
Mentari pagi menyeruak, memasuki kamar apartemen Reyna yang penuh ornamen serba pink kesukaannya. Namun kini hanya terlihat Yasya yang tengah berselimut tebal ditengah kasur berukuran king size itu.
Yasya tiba-tiba saja mengerjapkan matanya tatakala cahaya emas memasuki retina matanya. Ia mencoba meraih sosok gadis yang semalam tidur bersamanya. Namun saat ia merasakan tiada Reyna, ia segera bangkit dengan perasaannya yang tak bisa diungkapkan.
"Reyna, kamu dimana sayang?" suara Yasya bahkan sampai menggema di seluruh ruangan, namun keberadaan Reyna tiada disana. Yasya segera bangkit, ia mencari keberadaan gadis itu disetiap ruangan, namun ia sama sekali tidak menemukan keberadaan gadisnya. Berulang kali Yasya memanggil namanya, namun Reyna tak kunjung memberikan jawaban. Yasya beralih mencari ponselnya, ia melihat jam dilayar ponselnya yang menunjukkan pukul sembilan pagi.
Entah apa yang ia rasakan, tapi ia sampai kesiangan karena semalam menjaga Reyna. Yasya segera menelfon gadis itu, namun tak mendapatkan jawaban. Yasya semakin cemas, pria itu mengusap kasar wajahnya seraya keluar dari apartemen.
Sesampainya didalam mobil, Yasya berulang kali menelfon Reyna, namun lagi-lagi gadis itu tak kunjung mengangkat panggilan darinya. Seketika ia mendengus, wajahnya tsmoak kacau khas orang baru saja tidur.
"Rey, kamu dimana sayang, please angkat telfonnya aku khawatir" kata Yasya seraya menggigit bibirnya. Ia masih saja bertahan menunggu jawaban telfon dari Reyna. Namun beberapa detik kemudian panggilan itu akhirnya dijawab.
"Hallo" kata seorang gadis disebrang sana membuat Yasya sedikit lega.
"Sayang, kamu kemana aja sih? kok pagi-pagi udah keluar? kenapa nggak bilang-bilang aku? aku cariin kemana-mana, aku khawatir sayang" kata Yasya yang hanya dibalas helaan nafas dari gadis disebrang sana.
"Reyna sayang" kata Yasya lebih lembut membuat gadis disebrang sana hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Aku ada di Cafetaria garden, aku mau tampil, kali kamu mau datang silahkan. Tapi kalau kamu pengen cegah aku, mendingan pulang" ujar Reyna membuat Yasya tercengang.
"Falery" gumamnya lirih, ia tak pernah berfikir Falery akan datang secepat ini. Mengingat keadaan Reyna sebenarnya masih lemah, ia takut terjadi sesuatu padanya.
"Oke, aku nggak bakal ganggu kamu, aku kesana sekarang" ujar Yasya setenang mungkin. Hal itu membuat Reyna tersenyum menang, ia segera mematikan ponselnya secara sepihak.
Kini tanpa fikir panjang lagi, Yasya segera menginjak gas mobilnya. Tiada yang lain dalam fikirannya kecuali gadis itu saat ini. Jika saja ia bangun lebih awal mungkin saja Reyna tak kan nekat untuk manggung saat ini, apalagi dilihat dari kondisinya seperti sekarang ini.
Ditengah Yasya menyetir, bahkan ia tak memperdulikan penampilannya yang terlihat kacau. Hanya memakai jaket hoodie serta celana training, tak ada lagi yang dapat ia kenakan. Sebab bajunya yang tertinggal di apartemen Reyna tinggal itu saja.
Setengah jam berlalu, Yasya segera memasuki cafe tersebut. Ia menatap Reyna yang kini tengah bernyanyi seraya bermain gitar diatas panggung, menemani beberapa pengunjung yang tengah makan saat itu. Yasya mencari tempat duduk, ia memperhatikan Reyna yang mengenakan baju lengan panjang putih dan rok pendek selutut. Mengingat waktu itu Yasya pernah memergokinya saat ia hendak keluar dan membawa gitarnya, ia begitu cemas akan penampilan Falery.
"Ceweknya oke juga nih, udah cantik, suaranya bagus. Mudah-mudahan aja bekum punya cowok" ujar salah satu pria yang bergumam dibelakang Yasya, membuat pria itu sedikit melirik dengan tatapan tidak sukanya.
Bahkan pakaian gadis itu yang kini sopan, masih saja ada yang tertarik padanya. Hanya dipandang saja tanpa makeup, Reyna memang terlihat cantik dan begitu menawan. Seketika suara riuh tepuk tangan membuat Yasya kini beralih menatap Reyna yang turun dari panggung dan duduk dihadapan Yasya.
Pria itu mencoba mengatur nafasnya, ia melihat Reyna yang kini tiba-tiba duduk dan menyesap coklat panas dihadapannya tanpa permisi. Tatapannya masih sedingin Falery, Yasya tiba-tiba saja meraih jemari gadis itu, ia tersenyum lembut dengan tatapannya yang terkunci pada Reyna.
"Lain kali, jangan buat aku khawatir lagi ya Falery" ujar pria itu membuat Reyna menarik tangannya secepat kilat. Bahkan tak ada kata selanjutnya dari gadis itu yang kini menyandarkan punggungnya seraya mengibaskan tangannya.
"Aku mau pulang" kata Reyna dengan suara dinginnya membuat Yasya mengangguk seraya masih bertahan dengan senyumannya.
Kini gadis itu bangkit disusul Yasya yang menggandeng jemari Reyna. Kini tatapan malas kembali ia tunjukkan meskipun akhirnya Reyna luluh dan akhirnya memilih untuk menuruti apa mau Yasya.
Yasya ingin membuktikan pada semua pria yang mengagumi Reyna, bahwa hanya dirinyalah yang pantas bersanding dengan gadis yang kini menggenggam jemarinya. Yasya takkan membiarkan siapapun mendekati gadisnya maupun memperhatikan Reyna. Melihat kecantikan Reyna, itu adalah sebagian dari resiko yang harusnya ia terima karena bagaimanapun mata pria tidak dapat tertipu oleh kemolekan wajah maupun bentuk tubuh yang proporsional Reyna.
Sesampainya di mobil, Reyna masih enggan berbicara. Ya, inilah sifat Falery dari dulu, bahkan dari pertama Yasya mengenal Falery, begitu dingin dan angkuh. Tatapannya begitu tegas tanpa kelembutan disana. Meskipun begitu Yasya harus bersabar, karena bagaimanapun ia harus menyingkirkan perlahan demi perlahan karakter Falery yang suatu saat ia takuti.
"Sya, kamu fikir dengan baik sama aku, aku bakal ngelepasin Reyna? kamu denger ya Sya, sampai dendam aku terbalaskan, bahkan selamanya aku nggak bakalan ngelepasin kehidupan ini" tiba-tiba saja Yasya menghentikan mobilnya. Bahkan tanpa sadar Reyna hampir saja terjatuh jika saja ia tak bisa menyeimbangkan gerakannya.
"Apa mau kamu Fay?" pertanyaan itu membuat Reyna melirik Yasya dengan tatapannya yang penuh amarah. Entah mengapa, perkataan Reyna barusan membuat Yasya sedikit tersentak.
"Aku cuma mau balas dendam Sya, balas dendam" kata Regna dengan tatapan tajamnya.
"Falery, tujuan hidup itu bukan untuk balas dendam. Kamu punya kehidupan yang normal Fay, kamu juga butuh kebahagiaan, kamu harusnya bangkit dan melupakan semua yang terjadi" Yasya menghela nafasnya, ia menjeda kalimatnya sejenak seraya memijit pelipisnya.
"Kamu adalah orang yang baik Fay, aku yakin kamu pasti bisa berubah. Jika kamu balas dendam, apa yang kamu dapatkan? hidup kamu tidak akan puas dengan adanya kebencian."
"Cukup Sya, cukup!. Kamu nggak tau apa yang aku rasain, kamu nggak pernah ada diposisi aku, jadi cukup buat nyadarin aku" ujar Reyna yang kini segera membuka pintu mobil dan keluar dari sana.