
Hari yang dinantikan telah tiba, honeymoon yang ditunggu-tunggu oleh Zayn pun datang juga. Wajah cantik yang selalu tersenyum kearahnya itu berlarian di bibir pantai, dress tipisnya berwarna putih dan topi pantai yang berwarna senada membuat Luna tampak semakin cantik hari itu. Sama halnya dengan Zayn, luna juga merasa senang saat menatap suaminya dari kejauhan, tubuhnya yang atletis memakai kaos putih tipis dengan kacamata hitam yang ia kenakan, membuat siapa saja pasti terkesima dengan ketampanan Zayn.
"Luna, pelan-pelan dong. Jangan lari-larian"
"Bilang aja kamu nggak bisa ngejar aku, ya kan?" tantan Luna seraya tersenyum membuat Zayn menaikkan sebelah alisnya.
"Oh jadi kamu nantangin nih? oke, awas ya kalau kena" ujarnya seraya berlari mengejar Luna yang semakin lama semakin mempercepat langkahnya. Namun bisa ditebak jika Luna memang tidak secepat pergerakan Zayn, pria itu menarik lengan istrinya lalu memeluk pinggang wanita itu.
"Nah kan kena!"
"Kyaaaaa! ampun Zayn!" ujarnya seraya tertawa terbahak-bahak karena gelitikan dari suaminya itu.
Setelah puas bermain di pantai, kini mereka tiduran di atas pasir, hanya beralaskan tikar kecil dan dua payung untuk menutupi tubuh mereka dari sengatan matahari yang kian terik. Luna kini fokus pada majalah yang ia baca, sedangkan Zayn menatap Luna sejak tadi dengan pandangan terpesona. Meski tanpa make-up sekalipun, wanita itu benar-benar sangat cantik. Beruntungnya Zayn bisa menikah dengan orang yang tepat untuknya. Tubuhnya yang atletis tanpa menggunakan kaos yang tadi ia kenakan terbuka begitu saja, menyisakan boxer yang dikenakan oleh pria itu, oleh sebab itu Luna enggan menatap pria itu lama-lama, bisa-bisa hidungnya mimisan hanya dengan melihat roti sobek panas yang ada dihadapannya.
"Kamu kenapa liatin aku terus? muka aku ada pasirnya ya?" Zayn menggeleng, ia kemudian menyentuh pipi Luna menggunakan ibu jarinya, kemudian turun kearah bibir, tanpa sadar jarak di antara kedua sudah semakin dekat saat Zayn mulai memajukan wajahnya. Luna hanya mampu terdiam, ia ikut mendekatkan wajahnya yang. Bibir mereka saling bertaut, membuat hawa yang panas terasa semakin panas. Luna segera menarik dirinya saat kesadarannya mulai utuh.
"Za-Zayn, ini kan di tempat umum"
"Kita pindah tempat yuk!" Luna menaikkan sebelah alisnya, tanpa basa-basi Zayn menarik lengan istrinya, ia membawa Luna ke resort terdekat, mengingat hotel yang mereka huni jauh dari pantai membuat Zayn tidak sabar lagi untuk menyentuh istrinya itu.
"Kita ngapain ke sini Zayn?" Zayn hanya diam seraya mempererat genggaman tangannya, semakin Luna membuka suara, semakin hasratnya tidak bisa ditahan lagi untuk wanitanya itu. Sementara karyawan resepsionis mengambilkan kunci kamar untuk mereka berdua, Luna tak sengaja melirik barang milik Zayn sudah tegak berdiri.dengan wanita itu membulatkan matanya seraya menutup mulutnya tak percaya.
"Here is your room key"
(ini kunci kamar anda)
"Okay thank you" setelah Zayn mendapatkan kunci kamarnya, kini ia buru-buru menarik lengan istrinya untuk masuk kedalam ruangan di dalam resort tersebut. Luna hanya mampu terdiam dan menuruti langkah Zayn yang semakin lama semakin melangkah dengan cepat, sampai pada saat mereka tiba didepan pintu kamar , Zayn buru-buru menarik istrinya kedalam dan mengunci rapat-rapat pintu tersebut.
"Zayn?"
"Luna" Zayn buru-buru memeluk Luna dan mencium aroma tubuh istrinya itu, ia lalu menggendong Luna ala bridal style lalu membaringkannya di atas ranjang dan menciumnya dengan brutal.
"Kamu cantik banget Luna" Luna hanya mampu tersenyum, hanya dengan mendengar bisikan manis itu mampu membuat hati Luna luluh setelah sebelumnya ia berusaha mengabaikan keganjilan yang ada di tengah mereka berdua. Mereka pun melanjutkan aktivitas suami istri itu dengan perasaan bahagia.
Satu jam kemudian, Luna yang membelakangi tubuh Zayn menatap tasnya yang berada di atas meja tepat di sampingnya. Terlihat botol obat kontrasepsi yang sebenarnya ia persiapkan untuk dirinya saat mereka bulan madu kali ini. Bukan karena ia tidak ingin memiliki anak dengan Zayn, tapi ada satu alasan yang membuatnya sempat ragu dengan perasaan pria yang kini tertidur pulas disampingnya itu.
Flashback on
"Iya sayang, nanti nggak bakal pulang terlambat kok. Janji! hem iya, see you kak, I love you" ujar Kanaya pada pria diseberang sana yang tersambung lewat ponsel miliknya.
"Dih alay banget deh" kata Luna sewot.
"Biarin, kan suami-suami gue! malahan harus mesra terus kalo udah nikah, biar hubungannya awet. Kadang yang mesra aja masih di serobot pelakor" balas Kanaya seraya memainkan ponselnya sejenak.
"Eh guys ngomong-ngomong, kalian ingat nggak Mbak Nana" kata Cindy menimpali saat mereka tengah asyik mengobrol ria.
"Inget dong, Mbak Nana yang sekantor sama kita itu kan? yang resign karena nikah, setahun lalu itu kan?" ujar Kanaya membuat Cindy mengangguk.
"Kenapa sama Mbak Nana?" tambah Kanaya.
"Katanya mereka cerai guys, padahal anaknya masih kecil loh. Kasian banget nggak sih?" Kanaya dan Luna saling beradu pandang, mereka juga tidak menyangka jika hubungan yang dijalani teman sekantornya itu akan berakhir kandas.
"Eh yang bener?!"
"Iya, baru sebulan lalu mereka pisah" jawab Cindy saat Kanaya mulai kepo dengan kisah teman sejawatnya itu. Siapa sangka suami idaman yang di dambakan dan di banggakan oleh Nana waktu itu mengkhianatinya begitu saja.
"Katanya sih, suaminya nggak bisa move on sama mantannya. Jadi selama mereka nikah, suaminya itu nggak ada rasa sama Mbak Nana, kasian banget ya"
"Kalo nggak cinta kenapa bikin anak?" ucap polos Luna membuat Cindy dan Kanaya saling menepuk jidat mereka.
"Hey! *** itu kebutuhan kali, mau cinta nggak cinta kalo lo pengen ya sama siapa aja jadi" ujar Kanaya pada Luna yang kini masih terdiam mencerna kata-kata sahabatnya itu.
"Yups! bener banget, ibarat kata nih ya, lo lagi laper banget nih, ketemu makanan yang lo nggak suka, mau nggak mau tetep lo makan karena naluri lo yang pengen bertahan hidup. Tapi gue masih nggak habis pikir sih sama Mbak Nana" tambah Cindy membuat Luna tambah penasaran seraya menelan salivanya yang kian berat itu.
"Kenapa?"
"Iya, lo bayangin aja nih ya. Mbak Nana itu pernah cerita kalau suaminya itu baik banget, tapi anehnya nggak pernah bilang sayang atau cinta. Gitu aja Mbak Nana nggak curiga sama sekali, malah percaya-percaya aja lagi kalau suaminya cinta banget sama dia"
Flashback off
Luna menatap lembayung senja dari pintu kaca kamarnya. Pemandangan indah pantai dengan warna langit jingga dan cahaya keemasan memantul di wajahnya yang cantik. Ia memutuskan untuk tidak meminum pil itu, entah mengapa ia masih percaya jika Zayn akan membuka hati untuknya. Dengan senyuman itu, dengan perhatian yang ia buat, seolah menggenggam jemari Luna untuk tidak pergi dari hidupnya.
Mungkin sejenak terbesit di hati Luna bahwa apa yang dialami oleh Nana akan dialaminya juga. Tapi melihat kelembutan pada mata Zayn hari ini, ia tidak lagi ragu ataupun takut untuk menjalani hidupnya bersama dengan pria itu. Tidak perduli jika sejak awal Zayn tidak pernah mencintainya, tapi ia merasa bahagia jika Zayn berada di sisinya.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Zayn tiba-tiba saat tangannya yang besar memeluk pinggang istrinya yang kini tersentak.
"Nggak apa-apa, aku cuma nggak nyangka aja, ternyata orang yang selama ini mau dijodohin ke aku itu kamu, dan bos misterius yang selama ini low profile itu juga kamu" ujar Luna membuat Zayn mencium puncak kepala istrinya dengan gemas.
"Aku pun juga nggak pernah nyangka, kalau orang itu adalah kamu. Ternyata nikah itu enak juga ya" Luna terkekeh mendengar kata-kata Zayn seperti itu, padahal sebelumnya ia sempat berpikir jika pria bule yang menjadi calon suaminya adalah pria yang sudah tidak perjaka lagi, kehidupan yang semena-mena dan hanya memikirkan kesenangan belaka. Tapi setelah menikah dengan Zayn, ia tetaplah pria seperti sebelumnya, lembut dan hangat.
"Jadi, sebatas itu kamu berpikir tentang pernikahan?"
"Ya nggak dong, aku dulu pernah berpikir untuk nggak perlu nikah. Karena disini banyak orang yang nggak nikah tapi bisa bahagia, aku takut kaya kakak aku, mereka gagal dan meninggalkan satu anak yang masih kecil" Luna menghela nafasnya, ia melepaskan lengan Zayn dari pinggangnya lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap pria jakun itu.
"A-aku mau ke kamar mandi dulu" ujar pria itu lalu meninggalkan Luna yang kini hanya mampu tersenyum getir selepas pria itu pergi meninggalkannya.
"Maafin aku Zayn, maaf kalau aku egois. Aku nggak mau kamu pergi dari hidup ku, meskipun kamu nggak mencintaiku tapi aku harap kamu akan selalu ada di sisiku. Aku nggak perlu punya anak kalau kamu nggak ingin, aku bisa menahan apapun asalkan kamu selalu ada di sisiku" gumam Luna dengan satu air matanya yang menetes. Mungkin Luna tidak pernah tahu apa yang disembunyikan Zayn olehnya, selama ini hubungan mereka memang baik-baik saja meskipun tanpa ada kata sayang maupun cinta. Tapi perasaan Luna tidak bisa dibohongi bahwa ia ingin sedikit egois pada pria itu.
Keesokan harinya mereka memutuskan untuk kembali ke hotel setelah check out sebelumnya di resort dekat pantai. Mereka berjalan kearah mobil yang terparkir di area resort tersebut, namun belum sempat Luna masuk kedalam mobil, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh seseorang wanita yang berteriak dari kejauhan memanggil nama suaminya.
"Zayn! I miss you so much, how are you? he said you want to propose to me after returning from Indonesia"
("Zayn! Aku rindu sekali padamu, bagaimana kabarmu? katanya kau mau melamar ku setelah pulang dari Indonesia")
Ucapan diiringi pelukan dari arah belakang wanita itu membuat Luna terkejut. Melamar? jadi sebelumnya Zayn punya seseorang seperti itu juga? hati Luna terasa tersayat mendengar kata-kata itu, ia langsung menunduk dan memalingkan wajahnya dari Zayn Yang kini nampak hendak meraih lengan Luna, namun dengan segera Luna tersenyum padanya seperti biasanya.
."Why are you here?"
***Mimin udah mulai capek ngetl satu-satu, jadi mimin peke bahasa indo langsung aja ya, kaya percakapan Reyna sama keluarganya dulu pas di Florida, anggap aja hasil translate gitu aja, hehehe***
"Kenapa kau disini?" kata Zayn seraya melepaskan pelukan wanita itu di pinggangnya.
"Bukannya itu suatu pertanda, jika kita memang ditakdirkan bersama? ayolah Zayn, kau pernah bilang mencintai ku kan, jadi aku sudah siap untuk menikah. Jujur aku tidak bisa hidup tanpamu -"
"Stop! ayo ikut aku" kata Zayn seraya menarik lengan wanita itu dan langsung meninggalkan Luna yang hanya diam mematung seperti orang bodoh di sana. Dada Luna terasa sesak melihat wanita bule berambut pirang itu memeluk suaminya, mungkinkah ini alasannya mengapa Zayn tidak pernah mengatakan cinta kepadanya?. Dia dengan mudah mengatakan cinta pada wanita lain, tapi tidak dengannya. Apakah yang dialami Nana akan menimpanya juga?. Pikiran Luna kacau, air matanya menetes tanpa ia sadari, hatinya lebih sakit dari yang ia rasakan saat kedua orangtuanya memaksanya untuk menjodohkannya.
Luna meremas jemarinya kuat-kuat, ia segera pergi dari tempat itu dan berjalan entah kemana. Rasanya ia tidak mau lagi bertemu dengan Zayn. Niat hatinya ingin egois runtuh seketika saat hatinya di sakiti oleh pria itu, padahal ia sudah memantapkan hatinya tapi perasaan itu masih kalah akan kecemburuan yang ia rasakan saat ini. Luna berjalan lunglai, tak terasa ia sudah berjalan cukup jauh hingga memakan waktu setengah jam lamanya, bahkan karena memikirkan Zayn matanya sampai sembab dan kakinya terasa sakit.
Suara dering ponsel yang sedari tadi masuk membuatnya lama kelamaan lelah dan meraih ponselnya dari dalam tas. Wanita itu langsung memblokir nomor Zayn yang sudah puluhan kali menelponnya, namun setelah melihat layar ponselnya ia buru-buru membuka pesan saat ia mendapatkan pesan dari Kanaya.
"Oh hay! kau istrinya Zayn ya?" suara wanita itu membuat mata Luna terbelalak saat tiba-tiba wanita yang bersama Zayn tadi memberhentikan mobilnya tepat di samping Luna berdiri.
***
"Luna, kamu dimana sih?!" Zayn sudah frustasi sejak tadi, ia berkeliling pantai namun tak kunjung menemukan istrinya sama sekali, apakah wanita itu marah?, Zayn tidak mengerti sama sekali. Sejak tadi Zayn berlarian kesana kemari, ia bahkan sudah mengelilingi seluruh penjuru pantai demi mencari keberadaan istrinya namun hasilnya tetap sama saja, nihil.
Ia sudah mencoba untuk menghubungi wanita itu namun tetap saja Luna tidak mau mengangkat panggilannya. Hanya ada satu pesan darinya yang membuat Zayn tambah khawatir.
'Jangan cari aku, aku lagi mau sendiri' hanya kalimat itu yang ditulis oleh istrinya, setelah itu Luna memblokir nomornya. Padahal saat ini Zayn tengah uring-uringan, ia begitu mengkhawatirkan Luna sampai tubuhnya bergetar ketakutan. Pasalnya Luna tidak tahu daerah itu, ia tidak pernah ke Hawaii sebelumnya dan tidak pernah sendirian ketika di luar negeri, apalagi ini di tempat yang asing untuknya.
Zayn sudah menyerah, ia tidak tahu lagi harus mencari istrinya kemana, ia sampai tidak habis pikir kenapa Luna lari darinya secara tiba-tiba begini?. Zayn melangkahkan kakinya kearah mobil, kalau saja tadi ia tidak membawa Jessie pergi, mungkin saat ini wanita itu madih berada disisinya, duduk dengan senyuman yang sama seperti sebelumnya dan memegang erat jemarinya.
Zayn tidak bisa berpikir apa-apa lagi, namun ditengah kegundahannya tiba-tiba saja suara ponselnya berdering, membuatnya segera meraihnya dari kantong celana yang ia kenakan. Saat ia mulai berharap jika panggilan itu dari wanita itu, namun harapannya pun pupus saat ia melihat layar ponselnya yang terpampang nama Reyhan disana.
"Halo?"
Langkah Zayn dengan cepat berlari kearah rumah besar dihadapannya, ia buru-buru masuk kedalam rumah itu dan disambut Reyhan dan Alan dari balik pintu setelah Zayn membuka pintu tersebut.
"Rey! mana Luna? dia disini kan? Kak Alan? Luna ada dimana?" Reyhan dan Alan saling menatap saat Zayn semakin khawatir dan matanya mencari keberadaan Luna dirumah besar itu.
Reyhan memang berencana untuk ikut bulan madu bersama Zayn dan Luna. Mereka pun sebelumnya sepakat untuk tinggal bersama di rumah keluarga Zayn dan Alan saat Reyhan dan Kanaya sampai disana. Bahkan Zayn terburu-buru memesan tiket penerbangan dari Hawaii ke Florida hanya untuk menemui Luna. Rencana yang sudah dipersiapkan Zayn terpaksa gagal, dan ia teramat menyesal dengan apa yang terjadi, kebodohannya yang tidak bisa menjaga Luna, sampai ia nekat pergi dari Hawaii ke Florida sendiri.
"Sepertinya, kamu harus istirahat dulu Zayn-"
"Kak! istri ku hilang! bagaimana aku bisa istirahat kalau-"
"ZAYN! come on! please!" teriak Reyhan kesal, lalu melirik Alan untuk menghindar sejenak. Walau bagaimanapun, ini lebih sulit dari yang Reyhan pikirkan. Tak berselang lama, tiba-tiba saja mobil terparkir tepat di depan rumah megah itu, membuat keduanya saling menatap wanita yang keluar dari mobil tersebut. Kanaya mematung sejenak saat menatap Zayn yang berdiri dengan wajah kacaunya di samping suaminya. Kanaya menghela nafas, ia kemudian menghampiri mereka berdua dan mengajak Zayn berbicara.
Saat ini aura tegang telah menyelimuti ruang keluarga, terkecuali Zayn yang hanya memikirkan Luna sejak tadi, terlihat matanya yang berkaca-kaca, dan teramat mengkhawatirkan istrinya satu itu.
"Zayn, sementara kamu nggak perlu khawatir sama Luna, dia ada kok sama aku-"
"Mana? dimana Luna sekarang? tolong kasih tau aku Nay!" ujar Zayn berapi-api membuat Reyhan ingin sekali memukul wajah pria itu saat ini.
"Lo mau apain Luna? lo mau nyakitin dia lagi?" Zayn membelalakkan matanya, menyakiti? bahkan selama ini ia sudah memberikan yang terbaik untuk menjadi suami. Hubungan mereka baik-baik saja, bahkan mereka selalu mengobrol tiap kali bertemu meskipun hanya obrolan ringan, selama ini senyuman Luna tidak pernah berubah sedikitpun, kecuali ekspresi Luna saat Zayn menarik Jessie dari hadapan istrinya itu.
"Lo narik cewek lain di depan istri lo! lo pikir dia nggak sakit hati?" geram Reyhan dengan berapi-api membuat Zayn tercengang dengan apa yang dikatakan Reyhan.
"Gue nggak ngelakuin apapun kok. Gue cuma bilang ke Jessie biar dia nggak deketin gue karena gue udah nikah. Udah itu aja!" kali ini Kanaya sudah tidak tahan lagi, wajah wanita itu mendadak kesal saat Zayn memaparkan cerita yang menurutnya ia tidak bersalah sama sekali. Padahal terlihat jelas jika hal itu dapat menimbulkan kesalahpahaman. Kanaya beralih bangkit setelah ia memenangkan suaminya dengan menahan tubuh Reyhan agar tidak naik pitam.
"Zayn, kayanya kamu belum siap deh buat nikah. Kamu itu suaminya Luna, gimana kalau keadaan dibalik, kalau Luna ditarik seorang pria asing dihadapan kamu-"
"Aku-"
"Zayn, Luna bilang ke aku, dia pengen pisah dari kamu. Dia nggak mau hidup bersama laki-laki yang nggak mencintai dia-"
"AKU CINTA LUNA!" Zayn bangkit seraya berteriak kencang, nafasnya menggebu dengan air matanya yang menetes deras, meninggalkan penyesalan yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidupnya. Baru satu bulan menikah dan istrinya ingin menggugat cerai dirinya? hal itu sama sekali tidak lucu baginya.
"Lo baru bilang lo cinta ke dia setelah Luna pergi? dan bahkan lo ngomong kaya gini, enggak di depan matanya sendiri? kemana aja lo selama ini?"
"Dimana Luna sekarang? please gue mohon, gue pengen ketemu sama dia" ia tak menghiraukan kata-kata Reyhan yang tak kalah kesal menahan amarahnya sejak tadi. Bagaimana ada pria yang tidak peka seperti ini, bahkan pria yang selama ini terlihat dingin dan hanya hangat kepada keluarganya itu menangis sesenggukan dan hanya memikirkan keberadaan Luna saja.
"Zayn tenang dulu-" ujar Kanaya yang merasa kasihan dengan keadaan Zayn yang seperti putus asa.
"Gimana gue bisa tenang! gue tau gue salah, gue pengen memperbaiki hubungan gue! gue nyesel nggak pernah mikirin perasaan dia, gue-" Zayn berlutut dihadapan Reyhan dan Kanaya, ia menangis seraya memanggil nama Luna berulangkali membuat keduanya frustasi.
"Oke! gue bakal kasih tau Luna dimana, tapi lo harus janji sama gue, kalau Luna pengen pisah dari lo, lo jangan ngehalangi dia Karena selama ini, dia udah mendam semua rasa sakitnya sendiri" ucap Reyhan menyerah dengan keadaan Zayn yang sudah kacau itu. Ia juga tidak tega jika harus membuat saudara tirinya itu menderita karena kesalahpahaman yang ia buat sendiri.