The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Reyhan dipecat



Braakkkkk


Masih sepagi ini namun Reyhan sudah dipanggil dan menerima amarah dari atasannya. Pasalnya beberapa hari terakhir dirinya tak profesional saat bekerja. Ditambah kemarin hari ia pulang tanpa izin dan keluar dari kantor saat jam istirahat siang berakhir.


Kini dirinya telah berada di kantor dengan semua orang yang menatap dirinya. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berbisik-bisik menyebarkan rumor. Reyhan hanya bisa menghela nafasnya dalam hati, melapangkan dadanya agar tidak ikut emosi.


"Mau ngomong apa lagi kamu?! mau buat alasan apa?!!" pria berdasi biru tua itu membanting proposal yang masih bertumpuk dihadapan mejanya seraya memukulkannya kepada Reyhan yang kini hanya dapat menunduk saja. Sedangkan yang lain ada yang prihatin dan lainnya tak perduli, beberapa dari mereka bahkan tak menyangka jika bos mereka bisa sekejam itu pada karyawannya. Ya, kali ini Reyhan bukan hanya sial karena dimarahi, tapi harga dirinya terasa diinjak-injak didepan semua orang yang menonton. Bahkan orang yang lewat kantor itu mengintip dari arah luar untuk melihat kehebohan yang terjadi.


"Sudah berapa hari Reyhan! berapa puluh dokumen yang bahkan belum kamu sentuh?!" teriak pria itu yang kini naik pitam dan sekali lagi melepar berkas tepat diwajah Reyhan yang hanya dapat menunduk.


"Kalau kamu tidak berbakat, sudah dari awal saya pecat kamu! saya kasih kamu kesempatan dua hari lalu dan kamu malah berulah! sebenarnya mau kamu apa ha?!" Reyhan hanya bisa memejamkan matanya sejenak. Ini juga salahnya, jika saja ia tak mengabaikan pekerjaannya begitu saja, mungkin kejadiannya takkan seperti ini.


"gila ya, Reyhan yang perfect kaya gitu bisa bikin ulah sama bos! untung semenjak deket sama Novi gue udah ilang suka gue sama dia" bisik salah satu karyawan pada teman disebelahnya. Meskipun Reyhan tak dapat mendengarnya secara langsung, ia bisa merasakan hawa mencekam disekitarnya yang berbisik tentang dirinya. Lain halnya dengan Edwin yang tampak acuh dan melanjutkan pekerjaannya disebelah partisipan Reyhan.


"Ma-maaf bos" kata Reyhan gugup seraya masih menunduk untuk menghindari tatapan tajam dari atasannya itu.


"Maaf! Maaf! kamu kira kerjaan kecil kaya gini perusahaan nggak rugi apa? kamu itu cuma bawahan Reyhan! kamu sadar dong posisi kamu! seenaknya sendiri kerja ditempat orang kaya gini, mau jadi apa kamu? mau jadi bos disini? keluar masuk tanpa izin ha!" teriak pria itu seraya melemparkan berkas yang lebih tebal tepat diwajah Reyhan membuat pria itu tersungkur dan meringis kesakitan. Beberapa dari yang lain menutup mulut mereka tak percaya, sisanya menahan tawa untuk menghindari indera pendengaran dua orang yang tengah berseteru itu.


"Kamu kira gaji kamu setahun cukup buat nambal kerugian kita? kamu kira dengan mecat kamu bisa selesaikan masalah gitu aja?!" teriaknya membuat Reyhan hanya bisa mengepalkan tangannya erat-erat. Kini dirinya sudah dibuat malu dan dijatuhkan harga dirinya. Ingatannya tiba-tiba kembali saat dirinya dulu mempermalukan Reyna dihadapan teman-temannya. Bedanya dulu Reyna benar-benar tidak bersalah dan kini Reyhan harus mempertanggung jawabkan kesalahannya. Reyhan membulatkan matanya mengingat hal itu, hatinya terasa sakit. Beginikah perasaan Reyna saat itu? bahkan didetik- detik itu Reyna menyelamatkan nyawa ayahnya.


Tanpa sadar air mata pria itu menetes, meski tak terlihat oleh orang-orang disana tapi Reyhan merasa sangat malu. Malu akan perbuatannya dimasa lalu bahkan dirinya mempermalukan ibu kandungnya sendiri.


"Ada apa ini?!" teriak seorang wanita yang kini masuk melalui pintu kantor membuat para karyawan itu tercengang.


"Itu kan CEO perusahaan kita? adiknya pak Zayn? kenapa dia disini?" bisik salah satu karyawan membuat mata Reyhan membulat. Buru-buru ia menghapus air matanya dan segera bangkit, ia hendak duduk di partisipannya untuk menyembunyikan wajahnya, namun lengan pria itu dicekal dengan kuat oleh bosnya itu.


Perlahan langkah Reyna mendekat, diikuti detak jantung Reyhan yang juga berdetak kencang dari sebelumnya. Langkah hak tinggi gadis itu bagai irama yang tak dapat Reyhan hindari lagi saat ini.


"Kamu, ambil barang-barang kamu dan datang ke HRD sekarang juga, ambil gaji bulan ini dan nggak perlu kerja lagi!" ujar Retna dengan tatapan tegasnya. Pria yang kini mencekal lengan Reyhan hanya bisa tersenyum puas, sedangkan orang-orang didalam sana semakin berbisik dan tak menyangka dengan keputusan CEO langsung yang memecat karyawannya sendiri.


"Tunggu apa lagi, cepet beresin barang-barang kamu" ujar pria itu membuat Reyhan mengangguk. Ia bahkan tak menyangka jika Reyna bersikap demikian terhadapnya. Tapi Reyhan memang pantas mendapatkannya, dulunya Reyna juga pernah diposisi ini, tapi sekarang penyesalannya tidak ada gunanya.


"Bukan dia, tapi kamu" ujar Reyna membuat Reyhan menghentikan langkahnya, bahkan tampang garang dari ketua divisi itupun kini tampak pucat pasi, bahkan tak menyangka jika dirinyalah yang harus dipecat.


"Tapi bu, kenapa saya?" pertanyaan itu terhenti kala Reyna memelototkan matanya kearah ketua divisi yang tadinya berulangkali menampar wajah Reyhan dengan beberapa berkas yang kini berserakan dilantai.


"Atau kamu mau ijazah kamu saya hancurkan sekarang juga, biar nggak ada yang nerima ksmu buat kerja. Kamu dengar ya, nggak ada yang boleh macam-macam sama kakak kandung saya!" seketika wajah karyawan disana tercengang, tidak menyangka sama sekali dengan perkataan Reyna barusan. Mereka berbisik-bisik satu sama lain, sama halnya dengan Edwin yang kini menghentikan pekerjaannya dan menatap manik mata Reyhan yang masih menatap lantai.


"Bang Reyhan" Reyhan masih terdiam, kini mata Reyna seakan memanas, ketua divisi itu langsung pergi keluar dari sana dengan tatapan beberapa orang yang mencibir dirinya.


"Abang!" sontak Reyna menarik lengan kakaknya, sudah dari sangat lama Reyna ingin memeluk Reyhan. Ia sebenarnya sudah tau jika Reyhan bekerja di perusahaannya itupun dari Yasya.


"*Reyna, aku nggak mau kamu tau dari orang lain ataupun kamu tau sendiri, sebenarnya Reyhan kerja di perusahaan Syakieb"


"Apa?! kamu tau darimana Sya? terus sekarang dia nglamar jadi apa? gimana sama papa? mereka tinggal dimana?"


"Reyna, kamu tenang dulu sayang, Reyhan mau berusaha dulu sendiri, pada saatnya nanti Reyhan pasti bakal mau ketemu kamu kok, untuk sekarang aku sama Reyhan udah ada perjanjian buat nggak ganggu dia dulu, Reyhan cuma takut papa kamu belum siap. Kamu tunggu sampai Reyhan cerita ke papa ya sayang*."