The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Hotel



"Kanaya, kamu beneran nggak apa-apa kan sayang? aduh, mama jadi khawatir gini kalau kamu tidur diluar, seharusnya siang tadi mama nggak usah ikut papa aja" ujar suara Mama Kanaya disebrang sana membuat gadis itu tersenyum seraya duduk diatas ranjangnya.


"Mama nggak perlu khawatir, papa kan lagi ada bisnis di sana, pasti juga butuh mama. Lagian aku udah dewasa ma, aku bisa jaga diri."


Karena kejadian tadi, Kanaya memutuskan untuk tidak pulang. Ia lebih memilih untuk check-in di hotel daripada harus bertemu Angga dan juga Edwin. Biar saja Mamanya tau kalau Edwin memukuli Reyhan, takutnya jika mereka yang bicara dulu malah perkataan Kanaya tidak dipercaya lagi.


"Tapi mama tetep khawatir sayang, besok mama pulang duluan aja, biar papa yang nyusul" kata Mama membuat Kanaya membelalakkan matanya. Bukan karena apa, ia tak ingin hanya karena masalahnya dengan Edwin jadi menghancurkan liburan orangtuanya itu.


"Jangan dong ma, mama sama papa kan disana bukan cuma buat urusan bisnis. Kanaya tau kok kalo kalian pengen liburan juga, lagian nanti kalo mama pulang pasti papa juga ikut khawatir. Udahlah ma nggak apa-apa, mama kasih tau aja sama kak Edwin biar nggak seenaknya gebukin temen Naya" ujar Kanaya kesal membuat Mama disebrang sana menghela nafas.


"Kamu nih, iya deh, nanti mama marahin si Edwin itu. Enak aja main gebukin anak orang, kalo mati gimana?!" kata Mama membuat Kanaya membelalakkan matanya. Ia sedikit terkejut oleh perkataan Mama yang ceplas-ceplos itu.


"Hus! mama nih ngomong apaan sih, sembarangan deh"


"Eh tapi temen kamu gimana keadaannya? kamu obatin nggak?" Kanaya merebahkan tubuhnya diatas kasurnya, ia menatap langit-langit hotel berwarna putih itu. Ingatannya menerawang entah kemana.


"Tadi Kanaya obatin kok ma, dia udah agak baikan."


"Hem, yasudah kalau begitu, kamu cepet tidur gih, ini udah malam lo" kata Mama memperingatkan membuat Kanaya tersenyum dan mengangguk.


"Iya ma, mama juga ya. Night ma"


"Night sayang" kata mama mengakhiri percakapan mereka.


Kanaya menghembuskan nafas lelahnya, ia kembali dalam fikirannya yang kacau. Meskipun semuanya telah selesai, namun ia tetap terganggu dengan kata-kata Angga yang membuatnya tak bisa berfikir jernih saat ini. Bahkan bisa jadi, nanti ia tak dapat tidur karena memikirkan Reyhan dan segala apa yang dilakukan Edwin padanya.


"Kamu belum tidur?" suara itu membangunkan Kanaya, ia buru-buru terbangun dan menatap Reyhan yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Agak canggung bagi Kanaya untuk tidur seatap dengan Reyhan. Tapi Kanaya tidak ingin Reyhan pulang malam-malam dengan keadaan lebam disekujur tubuhnya. Lebih baik dia tinggal di hotel bersama dengannya daripada nanti sekeluarga akan heboh dengan kondisinya.


"Aaah!" Reyhan tiba-tiba mengerang, ia memegangi punggung dan juga perutnya yang terasa sakit oleh bekas pukulan dari Edwin tadi.


"Kakak kenapa? pasti masih sakit kan? sini aku obatin dulu, tadi aku udah beli salep buat kakak" ujar Kanaya seraya menuntun Reyhan untuk duduk disisi ranjang bersama dengannya. Kanaya bangkit, ia mengambil salep didalam tas kecilnya. Buru-buru ia kembali duduk seraya menatap Reyhan dengan wajahnya yang sedikit cemas.


"Bu-buka aja kak, biar aku bantu" kata gadis itu gugup seraya memegang salep itu erat-erat.


Kini Reyhan tersenyum tenang, meskipun hatinya juga berdetak kencang dari tadi, tapi ia memilih untuk menuruti Kanaya. Perlahan tangannya bergerak untuk membuka kimono itu dan terlihatlah tubuh Reyhan yang begitu atletis dengan otot besar yang membuat Kanaya hanya bisa menelan salivanya.


Gadis itu dengan cepat menggeleng, ia menghilangkan pikirannya yang liar itu dan segera membuka salep untuk kemudian dioleskannya pada dada dan juga perut Reyhan yang kini semakin membiru. Sesekali Reyhan melirik Kanaya yang kini tampak gugup, namun ia memilih untuk pura-pura tak perduli.


Setelah selesai mengobati Reyhan, kini Kanaya menarik bantal dibelakangnya. Ia melirik Reyhan dengan tatapan canggung seraya tersenyum lembut.


"Kak, aku tidur disofa aja ya, kakak tidur disini" kata Kanaya membuat Reyhan menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu kan cewek Nay, kamu aja yang tidur di ranjang, biar aku yang tidur disofa" tolak Reyhan membuat Kanaya menggeleng. Meskipun Kanaya memang perempuan, tapi ia lebih peduli pada keadaan tubuh Reyhan yang lemah.


"Aku nggak apa-apa kok kak, lagian badan kakak juga lebam semua, nanti tambah sakit lagi kalau tidur di sofa" kata Kanaya yang kini menarik bantal dan melangkah menuju sofa. Reyhan benar-benar tak tega jika Kanaya tidur disofa, bagaimana jika nanti gadis itu terjatuh? atau kedinginan.


"Malam kak Reyhan" ujar Kanaya seraya tersenyum lalu membaringkan tubuhnya disofa dengan bantal dibawah kepalanya. Reyhan membalas senyuman Kanaya dengan lembut.


Setelah lima belas menit berlalu, Reyhan masih terjaga dari tidurnya, ia menatap gadis cantik yang kini tertidur pulas disebrang ranjangnya. Bisa frustasi ia jika tetap membiarkan Kanaya tidur disofa seperti ini. Apalagi dia laki-laki, Reyhan seolah terjebak dalam fikirannya sendiri. Pria itu kemudian bangkit merasa tak tenang akan keadaan. Ia kemudian melangkah mendekati Kanaya, Reyhan berlutut, jemarinya dengan lembut menyentuh pipi mulus itu dan mencium diam-diam bibirnya.


Setelah merasa Kanaya benar-benar sudah tertidur pulas, Reyhan segera menggendong Kanaya ala bridal style dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Reyhan tersenyum, kini posisinya tepat menindih tubuh gadis itu dengan tubuhnya yang ia tahan agar tidak membuat Kanaya terbangun.


Reyhan tidur disamping gadisnya, ia menarik selimut dan mengecup puncak kepala Kanaya dengan pelan.


"Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu Nay, aku akan jaga kamu sayang" ujar pria itu yang kini mulai memejamkan matanya untuk tertidur pulas.