The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kanaya



"Kantornya sebelah mana sih?" pertanyaan itu membuat Edwin melangkah seraya memberikan petunjuk pada temannya satu itu.


"Makanya, gue nungguin lo itu punya niat baik. Ya, kali aja lo nggak kenal siap-siap disini, makanya gue tungguin. Ikutin gue gih" kata Edwin membuat Reyhan hanya bisa menghela nafas seraya menggeleng. Memang benar juga apa yang dikatakan Edwin padanya, siapa lagi yang dapat memberitahunya jika bukan dirinya.


Sesampainya disebuah ruangan is membuka ruangan tersebut yang begitu banyak karyawan disana. Mungkin dari mereka banyak yang baru. Tak hanya itu Reyhan juga dikejutkan dengan kertas yang berserakan, juga file yang menumpuk di setiap sudut meja.


'Sabar Reyhan, lo harus siap, ini juga demi papa' batinnya seraya memejamkan matanya. Meskipun pekerjaan divisi tidaklah terlalu sulit untuknya, namun hanya dengan melihat tumpukan file dan dokumen membuat kepalanya pusing setengah mati.


"Rey, lo duduk disitu tuh, kalo gue disamping lo. Tenang aja" ujar Edwin membuat Reyhan mengedikkan bahunya.


"Oke, siap buat perang?" tanya Reyhan yang kini membuat Edwin menaikkan sebelah alisnya.


"Siaplah, lo kira gue karyawan kaleng-kaleng" seru Edwin membuat Reyhan hanya bisa terkekeh seraya melangkahkan kakinya menuju kantornya


Setelah beberapa menit mereka duduk dan mengerjakan tugas masing-masing, kini semakin banyak karyawan yang masuk dan memenuhi ruangan itu. Termasuk gadis yang kini duduk bersebelahan dengannya. Gadis yang familiar untuknya, seperti pernah bertemu namun ia tak ingat dimana.


Batin Reyhan yang kini menimbang-nimbang fikirannya. Reyhan segera menghempaskan fikirannya, ia kembali berkutat pada monitor dihadapannya. Garapannya pun semakin banyak, hingga kadang dirinya menghela nafas beberapa kali.


"Ssst, Nay pinjem pen dong!" teriak Edwin pada gadis disamping Reyhan yang kini membuat gadis itu menoleh.


"Kak Edwin? lo masuk hari ini? hem, katanya lo ngelamar dibagian accounting, bilang aja kalo mau buntutin gue" ujar gadis itu dengan pedenya membuat Edwin memutar bola matanya malas.


"Nagapain juga gue ngikutin lo, nggak berfaedah banget. Udah gih, pinjem pulpen" kata Edwin membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.


Reyhan yang kini berada di tengah-tengah hanya bisa menyimak tanpa berani menatap gadis yang kini diajak bicara oleh Edwin. Pria itu berpura-pura fokus pada pekerjaannya, ia bahkan dikejutkan oleh pulpen yang kini menusuk-nusuk perutnya, dan ia yakini itu adalah gadis yang dipanggil oleh Edwin tadi.


Reyhan kini memberanikan diri untuk mendorong kursinya, ia menatap gadis yang familiar itu, dan tatapan gadis itu tiba-tiba terpaku pada sosok Reyhan yang kini menaikkan sebelah alisnya.


"Ada apa ya?" tanya Reyhan yang tak mendapat respon dari gadis itu.


."Kak, kak Reyhan?" kata gadis itu dengan mulutnya yang masih menganga tak percaya. Jangankan dirinya, Reyhan saja tak mengerti mengapa gadis itu bisa mengenalnya.


"Kok kamu tau nama saya?" gadis itu buru-buru menggeleng, ia memberikan pulpen itu pada Reyhan.


"Em, tolong kasih ini ke kak Edwin ya" ujar gadis itu membuat Reyhan mengangguk dan tersenyum. Ia oun akhirnya memberikan pen yang disodorkan olehnya dan segera memberikannya pada Edwin.


"Oh ya, ngomong-ngomong, kamu tau darimana kalo nama saya Reyhan?" pertanyaan itu membuat gadis itu tersentak, ia menghentikan ketikan jemarinya terhenti sejenak dan beralih menatap Rethan dengan senyuman.


***


"Perkenalkan, aku Kanaya kak" Katakana yang kini memperkenalkan dirinya pada Reyhan. Sedangkan Edwin sedari tadi hanya bisa melirik dan mengawasi gadis itu.


Suasana di kantin saat itu begitu ramai, wajar saja, karena memang sudah jamnya istirahat siang bagi seluruh karyawan termasuk dirinya, Edwin dan juga Kanaya.


"Dia sepupu gue" tambah Edwin membuat Reyhan membalas jabatan tangan dari Kanaya.


"Gue nggak tanya elu Win, diem deh lo" kata Reyhan yang kini mulai geram dengan sikap Edwin.


"Biarin aja kak, kak Edwin emang sukanya kaya gitu, ngomong-ngomong Aku sahabatnya Reyna waktu di SMA dulu" lanjutnya membuat Reyhan tersentak. Sebenarnya ia enggan membahas Reyna. Taoi mengingat wajah Kanaya yang memang tak asing untuknya, ia baru menyadari bahwa Reyna memang pernah menyimpan foto Kanaya.


Gadis imut dan cantik seperti Kanaya, yang dulunya masih polos kini berubah menjadi gadis dewasa. Bahkan Reyhan tak pernah berfikir, Reyna dan juga Kanaya adalah orang yang bekerja di satu atap yang sama, namun mungkin karena pangkat Reyna jauh lebih tinggi dibanding mereka, maka bisa disimpulkan bahwa pantas jika Kanaya tidak pernah menyadari keberadaan Reyna di perusahaan itu.


"Oh ya, gimana kabar kakak? kabar papa nya kakak baik-baik aja kan?" pertanyaan itu membuat Reyhan tersenyum dan mengangguk. Ia mungkin tak bisa banyak cerita, tapi dibalik imutnya wajah Kanaya ternyata dia benar-benar perhatian. Padahal jika diingat-ingat ia bahkan tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya.


"Baik kok, kamu sendiri gimana?" pertanyaan itu sontak membuat Kanaya menjadi salah tingkah. Ia tersenyum malu-malu tatakala Reyhan menanyakan balik apa yang ia tanyakan.


"Ba, baik kok kak" kata Kanaya yang kini menyelipkan sebagian rambutnya kebagian dalam rambutnya.


"Pacaran aja terus, mentang-mentang Reyhan anak baru, ganteng lagi, gue jadi dicuekin kaya pajangan di museum" sindir Edwin membuat Reyhan kini meliriknya dengan tajam.


"Kak Edwin apa-apaan sih, ngaco banget ngomongnya" kata Kanaya dengan wajahnya yang sedikit ditekuk. Namun Reyhan bisa melihat wajah Kanaya yang samar-samar memerah kala dirinya mengatakan hal tersebut pada kakak sepupunya.


Setelah perbincangan ringan makanan akhirnya datang. Reyhan hanya memesan kentang goreng membuat Kanaya meliriknya dengan pandangan prihatin. Sebenarnya ia sebelumnya tau kalau Reyhan punya perusahaan sendiri, tapi ia tidak berani menyinggungnya, takut jika hal yang seharusnya tidak dikatakan Reyhan membuat Reyhan akhirnya sedikit menjauh darinya.


Sebenarnya dari dulu Kanaya selalu menyimpan rasa pada kakak sahabatnya itu. Tapi karena dulunya keadaan yang membuatnya tak bisa bermimpi lebih jauh, membuat gadis itu menyimpan angan-angannya di dalam hati sampai saat ini.


Dulunya, ia sempat mengirimi pesan chat pada Reyhan, namun entah mengapa chat nya tak kunjung dibaca. Hal itu membuat Kanaya menyerah dan lebih memilih untuk fokus pada pelajarannya. Namun kali ini, mata indah dan juga wajah tampan itu sudah berada dihadapannya, namun lagi-lagi ia seperti tak berani untuk menatap Reyhan lama-lama.


"Mbak, minuman coklat dinginnya" kata pelayan itu membuat Kanaya tersenyum dan melirik Reyhan yang kini memainkan ponselnya seraya memakan kentang goreng yang bersisa sedikit dipiringnya.


"Oh, iya mbak, boleh minta tambah satu lagi ya?" perkataan itu membuat sang pelayan mengangguk dan meninggalkan tempat itu.


"Kak, ini minuman coklat buat kakak" ujar Kanaya membuat Reyhan menaikkan sebelah alisnya.