The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kenyamanan



"Aku tidak ingin berdebat dengan mu lagi, terserah kau mau bilang apa" ucap Falery seraya pergi keluar dari ruangan Yasya.


"Huffft....."


Falery mendengus, matanya berkaca-kaca seperti hendak mengeluarkan air mata. Gadis itu memejamkan matanya, tangannya mengepal dengan sempurna, sedang hawa dingin yang ia rasa hanya seperti angin lewat berlalu.


drtt.... drrt...


Getar bunyi ponsel yang berada di sakunya membuat gadis itu mengalihkan pandangannya, menatap layar ponsel yang bertuliskan nama Alfian disana.


"Hallo Al?"


"Hallo sayang. Kau sedang apa? sudah makan siang?"


"Belum."


"Fay, kau kenapa?


"Aku tidak apa-apa."


"Benarkah? kau seperti sedang tidak senang."


Falery memijit pelipisnya yang terasa pusing, gadis itu menggigit bibir bawahnya, merasa lebih tenang ketika Alfian mulai terdengar perhatian padanya.


"Sepertinya aku hanya butuh minuman hangat" ujar gadis itu dengan senyuman dipipinya, langkah kaki seorang pria yang kini membelakangi tubuhnya tak jauh dari tempatnya berdiri, terhenti dan memperhatikan Falery dengan tatapan sayu.


"Baiklah. Aku akan menjemputmu kita sekalian makan siang. Kau tunggu aku disana okay!."


"Baiklah, jangan lupa berpakaian hangat ya!" Falery tersenyum hangat seraya menutup ponselnya dengan segera, gadis itu melangkah dengan langkah pasti dan senyum semangat yang telah kembali.


"Alfian?" gumam Yasya secara diam-diam.


Suasana dingin menyelimuti halaman kantor pencakar langit perusahaan Forest, Terlihat dari atas gedung pemandangan para karyawan dan karyawati yang tengah melakukan pekerjaannya masing-masing melalui gedung kaca setinggi ratusan kaki itu.


Hawa dingin semakin merambah kala Falery menginjakkan kakinya tepat keluar dari hawa perkantoran kini bisa bernafas lebih lega daripada sebelumnya.


Gadis cantik itu menyapa dan tersenyum senang pada pria yang kini tengah menunggunya didalam mobil berwarna merah dengan pakaian yang hangat dan syal tebal miliknya, tersenyum membalas sapaan dari calon tunangannya.


***


Pria itu melangkah keluar, menjemput Falery yang kini berjalan mendekat dan segera menggandeng tangannya yang semakin dingin diterpa salju yang berjatuhan.


"Kau sudah lama menunggu?" pertanyaan itu membuat Alfian menggeleng dan tersenyum hangat.


"Tidak, aku baru saja sampai. Jika menunggu lama aku bisa bertemu denganmu, maka aku akan memilih sabar daripada tidak berada dihadapan mu saat kau berada disana."


Ucapan Alfian membuat Falery terkekeh sambil menggenggam erat tangan pria yang kini tepat berada dihadapannya.


"Hahaha... darimana kau belajar menggombal seperti ini?."


"Dari Cla...." ucapan itu terhenti seketika dari mulut Alfian, membuat gadis dihadapannya mengerutkan keningnya oleh wajah Alfian yang kini mendadak murung.


"Cla siapa?" Alfian menggeleng sambil tersenyum kembali, kedua tangannya menggenggam tangan Falery dan 'cup'. Kecupan hangat mendarat di kening gadis itu membuat sang empunya mengeluarkan semburat merah diwajah cantiknya.


"Aku mencintaimu Fay" ucap Alfian seraya memeluk erat tubuh gadis dihadapannya.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mu, aku janji" Alfian membelai lembut rambut panjang gadis itu dan tersenyum tenang. Tiba-tiba saja tanpa sepengetahuan penglihatan gadis itu Alfian mengeluarkan tatapan sayunya sambil menyunggingkan senyum palsu.


"Reyna? kenapa kau melakukan ini? apakah kau begitu membenciku sehingga kau lupa akan siapa aku? aku tetap Yasya mu Reyna!" ucap pria yang kini tengah menatap pemandangan jauh dari tempat Yasya berdiri. Tatapan mata kecewa dan sedih menjadi satu, rasa sakit yang ia rasa seperti tamparan untuknya.


Yasya memejamkan matanya merasakan sakit yang ia pendam setiap kali melihat pemandangan yang selalu membuatnya terluka.


***


Nyanyian dengan melodi lembut ditengah musim yang telah berganti, menjadi hangat bagai harmoni didalam ruangan restoran bernuansa klasik, beberapa orang tengah bersantai menikmati makan siang atau hanya sekedar melepas hawa dingin yang menerpa.


Seorang gadis kini menyesap secangkir kopi hangat, meletakkannya dengan anggun tatkala selesai dengan rasa hangat yang baru saja ia nikmati.


Gadis itu menyunggingkan senyumnya sambil memainkan jemarinya diatas meja berhadapan dengan Elizabeth.


"Katakan apa yang ingin kau sampaikan El."


"Aku butuh sebuah informasi."


Clara menaikkan sebelah alis dan pundaknya, gadis itu terlihat penasaran dan heran dengan sahabatnya yang kini menatapnya dengan tatapan serius.


"Seseorang?" Elizabeth mengangguk dan tersenyum mengiyakan, diraihnya kopi yang berada tepat dihadapannya dan menyesapnya dengan perlahan.


"Aku ingin kau mencari tau siapa gadis dalam foto ini?."


Elizabeth menyerahkan sebuah foto pada sahabatnya, membuat Clara menggeleng sambil menatap tak mengerti.


"Siapa dia?"


"Kau yang harus mencari tahu Clara, semua informasi ada dibalik foto itu. Namanya Reyna Malik."


Clara membulatkan matanya, ada perasaan akrab saat sahabatnya menyebutkan nama itu, nama yang tak asing bagi Clara.


"Dia orang Indonesia, bukankah mudah bagimu seorang agen rahasia menemukan identitas orang seperti dia?."


Clara menutup mulut sahabatnya sambil menatap tajam pada Elizabeth yang kini memutar bola matanya malas.


Profesi Clara memang bukan rahasia lagi bagi Elizabeth yang telah lama menjadi sahabatnya, namun kini dengan rasa tak mengerti dan penasarannya, gadis itu akhirnya dapat memanfaatkan profesi sahabatnya hanya untuk mencari tahu sosok gadis yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya.


"Apa kau tidak bisa mengeraskan suaramu lagu ha?!"


"Santai saja, tidak akan ada yang perduli dengan profesimu, kau terlalu banyak menyamar, jika identitas mu diketahui maka tinggal lari dan berubah menjadi orang lain" ujar Elizabeth dengan suara pelan, membisikkan kata-kata pada Clara yang kini menatap kesal pada sahabatnya itu.


***


"Kau ingin makan dimana sayang?" pertanyaan itu dibalas senyuman dari Falery yang kini memeluk lengan Alfian tepat didalam mobil.


"Terserah kau saja."


Falery memejamkan matanya, ada sebuah kenyamanan yang ia dapat dari sosok Alfian.


Hari semakin sore, padahal siang masih terjadi beberapa jam saja, tak heran ketika musim dingin tiba malam akan cenderung lebih panjang seperti yang kini dirasakan Falery.