The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kebetulan



Zayn tengah fokus pada pekerjaannya, selesai acara pernikahan adiknya, ia kini kembali dalam rutinitas kesibukannya seperti biasa.


"Zayn, ada berkas yang harus lo tanda tangani" kata Reyhan seraya memberikan tumpukan berkas disamping komputer Zayn yang kini masih tak menggubris perkataan Reyhan.


"Iya, nanti gue tanda tangani kok" ujarnya membuat Reyhan mengangguk dan berlalu pergi. Namun belum sempat jauh Reyhan kembali lagi dan tersenyum penuh arti pada Zayn yang kini menatap heran pada dirinya.


"Ngapain balik?" tanya Zayn membuat Reyhan masih tersenyum kearahnya.


"Boleh nggak cewek gue jadi asisten pribadi gue?" pertanyaan itu sontak membuat Zayn menggeleng dibuatnya. Anak ini benar-benar kebelet kawin apa? Zayn sampai tidak habis fikir, ditengah tertekannya hidupnya atas pemaksaan papa. Reyhan masih saja tak memperdulikan itu.


"Lo tau kan pacar lo itu cuma kerja di divisi. Kalo lo butuh apa-apa emang dia bisa nanganin?"


"Yaelah Zayn, cuma salin berkas, fotokopi, dan nyiapin kopi aja gampang kok. Lagian kalo cewek gue nggak bisa, kan masih ada asisten lu" mata Zayn membulat dibuatnya. Kalau saja ini perusahaannya dan bukan perusahaan Reyhan, pasti sudah nangis Reyhan ia suruh menjadi OB.


"Kerja yang bener, jangan pacaran mulu" kata Zayn membuat mata Reyhan penuh harap dibuatnya.


"Jadi boleh nggak nih?" Zayn melirik Reyhan dengan seksama. Kasihan juga kalau ditolak, tak apalah, sebentar lagi Kanaya juga akan resign setelah menikah. Membuat Reyhan senang sepertinya tidak ada ruginya. Toh nanti kalau ia kesusahan pasti Zayn juga akan minta imbalan.


"Terserah lo deh" kata Zayn membuat Reyhan buru-buru menghampirinya dan memeluk saudaranya itu dengan erat.


"Makasih Zayn! lo bener-bener saudara gue yang terbaik" ujar Reyhan yang masih mengeratkan pelukannya pada Zayn yang tengah mencoba untuk memberontak.


"Lepasin gue *****!" Zayn mendorong tubuh Reyhan membuat pria itu terkekeh dibuatnya. Reyhan buru-buru berlari dengan senyumannya yang mengembang. Bisa Zayn tebak jika Reyhan begitu mencintai Kanaya. Tapi bagaimana dengan dirinya? kalau saja papanya bisa santai sedikit, pasti ia takkan merasa iri pada saudaranya itu.


Suara telepon berdering dihadapan Zayn, ia langsung mengangkat panggilan itu seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing.


"Halo direktur..." suara tersebut membuat Zayn mengangguk dan menatap lamat-lamat layar monitor dihadapannya.


"Oke, saya akan segera kesana" ujarnya buru-buru. Zayn segera bangkit, ia merapihkan jas yang ia kenakan lalu segera melangkah untuk keluar.


Zayn melangkahkan kakinya buru-buru, pria itu masuk kedalam lift dan segera menekan angka. Sesekali ia mengecek ponselnya, seraya menunggu. Untung saja lift sepi saat ini, byasanya is akan naik lift khusus untuk para atasan. Namun kali ini dirinya buru-buru, karena ada pertemuan di restoran terdekat.


Setelah menunggu beberapa menit, lift berhenti di lantai lima. Pintu lift pun terbuka, dan terlihat seorang gadis yang kini membelalakkan matanya menatapnya seraya masuk begitu saja sambil memasang wajah kesal.


"Lo!-" Zayn hanya menatapnya sekilas, ternyata gadis yang kemarin itu bekerja di perusahaannya juga. Benar-benar kebetulan sekali.


"Ternyata lo kerja disini juga?!" kata Luna yang kini menyeletuk tanpa tau jabatan dari Zayn sebenarnya. Berani-berani sekali dia, pasti pegawai rendahan, makanya tidak kenal atasan sendiri. Pikir Zayn yang masih kesal pada gadis yang kini sedikit meliriknya itu.


Zayn memang begitu dingin, ia bahkan tak menggubris apa yang dikatakan Luna membuat gadis itu mengeratkan giginya seraya menahan amarah. Sombong sekali gayanya, paling-paling cuma manager doang pakek jas segala. Batin Luna mengumpat dalam hatinya.


Ting!


Namun belum sempat ia berjalan menjauh, tiba-tiba kakinya tersandung dan hampir terjatuh. Namun dengan cepat tangan Zayn meraih tubuh gadis itu. Luna membelalakkan matanya, ia menatap Zayn yang kini masih dengan pandangan datarnya.


Buru-buru Luna menghindar dan segera bangkit. Perasaannya berubah menjadi gugup saat ini, entah mengapa.


"Ma-makasih" ujarnya seraya pergi menjauh dari tatapan Zayn yang kini masih terkunci pada tubuh gadis itu yang semakin menghilang dari penglihatannya.


***


"Luna, minggu hang out yuk! temenin gue beli parfum ya" kata Cindy yang kini duduk seraya memberikan nampan berisi mie rebus kesukaannya.


"Boleh, boleh! sekalian gue mau cari hadiah buat mama" ujar gadis itu membuat Cindy segera duduk dihadapan sahabatnya itu.


Saat ini mereka telah berada di kantin untuk makan siang. Semenjak mereka tau jika Reyhan dan Kanaya akan menikah, Kanaya jadi sibuk dan jarang berkumpul bersama. Jadilah tinggal mereka berdua yang selalu keluar bersama maupun makan di kantin.


Namanya juga bos, wajar kalau Kanaya kini menikmati harinya bersama kekasihnya.


"Tante ulang tahun ya?" pertanyaan itu membuat Luna yang kini tengah memakan mie menggeleng. Ia melanjutkan makan siangnya dan menelan mie-nya sebelum menjawab pertanyaan dari Cindy.


"Nggak sih, tapi gue mau pulang bulan depan. Tiap pulang gue pasti bawain oleh-oleh buat mama" kata Luna membuat Cindy manggut-manggut.


"Acara apa disuruh pulang?" seketika Luna menghentikan makannya, ia menghela nafas berat dan segera meminum es teh dihadapannya.


"Gue mau dijodohin" sontak saja mata Cindy membulat. Dijodohkan? apa tidak salah? Cindy mencoba menatap kesungguhan dari mata Luna yang kini tengah lesu itu.


"Hah?! beneran? lo dijodohin sama siapa Lun?" Luna mengedikkan bahunya. Entah dengan siapa ia sendiri juga tidak tau. Yang pasti ia tidak bisa menghindar dari kenyataan.


"Gue juga belum tau, tapi lo tau sendiri kan kalo nasib kakak-kakak gue juga kaya gitu. Cuma bedanya kedua kakak gue dijodohin sama cowok pilihan mama. Tapi kali ini gue dijodohin sama pilihan papa."


"Serius lo?! jangan-jangan lo mau dijodohin sama tentara ya?" celetuk Cindy membuat mata Luna membulat sempurna. Ia bahkan tidak pernah terfikirkan tentang apa profesi calon suami yang akan dikenalkan papanya nanti. Tapi apa yang dikatakan Cindy masuk akal juga. Dengan latar belakang papanya, mana mungkin ia dijodohkan dengan orang biasa.


"Hah! nggak tau gue. Gue aja pusing sekarang" Luna menahan dagunya diatas meja. Perkataan Cindy barusan membuat ia semakin kepikiran saja.


"Lo itu sebenernya nggak mau dijodohin kan? kenapa lo nggak ngomong aja sama papa lo?"


"Nggak bisa Cin, gue nggak berani" terang Luna membuat Cindy tak habis fikir dibuatnya.


"Terus lo mau gimana?" fikiran Luna melayang. Ia tiba-tiba memikirkan pria yang kemarin ditabrak olehnya sekaligus pria yang tadi pagi satu lift dengannya.


Lumayan juga pria itu, matanya cokelat terang dengan wajah sedikit bule. Bisa ditebak jika pria itu blasteran. Luna senyum-senyum sendiri mengingatnya. Andai saja sifatnya tidak sedingin itu, mungkin bisa jadi Luna akan jatuh cinta pada pandangan pertama Padang.