The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Tak bisa kembali



Setelah mereka selesai untuk berdiskusi, kini Reyna keluar dari ruangan itu. Tak banyak yang ia katakan pada Agatha, hanya ucapan terimakasih dan memintanya untuk menjadi dokternya.


Tak disangka ketika ia keluar dari ruangan tersebut, banyak sekali orang yang tengah menunggunya di luar. Bahkan ia sama sekali tak menyangka jika ada Zayn dan Ajeng yang kini tengah tersenyum dan hendak menyambutnya dengan pelukan.


"Kak Zayn, nyonya Gilbert" ujar gadis itu yang masih terdiam dengan tatapannya yang tak menyangka. Reyna masih terdiam, ia menatap Yasya yang kini meliriknya dan mengangguk untuk mengisyaratkan sesuatu padanya.


Zayn maupun Ajeng mengerti apa yang difikirkan gadis itu. Reyna bahkan memanggil Ajeng dengan sebutan nyonya, hal itu membuat hati seorang ibu sepertinya merasakan sakit yang tiada terkira.


Zayn berhambur memeluk gadis itu dengan erat, sedang Ajeng yang semula hendak memeluknya malah membuang muka dan membalikkan tubuhnya untuk menutupi air matanya yang tengah mengalir deras dipipinya.


"Reyna, akhirnya kamu kembali" perkataan Zayn masih membuat Reyna terdiam, namun perlahan tangannya mengelus punggung Zayn yang terasa hangat untuknya. Reyna tanpa sadar meneteskan air matanya yang tiba-tiba saja tak ia sadari.


"Aku kangen sama kakak" kata Reyna yang kini memejamkan matanya merasakan sebuah kerinduan. Sementara itu Yasya yang menatap pemandangan dihadapannya hanya bisa tersenyum simpul.


***


Kini gadis dengan senyuman lembut itu tengah duduk dibangku taman dengan bunga mawar yang ia petik ditangannya. Reyna kini bisa tersenyum dan semakin tenang kala Zayn berada disampingnya untuk mengajaknya berbicara.


"Apa kamu nggak rindu sama mommy?" pertanyaan itu membuat ekspresi Reyna yang semula tersenyum lembut kini merasa enggan untuk membahas hal tersebut.


"Kak, aku Reyna bukan Falery. Aku udah banyak buat salah sama kalian, gara-gara aku tuan Thomas" ujarnya dengan suaranya yang semakin serak.


"Mereka juga orang tua kamu, kamu jangan memanggil mereka seperti itu Reyna. Apa kamu tau betapa menyesalnya mommy ketika dia mengingat telah salah paham dengan kamu? kamu nggak tau kan betapa sakitnya mommy saat tau kamu pergi dari hidup kami. Kamu memang bukan Falery, tapi kamu Reyna kami" perkataan Zayn membuat tatapan sayu gadis itu menengadah. Ia menatap langit yang membiru diatas sana.


Sementara itu, Alfian dan Yasya hanya bisa melihat pemandangan kakak beradik itu dari jauh. Yasya memang tidak bisa menceritakan segala yang terjadi beberapa hari ini pada Reyna, hal itu hanya bisa dilakukan oleh Zayn yang mengerti setiap sisi lembut gadis itu.


"Kak, aku ingin jalani hidup aku sendiri. Aku nggak bisa jadi bagian kalian lagi, maafin aku" perkataan Reyna membuat Yasya terkejut. Ia bahkan tak menyangka jika Reyna benar-benar akan pergi dari hidupnya. Ia begitu menyayangi adiknya itu, ia ingin yang terbaik untuknya. Tapi Reyna sepertinya sudah lelah dan memilih untuk menyerah.


"Rey" perkataan itu tiba-tiba terpotong oleh tatapan Reyna yang hangat dan senyuman manis. Sepertinya keputusan gadis itu sudah bulat dengan apa yang ia katakan dan apa yang ia rasakan.


Sejujurnya apa yang dialami gadis itu selama seumur hidupnya adalah sebuah kesalahpahaman yang seharusnya dapat diperbaiki. Namun Zayn menyadari, sekalipun piring yang telah pecah dapat disatukan kembali, pasti pecahan itu akan membekas dan tidak pernah hilang untuk selamanya.


Begitupun hati Reyna, sekalipun ia telah memperbaiki segala kesalahpahaman yang ada, namun trauma dan ingatan itu masih terngiang dalam fikirannya.


"Kalo gitu kamu mau kan temuin mommy dan panggil dia sekali lagi buat nyenengin dia" perkataan Zayn membuat Reyna tersenyum lembut.


***


Langkah Ajeng terhenti tepat di mobil Zayn yang kini berada dihadapannya. Ia hendak memasukinya seraya menunggu kehadiran Zayn yang tak kunjung datang.


Perlahan wanita paruh baya itu membuka pintu mobil, namun alangkah terkejutnya ia ketika seseorang memeluknya dari belakang. Seketika wanita itu menghentikan aktivitasnya seraya menatap jemari lembut di perutnya yang kini melingkar tersebut.


"Mommy" kata Reyna pelan tanpa mau melepaskan pelukannya dari perut sang ibu. Ajeng tak bisa berkata-kata lagi, ia bahkan tak sadar air mata menetes disudut matanya saat ini. Ia terharu sekaligus bahagia, ia membalikkan tubuhnya dan menatap putri tercintanya yang tersenyum lembut kearahnya.


"Reyna sayang" ujarnya seraya memeluk gadis itu dan mengecup puncak kepalanya. Reyna kini akhirnya bisa merasakan betapa hangatnya pelukan seorang ibu yang sudah lama ia rindukan.


Ia bahkan tak menyangka bisa memeluk dan direngkuh oleh Ajeng yang selama ini membencinya. Namun sayangnya, ia tak dapat kembali, ia hanya bisa mengenang masa-masa itu tanpa dapat menyentuhnya.


Kini tiada kesalahpahaman lagi diantara mereka, hanya ada rasa saling mengikhlaskan karena memang masa lalu itu hanyalah sebuah kecelakaan.


"Reyna, maafkan mommy nak, mommy menyesal sayang" kata wanita itu membuat Reyna tersenyum seraya menggeleng.


"Mommy nggak salah kok, wajar kalo mommy marah sama Reyna, karena Reyna udah jadi anak yang bandel. Seharusnya Reyna dari awal kasih tau kalian, tapi Reyna malah menyebabkan kesalahan besar. Maafin Reyna my" kata gadis itu seraya menunduk tatkala mengingat dimana Thomas yang selalu memeluknya.


"Ssstt, anak mommy nggak salah kok, itu semua cuma kesalahpahaman, yang penting sekarang kamu harus sembuh dulu. Kalo gitu kita pulang yuk" seru Ajeng seraya hendak menarik lengan gadis itu, namun Reyna tak bergeming, ia terdiam dengan tatapannya yang masih terkunci menatap mata Ajeng dengan tatapan mata sayunya.


"Kenapa sayang? ayo kita pulang, mommy nggak akan ajak kamu ke Amerika lagi kok karena mommy sadar kamu punya orang yang kamu cintai selama ini disini, tapi kita pulang dulu ya nak, mommy bakal masakin makanan kesukaan kamu" Reyna masih terdiam, berulangkali Ajeng menarik lengan gadis itu, namun Reyna tak bisa mengatakan apapun. Ia hanya terdiam seraya menggeleng.


"Kenapa nak? apa kamu belum bisa maafin mommy? kita bisa perbaiki ini sama-sama, kita lupain semua masalah yang terjadi dulu ya."


'Melupakan tak semudah yang mommy fikirkan. Dulu aku ada untuk kalian saat daddy masih sama-sama kita, tapi sekarang berbeda mom, aku akan sangat sakit dan merasa bersalah jika aku masuk dalam kehidupan kalian lagi' gumam Reyna dalam hati. Tak terasa perlahan matanya berkaca-kaca, ia menarik lengannya hingga terjatuh dan membuat Ajeng menitikkan air matanya.


"Maaf, mommy" ujarnya seraya membalikkan tubuhnya untuk masuk kedalam mansion tersebut dan mencari keberadaan Yasya didalamnya. Reyna masih bersembunyi dibalik pintu mansion itu, ia tak bisa melihat ibunya menangis karenanya maupun menunjukkan tangisnya yang kini tumpah ruah mengalir dipipinya.


"Reyna anakku, maafin mommy sayang" gumam wanita itu seraya menyandarkan punggungnya di pintu mobil.