
"Hahaha, jadi itu alasan kamu kesel ha? Reyna, Reyna... mau kamu belum mandi sekalipun, ataupun kamu baru bangun tidur kamu tetep yang paling cantik buat aku sayang. Kamu nggak perlu dandan aja udah cantik banget" ucapan Yasya membuat Reyna menahan malunya. Wajahnya semakin memerah tatkala Yasya mengatakan hal manis tersebut kepadanya.
Gadis itu hanya tersenyum menunduk sembari sesekali melirik Yasya dengan wajahnya yang semakin memerah.
"Ah, udah ah, aku mau istirahat dulu" kata Reyna seraya menyembunyikan semburat merah dipipinya.
Gadis itu hendak mematikan panggilan, namun Yasya mendekatkan wajahnya kearah layar seolah hendak menyentuh gadis itu dengan lembut.
"Selamat malam sayang, aku mencintai kamu" kata Yasya membuat Reyna tersenyum malu sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.
Gadis itu hanya menggeleng dengan senyumnya yang manja, membuat Yasya rasanya seperti tak sabar ingin menemuinya.
Reyna segera mematikan panggilannya tatkala Yasya mulai menunjukkan tawanya yang membuat gadis itu semakin menggila dibuatnya.
Setelah selesai dengan acara panggilan video, gadis itu menyentuh gemas kedua pipinya yang semakin menghangat sambil memejamkan matanya.
"Yasya... uuuuggghhht" ujarnya sembari memeluk guling yang berada dibelakangnya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa gadis itu sangat merindukan kehadiran Yasya untuk selalu berada disisinya. Tak bisa dibayangkan ketika mereka bertemu nanti, akan jadi apa perasaan bahagia Reyna.
Reyna melangkahkan kakinya mendekat kearah cermin yang memantulkan wajah cantiknya. Gadis itu menopang dagunya dan memperhatikan wajahnya yang tengah senyum-senyum sendiri.
Tangannya dengan lihai menyisir rambutnya yang kini mulai kering. Gadis itu menarik pintu bufet tepat berada di meja riasnya. Dibukanya buku berwarna coklat tersebut, terlihat foto-fotonya bersama Yasya semasa ia bersekolah dulu.
Begitu melihat foto tersebut bayangan masa lalu mereka kini seolah terbuka kembali. Rasanya lima tahun berlalu seperti mimpi untuknya, terlalu singkat untuk diingat.
Foto yang selama ini ia dustai ternyata memang adalah ingatannya yang hilang. Reyna bahkan melupakan masa lalunya yang begitu indah bersama Yasya.
Ia membuka lembar foto berikutnya, dilihatnya foto ketika mereka berada dipantai, dan foto saat mereka piknik di hari minggu mendekati ujian. Kali itu hanya Yasya yang memberikan semangat untuknya, hanya Yasya yang tau keadaannya.
Perlahan mata gadis itu berkaca tatkala mengingat masa lalunya yang berliku. Pahit manis ia rasakan kala itu, ditengah ia hendak naik kelas dan akhirnya memperoleh juara satu untuk prestasi seangkatan dirinya.
Padahal jika diingat lagi, dibalik kenaikan kelasnya ada kejadian pahit disana. Lebih tepatnya saat itu Reyna baru mengetahui jika Almira meninggalkannya untuk selamanya. Salah satu alasannya untuk menjadi nomor satu, salah satu alasannya untuk tetap hidup dan menjalani kehidupan yang kejam. Bukan hanya itu, setelah ia lulus seleksi bahkan ia harus dikeluarkan dari sekolah. Dan penyebabnya adalah Reyhan, kakaknya sendiri.
Tidak hanya dikeluarkan, bahkan ia juga dipermalukan didepan teman-temannya saat itu. Pandangan gadis itu berubah menjadi getir, ingatan yang awalnya membahagiakan untuknya berubah menjadi rasa kecewa dalam hatinya.
Masa remaja yang dihancurkan oleh keluarganya sendiri selain Keyla.
Reyna menghela nafasnya saat dadanya mulai terasa sesak. Entah ia harus bagaimana menanggapi apa yang ia lakukan dulu.
"Kenapa aku dulu bodoh banget sih" ujarnya sembari menghapus air matanya yang berlinang. Gadis itu meraih foto yang berada diatas meja riasnya, terlihat foto Almira bersamanya ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Ma, cuma mama keluarga aku, cuma mama yang anggap aku manusia saat orang lain anggap aku nggak berguna. Ma, Reyna kangen sama mama, seandainya dulu Reyna nggak dibawa ke Florida, mungkin Reyna udah bahagia, bisa nyusul mama" kata gadis itu dengan tangisannya yang semakin menjadi.
Reyna memeluk foto tersebut dengan erat. Fikirannya menerawang menjadi rasa kesal dan benci terhadap Reyhan yang dulunya pernah menyakitinya.
Reyna juga manusia, ia juga bisa merasakan kecewa ketika tersakiti. Apalagi jika itu dilakukan dengan sadar oleh orang yang ia sayangi.
"Mungkin, cukup sampai disini hubungan aku sama bang Rey dan papa, kedepannya aku nggak akan pernah ganggu kehidupan mereka lagi" kata Reyna seraya menghapus air matanya yang tersisa.
Perlahan gadis itu melangkahkan kakinya menuju ranjangnya. Pelukannya masih bertahan pada bingkai foto dirinya bersama sang ibu. Perlahan matanya terpejam dengan air mata yang menetes melalui sudut matanya.
***
Terlihat pria paruh baya menghela nafasnya tatkala dirinya masuk kedalam kamarnya. Reynaldi meraih foto keluarganya sembari terus memandangi frame tersebut.
Matanya masih berbinar dengan senyuman dipipinya. Mungkin masih ada rasa sesal dalam hatinya karena selama lima tahun terakhir ini pria itu selalu tidur dengan memeluk foto tersebut.
"Maafkan papa Reyna" ujarnya seraya meneteskan air mata penyesalan dalam hatinya yang paling dalam.
Pria itu perlahan merebahkan tubuhnya, ia mulai menghapus air matanya yang kini berlinang tak terkendali. Rasa sesak dihatinya begitu terasa kala mengingat betapa kejamnya ia ketika bersikap kasar terhadap istri dan juga putri kecilnya itu.
"Maafkan papa, papa bukanlah orang tua yang baik untuk kamu, papa nyesel sayang. Papa berharap kamu bisa memaafkan papa" kata Reynaldi seraya menangis sesenggukan.
Dibalik ambang pintu terlihat Reyhan kini menatap sang ayah yang tengah merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Hanya melihat keadaan sang ayah, membuat pria itu merasakan apa yang ia rasa juga.
Tak terasa air matanya mengalir deras. Tubuh pria itu terasa kaku dengan punggungnya yang bersandar di depan kamar Reynaldi.
Matanya memerah dengan pandangannya yang kosong. Bukan hanya Reynaldi yang merasakan kesedihan itu namun dirinya juga. Namun apalah daya, semuanya sudah terjadi dan tidak bisa kembali lagi.