
Suara dering jam beker di dalam apartemen Reyna terdengar begitu nyaring. Sebuah tangan seorang pria kini mematikan jam tersebut seraya menguap merasakan kantuk yang masih tak tertahankan.
Yasya kini masih bertahan memeluk gadisnya yang kini masih bersembunyi diantara dada bidang yang tertutupi oleh piyama miliknya.
Entah mengapa semalam gadis ini tak bisa terlelap dan hanya memanggil namanya seraya bergetar ketakutan membuat Yasya cemas dan akhirnya bermalam untuk menemani Reyna tidur dengan nyaman.
Senyum gadis itu terpancar meski matanya masih terpejam. Yasya memandangi tingkah manja gadisnya yang kini tengah membalikkan tubuhnya membelakangi Yasya.
Padahal jam masih menunjukkan pukul 05.25 dan langit masih sangat terlihat gelap. Tapi gadis ini masih sempat-sempatnya hendak bangun sepetang ini. Yasya menyelipkan rambut gadis itu yang menutupi sebagian wajahnya, ia kemudian mengecup lembut pipi gadis itu dengan lembut seraya menyentuhnya.
Buru-buru pria itu keluar dari kamar, ia meninggalkan Reyna yang masih terlelap dalam mimpinya.
Dengan senyum yang mengembang Reyna menarik lengan Yasya untuk mendekat kearah ayunan dengan ranting pohon dan bunga-bunga melilit rantingnya. Gadis itu duduk di ayunan tersebut dengan Yasya yang kini mulai mendorong pelan ayunan tersebut membuat Reyna bahagia dibuatnya.
"Reyna, aku mencintai kamu" ujar pria itu membuat Reyna bangkit dan memeluk leher pria itu membuat Yasya dengan kemeja putih dan celana senada semakin terlihat tampan dibuatnya. Sedang Reyna sendiri memakai dress dengan warna putih selutut membuat Yasya menelan salivanya menatap kecantikan gadis dihadapannya.
"Aku juga mencintai kamu sayang" balas Reyna yang kini mulai berjinjit untuk meraih bibir Yasya yang membuat Reyna candu.
Tiba-tiba saja suara tembakan terdengar setelah Reyna mengecup singkat bibir Yasya. Yasya membelalak dengan tatapannya yang menatap lekat manik mata Reyna.
"Yasya" ujar gadis itu yang kini merengkuh tubuh pria itu yang ambruk seketika didalam pelukannya. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat luka tembakan menghunus punggungnya. Mata Reyna tidak bisa menyembunyikan air mata dan juga kesedihannya kala Yasya mulai tak bersuara.
"Yasya, bangun, aku mohon Yasya" Reyna merebahkan tubuh pria itu tepat diatas rumput hijau dibawahnya. Dengan Yasya yang kini mulai tersenyum dan meraih wajah gadis itu sebelum matanya terpejam.
"Aku" suara Yasya terhenti seketika kala matanya tertutup dengan sempurna membuat Reyna menangis sesenggukan dibuatnya.
"Yasya, kamu bilang kamu nggak akan pernah ninggalin aku, kamu bilang kamu nggak mau aku pergi. Tapi kenapa kamu malah yang pergi sayang, kamu takdir ku Yasya! aku nggak mau hidup tanpa kamu" ujar Reyna yang kini semakin tak bisa menahan tangisnya yang menderu.
"Falery, aku datang untukmu" suara familiar itu membuat Reyna tercengang. Tatapannya masih terkunci dengan keadaan Yasya yang membuat hatinya terpukul. Namun tangisannya terhenti tatkala matanya menengadah menatap Michael yang tengah membawa sebuah pistol. Bisa ditebak itu adalah pistol untuk menembak Yasya.
"Mike, kenapa? apa yang kau lakukan! kenapa kau membunuh cinta sejati ku" ujar Reyna yang kini masih bertahan memangku kepala Yasya yang telah tidak bernyawa.
"Akhirnya kita bisa bersama Fay, aku selalu mencari mu selama ini, aku mengelilingi dunia untuk menemukan mu Fay. Aku sangat mencintaimu, dan kini penghalang diantara kita sudah musnah sayang" ucapan yang keluar dari mulut Michael membuat Reyna terpaku. Nyawanya kini telah hilang bersamaan dengan keadaan Yasya yang sudah menghilang dari sisinya.
Michael menarik tubuh Yasya dan menenggelamkannya di sebuah telaga di taman tersebut membuat Reyna berteriak sekencang mungkin.
"YASYAAA!" tiba-tiba saja ia terbangun dari tidurnya. Ia melihat Yasya yang kini berada diatasnya, menatap cemas kearah Reyna.
Reyna yang melihat Yasya kala itu hanya bisa tersenyum, dan tanpa basa-basi lagi ia bangkit dan memeluk tubuh pria itu dengan erat.
"Sayang, aku ada disini, kamu pasti mimpi buruk kan" ujar pria itu sembari mengelus punggung gadisnya dengan lembut.
Ada rasa mengganjal dihati Yasya tentang keadaan Reyna yang tiba-tiba saja berubah. Ia masih enggan bertanya sebelum Reyna benar-benar tenang dan mau terbuka.
Sesungguhnya Yasya dapat merasakan betapa takutnya gadis itu saat tubuhnya mulai bergetar ketakutan, tak sadar bahkan Reyna meneteskan air matanya seraya mempererat pelukannya.
"Yasya, aku takut Sya, jangan pergi dari aku, aku mohon" ujar Reyna dengan suara seraknya membuat Yasya mengangguk. Dibalik paniknya gadis itu, ada rasa bahagia ketika ia tau bahwa bayangan itu hanyalah mimpi untuknya.
Setelah gadis itu mulai tenang, kini Yasya mulai mengajak gadis itu untuk sarapan bersamanya. Meskipun Yasya hanya membakar roti dengan selai kacang yang dioleskan didalamnya Reyna sangat tersentuh. Ia bahkan menghadiahkan sebuah ciuman dipagi hari untuk pria itu dipipi kanannya membuat pipi Yasya menghangat.
"Makasih ya Sya, kamu udah siapin sarapan buat aku" kata Reyna seraya tersenyum dan beralih duduk hendak menikmati sarapannya dengan susu yang menjadi pelengkap untuknya.
Mungkin kini Reyna mulai tenang, pria itu berinisiatif untuk bertanya perihal apa yang dialaminya semalam.
Yasya beralih duduk tepat disamping gadis itu, perlahan tangannya mengusap lembut rambut panjang Reyna yang masih tergerai indah membuat Reyna tersipu dibuatnya.
Seraya mengunyah roti yang ia santap, gadis itu terus melirik Yasya yang kini menatap lekat dirinya tanpa mau berkedip.
"Rey, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu semalem? kamu ketakutan dan manggil nama aku berulang kali. Aku khawatir sayang, makanya aku kesini buat nemenin kamu tidur" ujar pria itu membuat Reyna menghentikan makannya sejenak seraya menatap Yasya dengan pandangannya yang begitu muram.
Reyna hanya diam seraya menunduk, fikirannya masih menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan pada pria dihadapannya. Haruskah ia jujur? ataukah ia mengatakan hal lain untuk memberikan alibi pada Yasya.
"Rey, aku mohon sama kamu sayang. Aku cuma pengen bantu kamu, aku khawatir kalo kamu bersikap kaya gini terus. Aku pengen ketika salah satu dari kita punya masalah kita selesaikan sama-sama" ujar pria itu membuat Reyna menghela nafasnya.
Gadis itu nampak gusar dengan meremas jemarinya sendiri. Ia masih takut akan mimpinya tadi, ia takut Yasya yang akan menanggung semua akibat dari kisah Michael yang mencari keberadaannya kali ini, ditambah suara panggilan tadi malam membuat fikirannya kalut hingga saat ini. Reyna menatap manik mata Yasya lekat-lekat, mata teduh yang menenangkan itu membuat Reyna tersenyum dan mengangguk.