The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Dia kembali



Yasya kini hanya bisa menatap Reyna, keceriaan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya selain bersanding dengannya. Yasya bahkan masih ingat bagaimana ia mengenal gadis itu. Gadis yang begitu lugu dengan manisnya, entah mengapa mengingat kejadian itu membuat Yasya sedikit bersalah akan gadis yang ia cintai saat ini.


Bunyi dering ponsel pria itu membuat Yasya tersentak, tatapannya tak lagi menjurus pada kegiatan Reyna yang bermain bersama anak-anak. Ia kini tengah berkutat dengan ponsel yang ia pegang, dan dengan asal ia mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo" ujarnya seraya masih menatap wajah gadis yang kini juga satu pandangan dengannya. Reyna terlihat seperti menanyakan sesuatu, dengan gesture tubuhnya. Kini Yasya hanya bisa menghela nafas tatkala panggilan pekerjaan yang harus ia tangguhkan lebih dulu.


"Baik, saya akan kesana sekarang" ujar Yasya mengakhiri panggilan tersebut sebelum ia mematikan panggilannya. Kini pria itu menatap Reyna yang tengah menengadahkan wajahnya menatapnya, perlahan Yasya berjongkok untuk mendekati gadisnya, bermaksud untuk pergi sebentar.


"Ada apa Sya? telfon darimana?" pertanyaan itu disambut senyuman meneduhkan dari Yasya. Perlahan Yasya menarik jemari Reyna untuk meyakinkannya.


"Aku ada urusan kantor, kamu nggak apa-apa kan kalo aku tinggal duluan?" pertanyaan itu membuat Reyna tersenyum hangat. Ia mengangguk patuh tanda setuju pada pria dihadapannya itu.


"Nggak apa-apa kok, kamu pasti sibuk sama urusan kerja. Tapi jangan lupa, besok kita sama-sama minta cuti buat persiapan pertunangan" perkataan Reyna dibalas anggukan oleh Yasya. Ia menyadari betapa Yasya tengah sibuk dalam urusan perusahaannya, untuk mempersiapkan 3 hari tanpanya di kantor karena memang 2 hari esok keduanya harus memulai persiapan untuk acara pertunangan.


Membayangkannya saja membuat Reyna begitu senang, ia bahkan terkadang menggerutu sendiri dalam batinnya. Kenapa juga tidak langsung menikah, toh mereka sama-sama sudah saling mencintai. Namun memang keadaannya saat ini harus menunggu Yasya menyelesaikan tugasnya. Jika saja ia punya keluarga, mungkin ia akan membujuk keluarganya untuk cepat-cepat mendesak Yasya untuk segera menghalalkannya.


Derap langkah kaki pasangan insan yang hampir saja menginjak kebahagiaannya kini melangkah menjauh dari bangunan panti asuhan dibelakangnya. Panti asuhan yang cukup besar dengan keceriaan didalamnya.


Yasya terus menggenggam jemari gadis disampingnya tatkala mereka berjalan beriringan menuju mobil. Dengan keadaan seperti ini seharusnya ia lebih lama menemani Reyna, karena lebih banyak keceriaan yang ia dapatkan disini.


"Sayang, aku pergi dulu ya, nanti aku panggil supir buat kamu. Nanti malam aku bakal pulang ke apartemen kamu ya, soalnya aku ada lemburan" perkataan itu hanya dibalas senyuman dan anggukan dari Reyna.


"Nggak perlu, nanti aku bakal naik taksi kok, kamu hati-hati ya, jangan dipaksain kalo capek. Aku tunggu di rumah" Yasya menyentuh pipi gadis dihadapannya. Gadis yang cantik dan begitu menggoda untuknya. Perlahan Yasya mengecup kening Reyna dengan lembut, tangannya juga meraih pinggang Reyna bak seorang suami yang begitu menyayangi istrinya.


"Aku cinta kamu sayang" kata Yasya setengah berbisik membuat gadis itu tersipu.


"Aku juga cinta sama kamu sayang" balasnya yang kini menyentuh pipi wajah Yasya yang begitu lembut dan tampan.


"Kalo gitu aku berangkat dulu sayang, kamu hati-hati, kamu pasti bakalan kangen sama kamu" kata Yasya mengakhiri pertemuan mereka kala Yasya sekali lagi menyentuh wajah Reyna yang begitu menggemaskan untuknya.


Reyna kini bisa bernafas lega, tatapannya masih menjurus pada mobil Yasya yang kini berjalan menjauh dari tempatnya berdiri. Reyna sangat bersyukur bisa mendapatkan lelaki tampan dan lembut seperti Yasya. Hari-hari yang ia lewati setiap detik selalu memikirkan pria itu.


Reyna mulai menghilangkan fikirannya yang melayang kala mobil pria itu telah menghilang dari pandangannya. Gadis itu membalikkan tubuhnya untuk kembali menemani anak-anak. Namun sosok di balik dirinya membuat gadis itu tercengang dan sekaligus terkejut. Hal itu membuat Reyna kehilangan keseimbangannya dan hendak terjatuh, namun dengan sigap, sebuah tangan kekar menahan pinggangnya.


Gadis itu yang semula memejamkan mata, kini membelalakkan matanya dengan sempurna. Ia menyadari sosok familiar dihadapannya dan segera menjauh dari pria tersebut.


"Mike, Michael" ujarnya seraya bersikap waspada terhadap pria dihadapannya itu. Reyna memegangi kepalanya, ia merasa sedikit pening atas kehadiran Michael tiba-tiba.


"Fay, apa kabar?" pertanyaan itu membuat Reyna menggeleng seketika, ia masih tak ingin mendekat meskipun ia menyembunyikan rasa takut terhadap pria dihadapannya itu. Padahal baru saja Yasya keluar dari tempat itu, tapi ancaman baru untuknya kini datang diwaktu yang tidak tepat.


"Aku, aku bukan Falery. Maaf aku harus pergi" kata Reyna seraya membalikkan tubuhnya, namun dengan sigap Michael memegang lengannya. Reyna merass takut, ia begitu mencemaskan mimpinya kala itu. Ia takut Michael melakukan sesuatu pada Yasya.


"Tunggu Reyna" seketika Reyna terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Michael padanya. Namun Reyna segera memberontak dan menggemaskan tangan gadis itu sehingga kini Michael melepaskan lengan gadis itu.


"Aku tak tau mengapa kau menghindar dariku, tapi aku hanya butuh jawaban Reyna, aku butuh jawaban atas apa yang aku rasakan. Aku sudah mencari mu selama ini dan akhirnya dengan sedikit yang ku tahu darimu, aku bisa membantumu untuk mewujudkan impian mu" perkataan Michael membuat hatinya tersadar. Begitu ia masuk rumah sakit, entah mengapa jalannya selalu mulus dna rapi. Perekrutan sebagai perwakilan manager, naik jabatan sebagai dokter spesialis, dan juga impiannya untuk berdedikasi pada kemanusiaan.


Reyna baru ingat apa yang dikatakan Martin pada Yasya tadi, seseorang yang memberitahu bakat Reyna, jangan-jangan memang Michael. Gadis itu berjalan menjauh, ia tak mau lagi berurusan dengan Michael.


"Aku, aku akan menikah Mike, tolong jangan ganggu aku" ujar Reyna yang kini mulai berlari kencang menjauh dari pria tersebut untuk mencari kendaraan.


"Falery! tunggu, aku belum selesai bicara! tolong dengarkan aku" bahkan suara keras dari pria itu membuat Reyna tak bisa berfikir dengan jernih. Ia berlari seraya menatap jalanan yang cukup lengang. Sambil mencari keberadaan taksi, gadis itu akhirnya menghentikan taksi yang beralalu lalang dihadapannya.


"Taksi!" teriaknya dan segera memasuki mobil tersebut tanpa memperdulikan Michael yang kini mulai mengejarnya.


"Pak, ke jalan Cemara pak sekarang. Cepet pak!" ujarnya seraya melirik keberadaan Michael yang kini semakin mendekati mobil tersebut.


Untungnya sebelum Michael sampai, mobil tersebut melaju cukup kencang. Reyna bisa menghela nafasnya meskipun ada rasa mengganjal dihatinya. Meskipun pertemuannya tidak sengaja, namun ia yakin pasti Michael sudah merencanakannya dari awal.