
Kini setelah ambulans tiba, Zayn langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diberikan penanganan yang lebih intensif.
Setelah tiba di rumah sakit yang dituju Zayn langsung dibawa keruangan untuk dilakukan pemeriksaan.
"Kakak Zayn" tangis Falery pecah kala sang perawat melarangnya untuk masuk keruangan Zayn yang memang diperuntukkan bagi pihak medis.
Tubuh gadis itu melemah seketika, namun beruntungnya Yasya kini berhasil menopang tubuhnya. Pria itu membawa Falery duduk diruang tunggu sambil menggenggam erat jemarinya yang terlihat gemetar.
"Kak Zayn, kau harus selamat kak. Atau kalau tidak aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri" ujarnya sembari terisak.
Melihat luka di sekujur tubuh gadis itu membuat Yasya berinisiatif untuk mengobatinya.
"Reyna, kamu harus ingat, kamu juga terluka. Kita obati dulu ya luka kamu" Falery hanya terdiam, ia menatap Yasya dengan pandangan datar seraya melepaskan tangannya dari tubuh gadis itu.
"Rey."
"Kenapa Yasya? kenapa kau tak mengerti. Ini semua karena kau Yasya, jika saja kau tak melukai Sarah. Dia takkan mungkin berbuat nekat" ujar gadis itu dengan matanya yang memerah.
Yasya hendak memegang pundak gadis itu, namun Falery segera menepisnya.
"Reyna" ujarnya dengan suara lembut. Namun Falery segera bangkit dari tempat duduknya sembari melangkah maju, untuk melihat keadaan Zayn yang kini tengah dirawat didalam.
Bahkan luka yang membuat tubuhnya lunglai tak ia hiraukan. Gadis itu dengan lemas ambruk begitu saja saat Yasya tepat menangkap tubuhnya.
"Reyna, Reyna bangun Rey" suara itu terdengar samar-samar namun sangat gadis itu kenal. Namun sayangnya kesadarannya seperti kalah akan keinginannya untuk bangkit.
***
Kini Falery telah terbaring diatas bangsal. Tubuhnya yang penuh luka dibalut oleh kain kasa. Mulai dari kepala, dagu, lengan dan juga kakinya yang semula penuh dengan darah kini penuh dengan perban dan juga jahitan.
Gadis itu nampak menggeliat, ia merasakan tangannya digenggam seseorang yang kini tertidur pulas menemaninya.
Matanya mengerjap seketika kala ia menemukan Yasya yang kini setia menemaninya. Yasya yang ia cintai, yang ternyata masih perduli padanya.
Gadis itu menitikkan air mata haru. Tangannya ragu mengelus puncak kepala pria itu, namun sedetik kemudian ia ragu dan menariknya lagi.
'Yasya, kenapa aku dan kau selalu dalam posisi yang sulit untuk mencintai?' batinnya sembari menghapus air matanya sendiri.
Tanpa disadari oleh gadis itu, Yasya membuka matanya. Ia bangkit dan mencium punggung tangan gadis itu yang kini digenggamannya.
"Sayang, jangan menangis. Aku akan selalu ada untukmu" ujarnya membuat Falery menarik tangannya seketika dan membuang muka.
"Yasya, bagaimana keadaan kakak ku?" tanya gadis itu yang kini mulai membuang semua hal tentang prinsip dihadapannya.
"Reyna."
"Panggil aku Falery" ujarnya tegas dan penuh penekanan membuat Yasya mengangguk sambil mengulangi kata-katanya.
"Fay, sekarang Zayn... dia sedang kritis" bak petir yang menyambar hatinya. Gadis itu kembali dirundung kesedihan yang mendalam. Kakinya kini beranjak bangkit untuk berjalan secepatnya keruangan Zayn.
"Aku ingin menemui kakak ku. Ini semua gara-gara aku" ujarnya sembari menangis dalam diam.
Gadis itu menopang tubuhnya dengan kakinya yang berjalan pincang. Yasya hendak membantunya, namun Falery menepisnya hingga membuat pria itu tak menyerah begitu saja.
Pria itu mengikuti langkah Falery yang tertatih menuju ruangan Zayn. Setelah sampai didepan ruangan itu Falery melihat keluarga angkatnya telah duduk diruang tunggu.
Ajeng kini tengah duduk dibangku tunggu meratapi keadaan Zayn yang masih dalam keadaan kritis sedang Alan kini mengintip keadaan adiknya dibalik pintu.
Falery mendekat, ia tak tau apa respon keluarganya jika tau ini semua berawal dari dirinya. Ia bahkan tak perduli dengan tatapan Ajeng yang kini menatap sinis padanya sedang Alan menatap gadis itu dengan pandangannya yang tidak menyangka.
"Kenapa kau kesini?" pertanyaan itu membuat Falery tak gentar ia masih saja hendak mengintip keadaan Zayn dibalik sana. Namun Alan menghalanginya.
"Aku hanya ingin melihat keadaan kak Zayn" ujarnya dengan tubuh yang bergetar. Tiba-tiba saja Ajeng bangkit dan kini menarik lengan gadis itu.
Tatapannya tajam mengarah pada Falery yang kini menatapnya tanpa dosa. Ajeng melayangkan tamparannya kearah Falery dengan sekuat tenaga membuat gadis itu ambruk seketika.
Plakkkk....
Yasya yang melihat pemandangan itu kini beralih menolong tubuh Falery dan mencoba untuk membantunya bangkit.
"Kau gadis pembawa sial, apa belum cukup nyawa suamiku kau renggut ha? sekarang kau hendak mengambil nyawa anakku" ujar Ajeng membuat tubuh Falery bergetar seketika.
"Mom" ujar Alan sembari menahan kedua pundak sang ibu. Pria itu memeluk Ajeng yang kini termakan emosi oleh kehadiran Falery yang tiba-tiba.
"Mohon maaf bibi, dan tuan Alan. Tentang masalah tuan Thomas, mengapa kalian tak menanyakan hal ini pada Grace, saya rasa ia lebih bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan satu lagi, ingatan Reyna sudah kembali. Permisi" ujar Yasya yang kini menggendong tubuh Falery ala bridal style untuk membantunya.
Falery masih tak menyangka, ia menatap Yasya yang kini menunjukkan ekspresi serius pada matanya itu. Seperti kemarahan yang memuncak.
Yasya membawa gadis itu duduk diruang tunggu jauh dari ruangan Zayn.
"Yasya, kenapa kau katakan itu pada mereka?" tanya Falery yang kini menatap dalam-dalam wajah pria itu yang selalu menyejukkan untuknya.
Yasya menggenggam jemari Falery lembut. Ia tersenyum sembari memeluk gadis itu.
"Karena aku mencintaimu Reyna, aku tidak bisa melihat kau disakiti. Itu semua bukan salahmu. Kini aku tau kenapa kau menyembunyikannya, tidak salah lagi, kau adalah Reyna ku, hanya Reyna yang egois pada dirinya sendiri demi membuat orang lain disekitarnya bahagia. Aku bahagia Reyna, apakah kau tau bagaimana bahagianya aku saat tau bahwa kau akhirnya tidak meninggalkan ku" ujarnya yang gadis itu yakini bahwa kini Yasya tengah menitikkan air matanya.
Falery tak bisa membendung kebahagiaannya. Ia menangis dalam dekapan pria itu. Pria yang selama ini menjadi mimpi untuknya dimasa depan. Pandangannya tiba-tiba mengarah pada Sarah yang kini menutup mulutnya sembari menitikkan air mata.
"Sarah" ujarnya lalu mendorong tubuh Yasya untuk menjauh darinya.
Gadis itu bangkit seraya melangkah mendekat kearah Sarah. Diikuti Yasya yang kini menatap dua sahabatnya itu.
"Aku kemari untuk menjengukmu" ujar gadis itu membuat Falery tertegun. Falery menyeka air matanya. Ia beralih menggenggam jemari sahabatnya dengan lembut.
"Aku tau kau sangat mencintai dia. Aku ingin jujur padamu Sarah. Aku juga sangat mencintainya. Tapi jika dengan mencintainya bisa melukaimu, aku lebih rela dia bahagia bersamamu" Ujar Falery yang kini membawa Sarah pada Yasya.
"Fay..." kata Yasya yang kini seolah tak terima dengan apa yang dilakukan gadis itu padanya. Namun Sarah hanya diam, ia menyaksikan betapa senyum Falery yang dipaksakan mengalir deras sebuah air mata disana.