
Seminggu kemudian.
Kini Reyna telah menguasai beberapa teknik untuk pertolongan pertama pada pasien yang baru saja masuk melalui ruang UGD, ya ruang tempatnya bekerja.
Gadis itu kini menyandarkan kepalanya di kursi, ia memejamkan matanya dan mengusir penat yang ada. Sungguh lelah untuk bekerja didalam situasi demikian. Jam berdetak menunjukkan pukul 12.35, seharusnya Dinda telah berada di kantor sebelum ia pergi je kantin, namun hingga sekarang batang hidungnya juga belum kelihatan.
Padahal Darwin dan Aldo sudah istirahat sedari tadi. Reyna hanya bisa menghela nafasnya tatkala orang yang ia tunggu belum juga muncul. Ia akhirnya memutuskan untuk bangkit dan melangkahkan kakinya sendiri.
Tanpa disadari setelah sampai diambang pintu, ia bertemu dengan sosok Dinda yang kini memegangi beberapa dokumen untuk dimasukkan kedalam laci kerjanya.
"Hehehe, maaf, pasti nunggu ya?" kata gadis itu membuat Reyna memutar bola matanya seraya masuk kembali mengikuti langkah Dinda.
"Maaf ya Rey, tadi ada abang ojol kecelakaan jadi aku harus bantu buat bersihin lukanya deh, soalnya suster banyak yang udah keluar dan cuma aku dokter yang ada disana" jelas Dinda seraya tersenyum dan menata beberapa berkas yang baru saja ia bawa.
Biasanya kalau para dokter makan diluar, mereka akan melepaskan jas kerja mereka, namun karena hanya makan di kantin rumah sakit, ada beberapa dokter yang memang malas melepaskan atribut wajib mereka seperti Reyna dan juga Dinda.
"Kamu mau pesen apa Rey?" tanya Dinda yang kini memasuki kantin dan menoleh kearah kedai kecil dibelakang mereka.
"Bakso aja deh, kuahnya dikit, bawang goreng banyakin" kata Reyna membuat Dinda mengangguk.
"Minumnya?" tanya dia lagi membuat Reyna menimbang-nimbang seraya sedikit berfikir.
"Es teh manis aja Din" kata Reyna menimpali.
Reyna mencari bangku yang kosong, gadis itu tampak beberapa kali menatap seluruh kantin untuk duduk di tempat yang kosong. Gadis itu kemudian melangkah, mendekati meja kosong yang lumayan jauh dari tempatnya berdiri.
Ia memperhatikan tempat tersebut dengan seksama, meskipun cuma kantin, tapi fasilitasnya lumayan oke dan pastinya steril. Mengingat kantin ini adalah kantin yang khusus diperuntukkan para tenaga medis.
Sebenarnya masih ada kantin disebelah, khusus untuk keluarga pasien maupun umum. Sama-sama higienisnya, mungkin karena rumah sakit ini lumayan besar jadi menyediakan dua kantin sekaligus agar para dokter dan pihak luar merasa nyaman.
Sembari menunggu Dinda datang membawa makanan, gadis itu dengan lihai memainkan ponselnya. Seperti biasa chatting dengan Yasya, meskipun Yasya hari ini menghadiri rapat, namun ia masih saja sempat untuk membalas.
"Kamu Reyna ya?" suara seorang pria dewasa membuat Reyna membelalakkan matanya seraya menatap orang tersebut yang kini telah berada dihadapannya.
Seorang lelaki setengah baya, yang kira-kira berumur 50an tahun. Pakaiannya begitu rapi dengan jas putih dan juga tatapan tegas dan serius darinya. Membuat Reyna menyimpulkan bahwa ia adalah salah satu dokter senior disana.
"Ah, iya saya Reyna" ujar gadis itu seraya tersenyum memperkenalkan diri.
"Saya dokter Martin, dokter spesialis jantung dan paru-paru" ujarnya seraya menatap Reyna dengan tatapan serius membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya.
"Saya dengar kamu lulusan University of Central Florida, boleh saya tau berapa usia kamu sekarang?" pertanyaan itu membuat Reyna semakin tak mengerti, tak banyak yang tau dimana ia mengemban ilmu, terkecuali Alfian yang tau seluk beluknya.
"Iya, sekarang umur saya 22 tahun" ujarnya membuat dokter Martin manggut-manggut, seraya sedikit berfikir.
"Bagus, saya adalah seorang dokter dan juga relawan Reyna. Saya tau semua tentang kamu dari dokter Alfian, mungkin kamu bertanya kenapa saya begitu penasaran dengan kamu. Tapi asal kamu tau Reyna, saya tidak mencari latar belakang dimana kamu bersekolah. Tapi yang saya cari adalah orang yang baik seperti kamu" ujar dokter Martin membuat gadis itu semakin tak mengerti dengan alur yang dokter Martin katakan padanya.
"Saya nggak ngerti" ujar Reyna seraya menggeleng. Sejujurnya memang ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Martin padanya.
"Saya tau kamu dulu adalah seorang dokter anak, dan juga relawan untuk membantu mereka menjalani kehidupan yang lebih indah. Saat ini saya juga ada diposisi itu Reyna, saya punya yayasan yang tak banyak orang mengetahuinya. Kamu adalah dokter muda berbakat, saya harap kamu bisa bergabung bersama kami" ujar Martin seraya mengeluarkan sebuah kartu nama dari kantong jasnya.
"Maaf, hanya itu yang ingin saya sampaikan Reyna. Saya harap kamu menghubungi saya, saya permisi" seru Martin membuat Reyna mengangguk seraya tersenyum.
Gadis itu berfikir sejenak, ia sejujurnya sangat ingin mengikuti program ini. Apalagi untuk kemanusiaan, meskipun dia bukan Tuhan, tapi memberikan sebuah semangat dari seorang relawan akan jauh lebih berarti daripada hanya sekedar bekerja sebagai dokter.
"Rey, kamu tadi ngobrol sama dokter Martin ya?" tanya Dinda yang kini mulai duduk dihadapan gadis itu seraya membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Reyna hanya mengangguk, ia masih fokus dengan kartu nama yang berada ditangannya.
"Wih, keren banget! diajak ngobrol apa aja sama beliau?, lo tau nggak dokter Martin itu dokter senior yang paling disegani dan dihormati di rumah sakit ini loh. Katanya sih, beliau itu suka ngasih materi seminar gitu, seminarnya aja udah terkenal di Indonesia" kata Dinda yang masih mengagumi sosok pria paruh baya itu yang begitu berwibawa.
Sosoknya memang serius dimata Reyna, tatapannya dingin dan to the point. Mungkin, Martin bisa dikatakan seumuran dengan Reynaldi. Entah mengapa Reyna kini mulai merindukan sosok ayahnya, fikirannya berkecamuk sekali lagi hanya dengan memikirkan keluarganya yang telah lalu.
Entah mengapa, sosok Martin mengingatkan Reyna akan ayahnya yang kini mungkin kabarnya baik-baik saja.
"Kamu kenapa Rey, kok ngelamun?" tanya Dinda yang kini mulai mengejutkan fikirkan gadis itu.
"Ah, enggak apa-apa kok Din, aku cuma kagum aja sama dokter Martin, andai saja dia ayah aku" ujar gadis itu membuat Dinda menjadi tak enak hati.
"Ma, maaf Rey, ayah kamu udah?" pertanyaan itu membuat Reyna menatap Dibda yang kini mulai menerka-nerka, namun Reyna menggeleng dengan cepat.
"Papa aku baik-baik aja kok, cuma kita lagi jauhan aja" ujar Reyna dengan senyuman, menutupi kegelisahannya.
***
Setelah selesai rapat, Yasya membanting tubuhnya diatas sofa tepat didalam kantornya. Fikirannya begitu lelah dengan apa yang ia jalani selama rapat tadi.
Pria itu kemudian berjalan mendekati meja kerjanya, pandangannya menatap foto dirinya bersama Reyna yang kini telah berada abadi didalam hatinya.
Ceklek.
Suara terbukanya pintu membuat pria itu terperanjat seketika, matanya membulat dengan bola matanya yang memutar malas pada sang ayah yang kini tersenyum kearahnya.
"Papi nih, kalo mau masuk ketuk pintu dulu kek. Ngagetin aja" ujar Yasya yang kini mulai menyandarkan punggungnya.
"Kerja bagus nak, ini yang papa mau. Sekarang papa nggak akan khawatir lagi buat pensiun dari perusahaan ini" ujar Adi yang kini mulai mendekat dan beralih duduk tepat didepan meja Yasya.
"Papi nih ngomong apa sih, nggak ah, pokoknya papi nggak boleh pensiun dulu. Perusahaan ini juga kerja keras papi, aku nggak mau ambil alih dulu" kata Yasya yang kini mulai merasa kesal dengan kata-kata ayahnya.
"Kamu sudah banyak berubah Irya, papi sekarang percaya sama kamu. Dan papi tau siapa yang membuat kamu berubah seperti ini. Buat papi, nggak perduli siapa gadis itu, yang jelas papi bahagia karena dia sudah membuat anak papi semakin dewasa seperti sekarang" ujar Adi seraya melirik foto kebersamaan putranya dengan Reyna.
"Maksud papi?, papi restuin hubungan aku sama Reyna?" tanya Yasya yang kini mulai bangkit dari duduknya, membuat Adi tersenyum dan mengangguk dengan sepenuh hati.
Yasya semakin tak menyangka dibuatnya, sebelumnya bahkan ia merencanakan pelariannya bersama dengan Reyna jika saja Adi tak menyetujui perihal hubungannya. Namun kini, pria itu seperti di beri kebahagiaan yang tak mungkin bisa tergambarkan lagi baginya.
Yasya memeluk sang ayah dengan erat, ia tersenyum bahagia tanpa mau melepaskan pelukannya.
"Makasih banyak ya pi, aku seneng banget akhirnya papi setuju dengan hubungan aku sama Reyna" ujar Yasya seraya melepaskan pelukannya dari sang ayah.
"Papi mau ketemu sama dia malam ini, nggak mau tau, kamu harus perkenalkan papi sama anak itu" ujar Adi membuat Yasya tersenyum dan mengangguk menyetujui. Pria itu kembali memeluk sanga ayah saking bahagianya.