
Luna meremas jemarinya kuat-kuat saat ia harus menghadapi orang tua Zayn nanti. Ya, setelah mereka berdiskusi kemarin, akhirnya Zayn memutuskan untuk membawa Luna menemui papanya hari ini. Bukan hanya papanya, tapi mommy-nya juga akan ikut serta melihat pacar pura-pura dari Zayn. Entah apa yang akan mereka pikirkan nanti jika rencana mereka terbongkar.
Gugup, keringat dingin seperti membasahi keningnya yang saat ini tengah menunggu jemputan datang tepat di halte terdekat dari apartemen Luna. Kini Luna memakai blus berwarna merah dengan rok span selutut. Aksennya yang rapi dan sopan harus tetap ia tunjukkan meskipun hanya kepura-puraan semata.
Tak berselang lama sebuah mobil berhenti tepat disampingnya. Gadis itu menoleh asal suara dari klakson yang sedikit mengejutkan tubuhnya kala dirinya duduk seraya melamun ria.
Kaca mobil terbuka memperlihatkan sosok pria yang kini tersenyum kearahnya seraya mempersilakan untuk masuk. Jujur saja, meskipun ini hanya pura-pura tapi ini juga yang pertama bagi Luna.
Gadis itu buru-buru membuka pintu, melempar senyuman asal saat memperhatikan Zayn yang kini menatapnya tanpa berkedip sama sekali. Sambil mengenakan sabuk pengamannya, Luna mencubit lengan pria disampingnya, membuat Zayn meringis kesakitan meskipun nyatanya cubitan itu begitu kecil tanpa terasa dikulitnya.
"Kenapa sih Lun? sakit tau!" protes Zayn saat Luna terkekeh menatapnya yang tengah memainkan drama kecil-kecilan. Seperti anak kecil saja.
"Makanya jangan ngelamun mulu, jadi nggak nih?" tanya Luna sekali membuat mata Zayn membulat. Saking cantiknya gadis dihadapannya ini membuatnya tak sadar akan pandangannya yang terkunci. Oleh penampilan berbeda dari pacar pura-puraan-nya ini.
Begitu anggun, dengan riasan natural, dan rambut ikal yang ia kuncir kuda serta pakaiannya yang formal dan sopan membuat Luna tampak berbeda dari biasanya. Zayn menggeleng, ia dengan cepat mengalihkan perhatiannya seraya menancap gas meninggalkan tempat itu untuk kemudian berangkat kerumahnya.
"Zayn, kita mampir dulu yuk! aku mau bawain sesuatu buat orang tua kamu, mommy kamu suka apa?"
"Enggak perlu repot-repot kok Lun, kita cuma sebentar aja. Kalo mommy sama papa liat kamu pasti udah seneng tanpa bawain oleh-oleh" Luna memainkan jemarinya. Sepertinya Zayn lebih mengerti keluarganya daripada dia. Namun tetap saja, Luna merasa tak enak jika harus kesana dengan tangan kosong.
"Tapi Zayn, kan nggak enak" seru Luna sekali lagi membuat Zayn menyunggingkan senyuman andalannya.
"Nggak apa-apa kok Lun, santai aja" perkataan singkat Zayn mampu membuat hati Luna tenang sesaat. Kalau dipikir-pikir lagi, seharusnya memang tidak perlu repot-repot juga Luna membelikan sesuatu pada orang tua Zayn. Toh, ini hanya sebuah kesepakatan saja. Mereka sama-sama membantu, mengingat hal itu, pilu dirasakan oleh gadis itu. Ngilu serta rasa kecewa bercampur aduk menjadi satu.
Sebenarnya Luna merasakan hal yang lebih pada pria satu ini. Mungkin kah rasa kagum yang sederhana atau cinta yang luar biasa? Tapi setiap Zayn berada disisinya, rasa aman dan nyaman selalu Luna rasakan. Ada getaran tersendiri saat Zayn mulai tersenyum ramah maupun penuh arti. Seolah memberikan harapan yang lebih pada dirinya.
Namun Luna tidak begitu berani untuk percaya diri. Ia takut apa yang ia harapkan dan apa yang ia rasakan hanyalah sebatas perasaan tanpa balasan. Lagipula mamanya juga pernah berkata, jika wanita itu kodratnya dipilih bukan memilih. Jadi pantang bagi Luna untuk mengejar Zayn duluan.
"Lun? kenapa kamu diem aja? gugup ya?" Luna hanya mengangguk seadanya. Percuma dijelaskan, mana bisa tau Zayn jika Luna mengkode dengan kata-kata. Mata Luna terpejam, lelah ia rasakan saat dirinya tengah bergulat dengan pikirannya sendiri.
Tiba-tiba saja sebuah tangan menggenggam jemarinya, membuat Luna agak terkejut dengan perlakuan Zayn padanya. Ingin menolak rasanya, tapi Luna terlanjur menikmatinya. Ditambah lagi lampu merah yang membuat suasana didalam mobil berubah menjadi canggung tanpa perbincangan diantara keduanya.
"Kamu mau lagu apa? biar nggak bosan?" tanya Zayn melepas keheningan diantara keduanya.
"Terserah kamu aja deh" kata Luna seraya tersenyum lembut. Zayn akhirnya mengangguk seraya tetap mencari keberadaan lagu-lagu dari mp3-nya.
"Zayn?"
"Hem?"
"Biar kamu nggak grogi aja, tuh tangan kamu aja sampek keringetan kaya gitu" seru Zayn membuat Luna hanya ber 'oh' ria seraya memejamkan matanya.
Zayn buru-buru menginjak gasnya kala lampu hijau tengah menyala. Rasanya lagu yang Luna nikmati seperti kata-kata yang hendak diucapkan seseorang namun tertahan. Begitu indah namun membingungkan hati Luna kala mendengar setiap lirik dari lagu yang diputar oleh Zayn barusan.
Setelah beberapa saat mereka membelah jalanan ibukota kini akhirnya mobil terparkir tepat didepan rumah Zayn. Rumah berlantai dua dengan aksen sederhana dan tidak terlalu mewah dan besar.
Zayn memang sengaja tidak membawa Luna ke kediaman rumah Reynaldi. Takutnya jika Reyna atau Reyhan tiba-tiba datang dan membuat Luna bingung akan hubungan mereka dengan Zayn. Biar saja Luna tidak mengetahui siapa Zayn sebenarnya. Selama pendekatan ini, ia tak ingin membanggakan hartanya, sekaligus ingin mengetahui respon Luna kala mengetahui jika ia adalah orang yang begitu sederhana.
"Ini rumah kamu?" Zayn mengangguk, ia buru-buru turun dan membukakan pintu untuk Luna. Tidak sampai disitu, tangan Zayn juga menggantung di udara bersiap menggenggam jemarinya. Luna menyambutnya dengan senyuman mengembang, seolah semuanya terjadi karena kemauannya dan tanpa settingan.
Namun jika dipikir lagi, Luna hanya bisa meringis pilu dibuatnya. Ekspresi, dan sikapnya adalah sebuah gimik yang harus ia jalani selama itu menguntungkan bagi keduanya.
"Mom, pa!" panggil Zayn dengan suara besarnya seraya mencari keberadaan orangtuanya yang belum nampak batang hidungnya. Rasa gugup serta grogi yang dimiliki Luna kini hilang begitu saja mengingat hal ini sepanjang jalan tadi.
"Zayn, udah sampai? oh ini toh pacar kamu?" suara wanita yang terdengar asing ditelinga Luna membuatnya sedikit terkejut kala wanita itu datang dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Hallo tante, kenalin Luna" suara lembut diiringi salaman manis dengan kecupan kecil dipunggung tangan Ajeng membuat wanita paruh baya itu tersenyum simpul seraya langsung memeluk Luna dan memberinya sebuah kecupan cikipa-cikipi padanya.
"Panggil mommy, jangan tante. Kamu cantik banget sih, ih Zayn kamu pinter banget sih cari cewek. Kalian kenal di mana?" ceracau Ajeng membuat mata Zayn membulat seraya menatap Luna dengan pandangan bertanya.
"Kami-"
"Kami kenal di mall ma, kebetulan waktu itu Luna lagi jalan-jalan sama temennya" tukas Zayn yang membuat Luna menaikkan sebelah alisnya, namun kemudian tersenyum simpul seolah mengiyakan kata-katanya. Padahal Luna ingin jujur saja jika mereka teman sekantor, ya meskipun pertemuan mereka bukanlah karena teman satu profesi. Melainkan perjuangan diantara perdebatan sengit dan olok-olokan diantara keduanya.
Mommy Zayn ini melihat Luna saja begitu senang, sepertinya saat Zayn punya pacar betulan nanti mamanya pasti akan lebih senang lagi.
"Tante, maaf ya, Luna nggak sempet bawa apa-apa dari rumah."
"Aduh, kalo kesini nggak usah repot-repot sayang. Kamu kesini aja mommy udah seneng banget. Oh ya, sambil nunggu papa, mommy siapin minum dulu, Zayn bawa calon istri kamu duduk dulu ya" pesan mommy membuat Zayn hanya mengangguk seraya mempersilakannya untuk duduk menunggu mommy-nya dari dalam dapur dan meninggalkan mereka berdua diruang tamu.
Setidaknya Luna merasa tenang sekarang, sikap positif mommy Zayn membuatnya agak lega. Tapi apa yang dibilang Ajeng tadi? calon istri? hal itu membuat Luna bergidik ngeri. Kalau saja mommy Zayn tau apa yang sebenarnya mereka rencanakan, Luna benar-benar takut jika mommy akan membencinya. Bersikap seratus delapan puluh derajat dengan sifat perhatiannya yang sekarang.
"Sayang? kenapa diem aja?" tanya Zayn tiba-tiba membuat Luna mendongak menatap pria disampingnya yang menyertakan panggilan 'sayang' untuknya.
Tidak, tidak boleh, Luna tidak boleh lupa jika ini hanya sekedar settingan dan Zayn mengatakannya hanya untuk merealisasikan apa yang menjadi perannya.
"Ak-aku nggak apa-apa"