The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Terjebak



"Kenapa lo senyum-senyum sendiri? jangan-jangan lo mau ya kalo dijodohin sama tentara?!" perkataan Cindy membuat Luna membulatkan matanya. Fikirannya ia buang begitu saja, ia bahkan baru sadar memikirkan orang yang belum ia kenal sebelumnya.


Kenapa juga harus memikirkan cowok dingin seperti dia, bisa-bisa Luna bisa gila karenanya.


"Gue juga nggak tau sama perasaan gue sendiri, kalo sama tentara gue juga keberatan. Tapi masa gue mau nolak papa sih" Cindy menimbang-nimbang apa yang dikatakan sahabatnya. Kasihan juga kalau sahabatnya ini nanti setelah menikah harus ditinggal perang atau bertugas keluar daerah.


"Hey! lagi ngobrolin apa nih?!" suara seorang gadis membuat kedua sahabat itu menoleh kearah Kanaya yang kini tersenyum sumringah seraya duduk disamping Cindy.


"Tumben nggak makan bareng calon suami" celetuk Cindy membuat Kanaya tersenyum malu-malu. Sudah biasa bagi Kanaya jika sahabatnya menyindir dirinya soal Reyhan. Keputusan mereka untuk segera menikah pun bahkan sudah menjadi rahasia umum dan menjadi topik hangat perbincangan di perusahaan.


"Nggak, dia lagi ada rapat sama direktur" ujarnya membuat Cindy membulatkan matanya. Direktur? pria misterius dibalik kesuksesan perusahaan Syakieb group? Cindy sudah lama menantikan sosoknya. Semenjak ia bekerja di perusahaan, bawahan seperti dirinya mana pernah melihat batang hidung dari pak Zayn. Meskipun sangat terkenal tapi Zayn Gilbert adalah seseorang yang low profile, bahkan tidak banyak yang tau bagaimana wajahnya kecuali petinggi perusahaan.


"Eh, direktur itu masih muda ya? denger-denger dia kakak angkatnya bu Reyna?" tanya Cindy antusias membuat Luna memutar bola matanya malas. Sedangkan tatapan mata Kanaya kini mengarah pada Luna seraya mengisyaratkan bahwa Cindy sudah mulai genit.


"Ih kenapa sih?! gue kan kepo Nay, masa ceritain sedikit aja nggak boleh sih. Pelit!" rajuk Cindy dengan tampangnya yang kesal seraya melirik kedua temannya itu yang kini saling melirik satu sama lain, namun beberapa detik kemudian mereka tertawa renyah bersama-sama.


"Emang nggak ada cowok lain ya selain direktur, penasaran banget lo" kata Luna yang kini terkekeh seraya menatap Kanaya dengan pandangan meledek pada Cindy yang kini masih cemberut saja.


"Ih kalian nih sama aja" omelnya membuat Kanaya menghentikan tawanya seraya berdehem untuk mencairkan suasana.


"Pak Gilbert itu ganteng loh, aku udah liat dia langsung. Seumuran sama kak Reyhan deh kayanya, tapi masih tetep ganteng kak Reyhan dong" kata Kanaya dengan senyuman yang mengembang membuat mata Cindy berbinar-binar mendengarnya.


"Iya deh percaya, yang mau nikah. Eh tapi seriusan masih muda? udah punya pacar belum?" tanya Cindy lagi dengan antusias membuat Kanaya terkekeh dibuatnya. Memang dasar Cindy kalau denger yang bening-bening saja langsung kepincut.


"Kayanya masih deh" Cindy semakin merajalela, ia melontarkan setiap pertanyaan pada temannya satu itu. Kalau bukan dari Kanaya sumbernya, ia bisa tau darimana lagi. Jarang-jarang bisa bergosip dan membicarakan kehidupan pribadi direktur yang terkenal misterius itu.


Namun berbeda dengan Luna, ia adalah gadis yang cuek . Ditambah dengan masalahnya yang masih belum kelar dan jelas bagaimana mengatasinya. Ia lebih memilih untuk diam seraya menyimak kedua temannya itu membicarakan pak Gilbert yang memang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Meskipun mata Luna tertuju pada kedua sahabatnya, namun tak bisa dipungkiri bahwa fikirannya masih begitu melekat dengan rencana papanya.


"Nay, kasih tau nomor telepon pak Gilbert dong, pengen PDKT"


"Enak aja, gue nggak punya" kata Kanaya menolak. Sementara itu Luna kini beralih bangkit, wajahnya yang tadinya ceria entah mengapa kini berubah menjadi datar dan seolah berubah.


"Kalian lanjutin aja dulu, gue duluan" hadirnya Kanaya saat itu membuat dirinya semakin tak enak hati. Pasalnya tadi Luna seperti baik-baik saja, namun entah mengapa belum lama Kanaya datang Luna tiba-tiba pamit.


"Eh, Lun!" Kanaya hendak menyusul Luna, namun dengan gerakan cepat Cindy segera menarik lengan gadis itu.


"Gue nggak enak nih, kok tiba-tiba pergi sih" kata Kanaya gelisah. Namun sedetik kemudian Cindy membisikkan sesuatu pada gadis itu membuat Kanaya membulatkan matanya.


"Serius lo?!" Cindy mengangguk, mau bagaimana lagi. Kanaya juga termasuk teman dekat mereka, daripada dirinya nanti salah paham, lebih baik dijelaskan saja dari awal.


***


Luna terdiam, hiruk pikuk kegiatan kantor sebentar lagi akan berakhir. Kali ini ia masih menunggu Cindy dan Kanaya keluar dari kantor. Ia berdiri didepan bangunan itu seraya menatap lalu lintas yang berlalu lalang. Fikirannya menerawang, antara siapa dan tidak siap.


Kali ini pulang kerja banyak sekali yang harus ia fikirkan. Sesekali ia melirik belakang, kalau-kalau saja dua temannya itu tiba-tiba datang.


"Lun" suara halus itu membuat Luna yang semula menunduk kini menatap Cindy yang tiba-tiba menepuk pundaknya. Bahkan Kanaya kini bahkan ikut-ikutan juga. Bisa Luna tebak jika kedua temannya ini tau akan fikirannya yang begitu terjebak oleh keadaan.


"Gue tau kok masalah lo, gue awalnya juga dijodohin. Jadi sedikit banyak gue pasti ngerti perasaan lo kaya gimana" kata Kanaya yang kini mencoba menguatkan temannya satu itu.


"Nggak apa-apa kok, gue udah tau kalau ini bakal terjadi, cepat atau lambat di umur gue yang sekarang ini pasti mami sama papi bakal cariin gue jodoh. Gue cuma, cuma belum terbiasa aja" kata Luna setenang mungkin agar kedua temannya itu tak khawatir lagi. Kata-kata Luna barusan juga sebagai semangat untuknya sendiri. Dengan begitu hatinya akan lebih lapang dan menerima keputusan kedua orangtuanya nanti.


"Kalo lo butuh bantuan kita, kita pasti bakal bantuin kok. Lo tenang aja, kan masih ada kita" seru Cindy yang semakin membuat senyum Luna terulas. Entah mengapa, dipedulikan oleh sahabatnya kini hati Luna jadi lebih tenang. Bahkan kini dirinya sedikit melupakan masalah yang terjadi padanya.


"Itu temen cewek lo?" tanya seorang pria pada Reyhan yang kini tengah menatap ketiga gadis itu sama halnya dengan Zayn.


Zayn dan Reyhan kini tengah berada didalam mobil. Mereka tengah mengamati Kanaya yang kini berbincang-bincang dengan kedua temannya. Sebenarnya ingin sekali Zayn cepat kembali, namun siapa sangka Reyhan menghentikan laju mobilnya dan masih tersenyum sendiri melihat kekasihnya dari jauh.


"Iya, kenapa?" tanya Reyhan membuat Zayn menggaruk tengkuknya. Kenapa juga dia penasaran pada cewek itu, cewek gila yang kemarin hari menabraknya dan memakinya dengan hebat.


"Tuh temen Naya ada dua, lumayan juga loh yang pakek baju putih. Lumayan cocok kalo sama lo" tunjuk Reyhan asal membuat mata Zayn membelalak. Jika saja Reyhan tau yang ia tunjuk adalah cewek kemarin hari. Pasti pria satu ini tidak akan tinggal diam dan mencoba untuk mencombalangkan dirinya.


Tidak, daripada nanti urusannya semakin panjang, lebih baik Zayn diam saja dan pura-pura tidak mengenal.