The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Sandera



"Falery... kau fikir aku akan melepaskan mu begitu saja, hahaha asal kau tau, aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan mu... kau hanya beruntung sekali malam itu, tapi kali ini kupastikan kau akan menjadi milikku Sayang."


Pria itu menyeringai, membuat Falery berfikir keras untuk lari dari cengkraman mereka. Matanya memejam, sejenak ia memohon untuk selamat dari Alex.


'Tuhan ku mohon... selamatkan aku' uarnya dalam hati sambil menghela nafasnya dalam-dalam.


"Apa yang kau fikirkan sayang... bukankah dengan menjadi milikku kau akan mendapatkan segalanya haaa? kau akan mendapatkan apa yang kau mau, asalkan kau bersedia."


"CUIIIIHHHH" Falery naik pitam, dirinya dengan emosi yang meninggi sengaja meludahi wajah Alex. Membuat pria itu beralih menatap tajam gadis dihadapannya. Alex mencengkeram kedua pipi Falery, dirinya kini seperti singa yang kelaparan tengah mengamuk mangsa dihadapannya.


Plakkkkk....


Satu tamparan mendarat dipipi Falery membuat gadis itu tak bergeming. Dirinya diam membisu diantara tangannya yang tercengkeram kuat oleh anak buah Alex.


"Dasar wanita tidak tau diri! kau berani meludahi ku... apa kau tau akibat dari perbuatan mu ini haaa?!" Falery menunduk dengan rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Tampak darah segar mengalir disudut bibirnya, bekas tamparan Alex padanya.


"Cepat bawa dia ke mobil."


"Baik tuan" Alex dengan cepat melangkahkan kakinya, membuat kedua orang itu menyeret Falery untuk masuk kedalam mobil mengikuti Alex didepannya.


Falery hanya terdiam, dirinya masih bertahan menunduk tanpa mau menatap siapapun.


Falery dengan segera menggigit tangan kedua orang itu dengan keras secara bergantian, membuat mereka berteriak kesakitan.


"Aaaaarrrrrggghhhht.... bocah sialan!" teriak salah satu dari mereka yang kini meringis kesakitan memegangi tangan mereka masing-masing.


"BOS... DIA KABUR" Falery berlari dengan kencang, tak dipedulikannya Alex yang kali ini keluar dari mobil dan berusaha mengejarnya.


Gadis itu berlari cukup jauh, dirinya berlindung dibawah pohon besar dengan salju yang menutupinya. Nafasnya terengah-engah dengan keringat membasahi keningnya.


hosh... hosh... hosh...


"Aku sudah tidak kuat lagi" Falery tidak bisa berlari lagi, dirinya berfikir keras untuk meminta bantuan. Namun sayangnya tempat itu begitu sepi tanpa penghuni dan jauh dari keramaian.


'Bagaimana ini... apa yang harus aku lakukan Tuhan?'


Falery mengintip dibalik pohon itu. Terlihat Alex dan anak buahnya bergegas menuju pohon besar persembunyiannya.


Dengan cepat gadis itu meraih ponsel yang berada disaku celananya. Dirinya mencari nama diriwayat panggilan untuk meminta pertolongan.


"Siapa? siapa yang bisa membantuku?" gumamnya pelan. Gadis itu panik melihat keberadaan mereka yang kini tepat dibelakangnya. Dengan segera Falery menelfon asal tanpa dapat melihat nama kontaknya. Dengan segera ditaruhnya ponsel disakunya lagi tanpa memutuskan panggilan tersebut.


"Ini adalah kesempatan terakhir, jika orang yang aku telfon tidak menjawab panggilan dariku... maka, aku memilih untuk mati daripada dimiliki oleh Alex."


Gadis itu bergumam lagi. Menyadari bahwa ketiga orang tengah berada tepat dibalik pohon itu dengan segera Falery bersiap berlari lagi, namun sayang beberapa langkah Falery berlari. Tiba-tiba saja tangan kekar menangkapnya dan menariknya hingga kini dirinya tersungkur dibawah kaki Alex.


"Ahhh..." Falery meringis kesakitan, dirinya menangis ketakutan tanpa mau menatap orang-orang bertubuh besar yang berdiri dihadapannya.


"Kenapa sayang? kau menyesal telah lari dariku haaa?" Alex mengangkat dagu Falery hingga dirinya mendongak. Alex menghapus air mata Falery dengan kasar membuat gadis itu meringis kesakitan untuk kesekian kalinya.


"Al.. Alex... kumohon, lepaskan aku, aku mohon padamu... aku tidak pernah mencari gara-gara denganmu kan? hiks."


Plakkkk....


"Mau kemana lagi kau sayang... kau sudah tak bisa berlari lagi, menyerahlah."


Satu tamparan keras lagi dipipi Falery, membuatnya tersungkur dibawahnya lagi.


"KAU MEMANG TIDAK PERNAH BERMASALAH DENGAN KU FAY! TAPI KAU SELALU MENOLAKKU? KENAPA?! apa aku kurang jika memenuhi standar mu haaa? aku kaya! aku tampan dan mapan! banyak wanita yang mengejarku, huh aku tak menyangka jika kau wanita yang selama ini sombong ternyata begitu lemah."


Alex berteriak, mengungkapkan segala kekesalannya pada Falery yang kali ini masih tak bergeming terkapar diatas salju yang dingin. Hal itu membuat Alex seketika panik dan menunduk memeriksa keadaan gadis itu.


"Fay... kau kenapa sayang? maaf... maafkan aku, tapi kumohon kau jangan mati."


Falery masih tak bergeming, gadis itu pingsan sedari tadi. Bibirnya terlihat membiru dengan luka disudut bibirnya.


Alex dengan segera menggendong Falery yang tak sadarkan diri ala bridal style.


"Cepat... kita bawa dia ke markas, setelah dia sadar lakukan seperti apa yang kuperintahkan."


Alex tersenyum miring, dirinya bahagia masih dapat mendengar detak jantung Falery yang ternyata masih hidup.


Disebuah gudang besar bekas pabrik terbengkalai kini terkapar seorang gadis muda yang diikat dikursi dengan sebuah kain membekap mulutnya.


Gadis itu masih tak sadarkan diri dengan matanya yang masih tertutup rapat dan wajahnya yang mulai pucat.


"Kalian keluarlah... biar aku saja yang menangani" ucap Alex seraya mengusir kedua anak buahnya untuk pergi.


"Sayang.. bangunlah" ujar pria itu sambil menggoyangkan pelan tubuh Falery, membuat gadis itu perlahan membuka matanya. Gadis itu mengedarkan pandangannya keseluruh arah. Ia terkejut mendapati dirinya berada disuatu ruangan yang gelap dan penuh barang berserakan dibawahnya. Ia baru menyadari kedua tangannya diikat dan mulutnya disumpal menggunakan kain.


"Ummm ummm... ummm" Falery mencoba untuk memberontak dengan sekuat tenaga, namun sayang tenaganya tak cukup kuat untuk lepas dari ikatan di kedua tangannya.


"Kau mau bilang apa sayang? hahaha... Falery Falery... aku kira kau akan sekuat dulu, namun ternyata dugaan ku salah."


Alex memutari kursi yang diduduki Falery sambil tertawa sinis. Dirinya perlahan melepaskan kain yang menutupi mulut Falery, membuat Falery akhirnya bisa bernafas dengan lega.


hosh... hosh... hosh...


Suara deruan nafas gadis itu kian membuat Alex kini semakin menikmati setiap jengkal tubuh Falery yang sangat indah.


"Jangan menyentuhku Alex!"


Suara Falery meninggi meski bibirnya membiru. Mungkin dia bukan Falery yang dulu, namun keberaniannya masih seperti sebelumnya.


"Falery ku sayang, jangan marah... ssstttt" Pria itu mengangkat jari telunjuknya tepat dibibir Falery, membuat gadis itu semakin muak. Wajahnya semakin memucat dengan rambutnya yang acak-acakan, beberapa helai bahkan menutupi wajahnya.


Kini ia hanya bisa pasrah dengan permainan Alex padanya. Bahkan dia tidak punya siapa-siapa yang akan menolongnya saat ini. Gadis itu perlahan menunduk, matanya berkaca-kaca ingin menumpahkan air mata.


"Sayang ku... jangan menangis" kata Alex seraya menangkup kedua pipi gadis itu, membuatnya seakan pasrah dengan tenaga yang mulai lemah.


"Baiklah sayang... kita akan melangsungkan rencana B dengan cepat."


"Apa maksudmu ?! apa yang kau rencanakan sebenarnya Alex" Falery mendongak menatap Alex yang kini menelfon seseorang tanpa melepas pandangannya darinya.


"Tunggu saja sayang.l, kita akan segera menikah, ditempat ini... kau akan jadi milikku, dan aku juga akan menjadi milikmu selamanya, aku sudah menelfon pendeta untuk segera melangsungkan pernikahan kita yang bahagia dan tak akan pernah terlupakan seumur hidupmu."


Falery terperangah dengan matanya yang membelalak sempurna.


"APA?! Apa kau sudah gila haaa?! aku tidak akan mau menjadi milikmu Alex. Tdak akan pernah... jangan berharap untuk bisa melakukannya."


Falery mencoba untuk memberontak, dirinya menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga dengan air matanya yang masih tetap berlinang bersamaan dengan emosinya yang memuncak.


"Sssttt... kau yang jangan berharap untuk bisa menghentikan ku sayang., karena aku Alexander Wiliam, selalu mendapatkan apa yang dia inginkan" ucap Alex yang membuat Falery semakin tak percaya. Gadis itu masih tetap menggoyangkan kedua tangannya meski hasilnya nihil.


"Aku tidak akan pernah menjadi istrimu Alex... TIDAK AKAN!" teriaknya kencang dengan emosinya yang memburu.


"Kau cukup menunggu waktu sayang, persiapkan dirimu... sebentar lagi pendeta akan segera datang untuk mengikat janji suci kita."


Alex tersenyum, dirinya membalikkan tubuhnya dan keluar dari sana, menutup pintu itu dengan rapat. Kini tinggallah Falery sendiri dengan isakan tangis yang tak dapat ia tahan sedari tadi.


Gadis itu masih mencoba memberontak dengan seluruh tenaga yang tersisa, tak sadar kedua tangannya terasa perih bekas jeratan tali yang begitu kuat mengikat lengannya.


"Aku mohon... siapa saja... tolong aku." Falery kini mulai menyerah, jemarinya melemas dengan tangannya yang madih terikat. Wajahnya berkeringat walau dingin seperti menusuk tubuhnya.


brukkk brukkk...


Suara pintu dari samping membuatnya terkejut. Gadis itu tersentak melihat pintu dari samping terlihat seperti ada yang mendobrak. Gadis itu menelan salivanya, mengumpulkan beberapa keberanian yang sempat hilang. Padahal Alex keluar dan masuk lewat pintu depan. Fikirannya menerawang, membayangkan ketika pendeta datang dan menikahkan mereka berdua.


Brakkkk ...


Suara yang cukup keras membuat Falery memejamkan matanya tanpa berteriak. Raut diwajahnya menyimpulkan sebuah ketakutan. Dibuka matanya kala langkah kaki mendekati dirinya.


"Falery...." Pria itu berlari, mendekati tubuh Falery dan bersimpuh dihadapan gadis itu. Membuat air mata Falery tumpah tak terkira. Bahkan gadis itu tak menyangka pria dihadapannya saat ini akan selalu ada untuknya meskipun banyak peristiwa yang tidak menyenangkan mereka lalui.


"Tu.. tuan Iryasya... hiks... tolong aku."


"Falery... tenanglah, ada aku okay" Yasya melepaskan ikatan yang berada di kaki dan juga tangan Falery. Pria itu terlihat antusias dan cemas melihat keadaan Falery yang begitu kacau.


Ketika ikatan telah terbuka, gadis itu tak bisa membendung segala yang ia rasa. Falery memeluk erat tubuh pria dihadapannya menangis di dekapan Yasya dengan Yasya yang membalas erat pelukannya. Kini bahagia, lega dan rasa sedih bercampur menjadi satu. Gadis itu bahagia, bisa mengulang semuanya dari awal.


"Falery... ada aku, kau sudah baik-baik saja... kita akan keluar sekarang."


Yasya melemahkan pelukannya, kedua tangannya menangkup wajah Falery dan menghapus air matanya. Falery mengangguk dirinya mulai lega dengan kehadiran Yasya.


"Kau tau darimana aku ada disini? dan Alex?" pertanyaan itu membuat Yasya mengelus pundak Falery dengan pelan dan tersenyum lembut pada gadis dihadapannya.


"Akan kuberitahu nanti, yang jelas, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah ada disini.. Alex kini tengah diburu polisi diluar."


Falery tersenyum, dirinya tak bisa berkata. Matanya berbinar-binar meski guratan merah melingkar dikedua matanya yang sembab akibat lelahnya ia menangis.


Tangan Yasya menggenggam tangan Falery dengan lembut. Pria itu mengajak gadis itu pergi dari sana, membuat wajah Falery bersemu merah.