
Derap langkah kaki terdengar begitu keras dan semakin mendekat kearah ruangan Reyna. Alfian dan juga Yasya serentak menatap sosok Ajeng yang kini tengah menangis seraya berjalan kasar tanpa perduli kearah mereka.
"Mom, tunggu" suara Zayn yang memanggil sosok wanita itu bahkan tak diindahkannya sama sekali. Ia hanya ingin bertemu dengan putrinya, ia hanya ingin melihat bagaimana keadaannya.
Tepat setelah Ajeng menyentuh engsel pintu, ia membalikkan tubuhnya tatkala sebuah tangan menyentuh punggungnya. Ia menatap Alfian yang kini menghela nafasnya, namun berbeda dengan Ajeng yang tak bisa menahan rasa sakit akibat mendengar anaknya yang mengalami kecelakaan karena pekerjaannya.
"Tante, saya mohon biarin Reyna istirahat dulu. Dia pasti baik-baik aja kok, nanti kalau udah siuman tante boleh jenguk dia" kata Alfian yang membuat Ajeng tampak terlihat masih khawatir.
"Alfian, tante nggak bermaksud ganggu Reyna, tante cuma pengen liat gimana kondisi anak tante, jadi tante mohon biarin tante liat dia sebentar" Ajeng segera membuka pintu tersebut, namun saat ia hendak melangkah. Ia melihat Reyhan yang tengah menunggu Reyna untuk siuman. Bahkan Reyhan sama sekali tak memperdulikan suara maupun orang yang hendak masuk kedalam ruangan itu. Matanya masih terkunci pada wajah Reyna yang begitu ia rindukan.
Ajeng membalikkan tubuhnya, ia menutup pintu itu lagi dan menatap Alfian dengan pandangannya yang intens.
"Kenapa dia ada disini? apa kamu yang ngasih tau dia?."
"Tan, aku" suara Alfian tiba-tiba saja terhenti kala Ajeng langsung menyerobot kata-katanya.
"Kamu tau kan Al gimana sikap dia sama Reyna? apa kamu lupa?. Gimana nanti kalo Reyna bangun dan liat kakak kandungnya ada disampingnya? apa kamu lupa jika Reyna sekarang sakit mental gara-gara masa lalunya."
"Tante, walau bagaimanapun dia itu tetap kakak kandungnya Reyna tan. Dia berhak atas Reyna, aku nggak bisa gitu aja ngusir dia buat nggak ketemu sama Reyna, itu bukan hak ku, cuma Reyna yang berhak nolak" perkataan Alfian membuat air mata Ajeng semakin mengalir deras. Zayn yang melihat itu langsung saja memeluk ibunya, mungkin saat ini Ajeng tengah dirundung emosi saat mengetahui bahwa Reyna mengalami kecelakaan.
Zayn membawa Ajeng untuk duduk dibangku ruang tunggu bersebelahan dengan Yasya.
"Tante tenang aja, sebelum Reyna siuman aku bakal ngasih tau Reyhan keadaan Reyna sekarang. Aku tau apa yang tante khawatirin, aku juga sama khawatirnya sama tante, tapi menghadapi ini semua bukan dengan cara tergesa-gesa. Tante yang sabar ya, Reyna pasti bakal segera pulih kok" ujar Yasya seraya tersenyum kearah Ajeng yang kini menyeka air matanya seraya mengangguk.
"Kamu adalah pria yang baik nak, kedepannya tante harap kamu bisa bahagiain Reyna" perkataan itu membuat Yasya tersenyum dan mengangguk. Memang itulah tugasnya, ia bahkan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga Reyna.
Zayn menghela nafasnya, ia menatap manik mata Yasya. Pilihan Reyna tidaklah salah, Zayn hanya harus ikhlas jika kehilangan adiknya, walaupun sejujurnya berat untuk mengikhlaskan gadis yang selalu menemani hari-harinya itu.
"Zayn, tante tolong ikuti saya sebentar. Saya akan jelaskan semuanya, tentang Reyna biarkan Yasya yang menunggu dia" perkataan Alfian membuat Ajeng mengangguk. Ajeng segera bangkit namun tidak dengan Zayn yang kini tengah menatap Yasya.
"Kalian duluan aja, aku mau ngobrol sebentar sama Yasya" perkataan itu membuat Ajeng dan Alfian mengangguk.
"Aku tunggu di ruangan ku" seru Alfian membuat Zayn mengangguk kemudian membalikkan tubuhnya untuk pergi dari sana.
Sementara itu Yasya hanya menunggu apa yang hendak dikatakan Zayn padanya. Tatapan pria itu seperti garis yang hendak membunuh pemangsanya. Namun Yasya hanya bersikap tenang, ia tersenyum pada kakak angkat Reyna tersebut.
"Gue cuma minta tolong sama lo, jagain adek gue. Dia percaya sama lo, itu artinya lo udah dapet kepercayaan dari gue, dan inget satu hal Sya. Apapun yang lo lakuin sama Reyna sampe dia nangis, gue bakal lakuin juga ke lo" perkataan Zayn membuat Yasya menarik nafasnya dalam-dalam. Mana mungkin ia bersikap tidak baik untuk gadisnya, jangankan meninggalkan maupun menyakiti, membuatnya menangis saja ia tak mampu.
Zayn akhirnya luluh, ia dapat melihat sorot mata Yasya yang begitu lembut dan tulus. Perlahan Zayn bangkit dan menepuk pundak Yasya seraya mengusap wajahnya kasar.
"Gue pegang kata-kata lo Sya, gue percaya sama lo" kata Zayn seraya melangkah pergi. Entah mengapa sorot mata Zayn membuat Yasya berfikir, apakah itu hanya sekedar rasa sayang dari kakak kepada adiknya?. Yasya enggan menyinggung, karena bagaimanapun Zayn sangat menyayangi Reyna.
Pria itu akhirnya menyandarkan punggungnya, ingin sekali rasanya kali ini berada disamping Reyna. Seharusnya hari ini Yasya datang lebih awal untuk mengawasi gadis itu dalam mengoperasi ayahnya. Pada awalnya Yasya berfikir bahwa Reyna akan melakukannya setelah operasi pertama selesai. Namun ia tak menyangka ia malah melakukan operasi ini sendiri.
"Reyna, sebenernya apa yang terjadi sama kamu?" gumamnya pelan sembari bangkit untuk melihat keadaan gadis itu yang kini terbaring dengan Reyhan disampingnya. Gadis itu masih belum terlihat baik, matanya masih menutup dengan alat bantu pernafasan yang melekat di hidung dan mulutnya.
Yasya kini memberanikan diri untuk masuk kedalam, ia menatap Reyhan yang bahkan tak mengindahkan pandangannya sama sekali. Seolah tak perduli dengan orang yang hendak datang memasuki ruangan tersebut.
Yasya masuk saja tanpa permisi, toh ia juga adalah calon suaminya. Ia berhak untuk menjenguk Reyna kapanpun ia mau, terlepas dari tanggungjawabnya pada gadis itu.
Yasya kini beralih berdiri disamping Reyna tepat berseberangan dengan Reyhan yang masih fokus menatap adiknya tersebut. Yasya menyentuh ringan kening Reyna dan mengelus rambutnya perlahan. Hal itu membuat Reyhan beralih mendongak menatap sorot mata Yasya yang menjurus pada adiknya.
"Siapa kamu?" pertanyaan itu membuat Yasya tersenyum.
"Aku Yasya, calon suami Reyna" sontak saja mendengar hal itu Reyhan membulatkan matanya tak percaya. Ia melirik Reyna dan sesekali menatap Yasya yang kini masih tak mengindahkan pandangannya dari adiknya.
"Aku tau, kamu adalah Reyhan kakak kandung Reyna. Aku tau semuanya tentang Reyna, karena sebelum Reyna mengalami kecelakaan dan juga nyaris meninggal karena mendonorkan hati untuk papanya, aku yang menampung dia ditempat ku."
"Apa?! jadi kamu? apa kamu tau Reyna selama ini nggak meninggal? atau kamu yang memalsukan kematiannya?" pertanyaan itu membuat Yasya menggeleng.
"Bisa kita keluar sebentar? saat ini aku adalah wali dari Reyna, bukan kamu. Aku akan ceritain semuanya sama kamu."
"Aku kakaknya, dan Reyna juga masih punya papa, apa hak kamu buat jadi walinya?" pertanyaan itu membuat Yasya menyunggingkan senyumnya.
"Aku tau, tapi terlepas kandung atau bukan Reyna yang memilih aku sebagai walinya. Ketika dia sudah bangun nantinya, dia juga yang akan memutuskan untuk kembali pada keluarga kandungnya atau tidak."
"Apa yang kamu maksud? jangan pernah berharap buat ngejauhin kami dari Reyna. Kalau nggak ada kami Reyna juga nggak akan ada disini" kata Reyhan membuat Yasya semakin tertawa sinis.
"Jangan lupa Reyhan, karena kalian juga Reyna jadi seperti ini" perkataan Yasya membuat Reyhan terdiam. Yasya kini hanya bisa menghela nafasnya, ia kembali menatap Reyhan dengan frustasi.
"Kamu sudah salah faham, boleh aku bicara dengan kamu tentang Reyna. Aku akan ceritain semuanya, tapi aku mohon kita keluar sebentar."