
"Sayang, I love you."
Seketika wajah gadis itu yang tadinya memerah kini semakin memanas, dan bisa ia tebak bahwa wajahnya kini pasti mirip dengan kepiting rebus.
Reyna menjauhkan wajahnya yang hampir saja menempel pada permukaan pipi pria itu. Meskipun ia sangat mencintai Yasya, tapi kesadarannya belum hilang saat ini.
"Ini di dalem taksi Sya" bisik Reyna membuat Yasya semakin gemas dibuatnya.
"Kamu makin cantik deh kalo blushing kaya gitu, aku makin cinta loh" Reyna hanya melirik sesaat kala Yasya mengatakan hal demikian. Sejujurnya ia sendiri malu dengan apa yang ia rasakan, ia tak pernah sedekat ini dengan Yasya. Kalau di ingat-ingat Reyna sudah lama tak berada disampingnya.
'Yasya, kamu manis banget sih' gumam gadis itu dalam hatinya seraya tertawa kecil.
Gadis itu begitu mendambakan saat-saat seperti ini, ia begitu merindukan Yasya yang bersikap hangat padanya seperti dulu. Perlahan tangan Yasya menggenggam jemari Reyna, pria itu tersenyum senang seraya memperlihatkan wajahnya yang tampan menawan, sedang Reyna kini membalas senyumannya dan juga menyandarkan kepalanya di pundak pria itu dengan nyaman.
Reyna dan Yasya menghabiskan waktu mereka, berjalan-jalan di taman, bermain permainan di mall dan makan siang di restoran. Hari-hari gadis itu kini lengkap sudah dengan hadirnya Yasya di sisinya.
Selama mereka berjalan, bahkan Yasya tak mau melepaskan genggamannya dari Reyna. Setiap kali ada kesempatan pria itu selalu mencuri pandang ke arah Reyna yang selalu tersenyum ceria ketika berada disampingnya.
Yang terakhir kalinya, kini Yasya mengajak Reyna untuk menuju kantornya. Ia mengajak gadis itu untuk melihat terbenamnya matahari disore yang indah. Langkah pria itu pasti, menggandeng tangan Reyna untuk naik keatas gedung perkantoran dengan menggunakan lift.
Kini tiba saat ia membuka pintu kaca yang menghadapkannya pada mentari di sore hari yang hampir tenggelam dengan semburat merah. Tak hanya itu, sinar emas itu akan semakin cantik mengenai wajah cantik Reyna.
Kini dengan angin yang kencang berhembus membuat rambut Reyna yang tergerai indah mengikuti arah angin.
Yasya mendekatkan tubuhnya kearah gadis itu, genggamannya semakin kuat dengan pandangannya yang tak lepas dari pemandangan dihadapannya.
Sedang Reyna kini tengah tersenyum lembut menatap pria tampan itu.
"Indah kan?" tanya Yasya yang kini menatap Reyna dengan senyumnya yang memabukkan untuk gadis dihadapannya.
Reyna hanya tersenyum dan mengangguk, membalas tatapannya dan juga senyuman itu begitu tulus.
"Tapi tidak seindah kamu Reyna" kata pria itu yang kini mulai meraih wajah Reyna membuat gadis itu tersenyum simpul menahan semburat merah dipipinya.
"Aku cinta kamu Yasya" ujar gadis itu membuat Yasya mengangguk dan segera memeluk tubuh Reyna dengan lembut. Gadis itu membalasnya, hangatnya sinar matahari di sore hari, serta aroma tubuh Yasya yang sangat familiar untuknya membuat gadis itu semakin nyaman dibuatnya.
Yasya menyatukan wajah mereka, ia sedikit menunduk dan mengecup bibir Reyna sekilas dengan lembut. Tangannya dengan lembut meraih rambut Reyna dan menyingkapnya ke belakang. Dielusnya leher jenjang Reyna membuat tengkuk gadis itu meremang, tak terasa Reyna memejamkan matanya dan membukanya kembali kala Yasya menyentuh dagunya dengan lembut.
"Aku bahkan lebih mencintai kamu Reyna, lebih dan sangat" kata Yasya tepat ditelinga gadis itu membuat Reyna tersenyum hangat dengan air matanya yang menetes. Ia tak bisa menahan haru, rasanya seperti mimpi ketika Yasya tepat berada disampingnya.
"Hey, kenapa kamu menangis sayang? kamu nggak bahagia" tanya Yasya yang kini menatap khawatir pada gadis itu seraya menangkup wajah Reyna dengan lembut.
Reyna menggeleng, ia menatap lekat Yasya dengan senyuman bahagia. Diraihnya kedua tangan Yasya yang menangkupnya dan mencium tangan Yasya dengan lembut.
Yasya juga merasakan hal yang sama, ia tak mau lagi kehilangan Reyna untuk yang kesekian kalinya. Saat ini, ia hanya ingin menggenggam tangan gadis itu, ia bahkan takut untuk melepasnya, takut untuk kehilangan dia lagi jika ia tak berada disisinya.
"Aku selalu ada buat kamu sayang, aku nggak akan biarin kamu pergi lagi" kata Yasya seraya mengelus rambut Reyna dengan lembut untuk memenangkan hatinya.
Sejujurnya Reyna juga takut, ia takut akan meninggalkan maupun ditinggalkan oleh Yasya, mengingat kejadiannya yang menimpanya dulu.
Matahari terbenam diikuti mata Reyna yang kian terpejam, menikmati hangatnya pelukan pria yang kini mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
***
Setelah seharian menikmati kerinduan yang terpendam dalam benak kedua pasangan itu. Kini Reyna telah sampai di apartemennya, ia menahan dagunya diatas meja makan.
Bola matanya memutar menahan kebosanan, sedang suara gemercik air terdengar dari dalam kamar mandinya.
Ceklek
Suara terbukanya pintu kamar mandi terdengar membuat gadis itu menoleh dengan senyuman paksa darinya.
"Lama ya?" tanya Yasya yang kini hanya memakai handuk yang melilit bagian pinggang hingga lututnya. Gadis itu terperanjat kala menyadari Yasya yang kini bertelanjang dada, buru-buru ia menutup matanya seraya mengalihkan pandangannya.
"Yasya! kamu kok nggak pakek baju sih, ih malu tau" ujar Reyna yang kini mulai terlihat pipinya yang merona.
Yasya hanya terkekeh seraya mengacak rambutnya yang masih basah. Pria itu hendak pergi dari sana, namun melihat Reyna yang tak menyadari akan dirinya dan mengira bahwa dia telah pergi membuat tatapan jahil dari Yasya menyeringai.
Pria itu menarik tubuh Reyna yang kini masih membelakanginya, pria itu menjilat telinga Reyna hingga sang pemiliknya terkejut. Gadis itu hanya terdiam, menahan gejolak yang ia rasakan, hembusan nafas Yasya begitu terasa hangat di telinganya. Aroma strawberry dari sabun mandinya tercium melalui indera penciumannya dari tubuh Yasya yang kini menempel pada tubuhnya.
"Yasya!,"
"Kenapa harus malu sayang, nanti kamu pasti terbiasa sendiri" ujar Yasya membuat Reyna menunduk menahan malu. Sedang Yasya kini tersenyum menang, Reyna segera menutup wajahnya seolah tak ingin melihat dada bidang Yasya yang terpampang jelas. Gadis itu dengan cekatan memasuki kamar mandinya dan menguncinya dari dalam membuat Yasya terkekeh melihat tingkah gadisnya.
Yasya tengah selesai berganti baju di kamar Reyna, sebelumnya ketika ia berjalan-jalan seharian, ia sudah merencanakan ingin membeli baju dan menginap di tempat Reyna.
Pria itu merapikan rambutnya didepan cermin rias Reyna yang begitu indah. Setelah beberapa saat berlalu kini gadis idamannya itu akhirnya keluar dari kamar mandi dan memasuki kamarnya.
Reyna hanya bisa tersenyum seraya menyembunyikan wajahnya yang menghangat tatkala Yasya juga menatapnya dengan intens. Gadis itu kini tengah memakai piyama berwarna pink terusan selutut dan rambutnya yang tergerai masih sedikit basah membuat Yasya menelan ludahnya.
Yasya dengan langkahnya mendekati tubuh gadis itu yang semakin kaku dan menegang. Gadis itu menatap lekat Yasya yang kini tengah berada tepat dihadapannya. Pria itu berkali-kali menelan salivanya dengan kasar membuat Reyna semakin tak mengerti dengan apa yang ia rasakan.
Yasya mendekatkan wajahnya kearah gadis itu, hingga kedua wajah mereka menempel satu sama lain. Reyna hanya bisa terdiam dengan tatapannya yang terkunci pada Yasya yang kini mulai meremas pundaknya.