
Tok tok tok...
Kini Falery yang telah berdandan rapi dan cantik dengan memakai baju tebal telah siap untuk menyambut sahabatnya yang baru saja ia telfon.
"SEBENTAR..!" teriaknya dengan lantang membalas suara ketukan sambil berlari kecil keluar kamar untuk membukakan pintu.
Ceklek...
"Falery!" suara itu berhamburan bersamaan dengan pelukan dari Sarah padanya. Gadis itu terperanjat kala melihat seorang pria tepat dibelakang Sarah yang kini juga menatapnya.
Kedua pasang mata itu akhirnya bertemu dalam satu dimensi, meski rasanya tak dapat diungkapkan oleh kata-kata, meskipun hanya diam yang dapat mereka lakukan saat ini.
Yasya mengalihkan pandangannya, membuat tatapan mata Falery sedikit kecewa. Falery segera melepaskan pelukannya dari Sarah dan menatap sahabatnya itu dengan senyuman merekah.
"Fay... selamat ya, akhirnya ada yang memanggilmu wawancara juga, semoga sukses okay!" Falery masih terdiam menatap Yasya yang kali ini mulai berpaling darinya.
"Eh Fay, maafkan aku... aku tidak memberitahumu jika aku mengajak Yasya, sebenarnya kita mau kencan hari ini, tapi karena mendengar kabar darimu aku jadi bersemangat."
Falery menatap Sarah dengan rasa bersalah. Tidak seharusnya dirinya menghubungi Sarah dam memintanya untuk kemari.
"Maafkan aku Sarah, seharusnya kau bilang saja tadi... aku bisa mentraktir mu lain kali, aku malah akan mengganggu kencan mu" ujar Falery dengan Sarah masih tersenyum ramah dengan guratan bahagia dipipinya.
"Jangan terlalu formal, aku tidak keberatan, lagipula Yasya juga setuju untuk mengajakmu, kau sahabatku Falery... kau juga bagian dari hidup ku selain Yasya."
Falery mengangguk lemah, sepertinya dirinya tak bisa menolak lagi kali ini. Entah mengapa rasa yang seharusnya bahagia ketika bertemu dengan orang yang ia cintai menjadi perasaan luka yang tak dapat ia lukiskan.
"Oh ya, bagaimana kalau kita mengajak tunangan mu saja, akan lebih menyenangkan jika kita bisa berpasang-pasangan."
Falery membulatkan matanya, bagaimana harus menjelaskannya pada Sarah, sedang Alfian dan dirinya telah berpisah. Mungkin saat ini Alfian tengah bersama Clara. Gadis itu menggeleng perlahan, seraya menghapus fikirannya yang melayang.
"Tidak... dia sedang sibuk Sarah, jika dia tidak sibuk, mungkin Alfian yang akan aku traktir bukan kau hahaha" ucap Falery sesantai mungkin untuk mengelabuhi perasaannya.
"Hahaha, baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita bertiga saja, aku janji tidak akan mengabaikan mu... benarkan Yasya."
Yasya hanya mengangguk sambil tersenyum kearah Falery, membuatnya melirik Sarah seraya menghembuskan nafas beratnya.
"Lagipula kalian berdua kan sudah saling kenal... anggap saja, kita sahabat."
Falery mengangguk lemah, dirinya tak bisa berkata. Hanya diam dan pasrah untuk menyenangkan hati Sarah saat ini.
Mereka pun segera turun menuju mobil Yasya, dengan Yasya yang melangkah tepat didepan kedua gadis yang saling berbincang.
Sesekali Falery dan Sarah tertawa dengan obrolan yang mereka bahas. Meskipun begitu pandangan Falery tak bisa lepas dari punggung Yasya yang melangkah didepannya. Yasya yang dulunya begitu hangat padanya. Fikiran Falery tiba-tiba melayang, mengingat betapa lembut Yasya saat dirinya masih menjadi Reyna, rasanya sangat ingin kembali pada masa-masa itu.
Namun kini semua harapan yang semula ia tanam kini harus terkubur dalam-dalam mengingat status dan juga keadaan.
"Fay" suara dari Sarah membuat gadis itu tersentak, dan membuyarkan lamunannya yang sempat hilang dari kenyataan.
"Tidak apa-apa."
"Serius? katakan Fay, kau selalu menyembunyikannya padaku" ucap Sarah yang kali ini menatap kesal pada sahabatnya yang tengah melipat kedua tangannya.
"Bukankah kau yang selalu menyembunyikan sesuatu padaku, kau bahkan bertunangan tapi tidak pernah bercerita apapun padaku... aku juga tidak marah padamu" ucap Falery tak kalah kesal sambil melangkah menuju mobil mendahului Sarah dan juga Yasya.
"Hey... Falery..." Sarah mengejar Falery dengan langkah cepat, dirinya menarik lengan sahabatnya yang kini tengah tepat berada di depan mobil Yasya yang sudah dipersiapkan.
Yasya hanya menggeleng, menanggapi kelakuan sahabat ini. Begitu kekanak-kanakan dalam batinnya.
Tanpa sadar pria itu menyunggingkan senyumnya kala melihat Falery yang begitu kesal dengan wajahnya yang mengerucut. Membuat pria itu terkekeh dan mengingat seseorang dari masa lalunya.
'Reyna...' ujarnya dalam hati.
"Fay... maafkan aku, aku sebenarnya ingin bercerita, tapi waktunya sangat tidak tepat" ujar Sarah memohon pada sahabatnya yang kini tak mau menatapnya.
"Tidak, aku tetap marah padamu, kau telah membuatku kesal" ujar Falery yang kini masih enggan untuk memperdulikan Sarah yang tiba-tiba saja memeluknya dari samping.
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya dimobil, tapi kumohon kau jangan marah ya.. aku tidak bisa jika harus bertengkar dengan mu, apalagi kau sekarang jadi lebih menyenangkan... sangat disayangkan jika kau yang dulu akan kembali."
Falery membulatkan matanya sambil menatap tajam pada Sarah. Gadis itu merenggangkan pelukannya dan terkekeh, membuat Falery memutar bola matanya malas.
"Baiiklah... kita lanjutkan saja perjalanan ini nona-nona" ucapan Yasya membuat Falery dan Sarah tersentak bersamaan dan menatap pria yang kini berdiri tepat dibelakang mereka.
"Selamat tuan... sekarang anda kami terima menjadi sopir sekaligus bodyguard kami" ucap Sarah membuat Yasya menaikkan sebelah alisnya dan mengacak rambut Sarah membuat gadis itu mengerucutkan bibir dengan kesal.
"Yasya... rambutku berantakan" Yasya mencoba menggoda Sarah dan mengacaknya lagi dengan gemas, membuat gadis itu mencubit lengan Yasya.
"Yasya....ihhh" rengek Sarah kesal
"Aduh...sakit" teriak lirih pria itu.
Melihat pemandangan itu Falery hanya bisa tersenyum tipis, menyemangati diri untuk tetap kuat dengan keakraban mereka yang kian terjalin dengan sempurna.
Falery menghembuskan nafasnya, rasa cemburu hadir kala Falery terabaikan oleh Yasya dan Sarah yang kini tersenyum dan tertawa oleh gurauan dari diri mereka masing-masing.
'Dada ku sesak Yasya, hatiku seperti tidak terima dengan perhatian mu pada sahabat ku.. tapi apa yang harus aku lakukan, mungkin ini memang takdir ku untuk berjuang sendiri tanpa penyemangat pribadi, jangan ada lagi Reyna seperti dulu. Bahagiakan sahabat ku, jangan berikan harapan palsu seperti apa yang kau lakukan padaku...' batin Falery dengan mata yang berkaca-kaca.
Ingatannya seperti terbuka kembali kala Yasya yang selalu memeluknya, selalu memberikan kehangatan dan kenyamanan padanya tanpa tau statusnya bersama dengan wanita pilihannya.
Bayangan itu seperti hantu dalam masa lalu yang kini menjadi abu, goresan yang tak pernah luntur meski tulisannya terlupakan oleh masa.
Falery hanya bisa tersenyum nanar kala melihat wajah sahabatnya dan cinta masa lalunya bermanja dan bermesraan dihadapannya.
'Kalian adalah orang terpenting dalam hidup ku, meski aku harus terluka ditengahnya, aku tak perduli jika aku yang harus tertatih tanpa genggaman tangan, asalkan kalian bisa tertawa dan bahagia, itu sudah cukup untuk membuat ku lega selamanya...' gumam Falery dalam hati. Tanpa sadar air mata merembes membasahi pipinya. Entah bagaimana ia harus bersikap, bahagia atupun sedih seperti tidak ada bedanya dalam hati Falery.