
Ada yang penasaran nggak sama Luna?
Cocok nggak nih sama babang Zayn kira-kira? 😂😂
Oh ya, btw si Reyna sama Yasya lagi bulan madu, jadi sementara author nggak mau ganggu dulu. Biarkan mereka bikin keponakan buat kalian aja 😋
Sementara nunggu mereka balik, author cari jodoh buat si Zayn nih wkwk 😂
_____________________________________________
Langit yang tadinya cerah, kini berubah menjadi warna jingga dilangit. Langkah gontai kaki Luna menyusuri jalanan ramai dengan pemandangan langit sore disisi kiri jembatan. Tempatnya tampak sepi, hanya dirinya seorang. Luna melangkah kearah jembatan itu, ia menatap sungai besar dihadapannya yang membentang dengan matahari yang hampir tenggelam ditengahnya.
Beberapa kali ia selalu melewati tempat ini, tapi baru kali ini Luna menikmati pemandangan ini yang begitu hangat ditengah ramainya lalu lalang kendaraan dibelakangnya.
Fikirannya menerawang, masih tentang ketidaksiapannya untuk menghadapi perjodohan yang sudah orangtuanya atur. Mungkin sedikit melihat pemandangan ini dapat menghangatkan perasaannya yang tengah bimbang.
Luna memegang pinggiran jembatan kuat-kuat, ia hendak memanjat jembatan itu. Beberapa kali ketika Luna melewati jembatan ini, seringkali ia melihat sepasang kekasih duduk disini. Yang perempuan duduk dengan rengkuhan pria dibelakangnya agar tidak jatuh. Cukup ekstrim, tapi momen itu yang paling romantis baginya.
Belum sempat kaki gadis itu menanjak tiba-tiba seseorang menarik pinggangnya dan menggendongnya untuk menjauh dari jembatan itu.
"Aaahhhh lepasin! siapa lo!" teriaknya seraya memukul keras punggung pria yang kini menurunkannya.
"Lo gila ya?! kalo mau bunuh diri jangan disini!" teriak pria itu membuat Luna menggeleng dan menatapnya dengan kesal. Bunuh diri? siapa juga yang berfikiran sempit seperti itu. Pria yang tadi bersikap dingin padanya kini sok-sokan menolongnya. Benar-benar drama yang tidak bermutu bagi Luna.
"Lo yang gila! lo nggak liat tuh!" tunjuk Luna menggunakan dagunya pada seorang gadis yang kini duduk diatas jembatan bersama dengan pacarnya yang terlihat memegangi pinggangnya. Mereka agak jauh dari sini, tapi Zayn dan Luna bisa melihat dengan jelas pemandangan itu.
Zayn melongok dibuatnya, ternyata duduk disini adalah hal yang biasa. Ia bahkan baru tau akan hal itu, tau begitu ia takkan repot-repot turun dari mobil dan menarik gadis gila dihadapannya ini. Meskipun begitu Zayn tidak mau terlihat ia yang bodoh, ia harus bersikap tenang agar tidak merasa malu.
"Otak lo dimana sih, lo itu sendiri, kalo nggak ada yang liat terus lo jatuh, mati gimana?! mikir" kata Zayn dengan nada tinggi membuat mata Luna membulat sempurna.
"Lagian lo ngapain sih mau naik-naik kesitu sendirian? cari mati ya?"
"Sembarangan kalo ngomong, ngapain juga lo pakek repot-repot ngurusin hidup gue. Perhatian banget lo sama hidupnya orang" tukas Luna membuat Zayn mengerutkan keningnya. Ia juga, kenapa dirinya tadi bicara seolah perhatian pada gadis dihadapannya ini. Ini dirinya yang bodoh atau bagaimana?
Luna menggeleng seraya memutar bola matanya, tidak penting sekali baginya meladeni pria dihadapannya itu. Gara-gara dirinya moodnya makin hancur saja, benar-benar menyebalkan. Luna buru-buru melangkahkan kakinya, hendak menjauh dari pria itu. Namun tanpa disangka, pria itu menarik lengan Luna.
"Udah ditolongin, tapi ternyata gini balesen lo! maen pergi nggak pakek terimakasih
"Tapi kok gue nggak ngerasa ditolongin ya, yang ada mood gue jadi tambah berantakan gara-gara lo" kata Luna seraya melangkah menjauh dengan segenap amarahnya. Gadis itu benar-benar membuat Zayn tak mengerti. Dulu setiap wanita yang Zayn kenal tidak pernah bersikap kasar maupun memakinya. Kalaupun wanita lain ada di posisinya pasti dirinya sudah terpaku pada ketampanan Zayn.
Tapi gadis ini berbeda, sifatnya angkuh dan tidak mudah untuk ditangani. Apalah pandangannya, meskipun Zayn menemukan kebencian saat gadis itu menatap dirinya, tapi ada tatapan kesedihan dibalik matanya.
"Cewek sinting!" ujar Zayn kemudian segera menaiki mobilnya.
***
Luna duduk disebuah halte, langit menggelap bersamaan dengan rasa lelahnya. Padahal ia baru saja menikmati indahnya langit sore. Tapi gara-gara pria tadi, momen yang seharusnya ia rasakan kini harus pupus begitu saja. Tak apa, lain kali dirinya akan pergi kesana lagi kalau hatinya merasa tak tenang.
Luna sudah menunggu selama lima menit, namun kendaraan yang ia tunggu belum juga lewat. Bus bahkan taksi, tak ada satupun yang terlihat melewati jalan itu.
Luna menghela nafasnya, kalau saja dirinya tidak bersikukuh untuk mandiri. Pasti dari awal dia sudah dibelikan mobil oleh orangtuanya. Tapi bagaimanapun, ini juga sudah menjadi keputusannya. Ia harus mandiri, tak ingin menunjukkan harta maupun apa yang dimiliki papa mamanya.
"Cewek, boleh kenalan nggak?" tanya seorang pria yang kini tiba-tiba muncul dan menyandarkan punggungnya di tiang halte. Luna menggeleng, tamat sudah riwayatnya kali ini. Bisa terlihat laki-laki itu memakai kaos oblong dengan celana jeans compang-camping. Luna menunduk, ia bangkit seraya hendak melangkahkan kakinya, namun belum sempat ia berjalan terlihat sepatu seorang pria yang kini berdiri dihadapannya.
Penampilannya hampir sama dengan orang yang kini berada dibelakangnya. Atau jangan-jangan....
"Ma-mau apa kalian?!" gadis itu panik seketika. Inilah yang ia takutkan jika pulang malam-malam, Luna juga bodoh mengapa tadi tidak langsung pulang saja.
Dua pria itu kini hampir mengapit tubuhnya membuat Luna terduduk ditempat yang sama.
"Cewek cantik kayak gini, pasti belum punya pacar dong. Kalo punya ngapain sendirian disini ya nggak?" sahut pria yang berada disebelah kiri Luna membuat jantungnya terasa berdetak kencang.
"Neng, main yuk sama abang, makin malem suasananya makin dingin lo. Abang angetin yuk" ujar pria satunya yang kini memegang lengan Luna membuat gadis itu memberontak.
"Jangan, jangan sentuh saya!" Luna mencoba untuk bangkit, ia hendak lari, namun dengan cepat kedua pria itu mencekal lengannya. Mata Luna mulai berkaca, ia benar-benar ketakutan saat ini.
"Eh, kok buru-buru sih neng, ayo dong main sama abang"
"Lepasin! saya mau pulang!" teriak gadis itu seraya memberontak. Namun mereka saling memberikan isyarat. Jalanan yang sepi membuat kedua preman itu semakin berani.
Luna ditarik dengan kencang, gadis itu mencoba untuk meminta tolong seraya menangis sejadi-jadinya. Bagaimana ini? pikiran Luna benar-benar buntu.
"Tolong! lepasin saya! apapun yang saya punya pasti saya bakal ngasih, tapi tolong lepaskan saya" isak gadis itu yang kini diseret paksa oleh kedua preman itu yang kini mendorong tubuhnya dibangunan tua, tepat dibelakang halte tadi.
"Mau neng yang cantik ini teriak-teriak, nggak bakalan ada yang nolongin. Jam segini pas sepi-sepinya pas enak-enak nya" ujar pria itu membuat Luna semakin terisak ketakutan. Pria itu mendorong tubuh Luna hingga membuat gadis itu terjatuh dan segera berlutut seraya memejamkan matanya.