sigap tangan Yasya dapat menangkap pinggang gadis itu dengan tepat.
Mata mereka saling bertemu, begitupun Yasya yang menikmati setiap ingatannya bersama dengan gadis itu, namun ia tak dapat mengenalinya walau wajah mereka sama. Baginya gadis itu adalah gadis dengan sifat lembut dan penyayang, bukan gadis dengan karakter yang angkuh dan garang.
Falery mengerjapkan matanya, ada rasa hangat yang pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan yang sama namun tak dapat ia ingat sama sekali. Rasanya mata yang berada dipandangnya begitu akrab dengan hatinya, namun sosok itu seperti kilas balik yang tertutup rapat oleh ingatannya.
Falery meyakinkan hatinya lagi, namun tanpa disangka kepalanya seperti berputar dan mengingat beberapa peristiwa samar.
"Aaahhhhh.... kepala ku."
"Kau... kau kenapa?" pertanyaan khawatir dari Yasya tak dipedulikan oleh Falery yang kini tengah memegangi pelipisnya yang begitu teramat sakit.
'Reyna... aku sangat mencintaimu.'
'Pak Yasya' suara itu seperti terngiang begitu saja dalam ingatannya yang entah lari kemana namun yang ia ingat nama itu tak asing dalam hidupnya.
"Hey... kau kenapa" ucap Yasya berulang kali sambil tetap pada posisi semula.
"Pak Yasya" kata-kata dari Falery membuat pria yang kini menangkap tubuhnya itu membulatkan matanya sambil mengernyit.
"Rey... Reyna" ujar pria itu dengan mengerutkan keningnya, ada segudang pertanyaan yang tak mampu dijawab dan tak berani ia tanyakan walau gadis itu tengah berada disampingnya.
Falery menggeliat, dirinya tengah mampu menyeimbangkan tubuhnya meskipun ada rasa pening yang masih berada dikepalanya.
"Lepaskan aku" ucapnya sambil bangkit dari pelukan Yasya dan segera menarik koper yang ia bawa. Falery tak memperdulikan pria itu yang kini menatapnya dengan pandangan sayu, gadis itu hanya fokus berjalan menjauh keluar dari penginapan itu dengan langkah yang sedikit gontai.
Yasya berjalan dengan cepat disebuah lorong hotel kamarnya sambil membawa koper bersiap untuk pindah ke Florida. Meskipun ada rasa kesal yang mengganjal, namun perasaannya sendiri seperti kalah oleh keraguan hati yang ia tanam sejak Falery mengucapkan kata itu.
Panggilan yang begitu akrab dan hangat, hanya ada cinta didalamnya, meskipun bersamaan dengan itu, dirinya harus menanam sebuah kebencian terhadap gadis yang sangat ia cintai.
Kini pria itu tengah berdiri tepat dihadapan lift dan siap untuk turun, namun seorang gadis menyusulnya tampak hendak ikut bersamanya menaiki lift itu.
Tiada kata yang mampu mereka ucapkan, hanya lirikan mata mencuri pandang pada Yasya yang kini tengah melamun, menikmati setiap jengkal ingatannya yang masih tersisa.
"Hay...." sapa Sarah sambil tersenyum, membuat pria itu menoleh kearahnya dengan pelan sambil tersenyum tak perduli.
"Aku Sarah Wilson... kau?" uluran tangan dari Sarah dengan ragu dibalas oleh Yasya yang kini membalasnya.
"Iryasya Ferdiansyah" ucap Yasya dengan datar membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Ada apa? kau sepertinya ada masalah."
Pria itu kini tersenyum sambil menggeleng dengan cepat. Suara lift berbunyi menunjukkan bahwa mereka telah sampai dilantai dasar hotel berbintang lima itu.
Tiada kata yang mampu mereka ucapkan satu sama lain selain kekaguman Sarah yang kini tersenyum lebar pada pria tampan yang baru saja ia temui.
"Tampan sekali" ujar Sarah sambil memegangi pipinya yang kini bersemu merah. Sarah melangkahkan kakinya, tanpa sengaja dirinya menginjak sebuah kertas bertuliskan kartu nama yang tak sengaja terjatuh setelah Yasya melaluinya.
"Ini?" ucapnya menggantung sambil tersenyum senang.
"Terimakasih Tuhan, karena dengan ini aku akan menemukannya" gumamnya sambil mencium kertas yang kini berada di tangannya.
***
Gadis cantik berpakaian tebal itu tengah menunggu keberadaan sahabatnya yang entah berada dimana. Tinggal satu jam lagi sebelum keberangkatan dan Sarah belum juga keluar dari hotel.
Kini wajah Falery berubah dingin dan kesal saat menunggu diparkiran mobil tepat dimana Daniel memarkirkan mobilnya.
Falery mendengus, dibukanya mobil yang sedari tadi diperhatikan olehnya.
"Fay!" teriakan dari sahabatnya itu membuat gadis itu menghentikan tangannya dan menoleh dengan wajah kesal pada sahabatnya itu.
"Kau tau, aku tadi bertemu dengan seorang pangeran, oh sungguh tampan. Aku seperti bermimpi" kata gadis itu dengan girang membuat Reyna mengerutkan keningnya menahan amarah pada Sarah yang kini sudah hampir membuatnya jamuran karena menunggu.
"Apa kau tak punya otak? aku menunggumu disini sejak lama, pesawat ku akan terbang satu jam lagi, cepat naik" ucap Falery dengan nada kesalnya sambil dengan segera menaiki mobil merah itu.
"Maaf" kata Sarah yang kini menatap malas pada Falery yang tengah mengalihkan pandangannya menatap arah jendela.
Pandangan gadis itu seolah terhenti oleh pria yang berada diluar mobilnya, melajukan sebuah mobil hitam tepat disamping jendelanya.
Pria itu tampak tak asing untuknya, hati Falery seperti bergetar ketika mengingat nama itu 'Yasya'.
Ada kehangatan didalamnya ketika pria itu menatapnya, dan Falery tanpa sadar menikmati pemandangan itu. Entah mengapa, beribu teka-teki yang ada dibenaknya kini menjadi serpihan tanya yang datang tanpa jawaban.
Falery menundukkan pandangannya, mengalihkan matanya pada jalanan didepan tanpa mau menatap Yasya yang kini berlalu melewatinya.
"Fay, kau kenapa?" pertanyaan dari Sarah membuat Falery terkejut dan menggeleng dengan cepat.