
Udah banyak yang nebak-nebak "itu pasti Hengky kan Thor?" jawabannya bukanlah 😅. Kan Kanaya sama sahabatnya udah nggak ketemu lagi sejak SMP, kalo Hengky kan temen SMA.
Terus ada lagi yang tanya "Thor ceritanya Reyna sama Yasya mana? kok ilang? cepet pertemukan lagi dong sama keluarganya". Sabar sayang, Yasya sama Reyna udah nggak ada konflik, tinggal nikah aja, terus kalo masalah ketemu sama orangtuanya ini lagi proses, kalo Author kasih bocoran malah nggak seru dong. Kan judulnya "Rahasia cintaku" kalo dikasih tau bukan rahasia dong namanya 😂😂.
Dah lah, baca aja gih, kalo waktunya ketemu pasti ketemu. Namanya takdir kan ada ditangan Author 😋😋.
______________________________________________
"Hay, Nay! udah lama nggak ketemu ya, makin cantik aja" ujar pria itu membuat Kanaya menunduk dan tersenyum.
Jujur saja, sudah sangat lama sekali ia tak pernah kontak komunikasi dengan sahabatnya satu itu sehingga membuat Kanaya sedikit agak canggung.
"Eh, bisa aja, gimana kuliah lo? kerja dimana sekarang?" tanya Kanaya yang memang sengaja untuk berbasa-basi. Sedangkan Edwin hanya bisa melirik keduanya seraya memakan jeruk yang ada diatas meja tanpa dosa.
"Lancar kok, udah lama kerja di Inggris, sekarang kebetulan mau pindah ke Indonesia" ujar pria itu seraya tersenyum lembut membuat Kanaya hanya manggut-manggut saja.
"Nay, si Angga kangen katanya sama lo, mau ngajakin nikah tuh!" kata Edwin yang kini tengah memakan apel diatas meja seraya tersenyum penuh arti membuat jantung Kanaya berdetak lebih cepat.
"Nikah?" bahkan Kanaya belum pernah berfikiran seperti itu, apalagi ia juga tidak mengenal Angga yang sekarang ini ada didepan matanya. Angga menatap tajam kearah Edwin membuat pria itu tersenyum jahil tanpa dosa sedikitpun. Dari dulu Edwin selalu berkata ceplas-ceplos, kadang jika ada yang menyukainya ia tak ragu untuk menghina fisik dari sang perempuan sampai akhirnya menyerah. Dan ternyata kebiasaan itu masih terbawa sampai sekarang.
Kanaya masih menunduk, tangannya memegang selimut erat-erat seraya tak berani menatap pria yang kini mengerutkan keningnya itu.
"Jangan dengerin omongan Edwin ya Nay, dia cuma becanda kok" kata Angga membuat Kanaya kini merasa sedikit lega. Gadis itu kemudian mendongak, menatap netra hitam pada sahabat kecilnya itu dulu. Wajah yang polos dan senyuman manis itu kini berubah menjadi tatapan mata yang hangat dan menenangkan.
Entah mengapa ditempat ini pun yang Kanaya fikirkan adalah pria itu. Pria yang biasanya ada disampingnya untuk membantunya bekerja. Reyhan yang selalu bersikap manis, dan seolah mengharapkan Kanaya. Kanaya melirik Edwin, ingin sekali ia menanyakan perihal pria itu, namun ia enggan. Edwin yang merasa Kanaya hendak bertanya sesuatu kini menaikkan dagunya, seolah bertanya 'ada apa?' namun Kanaya tersentak, Edwin benar-benar peka sekali, ia buru-buru menggeleng seraya tertawa kecil untuk menghilangkan rasa gugupnya.
'Kenapa kak Reyhan nggak jenguk aku? bukannya dia seharusnya tau dari kak Edwin.'
Pikir Kanaya yang memang kini hatinya tampak gelisah. Namun sedetik kemudian fikirannya berubah, mengingat Novi yang memang sekarang mungkin sudah resmi menjadi pacar Reyhan. Bahkan kemesraan mereka siapa yang tidak iri, seharusnya Kanaya tidak memikirkan pria yang salah. Ia segera menepis kerinduannya itu.
***
Malam pun tiba, belum sampai satu hari Kanaya meminta untuk pulang dari rumah sakit. Ia sendiri tidak betah berlama-lama jika harus diruangan yang penuh sesak oleh bau obat-obatan. Gadis itu kini turun dari mobil dengan dibantu Mama yang memapah tubuhnya. Meskipun kini Kanaya hanya demam biasa, tapi keadaannya masih lemah.
Namun langkah mereka terhenti kala sebuah tangan memapah lengan Kanaya yang sebelah kiri. Kanaya tersentak ternyata dia adalah Angga, gadis itu menoleh Mamanya yang kini tersenyum.
"Tante biar saya yang bantu Kanaya" ujar pria itu membuat Mama kini hanya bisa mengangguk seraya mempersilahkan Angga untuk masuk kedalam.
"Ya sudah, kebetulan om lagi parkir mobil, jadi tante sendiri yang bantuin Kanaya. Kalo gitu masuk yuk" ajak Mama membuat Kanaya membulatkan matanya. Belum sempat Kanaya terkejut, kini dirinya dibuat kaget lagi setelah tiba-tiba saja Angga menggendong Kanaya ala bridal style.
"Eh eh, Angga ja-jangan" ujar gadis itu gugup seraya menggigit bibir bawahnya.
"Nggak apa-apa kok Nay, cuma bentar" kata Angga membuat Kanaya hanya bisa menghela nafasnya. Kemudian setelah itu Angga melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah Kanaya mengikuti langkah Mama yang memang lebih dulu berjalan.
Kanaya kini hanya bisa memegang leher Angga, rasa canggung mulai membebani pikiran Kanaya. Ketika mereka masuk pun Mama juga tidak terlihat marah, malah tersenyum kecil membuat Kanaya kesal saja. Sudah jelas dirinya tidak nyaman, tapi kenapa seolah mamanya sengaja membuat mereka bertambah dekat saja.
"Maaf tante"
"Eh, nggak apa-apa kok nak Angga, kamu bawa Kanaya ke kamarnya ya, tante mau bikin minum dulu" ujar Mama membuat mata Kanaya melotot.
Ke kamar, hanya dengan Angga saja? baginya itu adalah hal memalukan bagi dirinya. Apalagi Mamanya membiarkan dua insan berduaan di satu ruangan. Kanaya benar-benar tidak habis fikir dengan Mamanya.
"Sebelah sini Ga" ujar Kanaya yang kini tengah menunjukkan kamarnya kepada Angga. Kanaya kemudian membuka pintunya itu lalu kemudian mereka segera masuk ke kamar. Rasanya jantung Kanaya mau copot, baru pertamakali ini ada seorang pria yang masuk kedalam kamarnya.
"Makasih ya Ga" ujar Kanaya yang kini telah berada diatas ranjang dengan selimut yang menutupi kakinya. Angga sedari tadi hanya menatap gadis itu dengan pandangannya yang memabukkan. Gadis yang dulunya begitu lucu dan imut, sekarang telah berubah menjadi gadis cantik yang membuat hatinya bergejolak.
"Nay, sebenarnya aku pulang bukan cuma buat pindah kerja" kata Angga tiba-tiba membuat pandangan Kanaya mendongak menatap keseriusan di mata Angga yang kini menjurus padanya.
"Maksud kamu?" tanya Kanaya yang merasa heran dengan sikap temannya satu itu.
"Aku datang juga buat kamu Nay" kata Angga membuat Kanaya membulatkan matanya. Bahkan perkataan Angga barusan seperti boomerang dalam hatinya. Ia harus memastikannya kembali, tidak mungkin jika Angga...
"Aku cinta sama kamu Nay" perkataan Angga bagai petir yang menyambar isi kepalanya yang kini tak bisa berfikir dengan jernih. Jantungnya berdegup dengan kencang, ia kini tak berani menatap mata itu yang memang menunjukkan keseriusan.
Angga memang tampan, ia punya kharisma yang akan membuat wanita mana saja pasti berdebar jika bertemu dirinya untuk pertama kali. Tapi berbeda dengan Kanaya, hatinya sudah dimiliki orang lain saat ini.