The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kecemasan



Reyna kini merebahkan tubuhnya, ia baru saja mengganti kimono yang ia pakai dengan piyama berwarna biru gelap miliknya. Hanya membayangkan perkataan Yasya tadi membuat dirinya geli.


Yasya memanglah pria yang begitu tampan, jutaan pesonanya dapat mengikat banyak wanita disekelilingnya. Apalagi pribadi Yasya sangat lembut dan penyayang membuat Reyna begitu beruntung mendapatkan pria tersebut.


Kini gadis itu beralih bangkit dan menatap pantulan dirinya dari cermin tak jauh dari ranjangnya. Gadis itu bangkit dan duduk di kursi rias, ia tersenyum sendiri melihat wajahnya yang semakin merona.


Sebentar lagi ia juga akan menikah dengan pria pujaannya itu, ia hanya berharap semoga semuanya berjalan dengan semestinya. Tiba-tiba saja Yasya kini datang dari arah samping, ia menatap wajah Reyna dengan senyuman yang memukau seperti biasanya. Yasya yang baru saja datang dari kamar mandi dengan hanya memakai celana training dan kaos putihnya yang ketat memperlihatkan dada bidang yang terjiplak sempurna dibagian sana.


"Udah selesai?" pertanyaan itu hanya dibalas anggukan dan belaian lembut dirambut gadis itu lewat pantulan cermin dihadapannya. Yasya kemudian meraih sebuah kalung yang tadi ia lihat di atas nakas. Ia lalu kembali dan memakaikannya untuk Reyna.


"I love you" ujarnya singkat seraya mencium pipi Reyna membuat gadis itu merona dibuatnya.


"I love you too" balasnya membuat Yasya memegang kedua pundak Reyna dengan lembut.


"Sayang, aku mau tanya sesuatu sama kamu" perkataan Yasya kini berubah menjadi serius, Reyna menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap Yasya dengan pandangan penasaran, gadis itu hanya menaikkan dagunya, mengisyaratkan kata 'apa?' pada Yasya yang kini beranjak keluar dari kamarnya.


Reyna mengikuti langkah pria itu, ia menuju ruang tamu dimana bunga misterius yang tadi siang ia terima. "Sini sayang" kata Yasya mengintruksikan untuk duduk disampingnya.


Akhirnya Reyna kini beralih duduk tepat didekat pria itu, ia memperhatikan kertas yang kini hendak dibuka oleh Yasya.


"Aku nemuin surat ini diselipkan didalam daunnya. Kayanya orangnya sengaja deh buat naruh suratnya di dalem" Yasya memberikan kertas tersebut dan dibuka oleh Reyna. Seketika wajah gadis itu membeku membaca nama dari pengirim bunga tersebut.


"Rownald! Sya, nama belakang Michael itu Rownald sya. Namanya Michael Rownald" kata gadis itu dengan wajahnya yang begitu khawatir. Ia bahkan tak tau mengapa Michael bisa sampai menemukannya, yang hanya difikirkannya saat ini adalah ia hanya ingin hubungannya dengan Yasya baik-baik saja.


"Sayang, tenang sayang, aku pasti bakal lindungi kamu kok. Aku nggak akan biarin kamu diteror lagi kaya gini, aku bakal jaga kamu oke" kata Yasya seraya menenangkan Reyna yang kini tengah dilanda kecemasan.


Tak bisa diragukan lagi, semua kecurigaannya dan semua ketakutannya kini berkumpul menjadi satu akan kedatangan Michael yang tiba-tiba.


"Sya, aku takut Sya, aku takut dia bahayain kamu. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa sayang" seru Reyna yang kini menangkup wajah Yasya yang begitu tampan untuknya.


Yasya sebenarnya tak mengenal siapa Michael itu, tapi mendengar Reyna yang begitu ketakutan membuat pria itu sedikit prihatin. Ia harus menjaga Reyna dengan segenap jiwanya.


***


Pagi hari di rumah sakit, gadis dengan rambut yang ia gulung tersebut kini mengenakan kacamata yang tidak seperti biasanya. Ia tengah bekerja dengan menyalin data yang dikirimkan oleh dokter Martin padanya.


Pandangan Reyna kini menengadah, ia menghela nafasnya tatkala ia menyandarkan punggungnya dikursi kerjanya. Seharusnya ini adalah hari menggembirakan untuknya, tapi entah mengapa fikirannya terganggu oleh buket mawar merah yang ia terima.


Mental Reyna memang siap dengan semua itu, tapi yang ia takutkan hanyalah Michael. Gadis itu berhenti tepat didepan kantor manager, ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum dipersilahkan untuk masuk.


Setelah mendengar suara dari dalam, ia baru memberanikan diri untuk bertatap muka dengan Martin yang kini tengah berkonsentrasi dengan file dan juga monitor dihadapannya.


"Duduk dokter Reyna, ada laporan apa?" pertanyaan itu spontan membuat Reyna menggaruk tengkuknya.


"Dokter Martin, maafkan saya mungkin kemarin saya terlalu gegabah memutuskan untuk memecat dokter Aldo tanpa memberitahukan pada anda. Dan belum bertanya maupun merundingkan dengan anda saya dengan lancang memecat dia dari sini" perkataan Reyna hanya mendapat seringai tawa kecil dari Martin.


Tak tau lagi apa yang difikirkan oleh dokter paruh baya itu. Ia sama sekali tak bisa menebak apa yang berada dalam fikirannya kali ini. Reyna fikir ia akan memarahinya atau bahkan akan menegurnya, tapi kini malah sebaliknya.


"Kamu tenang saja, meskipun Aldo adalah keponakan saya, tapi sejujurnya dari awal saya ingin memecat dia. Hubungan keluarga kami yang dekat membuat saya tidak dapat bersikap bijaksana padanya. Jadi dengan adanya anda dokter Reyna, saya sangat bersyukur karena anda punya tekat dan juga keberanian untuk melawan dia" seketika Reyna membulatkan matanya. Ternyata sampai seperti itu Aldo bertindak, ia terlalu semena-mena pada juniornya.


Sedangkan ia tak tau bagaimana penilaian kinerja dari atasan padanya. Kini gadis itu merasa lega. Setelah ia berbincang-bincang dengan dokter Martin, Reyna akhirnya keluar dari kantor tersebut.


Langkahnya terhenti kala ia hendak melangkah lagi menuju kantornya. Suara familiar itu memanggil namanya.


"Reyna" seketika gadis itu membalikkan tubuhnya untuk menatap sosok Alfian yang kini berjalan cepat menemuinya.


"Hay Al" katanya dengan senyuman merekah.


"Selamat ya, kamu akhirnya bisa naik jabatan juga. Aku udah yakin dari awal kalo kamu pasti cepet dapet posisi."


"Kenapa gitu Al, perasaan aku biasa-biasa aja deh."


"Kamu itu berpotensi Rey, selain kamu lulusan terbaik di Florida, kamu juga tanggap. Makanya atasan percaya juga sama kamu" hal itu membuat Reyna mengangguk, sebenarnya tak ada perbedaan untuknya. Mau ia menangani pasien di UGD maupun jadi dokter spesialis sekalipun ia tetap pada misinya demi kemanusiaan.


"Oh ya, istirahat nanti aku traktir di kantin ya" kata Reyna membuat Alfian menyambut hangat hal tersebut dengan cengirannya.


"Oke, aku mau makan sampek kamu bangkrut nanti" Reyna hanya bisa tertawa kecil mendengarnya.


"Silahkan, tapi aku bawa temen-temen dari UGD ya, aku juga pengen traktir mereka."


"Silahkan aja, pokoknya ditraktir" perkataan Alfian membuat Reyna terkekeh. Tidak biasanya Alfian bertingkah seperti itu dengan hal makanan. Mungkin karena gratis ia mau lebih dari biasanya.