
Suara alarm dari jam beker diatas nakas bernuansa putih itu berbunyi nyaring, membuat gadis yang kini tengah terlelap terbangun dengan malas. Rambut berantakan itu menjadi ciri khasnya tiap bangun dari mimpinya yang indah.
"Hoammmhhp."
Gadis itu menguap, kemudian tangannya dengan perlahan menekan ujung jam beker itu yang kemudian berhenti seketika.
Pandangannya meluas, meraba ponsel yang kini tergeletak tepat disamping jam beker yang baru saja berbunyi.
Terlihat wallpaper ponsel itu membuat hatinya kian berdebar ketika baru bangun dalam tidurnya.
"Selamat pagi Alfian" ucapnya sambil terus tersenyum dengan hangat.
Gadis itu menekan beberapa kali tombol dan menggesernya perlahan, memanggil seseorang dalam ponselnya.
tut... tut....
Suara itu terus terdengar ditelinganya, tanpa ada respon dari pria disebrang sana.
Beberapa detik kemudian, panggilan itu akhirnya terjawab, membuat senyumnya tambah mengembang.
"Hallo."
Suara merdu disebrang sana membuat gadis itu kembali semangat dan bangun dengan sehat.
"Hallo dokter ku, selamat pagi" ucapnya dengan ceria.
"Sudah aku bilang Ra, jangan pernah telfon aku lagi, aku cuma pengen hidup dengan tenang" ucapan dari Alfian membuat hati Clara bergetar, lidahnya kelu bersamaan dengan kenyataan.
"Al... jika kita tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi, izinkan aku untuk menjadi sahabat kamu."
"Cukup Clara.... kamu sudah tau kan apa yang aku mau, seharusnya kamu paham dengan perbuatan kamu sendiri."
"Apa itu semua karena gadis itu? gadis yang pernah kamu rawat dan kamu dampingi selama berada di Florida?" Alfian terdiam, ada rasa kecewa yang timbul dalam hati gadis yang kini memandang celah jendela itu dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kenapa Al? kamu nggak bisa jawab, itu artinya memang benar."
"Itu semua bukan urusan kamu Ra."
"Al.... apa kau tidak mencintai ku lagi?" Alfian terdiam, nafasnya seperti tersengal bak berlari maraton. Dada pria disebrang sana mendadak berdebar, dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya.
"Katakan Al, apa kau tidak mencintai ku lagi?"
tut.. tut...
Alfian menutup telfonnya sepihak, membuat gadis yang kini terduduk itu kini menangis. Mengalirkan air mata yang menetes membasahi pipi mulusnya.
"Aku tidak tau Ra, aku nggak ngerti sama perasaan ku sendiri. Yang aku tau, kamu cukup membuat aku kecewa" ucap Alfian seraya menghempaskan fotonya bersama Clara diatas meja kerjanya.
Langkah Falery diliputi amarahnya yang melanda, tak sengaja suara seorang perempuan mengejutkannya kala namanya disebut.
"Nona Falery" Falery membalikkan tubuhnya, menatap Lucy yang kini mendekat kearahnya.
"Untunglah kau masih ada disini nona, maafkan aku, aku terlambat dan" belum sempat gadis itu menyelesaikan kata-katanya, Falery mengangkat sebelah telapak tangannya.
"Kau bawa mobilku, aku ada urusan"
"Tapi nona, rapatnya? apakah sudah selesai?" tanya Lucy yang kini terlihat heran dengan bosnya satu ini.
"Persetan dengan rapat, cepat bawa mobilku kembali."
"Kau akan segera menjalankan perintah ku atau mau ku pecat!" ucapan dan tatapan tajam dari gadis itu membuat Lucy mengangguk dan menunduk mengerti. Gadis itu dengan cepat berjalan melalui area parkiran yang luas didalam gedung.
Gadis itu melanjutkan langkahnya dengan cepat hingga dirinya keluar dari perusahaan yang memuakkan untuknya.
Kini gadis itu telah sampai didepan gedung perkantoran bertingkat dengan ekspresinya yang bisa membuat orang yang dilaluinya menatap heran padanya.
Dakkkk....
"Aw.... shit....! Sialan....!" umpatnya kala dirinya terjatuh tak sengaja tertabrak oleh tubuh seorang pria yang tak jauh lebih tinggi darinya.
"Maaf" ucapnya seraya mengulurkan tangannya, namun ditepis olehnya, membuat pria itu tersenyum. Falery segera bangkit dan menatap benci pada pria dihadapannya.
"Apa kau tidak bisa berjalan menggunakan matamu? apa kau tidak lihat ada manusia yang lewat didepan mu hingga kau seenaknya melangkahkan kakimu?" kata Falery dengan nada tinggi dan mata yang berapi-api, membuat pria itu memijit pelipisnya.
"Ckck aku berjalan menggunakan kaki, bukan mata nona, lagipula aku sudah meminta maaf dan mencoba untuk menolongmu. Kau saja yang menolak niat baikku."
Falery mengalihkan pandangannya,dan segera melangkahkan kakinya menjauh dari pria yang tidak ia kenal itu.
Namun belum sempat jauh dari tempatnya berdiri, tangan Falery ditarik oleh pria tersebut dari belakangnya hingga dirinya terjatuh menindih tubuh pria itu, membuat gadis itu langsung bangkit.
"Apa kau gila! apa masalah mu haaa?" kata Falery dengan nada kesal sembari memaki pria itu.
"Tidak ada, hanya saja aku sedikit tertarik padamu nona Falery Gilbert."
Falery melangkah mundur, memberi jarak pada pria yang kini telah bangkit dan mencoba mendekat kearahnya.
"Kau... bagaimana kau bisa tau namaku?" ucap Falery dengan gerakan kuda-kudanya yang siap untuk menghajar pria itu.
"Apa kau tau, bagiku mengenal semua orang dikota ini sangatlah mudah... bukan hanya kau, keluargamu aku tau semuanya."
Pria itu semakin mendekat, membuat Falery menghentikan gerakan kuda-kudanya.
Pria itu menarik lengan Falery, hingga gadis itu menghimpit dada pria itu. Falery mendorong pria itu dan segera memukul lengannya, dan menendang kakinya hingga dirinya terjatuh.
"Ahhhh."
"Kau telah melakukan pelecehan padaku. Jika kau macam-macam, takkan kubiarkan kau hidup dengan tenang."
Pria itu kembali bangkit dan memegang punggungnya yang terasa sakit, pria itu meringis kesakitan walau yang didapatkannya hanya sebuah pukulan ringan dari Falery.
"Hebat juga... semakin kau melawan, semakin aku tertarik padamu."
Pria itu kini menarik lengan gadis itu, membuat dirinya membelalakkan matanya.
"Lepas" ucap Falery sambil menghempaskan tangannya yang tak kunjung dilepas oleh pria asing itu. Namu dari belakang ada tangan yang menahan pria itu membuat Falery membalikkan tubuhnya.
"Lepaskan dia" ucap Yasya dengan tegas membuat pria itu melepaskan lengan Falery.
"Kenapa kau ikut campur! aku adalah investor mu Iryasya."
"Dia adalah kekasihku, jika kau berani menyentuhku, maka Irya yang akan membuat perhitungan padamu" ucapan dari Falery membuat Yasya membulatkan matanya apalagi dengan posisi Falery yang kini memegang erat tangannya. Pria itu seperti tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Falery barusan, membuat senyumnya mengembang untuk kesekian kalinya.
"Oh jadi kau saingan cintaku!" kata pria dengan pandangannya yang membunuh.
"Tuan William maaf, anda adalah investor kami, tapi saya adalah direktur dari perusahaan Forest. Jika kau tak bisa menjaga sikapmu, aku tidak perlu bantuan mu untuk berinvestasi di perusahaan ini."