
Perjalanan dari ibukota sampai ke Bantul bisa memakan waktu sampai seharian lamanya jika tidak melewati jalur tol. Zayn memutuskan untuk lewat tol saja, mengingat ia tidak akan membiarkan lama-lama mereka berada dijalan yang sangat membosankan. Takutnya nanti jika Luna kecapean.
Hening menyelimuti keduanya saat Luna kini tengah menikmati perjalanan luar dengan pemandangan indah dari balik kaca jendela mobil. Sebenarnya Luna begitu gugup dan takut, mengingat akan sikap tegas dari keputusan orangtuanya.
Luna bahkan mematikan ponselnya dari kemarin sore untuk menghindari telfon maupun pesan dari mama papanya. Terakhir kali ia hanya mengirimkan pesan jika Luna akan pulang dan berangkat pagi-pagi.
"Hey, kamu kok ngelamun gitu? masih takut ya?" tanya Zayn seraya tersenyum melirik Luna yang kini sekilas menatapnya dan mengalihkan pandangannya lagi.
Bagaimana tidak takut, jika ini yang pertamakali dalam hidupnya? bagaimana tidak gugup, jika seumur hidup orangtuanya menjodohkan anaknya, kini hanya Luna saja yang dengan lancang membawa seorang pria dan memutuskan untuk tidak mau dijodohkan.
Luna meremas ujung bajunya, ia menunduk seraya menggeleng untuk mengusir pikirannya yang kacau akan keadaan.
"Gimana nggak takut Zayn, kamu tuh nggak tau aja gimana keluarga aku. Keluarga aku tuh kental banget sama yang namanya adat, apalagi didikan orangtuaku dari dulu itu nggak sama kaya anak-anak lainnya" Luna menghela nafas lelah, ia yang semula menatap Zayn dengan wajah khawatir kini mulai memijit pelan pelipisnya.
Sedangkan Zayn, dia hanya tersenyum tipis menanggapi apa yang Luna katakan. Zayn tau saja melihat dari kepribadian Luna yang semakin ia kenal. Gadis lembut dengan sikapnya yang profesional dan begitu sopan, pasti bukan sembarang gadis.
"Aku tau kok, aku juga dari Jogja. Kehidupan kakek sama nenek aku nggak jauh beda sama kamu, tapi mommy dia berani ngenalin daddy waktu mereka sama-sama cocok dulu" Luna mengernyit, ia menatap Zayn yang kini masih fokus menyetir dan berkata santai seperti demikian.
Astaga!, Luna juga baru tau jika pria disampingnya ini adalah pria blasteran Jawa. Pantas saja, sikapnya itu tidak seperti pria bule pada umumnya. Meskipun dingin tapi Zayn bukan laki-laki yang urakan, main perempuan, maupun menyentuh barang haram.
Sejauh ini mungkin itu yang Luna ketahui tentang seorang bule meskipun tidak semua bule bersikap demikian. Pantas saja melihat mommy Zayn dengan pakaiannya yang tidak jauh berbeda dengannya membuat Luna bertanya-tanya kemarin.
"Kamu kok nggak pernah cerita kalo sebenarnya kamu orang Jogja juga."
"Aku bukan orang Jogja, tempat tinggal aku pindah-pindah. Tapi sekarang domisili di Amerika, sebelumnya domisili aku di Jakarta. Sesekali aja aku sama mommy main ke Jogja" jelas Zayn membuat Luna menepuk jidatnya. Ternyata selama ini Luna salah mengenal Zayn. Ia bukan pria yang seperti Luna bayangkan saat pertamakali bertemu dulu.
Matanya menelisik setiap penampilan Zayn yang sederhana. Kemeja biru tua dengan setelan blazer yang membungkus tubuh atletisnya. Pantas saja Zayn berpakaian begitu rapi, Luna bahkan sampai tidak sadar akan sedikit demi sedikit gaya hidup maupun penampilan Zayn belakangan.
Wajah Luna yang tadinya sedikit tak menyangka kini berubah menjadi wajah sedikit kecewa seraya membuang muka. Ternyata Luna yang berharap lebih, pelukan hangat, genggaman tangan, dan juga sebuket bunga yang Zayn berikan. Itu semua bukanlah apa-apa jika dibandingkan kedekatan mereka yang begitu-begitu saja. Ditambah lagi Luna baru saja mengetahui jati diri Zayn dari mulutnya sendiri.
Bodohnya ia dulu pernah menceritakan keluarganya, secara gamblang, Luna bermaksud membuka peluang Zayn untuk lebih dekat dan lebih mengenalnya. Sedangkan Zayn, dia hanya menceritakan perihal ayah angkatnya saja. Bagaimanapun mengenalkan keluarga sebelum bertemu mereka secara langsung itu perlu. Namun ternyata bayangan Luna tidak seindah apa yang ia fikirkan.
"Kamu kenapa Lun?" tanya Zayn yang melihat ekspresi Luna sedikit murung. Luna hanya menggeleng, ia kemudian mengangkat pandangannya yang semula tertunduk lesu itu dan kini berubah cepat menjadi senyuman indah darinya.
"Aku nggak apa-apa kok Zayn" hanya itu yang Luna ucapkan seraya menghela nafasnya dan menatap jalanan dihadapannya sambil sesekali memejamkan mata.
***
Luna memang pendiam, tapi kali ini gadis disampingnya ini tidak seperti biasanya. Setelah menceritakan bahwa Zayn adalah blasteran jawa ekspresi dan juga sikap Luna menjadi sedikit berubah.
Senyuman yang biasanya ia torehkan, menatapnya maupun jalanan kini hanya senyum untuknya saja. Seolah Zayn memahami isi hati Luna yang tengah membohonginya.
Lihatlah bahkan ketika Luna tertidur dengan pulas disandaran mobil gadis itu begitu cantik sekali. Bulu mata yang begitu lentik, alis tebal tanpa digambar, hidung mancung dan bibir tipis serta kulit putih yang membuat Zayn semakin betah memandangi Luna.
Zayn menghentikan mobilnya kala mereka sudah sampai keluar tol. Ia berhenti disebuah jalan dekat rumah makan. Enggan ia rasakan kala hendak membangunkan Luna yang kini tertidur dengan pulasnya.
Jantung Zayn terasa berdenyut kala Luna kening Luna mengernyit. Sebelum mata gadis itu mulai terbuka, Zayn membuang muka serayq menutupi wajahnya yang kian merona.
"Zayn? udah sampai ya?" tanya Luna seraya menggeliat dan menatap tempat diluar mobil yang membuatnya sedikit sadar dari tidurnya.
"Be-belum sih, tapi kita makan dulu yuk, udah jam makan siang" ajak Zayn yang merasa ketauan basah tatkala ia menatap lekat pada gadis yang kini tengah tertegun dengan sikap Zayn yang sedikit gugup itu.
Buru-buru pria itu membuka pintu mobil dan meninggalkan Luna yang kini masih terdiam, mengumpulkan raganya yang baru saja hilang. Luna menggeleng, perubahan sikap Zayn membuat tanda tanya besar bagi Luna, namun sedetik kemudian ia buru-buru turun dan menggeleng. Menghempaskan rasa penasaran yang mengusik dan tidak penting pula untuknya