The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Reyna yang kembali



Seminggu kemudian.


Reyna kini telah kembali pada keadaannya semula, ia bisa bekerja kembali di rumah sakit meskipun terkadang Falery dapat muncul namun dengan kerja keras dan juga perawatan dari Agatha ia akhirnya sedikit demi sedikit bisa mengendalikan kepribadian Falery yang begitu mengganggunya.


Sementara itu kini dirumah sakit ia menangani beberapa pasien perihal masalah jantungnya, dan semua berjalan dengan normal.


Tiba saatnya istirahat, Reyna merebahkan punggungnya sejenak di kantor pribadinya. Rasanya punggungnya begitu pegal, gadis itu menyandarkan kepalanya di meja. Perlahan matanya terpejam bersamaan dengan rasa lelahnya.


Namun beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi membuat gadis itu terperanjat dan menatap telfon yang berada disampingnya. Reyna mengeluh, pandangannya tiba-tiba saja berubah menjadi dingin, ia memutuskan panggilan itu tanpa mau mengangkatnya.


Gadis itu keluar dari ruangan tersebut dengan tatapan dinginnya. Beberapa dokter maupun suster menyapanya tapi jangankan senyuman, ia tak membalas tatapan para staf yang bekerja disana. Reyna merasa muak dengan semua ini, dulu ia pernah bercita-cita menjadi seorang dokter namun tidak selelah ini.


Langkahnya mendekat kearah mobil hitam kegam yang kini menunggunya. Ia bahkan tak melepaskan jas putih yang biasa ia kenakan.


"Kok telfon aku nggak di angkat sih?" pertanyaan Yasya membuat Reyna hanya meliriknya seraya menyandarkan punggungnya di jok mobil tersebut.


"Cepetan jalan" ujar gadis itu membuat Yasya kembali tersadar, tatapan dan juga sikap itu tak sama seperti gadisnya.


"Falery" panggil Yasya membuat Falery melirik pria itu dengan tatapan dinginnya. Sejak tadi gadis itu hanya terdiam jika tak diajak berbicara. Itu wajar karena beberapa hari lalu Falery sempat bertengkar dengannya.


"Fay, maafin aku ya" perkataan Yasya bahkan tak mendapat respon dari Falery, ia hanya terdiam dengan tatapan dinginnya.


"Kamu mau makan apa?" pertanyaan itu kembali membuat Falery menoleh dan lagi-lagi dengan tatapan dinginnya.


"B'Steak Grill" kata gadis itu seraya membuang muka. Ia masih marah terhadap Yasya, meskipun hatinya sedikit luluh tapi Falery bukanlah Reyna.


Sepanjang perjalanan Yasya selalu mengajak Falery untuk bicara tentang hal-hal positif. Ia melakukan apa yang seharusnya dilakukan, dan itu anjuran dari Agatha. Meskipun Falery bersikap lembut, tapi ia tak selembut Reyna yang selalu tersenyum, pandangannya selalu berbeda dengan Reyna yang terlihat ceria.


Meskipun tidak dapat merubah sifat asli dari Falery, tapi setidaknya ia tak membahayakan orang lain maupun dirinya sendiri.


Kini mereka telah sampai di sebuah cafe dengan interior gaya barat. Dan itu kesukaan Falery, Yasya memang sengaja memilihkan tempat tersebut untuk Falery. Itu semua demi agar Falery tak marah lagi padanya. Karena sejujurnya membangun hubungan baik dengan kepribadian ganda itu sangat perlu dan dianjurkan agar Falery bisa lebih berfikir positif lagi.


Setelah keduanya selesai makan, Falery sedari tadi hanya terdiam dan beberapa kali melirik Yasya dengan tatapan dinginnya.


"Gimana makanannya? enak nggak?" pertanyaan itu membuat Falery melirik Yasya dengan sekilas.


"Lumayan" hanya itu yang dikatakan oleh Falery. Falery bukan gadis yang pendendam tapi dia selalu ingat dengan kesalahan orang lain termasuk Yasya.


Setelah sampai di rumah sakit, gadis itu bahkan tak menyampaikan sepatah katapun, ia hanya terdiam seraya keluar dari mobil Yasya dan memasuki gedung tersebut.


Yasya kini hanya bisa melihat Falery dari pandangannya yang semakin lama semakin menjauh. Rasanya ingin sekali Reyna bisa segera sembuh, ia ingin gadis itu kembali normal. Tapi ia mengerti satu hal, apapun yang dialaminya selama ini, itu juga karena kesalahannya. Kesalahan Yasya dari salah satu orang yang menyakitinya di masa lalu.


***


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Yasya yang hendak mengetik pada komputernya seketika terhenti, ia menatap pintu dan mengalihkan pandangannya kembali.


"Masuk!" ujar pria itu membuat sosok pria memasuki ruangan tersebut. Yasya menengadahkan pandangannya, ia menatap Adi yang kini tiba-tiba duduk dihadapannya sambil tersenyum pada sang putra.


"Papi kalo masuk, masuk aja, kenapa ketuk pintu segala?" pertanyaan itu membuat Adi terkekeh.


"Kan waktu itu kamu sendiri yang bilang, kalo masuk harus ketuk pintu dulu" ujar pria paruh baya itu membuat putranya itu menggeleng. Yasya kembali berkutat pada komputer dihadapannya, namun sedetik kemudian ia melirik sang ayah yang tiba-tiba saja menatapnya dengan wajah yang serius.


"Oh ya, ngomong-ngomong papi ngapain kesini?" pertanyaan itu membuat Adi bangkit, ia menatap arah jendela luar yang menghubungkannya pada jalanan dan juga gedung-gedung dihadapannya.


"Papi mau bertanya sesuatu yang belum sempat papi tanyakan sama kamu. Apa hubungan kamu dengan Reyna baik-baik aja?."


"Baik kok, kenapa papi tanya gitu?" pertanyaan itu membuat Adi membalikkan tubuhnya dan menatap sang putra yang kini memutar kursi kerjanya untuk menghadap padanya.


"Seminggu lalu kamu merencanakan pesta pertunangan, papi mau tanya sama kamu, dan kamu harus jawab jujur pertanyaan papi. Apa kamu berniat untuk membatalkan rencana kamu untuk nikah dengan Reyna?" seketika Yasya merasa lemas. Bagaimana ia menjelaskan keadaan Reyna pada ayahnya, mengingat Reyna punya penyakit mental. Ia takut jika Adi berubah fikiran dan tak merestui hubungan mereka lagi.


"Pi, nggak ada masalah apapun kok, aku nggak berubah fikiran. Karena yang mau aku nikahi seumur hidup ku itu Reyna, bukan orang lain" perkataan Yasya membuat Adi lega sesaat, namun tak dapat menyembunyikan rasa penasaran dan juga kegundahan yang ia rasakan sebagai seorang ayah.


"Kalau gitu pasti ada alasannya kan kenapa kamu batalin acara itu. Jujur Irya, jujur sama papi" Yasya menghela nafasnya. Ia mengusap rambutnya kasar seraya memijit pelipisnya.


"Oke, aku akan ceritain" perlahan Yasya menceritakan hal dari awal sampai akhir apa yang dialami Reyna selama ini. Berawal dari masalah Reyna waktu sekolah dulu, dan kesalahannya yang membuat salah satu dari masalah Reyna terjadi saat ini.


Yasya menceritakan tatkala Reyna diadopsi oleh keluarga Gilbert dan berakhir menjadi bagian dari mereka. Ia juga menceritakan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka.


"Pi, papi udah tau kan, Yasya cuma takut kalo papi nggak ngerestuin lagi hubungan kami, mengingat Reyna yang punya kepribadian ganda. Yasya cuma takut papi nggak bisa terima Reyna."


"Irya, papi akan selalu dukung kamu, Reyna adalah korban, papi tidak ingin menghalangi hubungan kalian jika kamu memang percaya bahwa kebahagiaan kamu adalah Reyna" perlahan langkah Adi mendekati Yasya yang kini tengah bangkit menghadap sang ayah. Perlahan Adi memegang kedua pundak putranya dengan lembut.


"Papi setuju kamu memilih Reyna, dan papi yakin dia bisa sembuh karena salah satu dukungan dari kamu juga" Yasya tersenyum hangat, pria itu lalu berhambur memeluk sang ayah yang kini membalas pelukannya.


"Makasih pi, Yasya sayang banget sama papi" perkataan itu membuat Adi mengelus punggung Yasya.


"Jangan lupa datang ke papi kalau kamu lelah Sya, karena kebahagiaan papi ada karena kamu. Papi akan selalu mendukung kamu selama itu tidak merugikan hidup kamu."