
Langkah kaki gadis itu tertatih tatkala memasuki apartemennya, sedangkan Yasya membawakan barang-barang Reyna yang kini berjalan dibelakangnya. Tiba-tiba saja keseimbangan gadis itu goyah, membuat Yasya yang menyadari hal itu langsung menjatuhkan tas yang ia bawa kemudian langsung meraih pinggang gadis itu dengan gerakan secepat kilat.
"Reyna, hati-hati sayang" ujarnya yang kini menatap manik mata Reyna yang terlihat polos dengan anggukan patuh darinya. Yasya segera menggendong gadisnya ala bridal style, ia menutup pintu apartemen menggunakan punggungnya dan membawa Reyna kedalam kamarnya.
"Sya, aku bisa jalan sendiri kok" kata Reyna yang kini menelan salivanya seraya mengalungkan tangannya dileher pria itu.
"Kamu itu masih sakit sayang, jangan dipaksain. Kalo kamu nggak kuat, jangan ragu buat bilang ke aku" ujar pria itu membuat Reyna tersenyum seraya mengangguk. Sesampainya di kamar, Yasya membaringkan tubuh Reyna diatas ranjang. Tatapan mereka seketika bertemu, dengan Reyna yang kini pandangannya terkunci oleh ketampanan Yasya yang selalu menjadi pria pujaannya.
Begitupun dengan Yasya yang kini beralih duduk di pinggir ranjang seraya menyentuh wajah gadis itu. Wajah keduanya bersemu merah, tak ada yang ditutupi lagi selain rasa kagum dari keduanya. Yasya kini mendekatkan wajahnya, ia menyatukan wajah mereka berdua membuat Reyna mengerjapkan matanya untuk merasakan sentuhan kulit Yasya yang begitu lembut, serta deruan nafas hangat darinya.
Yasya ******* bibir Reyna, ia menarik tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya. Reyna kini mengerang, merasakan perasaan keduanya yang begitu dalam. Sejenak Yasya menghentikan ciuman itu, ia tersenyum lembut dan mencium kening Reyna.
"I love you sayang" kata Yasya membuat Reyna membalas senyuman tersebut dengan pipi yang merona.
"I love you too sayang" balas Reyna yang kini meraih pinggang Yasya kemudian dipeluknya membuat pria itu membalas pelukan Reyna seraya menyambutnya.
Setengah jam berlalu, Yasya kini membawa Reyna untuk berjalan keruang makan untuk mengajaknya makan bersama. Mungkin Yasya tidak terlalu pandai untuk memasak, tapi ia masih bisa membuatkan Reyna sebuah sup resep dari bi Ina.
"Kamu yang masak Sya?" pertanyaan itu membuat Yasya mengangguk.
"Aku masih belajar sayang, maaf ya kalau nggak enak" kata pria itu membuat Reyna beralih duduk dan tersenyum untuk segera menyantap sup yang Yasya buat untuknya.
Reyna segera mencicipi sup tersebut, dan alangkah terkejutnya ia ketika menikmati rasa sup enak yang telah Yasya buat untuknya.
"Sya, siapa bilang ini nggak enak. Enak banget kok, ternyata kamu jago masak juga ya, makasih ya sayang" perkataan itu membuat Yasya tercengang. Ia sebenarnya tak menyangka dengan hasil masakannya kali ini, padahal ia baru saja mencoba resep yang bi Ina ajarkan untuknya, tapi ia sungguh tak menyangka jika percobaan ternyata berhasil.
"Serius?" pertanyaan itu membuat Reyna yang tengah mengunyah wortel itu menelannya dan tersenyum lembut.
"Iya Sya, ini enak banget" kata Reyna seraya melanjutkan makannya. Ia memperhatikan Yasya yang masih tak percaya dengan hasil masakannya barusan. Reyna sungguh beruntung bisa memiliki Yasya. Pria yang begitu sempurna, tampan, kaya raya dan mempesona. Sungguh tiada kekurangan dalam diri Yasya bagi Reyna.
***
Lampu temaram yang sebelumnya mati, kini menerangi ruangan yang gelap itu. Reyhan kini menyelimuti tubuh ayahnya, sebenarnya Reynaldi belum dianjurkan untuk pulang. Namun karena keterbatasan biaya, Reyhan akhirnya mau tidak mau harus membawa ayahnya untuk kembali.
Reyhan menghela nafasnya, ia menahan air matanya yang hendak jatuh. Pria itu mencium kening sang ayah dengan lembut seraya tersenyum lembut sebelum ia melangkah menuju ambang pintu.
"Selamat malam pa, maafin Reyhan" kata pria itu yang kini menitikkan air matanya. Reyhan perlahan menutup pintu kamar Reynaldi, ia berjalan lunglai menuju kamarnya. Langkahnya terhenti tepat disebuah lemari nakas. Ia membukanya dan mengambil sebuah buku bersampul coklat yang lusuh.
Tangisannya semakin menjadi meski tiada suara yang keluar dari mulutnya. Ia membuka lembar demi lembar buku itu dan mengeluarkan banyak sekali foto kenangan keluarganya. Keluarga yang utuh dan bahagia, ada Reyna disana. Tak disangka bahkan adiknya yang dulunya begitu kecil dan ceroboh kini adalah seorang dokter.
"Reyna, mama, maafin aku, ini semua gara-gara aku. Reyna adiknya abang, semoga kamu selalu bahagia sama keluarga baru kamu. Semoga kamu bisa lupain apa yang papa dan abang lakuin ke kamu, bahkan abang rela kalau kamu ngelupain kita, asalkan kamu sembuh Reyna. Maafin abang, abang emang nggak berguna, cukup kebahagiaan kamu penebus kesalahan abang di masa lalu."
Reyhan mengelap air matanya, ia menjatuhkan tubuhnya diatas lantai. Mungkin inilah yang dinamakan karma, dulunya Reyna yang merasakan hal ini, mungkin ini adalah balasan yang harusnya Reyhan dan Reynaldi terima oleh apa yang mereka lakukan sebelumnya.
Malam semakin larut, namun fikiran kacaunya
membuat Reyhan tergugah untuk keluar dan mencari udara segar. Pria itu hanya memakai jaket dan celana jeans miliknya. Kebetulan diluar kompleks perumahan ada beberapa cafe dan pusat perbelanjaan yang masih buka.
Pria itu memasuki cafe, ia tampak mencari tempat duduk setelah sebelumnya memesan minuman. Pria itu duduk di ujung, ia ingin melepaskan penat sejenak dari fikirannya yang penuh dengan banyak beban akhir-akhir ini.
Setelah kopi yang ia pesan datang, ia menyesapnya dan memejamkan matanya beberapa kali. Seorang lelaki yang tak asing baginya kini menatapnya, ada sosok rasa tatapan dingin dan tegas dari pria familiar itu. Namun Reyhan tak memperdulikannya, ia lebih memilih berkutat pada ponselnya daripada harus memperdulikan hal lain.
Namun hal yang tak disangka datang, membuat Reyhan menaikkan sebelah alisnya dan menatap pria itu yang tiba-tiba duduk dihadapannya.
"Apa kabar kak?" tanya pria itu membuat Reyhan mendongak menatap Hengky yang kini membawa secangkir kopi yang sama dengannya. Tatapannya terlihat santai tak seperti sebelumnya.
"Baik, lo sendiri?" pertanyaan itu kembali terlontar membuat Hengky tersenyum dan mengangguk.
"Sama, gue juga baik. Oh ya, btw udah lama kita nggak ketemu, gimana kabar om Rey?" Reyhan tiba-tiba saja menghela nafasnya. Ia kembali menyesap kopi dihadapannya dengan gerakan sedikit gugup seraya menatap manik mata Hengky dengan sedikit ragu.
"Papa, baru aja keluar dari rumah sakit" ujarnya membuat Hengky membelalakkan matanya.
"Serius lo? sakit apa?" pertanyaan itu kembali membuat Reyhan menggeleng. Tatapannya sendu dengan perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.
"Jantung Ky, papa baru aja di operasi" kata Reyhan dengan suaranya yang lemah membuat Hengky sedikit terkejut dengan perkataan Reyhan barusan.