The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Perih oleh Luka



Pandangan gadis itu masih setia mengedar ke seluruh kota, ditatapnya lampu gedung berwarna warni dihadapannya, dan dibawahnya begitu ramai kendaraan dan juga salju yang turun memenuhi seluruh jalanan.


Sorot matanya sayu seperti menyiratkan sebuah kesedihan, ada rasa ingin mengingat kembali masa itu, namun ia takut akan terluka kembali, ia takut akan masa lalu yang tidak seperti ia harapkan seperti dalam bayangan.


Gadis bergaun merah panjang itu menggeleng, memeluk tubuhnya yang dingin bersama dengan larutnya malam kala itu.


tak tak tak...


Suara langkah kaki seseorang, membuat gadis itu menoleh kebelakang, tak disangkanya seorang pria tengah berdiri disana, memperhatikan setiap gerakan dan lekuk tubuh Falery yang kini kaku dan mati rasa.


"Akhirnya kita bertemu juga Falery."


"A... Alex..." tubuh gadis itu serasa takut melihat seringai dari pria yang semakin mendekat kearahnya. Entah mengapa bertemu dengan pria itu untuk pertama kalinya tempo hari, membuat gadis itu merasakan hawa devil dari perlakuan Alex padanya.


"Kau masih ingat aku rupanya."


"Ke.. kenapa kau kesini?!" Falery mulai menyembunyikan sikapnya yang ketakutan dengan menantang balik Alex yang kini tengah hampir beberapa langkah dari tempat ia berdiri.


Pria itu terkekeh dengan senyuman yang membuat Falery menatap bingung padanya.


"Ckckck... kau fikir aku harimau yang hendak menerkam mu Fay... come on baby, aku hanya fans fanatikmu... uh, maaf tempo hari aku pernah membuat pertemuan yang tidak nyaman denganmu, aku hanya terlalu bahagia" ucapnya membuat hati gadis dihadapannya merasa lega dengan ungkapan Alex padanya.


"Um... tidak apa" Falery mencoba untuk mengalihkan pandangannya lagi, membuat Alex kini mensejajarkan tubuhnya dengan Falery yang kini meliriknya sekilas.


"Aku juga suka tempat seperti ini."


"Bukan, aku hanya seperti mengingat sesuatu saja ketika melihat pemandangan malam."


"Sesuatu apa?" gadis itu mengedikkan bahu, aneh rasanya ia merindukan pemandangan seperti ini, namun ia sendiri tak tau dimana ia melihat pemandangan ini sebelumnya.


"Akuu tak tau" jawanya singkat.


"Oh ya, sebelumnya kita belum berkenalan sebelumnya, boleh aku mengulang sesuatu yang pernah aku kacaukan."


Falery tersenyum lembut dan mengangguk, dirinya paling senang ketika ada fans yang mulai mendekatinya secara hangat, bukan menggilai hingga membuat dirinya risih seperti sebelumnya.


"Namaku Alexander Wiliam, aku adalah penggemar utamamu nona Falery Gilbert."


Ucapnya dengan sapaan hangat sambil mengulurkan tangannya, lalu dibalas oleh Falery yang kini tersenyum kearahnya.


"Senang bertemu dengan mu Alex... pfffttt hahahaha" suara tawa dari gadis dihadapannya membuat Alex mengernyitkan keningnya, dirinya tak menyangka bisa melihat betapa cantik gadis yang selama ini ia idam-idamkan.


Senyumnya pun berubah, yang awalnya kagum kini menjadi tersungging hingga membuat senyumnya seolah terulas untuk mendapatkan gadis dihadapannya ini bagaimanapun caranya.


'Falery Gilbert, kau terlalu kuat untuk melawan ku, maka aku akan menggunakan caraku untuk menaklukkan dirimu wanita ku' ujarnya dalam hati.


"Alex...? kau kenapa?" pertanyaan dari Falery membuat Alex membuyarkan lamunannya, dan beralih tersenyum lembut pada gadis dihadapannya.


"Maaf, aku salah mengira. Banyak yang bilang kau adalah gadis yang sombong dan angkuh. Namun aku salah besar, gadis itu ternyata memiliki senyum dan tawa yang begitu menawan".


Drrtt drtt,


Suara getar ponsel membuat gadis itu tersentak dan mengalihkan pandangannya pada ponsel yang berada didompet genggamannya.


"Alfian?" Falery segera mengangkat panggilan itu.


"Fay, kau ada dimana?" tanya Alfian disebrang sana.


"Aku berada di balkon atas hotel."


"Baiklah, kau tunggu aku, dan kita akan segera pulang."


"Tapi Al...." Falery mencoba untuk berbicara, namun tampaknya pria itu ingin segera mengajak Falery keluar dari tempat itu.


"Aku ingin mengajakmu makan diluar sebelum malam semakin larut."


Falery menghembuskan nafasnya, dirinya mengangguk setuju.


"Baiklah, aku akan menunggumu disini."


"Oke... tunggu aku lima menit lagi."


***


Pria itu menutup telfonnya, dirinya hendak melangkah, namun langkahnya berhenti kala melihat Clara yang kini tepat berada dihadapannya.


Gadis itu tampak keluar dari sisi ruang hotel dan mabuk.


"Clara?" ujarnya dengan mengangkat sebelah alisnya.


"Al... Alfian... uhhh" gadis itu hampir jatuh, namun tangan kekar Alfian mampu menopangnya hingga dirinya kini mampu menatap kedua bola mata Alfian yang begitu indah.


Gadis itu nampak hanya memakai pakaian tipis dan minim, pakaiannya juga transparan membuat Alfian menelan ludahnya kasar.


"Ra, kenapa kamu bisa ada disini?."


"Al... hahahaha, aku, aku sedang sedih Al, aku mencintaimu, namun apa yang kau lakukan, bisa-bisanya kau mengkhianati cinta yang aku berikan sepenuhnya untukmu."


"Ra, aku akan membawa kamu kekamar, kamu tahan okay" Alfian menggendong tubuh gadis itu dengan gaya brydal style. Dirinya masuk kedalam kamar yang sebelumnya Clara keluar dari dalamnya.


"Uhhhh Al... Alfian" ceracaunya tak jelas, membuat pria itu menidurkan Clara diatas ranjang.


Gadis itu bangkit dan memeluk leher Alfian hingga pria itu tersentak dengan perilaku Clara padanya.


"Aku... aku harus pergi Ra" kata Alfian terbata. Ia sudah beberapa kali menelan salivanya.


"Jangan pergi, temani aku minum satu kali saja Al, dan setelah it, aku tidak akan mengganggumu bersama Falery."


Gadis itu merengek, membuat Alfian semakin panas ketika Clara mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Alfian.


"Ra...." kata Alfian mencoba membangunkan kesadaran gadis itu.


"Kumohon Al... aku.. aku hanya ingin perpisahan ini menjadi perpisahan termanis darimu."


Alfian menatap lekat-lekat wajah cantik gadis dihadapannya. Baginya perasaannya masih sama seperti dulu, masih ada setitik cinta untuk Clara.


***


"Siapa Fay? Iryasya?" Falery menggeleng, dirinya merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan sebelumnya terhadap Alex.


"Bukan, sebenarnya aku dan Iryasya hanyalah rekan bisnis, tadi adalah tunangan ku, dia mau menjemput ku ditempat ini."


"Baiklah, aku akan menunggu dia datang sambil menemanimu.. boleh kah?" Falery hanya tersenyum dan mengangguk.


Mungkin lebih baik ada teman untuk sesekali mengobrol daripada berdiam sendirian.


Sekitar setengah jam berlalu, namun Alfian tak kunjung datang menemui gadis yang kini mengerutkan keningnya sambil menatap layar ponsel sedari tadi.


"Kenapa lama sekali Fay?" pertanyaan itu mendapat gelengan khawatir dari Falery yang kini mulai dilanda kegelisahan.


Gadis itu mulai menekan layar ponsel yang ia bawa dan memulai panggilan yang tidak ada jawaban dari sebrang sana. Gadis itu semakin khawatir, ditambah hawa dingin menusuk tubuhnya yang putih mulus.


"Dingin?" pertanyaan dari Alex yang kini menatap Falery yang tengah memeluk tubuhnya, membuat gadis itu mengangguk lemah.


Alex mendekati tubuh gadis itu dan memakaikan jas yang ia pakai untuk Falery.


"Alex... terimakasih" ujarnya yang kini masih berkutat pada ponsel yang ia sambungkan pada telinganya.


"Tidak apa, kau bisa mengambilnya jika kau mau."


"tTdak terimakasih, tapi aku harus mencari Alfian kali ini."


"Kalau kau mau, aku bisa membantumu. Hitung-hitung sebagai ucapan perminta maafan atas sikap ku kemarin."


"Alex, itu pasti akan sangat merepotkan mu" kata Falery tak enak hati.


"Tidak, aku senang bisa membantu idola ku" pria itu tersenyum lembut seolah kata-katanya adalah sebuah ketulusan.


"Aku akan membantumu Fay, kalau tidak malam akan semakin larut."


Falery akhirnya mengangguk pasrah dan menurut pada Alex yang kali ini mulai antusias.


***


Langkah gadis itu seperti tidak sabar untuk mencari Alfian yang sedari tadi tak mengangkat panggilan darinya. Gadis itu mendengus dan menggertak kesal pada pria yang kali ini tak dapat ia temukan sama sekali.


Sudah hampir satu jam berlalu, dan waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, namun batang hidung pria itu tak dapat ditemukan olehnya.


Gadis itu menyandarkan punggungnya disebuah lorong hotel yang sepi dengan karpet merah dibawahnya. Tak ada satupun yang dapat ia dengar kecuali tak sengaja telinganya menangkap tajam sebuah desahan diujung lorong yang membuatnya tersentak.


Suara itu mengeras, membuat gadis itu tergugah untuk mendekati ruangan bernomor 502 itu.


Gadis itu menahan emosi dan fikirannya yang mulai melayang membayangkan pria tunangannya itu.


Namun langkahnya tak berhenti sampai disitu, gadis itu melangkah lagi, dan kini sampai lah dirinya tepat didepan pintu yang tertutup namun dapat ia lihat dengan jelas celah kecil dibawahnya.


"Aku mencintaimu Alfian"


Falery menutup mulutnya tak percaya, dirinya membuka sedikit pintu itu, dan benar saja, matanya membelalak menyaksikan pemandangan didepannya. Kala kemeja dan jas Alfian berserakan dibawah ranjang yang besar.


Falery tak bisa berkata, nafasnya semakin berat dengan tenggorokan yang tercekat. Dirinya membuka lebar pintu itu dan didapati mereka, Alfian dan Clara tengah melakukan hubungan intim didepan matanya sendiri.


Air mata itu mulai bercucuran keluar disudut mata Falery yang kini mengedarkan pandangannya memenuhi kamar yang khas bau alkohol didalamnya.


Suara perempuan itu membuat Falery menutup telinganya dan segera pergi dari sana. Falery berlari dengan air matanya yang semakin deras membanjiri pipi mulusnya membuat gadis itu ambruk.


"Falery!" duara itu membuat Falery menghapus air matanya, dan ditatapnya Alex yang kini membelakangi tubuhnya.


"Aku tidak menemukan Alfian" kata pria itu cemas membuat Falery menggeleng sambil menyeka air matanya.


"Tidak perlu dicari Alex."


"Tapi kenapa? kenapa kau menangis?" Falery masih enggan untuk berbicara, dia memilih bungkam dan pergi meninggalkan Alex yang kini menyunggingkan senyuman licik diwajahnya.


Dada gadis itu semakin sakit mengingat pengkhianatan Alfian padanya, ternyata selama ini dirinya hanyalah cadangan bagi pria itu, pria yang sebenarnya masih mencintai mantan kekasihnya. Gadis itu melangkah, menuju bar didalam Hotel tersebut.


Dia duduk dan termenung dengan matanya yang memerah akibat tangisannya yang baru saja ia tumpahkan.


"Lima botol anggur" ujarnya membuat sang waiters membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Permisi?" tanya pria itu membuat mata Falery membelalak dengan tatapannya yang begitu tajam.


.


"Aku bulang lima botol anggur... KAU DENGAR TIDAK?!" suara Falery yang meninggi, dan tatapan tajam dari gadis itu membuat pria dihadapannya langsung mengambil lima botol anggur tepat dibelakangnya.


"Silahkan nona." gadis itu memberikan ribuan dollar pada lelaki dihadapannya membuat sang waiters tambah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Tapi ini terlalu banyak nona" kata waiters membuat Falery malas untuk meladeninya m


..


"Jika kau tak mau, buang kembalian dariku" pria itu mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Terpaksa ia mengantongi sebagia yang ia terima dengan senyuman yang mengembang.


Falery tak bisa menghentikan aktivitasnya yang kini telah menghabiskan tiga botol dalam waktu satu jam lamanya. Dirinya seakan ingin bunuh diri lantaran pria yang telah ia perjuangkan selama ini membuat hatinya hancur begitu saja.


"Kau tau, tunangan ku, hahahaha... dia bersetubuh dengan mantannya haha" ucapnya pada waiters yang kali ini hanya mengangguk tak mengerti dengan ceracauan Falery. Gadis itu kacau kali ini, sorot matanya merah tajam dengan air mata dan juga tawa menjadi satu.


"Falery... kau kenapa ada disini?" Falery menoleh pria yang kini telah berada disampingnya. Dirinya menatap cemas pada Falery yang kini tak bisa menghentikan aktivitasnya.


"Al... Alex... kau, hahahaha..." gadis itu sepertinya tidak sadar dengan apa yang ia katakan, matanya beberapa kali mengerjap sambil meneguk minuman dihadapannya yang ia tuang setiap kali botolnya habis.


"Ayo... ikuti aku... aku antar kau pulang" ujar Alex yang kini mendapat gelengan dari Falery.


"Tuan, apa kau mengenal nona ini? dari tadi dia minum tanpa henti, aku khawatir padanya."


"Dia teman ku, kau jangan khawatir, kau bisa melanjutkan pekerjaan mu.. aku yang akan mengurus dia" ujarnya membuat waiters itu pergi kedalaman.


"Aku mau minum lagi Alex, aku tidak mau pulang."