
Karyawan wanita yang tadinya menegur Luna itu segera berlari kecil kearah Luna yang memang sudah tak sadarkan diri, di susul orang-orang yang mulai mengerumuni.
"Mbak, bangun mbak?" kata karyawan yang menegurnya tadi seraya mengangkat kepala wanita itu dan menepuk wajahnya agar kesadaran Luna lekas kembali, namun hal itu tak kunjung membuahkan hasil. Orang-orang pun mulai berkerumun dan memberikan pertolongan seadanya, seperti memberikan minyak angin, dan menepuk tubuh Luna yang memang terlihat begitu pucat dan lemah.
"Ada yang bisa bantu nggak ya? kayanya mbak ini harus di bawa ke rumah sakit" kata ibu-ibu yang memberikan minyak angin tadi. Diantara banyaknya orang tidak ada dari salah satu mereka pun menjawab, karena mereka memang tidak mengenal Luna. Namun setelah beberapa menit orang-orang berdebat, tiba-tiba seorang pria menyisir kerumunan itu dan melihat wanita yang tergeletak itu dengan wajahnya yang panik. Siapa lagi kalau bukan Fabian yang tanpa sengaja masuk ke minimarket tersebut untuk berbelanja sebelum ia berangkat bekerja.
"Pak buk, itu temen saya. Namanya Luna, ijinkan saya bawa ke rumah sakit" kata Fabian dengan wajah paniknya seraya berlutut dan memegang lengan Luna berusaha untuk mengembalikan kesadaran wanita itu meski sepertinya hasilnya akan nihil. Orang-orang yang berkerumun kemudian memberikan jalan bagi Fabian untuk menggendong dan membawa tubuh Luna keluar dari minimarket itu. Sebagian dari mereka merasa lega jika ada yang mengenali Luna disaat wanita itu tak sadarkan diri.
Sesampainya di rumah sakit, dokter memeriksa detak jantung dan juga keadaan Luna. Saat itu Luna tiba-tiba membuka matanya perlahan, wajahnya yang tampak pucat melihat sekeliling dan ia begitu terkejut saat mengetahui dirinya tengah berada di rumah sakit dengan Fabian yang berada di sampingnya dan dokter yang tengah memeriksanya.
"Luna kamu udah sadar? gimana keadaan kamu?" tanya Fabian tiba-tiba membuat Luna terdiam sejenak lalu menggeleng.
"Kenapa aku tiba-tiba ada di sini?" tanya wanita itu saat ia hendak duduk namun dengan segera Fabian membantunya untuk bangun.
"Mbak Luna, sebaiknya anda banyak istirahat ya. Sepertinya anda mengalami kelelahan akhir-akhir ini" tanya dokter itu membuat Luna menaikkan satu alisnya untuk sejenak berpikir. Padahal ia tidak melakukan apapun akhir-akhir ini, ia hanya bersih-bersih apartemen dan mencuci bajunya.
"Tapi dok, saya nggak kerja kok. Cuma memang sih, selama satu bulan ini, saya enggak datang bulan. Mungkin karena faktor stress aja deh"
"Mbak Luna sudah menikah?" tanya dokter, membuat Luna hanya mengangguk seraya melirik Fabian yang hanya mampu diam membisu.
"Terakhir mbak haid tanggal berapa?" dokter terus menanyai Luna seputar kesehatannya termasuk gejala yang ia alami akhir-akhir ini. Dokter pun tersenyum lalu memanggil suster dan membisikkan sesuatu.
"Oke, kalau begitu saya permisi dulu ya Mbak Luna, Pak Bian. Nanti akan ada dokter lain yang menangani anda" Luna hanya mengangguk, dokter itupun pergi dengan suster yang mengikutinya. Tiba-tiba saja suasana menjadi hening, tanpa di sadari perasaan Luna mulai terusik dengan keadaan canggung itu.
Begitupun dengan Fabian yang mendadak bungkam dan berekspresi tidak menentu saat mendengar percakapan dokter dengan Luna perihal status Luna yang memang sudah menikah. Hatinya terasa sakit, mungkin karena ia belum bisa menerima jika cinta pertamanya telah menikah dan menjadi istri seseorang yang kini entah berada dimana.
"Ka-kamu enggak kerja?" tanya Luna tiba-tiba saat wanita itu baru menyadari setelan baju yang dikenakan oleh pria itu begitu formal.
"Aku udah ijin" jawabnya singkat membuat Luna hanya tersenyum kikuk.
"Aku tadi mau hubungi keluarga kamu-"
"Enggak usah, seperti apa yang dibilang dokter, mungkin aku cuma kecapekan aja"
"Luna, kamu nggak perlu cerita masalah kamu, dan aku juga nggak mau tau masalah yang kamu alami saat ini. Tapi, yang harus kamu tau, aku bakal selalu ada buat kamu, enggak perduli dengan status kamu saat ini" mata mereka saling bertemu, bahkan Luna bisa melihat kata-kata Fabian bukanlah bualan belaka, ucapan tulus yang keluar dari mulutnya berbeda dengan kata-kata benci yang pria itu utarakan saat mereka terakhir bertemu di acara kelulusan.
"Bian-"
"Permisi" senyum terulas di bibir dokter wanita yang masuk kedalam ruangan Luna, terpaksa kata-kata wanita itu terhenti saat dokter mendekat dan tersenyum kepada mereka berdua.
"Mbak Luna ya?" Luna mengangguk.
"Silahkan berbaring dulu" ujar dokter tersebut lalu meletakkan sebuah alat di atas perut Luna.
"Permisi sebentar ya Mbak" Luna mengangguk pertanda setuju, Luna dan Bian masih tidak paham dengan pemeriksaan apa yang dilakukan dokter padanya, tapi kali ini sepertinya dokter tidak akan melakukan pemeriksaan yang membuat mereka khawatir.
Dokter kemudian menarik baju Luna, memperlihatkan perut putih mulusnya sedikit lalu mengoleskan gel diatas kulit perut wanita itu dan dengan perlahan alat itu menyisir setiap perut jengkal perut Luna.
"Nah, pemeriksaannya sudah selesai" ujar dokter itu seraya tersenyum pada Luna.
"Selamat ya Mbak Luna, anda hamil enam minggu. Selamat ya bapak, tolong istrinya di jaga baik-baik, jangan sampai kelelahan, haris banyak makan makanan yang bernutrisi" Luna membulatkan matanya, ia tak menyangka akan hamil secepat ini.
"Tapi dok, Bian-"
"Iya dok, pasti saya akan menjaganya" potong Bian saat Luna hendak menjelaskan status mereka saat ini.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, bapak ibu" kata dokter lalu pergi meninggalkan keduanya yang lagi-lagi saling terdiam. Luna tak menyangka dengan kehamilannya dan Bian semakin tak bisa mengontrol perasaannya.
"Bian-"
"Kamu tau Luna, cuma karena orang salah mengira aku adalah suami kamu dan anak yang kamu kandung adalah anakku, aku merasakan kebahagiaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Meskipun pada kenyataannya, hal itu nggak mungkin terjadi sama sekali" Pria itu bangkit, bahkan ia tak tau lagi apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini. Sedih tentunya, apalagi semua yang ia lakukan dan tinggalkan hanya untuk Luna. Wanita itupun tak bisa berkata-kata, sedalam itu kah Fabian mencintainya? hingga ia menahan luka menjadi satu kebahagiaan yang tidak mungkin ia dapatkan.
Andai saja suami Luna juga mencintai dirinya sedalam Fabian mencintainya, akankah mereka akan bahagia ditempat ini sekarang?. Bahkan Luna sempat berpikir, kalau saja Fabian datang lebih dulu daripada Zayn, akankah ia juga memiliki rasa yang sama seperti apa yang Fabian miliki?. Air mata Luna tak terasa menetes, ia tak mengerti dengan situasi ini. Ia buru-buru menyeka air matanya sebelum Fabian menyadari tangisannya.
"Kalau kamu sudah tidak memiliki siapapun lagi untuk bersandar, kamu tau tempatnya dimana kan? aku bakal nerima apapun keadaan kamu Luna" Fabian tersenyum kearah wanita itu yang tak berani lagi mendongakkan kepalanya, ia takut menatap pria yang kini dengan tulus mengulurkan tangannya. Ia takut luluh dan berharap lagi pada seseorang yang memberikannya sebuah harapan.
"Kamu Fabian kan?" tanya pria yang tiba-tiba mengejutkan Bian yang tengah menitikkan air matanya tanpa sadar. Fabian melirik pria yang kini berbicara padanya namun tanpa memandangnya dan hanya menyadarkan punggungnya di tembok tepat di sampingnya.
"Anda siapa?" pria itu kemudian menggerakkan tubuhnya menghadap Fabian, dan begitu terkejutnya Fabian saat ia mulai mengenali wajah pria dihadapannya yang teramat mirip dengan foto yang dikirimkan oleh Luna padanya tempo hari.
"Kayanya saya nggak perlu jawab pertanyaan kamu deh, dan akan lebih baik lagi kalau kamu segera pergi dari sini" ucap pria itu membuat Fabian terdiam beberapa detik.
"Terimakasih atas penawaran kamu terhadap istri saya, tapi saya pastikan dan saya jamin dia nggak akan pernah sendirian lagi dan nggak butuh siapapun kecuali saya" jelas Zayn dengan nada yang menekan membuat Bian menggertakan giginya dan mengepal tangannya penuh emosi. Zayn berjalan mendekat, ia menepuk pundak pria itu tiga kali dan membisikkan kata pada pria itu.
"Kali ini saya membiarkan anda pergi begitu saja, karena saya tidak mau merusak kabar bahagia yang sudah saya dengar sebelumnya" bisik pria itu kemudian segera masuk kedalam ruangan Luna. Bian tak bisa berkata-kata, ia menghela nafasnya seraya berjalan dengan langkah kesal menjauh dari ruangan itu.
Sementara itu, di dalam ruangan Luna, wanita itu mengelus perutnya. Ada perasaan bahagia yang menjalar di dalam hatinya, bercampur dengan sedih yang ia rasakan saat ia tak bisa sepenuhnya memberikan kebahagiaan untuk calon bayinya nanti.
Ceklek
Suara terbukanya pintu membuat Luna terkejut dan menatap seseorang yang tiba-tiba masuk tanpa permisi itu, Luna terdiam sesaat saat ia mendapati pria yang kini berdiri jauh dari bangsalnya. Mereka saling menatap beberapa saat, rindu mungkin itu yang dirasakan Luna maupun pria itu yang kini langsung berlari kearah istrinya itu.
"Luna!" pelukan pria itu tak dapat Luna hindari, air matanya tak sanggup lagi tertahan saat Zayn menangkup wajahnya dan menciumi setiap inci wajahnya yang terlihat pucat.
"Maafin aku sayang" Luna terisak, ia tidak pernah sedikitpun mendengar panggilan itu diluar berhubungan **** dengan suaminya. Tapi kali ini tangis Zayn ikut pecah saat ia menyatukan wajah mereka.
"Aku cinta kamu Luna, aku nggak mau kehilangan kamu. Please maafin aku, meskipun aku nggak pantas buat di maafin."
Zayn tidak menyangka, Luna bisa terlihat begitu kurus sekali hanya dalam waktu seminggu ini. Lingkar Hitam di bawah mata cantiknya yang terlihat jelas, cukup membuktikan bahwa wanita itu kurang tidur dalam beberapa waktu ini. Dan Luna menjalani hari dengan tersiksa dan dalam keadaan hamil anak mereka. Zayn kemudian mencium bibir Luna, ********** dengan lembut seolah menyalurkan kerinduan yang tertahan oleh ruang dan waktu.
Ceklek
Pintu kamar Luna terbuka, Luna dan Zayn akhirnya kembali ke rumah mereka, dan kini wanita itu bergelayut manja pada suaminya yang masih menatapnya penuh cinta seraya menggendongnya. Akhirnya Zayn sudah menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi, Jessie dan Zayn tidak memiliki hubungan apapun, hanya saja dulu memang mereka pernah dekat sebagai sahabat. Jessie memang menaruh hati pada Zayn, ia sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pria itu. Sampai suatu hari Zayn menyadari jika sahabatnya itu melabrak seorang wanita yang memang tengah mendekati Zayn di masa kuliah, secara sadar Jessie mengutarakan perasaannya dan memaki-maki wanita yang mendekati Zayn.
"Sampai kapan kamu bakal gini terus?" tanya Zayn saat ia sudah duduk di sofa tepat di depan ranjang besar miliknya itu. Saat ini posisi Luna masih bergelayutan di dada bidang Zayn, tangannya masih memeluk leher suaminya seraya tubuhnya yang berada di pangkuan Zayn. Sejak mereka sampai, Luna memang enggan melepaskan pelukannya dari suaminya, ia masih ingin bermanja di tubuh Zayn yang terdengar jelas suara detak jantungnya yang berdegup kencang saat wanita itu menempelkan telinganya ke dada pria itu.
"emang nggak boleh ya?" tanya wanita itu seraya menatap Zayn dengan binar mata puppy eyes nya, membuat Zayn menelan salivanya dan mengangguk seketika.
"Bo-boleh kok" ujarnya terbata dengan wajahnya yang memerah membuat Luna tersenyum menyeringai dan merubah posisinya yang kini duduk di atas paha pria itu seraya menciumi bibir Zayn.
"Aku kangen banget sama kamu Zayn, aku pikir kita nggak bakal bisa kaya gini lagi. Aku pikir kamu-" cup, satu kecupan mendarat di bibir Luna, mengisyaratkannya agar ia tak lagi melanjutkan apa yang hendak ia katakan, ia sudah cukup jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Reyhan dan Kanaya dan ia tidak ingin lagi mendengar hal itu dari mulut Luna sendiri.
"Aku cinta kamu sayang, aku cinta banget sama kamu Luna" Luna tersipu, padahal ia sudah berulangkali mendengar kata-kata itu dari mulut Zayn seharian ini, namun dengan mendengarnya saja bisa membuat hatinya menghangat seperti saat ini. Saat ini wajah Luna dan Zayn saling menyatu dengan Zayn yang wajahnya menunduk menatap Luna yang tersenyum padanya.
"Aku juga cinta kamu Zayn, aku bahkan bersikap serakah dan nggak memperdulikan perasaan kamu kalaupun kamu nggak punya perasaan itu ke aku. Bagiku, yang penting kamu selalu ada disamping ku" mata Zayn menatap Luna sendu, ternyata itu yang dipikirkan istrinya selama ini dan Zayn terlalu tidak peka untuk membuat Luna bahagia. Ia merasa kesal dan menyesal dengan dirinya yang seperti ini, seharusnya ia mengatakannya dari awal agar Luna tidak terbebani dengan hubungan mereka yang ambigu .
"Maafin aku sayang, maaf. Dari awal sebelum kita nikah, aku sudah tertarik dan sayang sama kamu, mulai dari aku menyelamatkan kamu dari para preman itu, sampai kamu mengenalkan ku pada orangtuamu. Dan sebenarnya, pacar pura-pura itu cuma modus aku, aku juga nggak nyangka orang yang selama ini dijodohkan dengan kita adalah kita sendiri. Kalau aku tau, dari awal aku pasti sudah setuju" Jantung Luna semakin berdebar, ia tak menyangka jika semua yang ia rasakan dirasakan juga oleh pria dihadapannya itu. Kali ini ia sudah tidak ragu lagi, perasaannya tidak salah, melainkan mereka hanya kekurangan komunikasi.
"Kamu tau Luna, saat pertama kali kita bertemu di meja perjodohan, aku sangat bahagia. Aku bahkan menyesal nggak menerima perjodohan ini dari awal" mulut Luna terkunci, asal Zayn tau apa yang dirasakan Zayn sama persis dengan apa yang dirasakan Luna saat itu.
"Andai dari awal aku tau itu kamu, aku akan menyetujuinya dengan segera dan mengajukan pernikahan secepatnya"
"Tapi kamu bilang, kamu nggak ingin menikah dulu kan? makanya aku pikir, kamu memang memanfaatkan aku" Zayn menggeleng, ia memeluk tubuh istrinya dengan erat seraya mengelus puncak rambut Luna yang tergerai panjang hingga perut.
"Itu cuma modus, supaya aku bisa selalu dekat sama kamu. Dan sekarang, aku bahagia. Meskipun aku memang salah dari awal karena nggak mengutarakan perasaan ku"
"Aku juga minta maaf karena gegabah, dan soal Fabian-"
"Aku tau semuanya, aku bahkan udah denger apa yang dia katakan di dalam ruangan rumah sakit tadi pagi" deg! Luna membulatkan matanya, ia mendongak menangkap wajah suaminya yang terlihat menatapnya sendu.
"Makasih karena kamu nggak goyah, makasih karena kamu nggak menahan dia, disaat kamu bimbang dengan aku yang bersikap seperti itu ke kamu" Luna tersenyum, baru saja ia ingin menjelaskan maksudnya saat berada di rumah sakit tadi, tapi sepertinya hal itu tidak perlu. Melihat Zayn yang begitu memahaminya dan mengelus punggungnya, ia paham dan yakin jika kali ini terjadi pada saat ia tersadar, bukan karena mimpi. Ia yakin jika apa yang dikatakan Zayn memang benar adanya, dan pria itu begitu mencintainya.
"Tapi bukan berarti aku nggak cemburu. Malahan, rasanya aku pengen banget mukul wajah cowok itu"
Cup
Satu kecupan lembut mendarat di bibir Zayn, membuat pria itu terbelalak dan perlahan memejamkan matanya. Selang beberapa detik ia kemudian beralih memegang pundak istrinya dan menggendong tubuh istrinya ke arah ranjang tanpa melepaskan pagutannya dari Luna.
"Luna? apa boleh" tanya Zayn meminta persetujuan saat jemarinya hendak menyelinap masuk kedalam pakaian Luna. Meski Zayn tau seharusnya ia tidak perlu meminta izin, namun ia ingin lebih hati-hati memperlakukannya istrinya untuk kedepannya. Luna mengangguk, wanita itu kemudian membantu pria blasteran dihadapannya untuk membuka kaos yang Zayn kenakan dan di susul Luna yang kini jemarinya menyatu dengan jemari Zayn saat tubuh pria itu ambruk di atas tubuh Luna.